Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
53. Oh Sh*T! I Love You



"Sial. Kayanya gue cinta sama elo," ucap Abhay pelan namun bisa terdengar jelas oleh Dara.


Dan Dara. Seketika ia membulatkan matanya lebar-lebar. Tubuhnya seakan tersetrum oleh aliran listrik bertegangan tinggi. Dan jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat.


What! Apa yang baru saja Dara dengar? Abhay mencintainya? Apa dia tidak salah dengar? Dara terus mempertanyakan hal itu di dalam otaknya. Sampai bibirnya tak sanggup mengeluarkan kata-kata, saking ia tak percayanya.


"Gimana ini? Gue kalah sama permainan gue sendiri," lanjut Abhay masih sanggup menatap Dara dengan begitu dalam.


Lambat laun, Dara menyadarkan dirinya. Sesaat ia langsung teringat kembali bagaimana watak Abhay yang selalu bersikap serius di awal namun akhirnya selalu mengecewakan.


Dara menggelengkan kepalanya cepat, dan membuang muka dari hadapan Abhay. "Gak. Gak. Gak! Kakak pasti lagi becanda," ucapnya sembari tersenyum miris. Ia tak mau dibodohi Abhay lagi, jadi lebih baik ia mengantisipasinya dahulu.


"Apa wajah gue kelihatan lagi becanda?" tanya Abhay. Suaranya terdengar begitu hangat untuk masuk ke telinga Dara. Dari suaranya saja, memang terdengar berbeda. Jadi, apa Abhay benar-benar serius dengan ucapannya?


"Tapi kenapa?" Dara balik bertanya.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa Kakak cinta sama gue?" tanya Dara lagi lebih terperinci.


"Dengan lo datang ke sini, itu jadi alasan gue kalo lo emang cewek yang harus gue cintai," jawab Abhay tanpa ada rasa malu ataupun ragu. Abhay benar-benar tulus mengucapkannya.


Mendengar pengakuan Abhay, membuat jantung Dara kembali berdetak begitu kencang. Ia pun heran, mengapa Abhay tiba-tiba bisa berkata manis seperti itu?


"Lo sendiri gimana?" tanya Abhay.


"Gimana apanya?"


"Gimana perasaan lo tentang gue?" tanya Abhay. Ia pun ingin tahu juga bagaimana perasaan Dara di saat dirinya sudah mengutarakan isi hatinya dengan sejujur-jujurnya.


"Kalo gue ... Nggak-" jawaban Dara terpotong karena Abhay lebih dulu menyerobot ucapannya.


"Nggak? Lo gak cinta sama gue?!" tanya Abhay terkejut. Abhay tak bisa berbohong bahwa ia langsung kecewa saat mendengar jawaban Dara.


Lalu Abhay pun berdecak sebal. "Ck. Jadi gini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Abhay lirih dengan raut wajah yang sudah begitu kecewa.


"Bukan gitu," ujar Dara menyanggah pemikiran Abhay.


"Trus?


"Lebih tepatnya, gue gak tahu," lanjut Dara, meneruskan ucapannya tadi yang sempat terpotong oleh Abhay.


"Karena sebelumnya gue belum pernah yang namanya jatuh cinta. Jadi gue gak tahu, ini perasaan cinta atau bukan," kata Dara, dengan pengakuan yang sangat jujur.


Apa yang dikatakan Dara membuat Abhay tersenyum simpul. Ia tak percaya, sebegitu polosnya Dara sampai hal seperti itu saja Dara masih bingung. Karena itu, Abhay berniat untuk membantu menjawab rasa kebingungan Dara.


"Lo mau tahu caranya?" tanya Abhay.


"Cara apa?"


"Cara supaya lo tahu, itu cinta atau bukan."


"Gimana?"


"Makanya lo liat gue dulu."


Abhay meminta seperti itu, karena setelah Abhay selesai mengutarakan isi hatinya, cewek di sampingnya itu sama sekali belum berani menatap matanya lagi. Jadi ia berniat untuk membuat Dara menatapnya, agar ia lebih mudah untuk melancarkan maksudnya.


"Trus kalo udah liat?" Bukannya menurut, Dara kembali melontarkan pertanyaan.


"Ya gak akan tau kalo lo belum liat gue," jawab Abhay.


Karena Abhay yang terus memintanya, Dara dengan sepenuh kekuatannya mencoba berani menatap Abhay lagi. Karena sebenarnya, ia pun penasaran juga apa yang akan Abhay lakukan.


Perlahan, Dara menggerakkan kepalanya untuk menatap Abhay. "Trus?" tanyanya setelah ia sudah menatap Abhay.


