Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
37. Cemburu lagi?



Sepulang sekolah, Dara akan mengikuti kegiatan yang kemarin sempat ia tunda. Kali ini dia akan mengikuti latihan taekwondo sesuai rencana awalnya.


Kini Dara sudah siap dengan baju putih kebanggaannya. Dan ia sudah berada di tengah lapangan untuk bersiap menjalani pemanasan. Saat ia sedang melakukan peregangan kecil, tak lama Rakha datang menghampirinya.


"Dara. Lo kemaren kenapa? Trus kening lo kenapa?" tanya Rakha setelah melihat kening Dara yang dibalut oleh plester.


Dara pun berhenti melakukan peregangan, lalu memegangi plester yang Rakha maksud. "Oh ini. Biasa. Jagoan jatoh di toilet," jawab Dara berbohong. Ia tak menjelaskan kejadian sebenarnya, karena menurutnya tak perlu.


"Tapi sorry yah, Kak. Kemaren gue izin gak ikut latihan," ucap Dara.


"Gak papa kok. Gue ngertiin. Pasti itu juga masih sakit, kan?" tanya Rakha.


"Ah enggak kok, udah gak sakit. Udah kering juga lukanya."


"Oh sukur kalo emang gitu," ucap Rakha tersenyum ramah.


"Ya udah, kita langsung mulai aja latihannya. Trus kalo misalkan lo ngerasa pusing, nanti bilang ke gue yah," pinta Rakha.


"Ah iya, siap Kak!"


Kemudian, mereka semua serentak berkumpul di tengah lapang gimnasium untuk bersiap melakukan pemanasan. Dan pemanasan itu seperti biasa dipimpin oleh Rakha selaku kapten tim. Baru saja mereka memulai pemanasan, tiba-tiba datang tamu tak diundang. Orang itu melenggang masuk ke dalam area gimnasium dan duduk di salah satu bangku penonton yang ada di sana.


Sadar dengan hal itu, Dara langsung membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Kak Abhay ngapain di sini? Gue kan udah bilang suruh jangan nungguin gue, ucap batin Dara.


Karena saat berangkat sekolah tadi, Dara sudah memberi tahu Abhay agar tak menunggunya, karena hari ini ia akan menjalani latihan. Abhay sudah bilang iya, tapi kenapa kini Abhay malah ada di sana? Apa yang orang itu pikirkan?


"Dara, pacar lo romantis banget, sampe ditungguin segala," ujar salah satu teman yang ada di samping Dara, tak bisa dipungkiri bahwa dia dan mungkin semua orang yang ada di sana pun langsung melihat akan kehadiran Abhay.


"Ah. Hehehe," Dara hanya tertawa canggung. Karena ia sendiri tak tahu harus bagaimana ia merespon.


Saat pemanasan sudah selesai dilaksanakan, bagian terpenting dari latihan akan segera dimulai. Dan kali ini sudah hadir secara langsung sang pelatih utama untuk mengajari anak-anak yang akan ikut turnamen nanti. Dia adalah Pak Firman, seseorang yang sudah lama menggeluti dunia taekwondo dan sudah diberi kepercayaan untuk mengajari anak-anak di SMA Nusa Bangsa.


Satu persatu Pak Firman mengajari anak-anak mengenai jurusan-jurusan terpenting dari bela diri itu. Ada yang merasa kesulitan ada juga yang langsung cepat tanggap. Contohnya saja Rakha.


Kini Pak Firman menghampiri Rakha, karena ada suatu hal yang ingin beliau pinta.


"Rakha, karena kamu sudah bisa, tolong ajarkan ke temen-temen kamu yah. Saya mau ke belakang sebentar," pinta Pak Firman pada Rakha.


"Siap, saboeum nim!" seru Rakha.


Saboeum nim adalah panggilan bagi instruktur pelatih yang sering dipakai dalam bela diri taekwondo.


"Anak-anak. Kalian diajarkan oleh Rakha dulu. Saya ada urusan sebentar," ujar Pak Firman pada anak-anak.


"Baik. Saboeum nim!"


Sesuai permintaan Pak Firman, Rakha berkeliling untuk melihat satu-persatu gerakan yang dilakukan oleh teman-temannya. Sesekali Rakha membetulkan posisi gerakan temannya jika dirasa gerakan itu belum tepat. Lalu saat ia tiba untuk melihat Dara, Dara bertanya lebih dahulu kepada Rakha.


"Kak Rakha, tangannya gini bukan sih?" tanya Dara sambil menggerakkan tubuhnya.


Rakha melihat dengan teliti gerakan yang dilakukan Dara. "Oh udah bener kok. Cuma kurang ke sini dikit," ujar Rakha sambil membetulkan posisi kaki Dara yang sedikit melenceng.


Lalu Rakha beralih melihat posisi lengan Dara. "Trus lengannya agak ke sini," tambah Rakha sembari memegangi lengan Dara untuk membetul posisi yang benar.