Dan anehnya Abhay masih diam saja saat Dara sudah menuruti permintaannya. Tak ada maksud apapun seperti apa yang dijanjikan Abhay. Malahan Abhay dengan antengnya melihat Dara dengan begitu lekat. Karena semakin dibuat bingung, Dara hendak menanyakannya lagi.


"Trus ap-"


Cup.


Abhay tiba-tiba saja mengecup bibir merah merona itu. Dengan mata yang terpejam, kini Abhay tengah mencium bibir Dara dengan begitu lembutnya.


Lain halnya dengan Dara. Kini kedua bola matanya serasa ingin lompat dari kelopak matanya. Tubuh yang sebelumnya seperti tersengat listrik, kini seperti sudah tersambar petir. Lalu jantung yang sebelumnya berdetak begitu cepat, kini jantungnya seperti sudah pindah ke lambungnya.


Jika sudah begitu, Dara tak bisa lagi berbuat apa-apa. Seakan ia ikut terhipnotis saat Abhay memperlakukannya seperti itu. Dara benar-benar pasrah dibuatnya.


Perlahan, Abhay menjauhkan bibirnya dari bibir milik Dara. Walaupun bibirnya tak lagi menempel, namun wajahnya tak ingin jauh-jauh dari Dara. Ia ingin melihat dulu seperti apa reaksi Dara saat ia melakukan hal tadi.


"Kok pipi lo merah?" goda Abhay saat dengan sangat jelas ia melihat kedua pipi Dara yang sudah seperti tomat matang.


Digoda seperti itu, Dara segera menjauhkan wajahnya dari Abhay, dan kembali membuang mukanya. Ia mengatur nafasnya yang tadi sempat terhenti untuk beberapa saat.


"Kok jadi brengsek," kata Dara datar dengan pipi yang masih memanas.


"Katanya mau tahu," timpal Abhay dengan senyum yang tak bisa ia tahan.


"Ya tapi-" Dara tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Bibirnya mendadak kelu saat ia hendak melanjutkan ucapannya.


Karena Dara yang tak menyelesaikan ucapannya, Abhay pun mengambil kesempatan itu untuk kembali menggoda Dara.


"Tapi lo seneng, kan?" tanya Abhay kepedean dengan senyuman yang sudah merekah lebar.


Lalu anehnya Dara tak kesal walaupun ia tahu ia sedang digoda oleh Abhay. Dan Dara tak marah saat bibirnya menjadi sasaran empuk Abhay. Yang ada, rasanya sulit untuk menyangkal omongan Abhay. Lalu apakah artinya itu? Apakah Dara memang senang diperlakukan seperti itu? Lalu, apakah Dara benar-benar mencintai Abhay juga?


Karena Dara yang tak kunjung menjawab, Abhay pun bisa menyimpulkan bahwa apa yang dikatakannya memang benar. "Okeh. Udah jelas. Lo juga cinta sama gue," ucapnya dengan kepercayaan tingkat dewa.


"Dari liat reaksi lo aja gue udah tau," jawab Abhay.


"Emang reaksi gue gimana?" tanya Dara lagi.


"Lo pasrah pas gue cium. Kalo lo gak cinta sama gue, gue pasti udah di bawah sana karena didorong elo," jelas Abhay sambil mengarahkan pandangannya melihat ke lantai paling dasar.


Mendengar jawaban Abhay, Dara pun menggerutu. Aish. Kenapa Kak Abhay pinter banget ngejelasin sih, ucapnya dalam hati.


Untuk beberapa saat, tak ada lagi yang membuka suara. Abhay yang sibuk menahan rasa senangnya, serta Dara yang sibuk mengatur jantungnya yang masih tak karuan. Mereka sama-sama sibuk dengan perasaan mereka masing-masing.


"Walau gue udah tahu. Tapi gue mau denger langsung dari mulut lo," pinta Abhay ambigu.


"Denger apa?" tanya Dara tak mengerti.


"Lo cinta gak sama gue?" tanya Abhay tak gentar.


Apa yang dikatakan Abhay membuat Dara kembali membulatkan matanya. Di saat ia sulit mengatakan cinta, mengapa Abhay bisa mengatakannya dengan begitu mudah?


"Cinta gak?" tanya Abhay lagi karena Dara yang tak kunjung menjawab.


"Ya kali," jawab Dara tak kalah ambigu.


"Kok pake kali. Yang bener lah," seru Abhay sedikit kesal.


"Ya ... Kali." Dara masih menjawab hal yang sama. Tentu Hal itu membuat Abhay berdecak.


"Pake kali lagi," kata Abhay kesal.


Dara pun jadi ikut berdecak kesal. Mengapa sangat sulit bagi mulutnya hanya sekedar menjawab iya? Padahal isi hatinya sudah setuju untuk mengatakan iya.