Dara manggut-manggut merasa mengerti.


"Oh gitu... Thanks ya, Kak," ucap Dara berterima kasih.


Ternyata ada yang merasa risih dengan apa yang Rakha lakukan terhadap Dara. Kini Abhay memicingkan mata ke arah mereka berdua, dengan raut wajah yang tak suka.


"Cih. Itu ngelatih apa modus?" gumam Abhay sinis.


Sesi latihan pun telah selesai dilaksanakan. Anak-anak berhamburan ke segala arah, mencari posisi yang enak untuk merehehatkan badan mereka yang telah lelah.


Hal yang sama di lakukan oleh Dara. Kini ia sedang menyadarkan punggungnya pada tembok sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Ini buat lo," ucap Rakha sambil menyodorkan sebotol minuman pada Dara.


Dara pun menenggakan tubuhnya untuk meraih minuman itu. "Oh, thanks ya, Kak."


Baru saja Dara mengulurkan lengannya, namun minuman itu tiba-tiba diserobot oleh orang lain.


"Thank you, Bro. Tau aja kalo gue lagi aus," seru Abhay santai. Lalu dengan seenak jidat Abhay langsung meminum minuman itu.


"Lo apa-apaan sih, Kak!" tukas Dara kesal.


Abhay tak menghiraukan ocehan Dara, ia masih sibuk menghabiskan minuman itu. Saat botol minuman itu sudah kosong, Abhay pun mendesah. "Ah... Seger!" ucapnya.


Kemudian Abhay melirik ke arah Rakha dan langsung mendapati Rakha sedang memandanginya tak suka.


"Kenapa? Gak suka minumannya diminum sama gue." Abhay sewot.


"Bukan gak suka. Tapi ada yah orang aneh kaya lo," balas Rakha tak kalah sinisnya.


"Ada, buktinya gue," kata Abhay. "Dan lagian, kenapa lo cuma ngasih minuman ke Dara doang?" tanyanya.


Lalu, Abhay mengedarkan pandangannya melihat anak-anak lain yang sedang keletihan. "Tuh liat, mereka semua juga cape. Mereka gak dikasih juga? Gak boleh gitu lo. Itu namanya pilih kasih!" tegas Abhay.


"Udah lah, Kak. Lo ngomong apa sih?!" tanya Dara geram. Abhay yang berbicara, entah kenapa Dara yang malu. Ia menjadi tak enak hati melihat Rakha yang terus diserang oleh Abhay.


"Gue lagi ngomongin fakta," tegas Abhay. "Udah kan latihannya? Ayok pulang!" ajaknya.


"Bentar dulu! Belum juga pendinginan."


"Ya udah. Gue tunggu di luar."


Abhay pun dengan santainya melenggang pergi dari sana, meninggalkan kekacauan yang terjadi karena ulahnya. Dan Abhay masa bodoh dengan hal itu.


"Maafin dia yah, Kak. Dia emang agak-agak... " Dara pun mengacungkan jari telunjuknya lalu menaruhnya di depan keningnya.


Mengerti dengan maksud Dara, Rakha pun terkekeh kecil. "Iyah. Gue ngerti kok."


"Sekarang lo dianter jemput sama dia?" tanyanya.


"Iya, Kak."


Rakha mengangguk-angguk pelan dengan raut wajah yang tak bisa terbaca.


Dara pun mengangguk. "Iyah, Kak."


...****************...


Setelah menghabiskan hampir 2 jam untuk latihan, Dara pun kembali dengan seragam putih abunya. Dengan pundak yang menggendong tas, Dara keluar dari gimnasium bersama dengan Rakha di sampingnya.


"Udah? Yok pulang," ajak Abhay saat Dara sudah keluar dari pintu.


"Kak gue duluan yah," pamit Dara pada Rakha.


Rakha menggangguk sambil tersenyum ramah. "Iya."


Dara dan Abhay hendak melangkahkan kaki dari sana, namun tiba-tiba Abhay mengentikan langkahnya seperti ada sesuatu yang tertinggal.


"Oh iya gue lupa. Tadi pas gue lagi mikir di sini, gue inget kalo lo punya janji sama gue," ujar Abhay. "Jadi kapan?"


Rakha mengerutkan alisnya, tak mengerti maksud pertanyaan Abhay. "Janji apa?"


Abhay berdesis merasa kesal karena Rakha tak langsung mengerti apa yang ia maksud atau bisa jadi Rakha sengaja melupakannya.


"Pura-pura lupa lagi. Gue kan nantang elo!" ucap Abhay geram.


Tak lama, Dara pun membulatkan bibirnya


"Oh iya. Sorry Kak Rakha. Gue belum ngasih tau dia," ujar Dara merasa bersalah. Karena ia telah melupakan permintaan Rakha untuk menjelaskan pada Abhay mengenai pertarungan itu.