Dengan kekuatan yang sudah ia kumpulkan, Dara pun menjawab. "Iyah ..."


Mendengar hal itu, sontak Abhay langsung mengembangkan senyumnya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat ia sudah mendengar pengakuan dari mulut Dara secara langsung. Ia benar-benar sangat bahagia.


"Tapi kayanya gue gak usah nembak lo lagi. Gue kan dari jauh-jauh hari udah nembak lo. Dan lo pun udah nerima gue," tutur Abhay.


"Ya terserah," kata Dara.


"Tapi Kakak gak lagi nge prank gue kan?!" tuduh Dara tiba-tiba, ia masih was-was, takut-takut saat ujungnya nanti Abhay akan membodohinya.


"Lo masih gak percaya juga? Mau gue cium lagi?" ancam Abhay, namun lebih ke cari kesempatan.


"Ehhh ... Apaan sih, Kak!" Dara pun terkejut bukan main. Yang pertama saja pipinya sudah dibuat merah oleh Abhay, jika ia harus mengalami yang kedua kalinya, bisa-bisa pipinya bukan lagi merah, tapi menghitam.


"Ya lagian. Harus pake cara apa lagi supaya lo percaya?" tanya Abhay kini sudah kembali ke mode serius.


Melihat raut wajah Abhay yang serius, membuat Dara percaya bahwa apa yang sedari tadi Abhay ungkapkan memang benar adanya. Abhay benar-benar tulus dengan perasaannya.


"Udah gak usah. Gue udah percaya kok," kata Dara tak kalah seriusnya.


Lalu tanpa aba-aba, Dara langsung menegakkan tubuhnya menjadi berdiri. "Udah ah pulang. Udah mau gelap," ungkap Dara saat melihat gedung-gedung di depannya sudah berbondong-bondong menyalakan lampunya.


"Ck. Gak asik banget sih. Baru juga jadian, masa harus bubar," timpal Abhay yang tak suka bila mereka harus berpisah.


"Baru apanya. Kan udah dari dulu," balas Dara.


Apa yang diungkapkan Dara, membuat Abhay kembali mengembangkan senyumannya. "Emang dulu kita udah jadian beneran?"


"Ya walaupun gak beneran, tapi judulnya jadian, kan?" timpal Dara.


"Atau jangan-jangan, waktu dulu lo nganggapnya kita jadian beneran yah?" kata Abhay kembali menggoda Dara.


"Kak! Udah deh. Nyesel gue tadi ngomong gitu."


"Wah kayaknya bener. Lo nganggep gue sebagai pacar lo beneran. Iya, kan?" Abhay semakin semangat menggoda Dara.


Karena tak bisa melawan omongan Abhay, tanpa permisi, Dara lebih memilih tuk pergi meninggalkan Abhay yang masih duduk di sana.


"Dara!" panggil Abhay saat melihat Dara yang benar-benar pergi meninggalkannya.


Walaupun secara jelas ia bisa mendengar panggilan Abhay, hal itu tak membuat Dara menghentikan langkahnya. Ia lebih memilih tuk membuka pintu keluar itu, namun dengan senyuman yang mengembangkan di kedua sudut bibirnya.


...****************...


Sepulangnya dari atap rumah sakit, Dara sampai ke rumahnya dengan keadaan yang masih linglung. Ia masih belum percaya atas apa yang terjadi pada dirinya dan Abhay.


Saat ia sudah tiba di kamarnya, Dara langsung menelentangkan badannya di atas kasur. Dengan pandangan yang menatap langit-langit kamarnya, ia mengingat-ingat kembali momen beberapa saat yang lalu.


"Apa gue beneran pacaran sama Kak Abhay?" gumam Dara seorang diri.


Lalu di saat dia mengingat momen di mana Abhay mengecup bibirnya, Dara pun kembali bergumam. "Trus ini," ucapnya sembari memegangi bibir bekas kecupan Abhay.


Bagaikan kaset kusut yang selalu berulang-ulang, Dara terus saja mengingat momen sensasional itu. Dan saat ia terus mengingat itu, berulang kali Dara menarik kedua sudutnya. Entah kenapa Dara malah sangat bahagia.


"Argh. Kok jadi begini sih jadinya," seru Dara sembari menutupi wajahnya dengan bantal. Ia menjadi malu sendiri.


Namun beberapa saat kemudian, Dara baru menyadari ada hal luar biasa yang baru saja ia lewatkan.


"Ya ampun, kenapa gue baru inget," ucapnya.


Karena sebenarnya, jauh dari kejadian itu, ada seseorang yang sudah lebih dulu mengetahui alur cerita mereka berdua. Dan orang itu adalah...


"Kak Vano! Jangan-jangan dia peramal!" seru Dara tak percaya.