"Ngasih tau apa sih?" tanya Abhay tak mengerti.


"Nanti gue jelasin di jalan," jawab Dara. "Kak Rakha gue pamit duluan yah," pamitnya lagi.


"Oh iya, silahkan."


"Jelasin apaan?" tanya Abhay lagi karena rasa penasarannya belum terjawab.


"Udah ayok pergi dulu!" ajak Dara paksa.


Karena Abhay yang terus diam di tempat, dengan terpaksa Dara pun menarik ujung lengan seragam milik Abhay agar Abhay segera pergi dari sana. Karena jika Dara menjelaskannya di sana, dia akan menduga pasti Abhay akan kembali berulah kepada Rakha. Dan Dara tak mau melihat perdebatan lagi.


"Sampe kapan lo bakal narik-narik lengan baju gue kaya gini," ujar Abhay, karena Dara tak kunjung melepaskan tarikan itu padahal mereka sudah berada di parkiran.


Mendengarnya, Dara seraya melepaskan tarikannya dengan kasar. "Ops sorry. Gue gak sadar."


Abhay pun melipatkan kedua tangannya di depan dada lalu menatap Dara lekat. Dari rautnya, ia seperti sedang menunggu jawaban. "Jadi apa? Katanya mau jelasin."


"Kata Kak Rakha, tentang pertarungan itu dia minta diundur dulu," ungkap Dara.


"Loh kenapa?! Dia takut?"


Nah kan, benar saja apa yang Dara duga. Pasti Abhay akan bereaksi seperti itu. Untung saja dia lebih dulu menarik Abhay dari sana. Jika ia menjelaskannya di sana, pasti akan terjadi sebuah perdebatan lagi.


"Bukan gitu. Kan Kakak tau sendiri, kita itu lagi fokus buat turnamen. Jadi Kak Rakha juga lagi fokus buat kesehatannya, biar fit pas nanti tanding," jelas Dara lagi.


"Halah. Bilang aja takut."


Dara pun membuang nafas kasar, sangat susah berbicara dengan orang berkepala batu seperti Abhay. "Dah lah. Terserah Kakak mau mikir apa, yang terpenting gue udah ngasih tau," ucapnya.


Dara pun menghampiri motor Abhay lebih dekat, namun tak lama ia ingat suatu hal.


"Oh ya. Perasaan gue udah ngasih tau Kakak kalo Kakak gak usah nungguin gue, trus kenapa sekarang Kakak malah ada di sana?" tanya Dara heran.


"Ya gue... Gabut aja. Lagian gue juga lagi gak ada kegiatan. Jadi iseng aja kepengen liat seberapa pinter lo tentang taekwondo. Eh ternyata gitu-gitu doang," jelas Abhay yang malah terkesan merendahkan kemampuan Dara.


Jelas Dara tak terima, ia pun mendegus kesal. "Aish. Kakak ngeremehin gue?!"


"Iyah," jawab Abhay tanpa beban.


"Trus juga, kenapa tadi Kakak nyerobot minuman itu. Bikin gue malu aja!" kesal Dara lagi.


"Malu? Harusnya tuh orang yang malu. Masa ngasih minuman ke lo doang. Gak malu sama yang lainnya," balas Abhay tak mau kalah.


"Ya suka-suka dia lah mau ngasih ke siapa. Kenapa Kakak yang repot?"


"Iya gue gak suka aja ngeliatnya!'


"Kenapa gak suka?"


"Ya gak suka aja!"


"Ya harusnya ada alasannya dong!"


"Ya alasannya karena gak suka!"


"Itu namanya bukan alasan!"


"Ya itu alasan namanya!"


"Cemburu?"


"Ya iya-"


Tiba-tiba muncul backsound suara burung gagak.


Kata-kata terakhir Abhay membuat suasana menjadi sunyi senyap. Abhay terkejut dengan ucapannya, dan Dara terkejut dengan jawaban Abhay. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Keduanya mendadak menjadi orang bisu.


Apa? Kak Abhay cemburu? tanya Dara dalam hatinya.


Karena suasana canggung yang terlalu berlarut-larut, Abhay pun berinisiatif untuk melupakan hal yang baru saja terjadi.


"Udah ayok pulang," ajak Abhay memecahkan keheningan.


Dara pun tak membalas, ia langsung naik ke motor Abhay. Sama halnya dengan Abhay, ia akan berpura-pura melupakan kejadian yang baru saja terjadi.


Suasana canggung masih berlanjut sampai mereka berada di perjalanan. Abhay yang sedang menyetir, pikirannya menjadi kacau. Salah satu hal yang paling ia benci adalah suasana canggung, dan ia ingin sekali mengakhiri semuanya.


"Lo jangan salah paham. Gue tadi salah denger aja," ucap Abhay, berharap Dara akan mengerti.


Dan jawaban Dara pun hanya, "oh."