Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
22. Curious



"Dara liat. Banyak yang lirik-lirik ke lo. Pasti pikirannya sama kaya gue semalem," ujar Ruby.


Kini mereka berdua sudah berada di kantin. Dara tidak peduli dengan rumor yang sudah merebak di penjuru sekolah mengenai rumor hubungannya dengan Abhay. Rumor itu tidak cukup memberhentikan niat Dara untuk tidak pergi ke kantin. Karena menurutnya, urusan perut adalah nomer satu. Dengan mementingkan rumor, perutnya tidak akan kenyang.


"Dah lah biarian aja," timpal Dara santai sambil menyuapkan sebutir bakso ke mulutnya.


"Lo gak risih apa?"


"Ya trus lo mau gue colokin mata mereka satu-persatu?" ungkap Dara yang membuat Ruby langsung terkekeh mendengarnya.


"Hehehe... Ia juga sih."


Disaat mereka sedang asyik mengisi perut mereka, sepasang kaki tiba-tiba berjalan menghampiri mereka.


"Gue boleh gabung?" tanya orang itu.


Dara mendongak, lalu sempat terkejut saat mengetahui yang menghampiri meja mereka adalah Rakha.


"Loh Kak Rakha. Sendirian?" tanya Dara ramah.


"Iyah. Temen gue lagi gak mau ke kantin," kata Rakha. "Jadi, gue boleh gabung?" tanya Rakha lagi.


Dara menggangguk. "Oh boleh-boleh."


"Thanks ya."


Setelah diizinkan bergabung, Rakha seraya duduk di kuris kosong yang berada tepat di hadapan Dara. Tak jarang, aksinya mendapat respon aneh dari beberapa orang yang melihatnya. Namun ia tak mempedulikannya. Karena menurutnya, tak ada yang harus dipedulikan selagi ia tidak memiliki niat apapun.


"Kakak udah pesen?" tanya Dara tiba-tiba.


"Oh udah. Bentar lagi juga jadi."


Tak lama, Rakha melihat ke arah wanita yang duduk di samping Dara. Ia ingat wajah wanita itu yang selalu berada di samping Dara. Jadi ia bisa menyimpulkan bahwa wanita itu adalah temen dekatnya Dara.


"Berdua aja?" tanya Rakha setelah melihat Ruby.


"Iyah kak," jawab Dara.


Lalu Rakha kembali melihat ke arah Ruby, seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Lo sendiri. Nama lo siapa?" tanya Rakha ramah pada Ruby.


Ruby yang sedari tadi diam langsung syok setelah Rakha menotice dirinya.


"Ha... Gu-gue?" tanya Ruby memastikan dengan suara yang gelagapan.


"Iya. Lo temennya Dara, kan?"


"Iyah. Gue Ruby Kak," jawab Ruby masih canggung.


"Oh Ruby. Gue Rakha." Tanpa diminta Rakha memperkenalkan dirinya.


"Iya, Kak. Udah tau kok," kata Ruby. "Siapa di sini yang gak kenal Kakak," lanjutnya.


Cowok yang paling jago taekwondo dan punya wajah high quality. Siapa sih yang gak kenal Kak Rakha, tambah Ruby namun hanya bisa didengar oleh batinnya sendiri.


"Oh gitu yah." Rakha seraya tersenyum malu.


Ruby membeku melihat Rakha yang tiba-tiba tersenyum. Rasanya hampir sama saat ia melihat Abhay yang tersenyum saat itu. Entahlah, Ruby selalu lemah jika ada kaum tampan tersenyum di depannya.


Plis Kak jangan senyum! Gue letoy kalo ngeliat cowok ganteng senyum! Ruby meronta-ronta dalam hatinya.


Tak lama pesanannya Rakha tiba. Akhirnya mereka pun mengisi waktu makan siang bersama.


Di tengah mereka yang sedang makan bersama, Rakha kembali melihat Dara.


"Oh ya, Ra. Gue denger-denger lo kemarin pingsan yah?" tanya Rakha.


"Kakak tau?"


"Ya jelas tau lah. Lo kan sekarang populer semenjak pacaran sama Abhay. Semua pergerakan lo banyak yang mantau. Jadi gak usah kaget lagi," ungkap Rakha.


"Oh gitu yah." Dara tersenyum malu mendengar pernyataan Rakha.


Tak bisa dipungkiri, kehadiran Abhay yang terlibat dalam hidupnya membuat perbedaan dalam kehidupannya saat ini. Kini ia tak bisa terlepas dari tatapan-tatapan aneh dari orang yang tak sengaja melihatnya. Walaupun sudah lebih dari seminggu ia 'berpacaran' dengan Abhay, namun tetep semua pergerakannya hingga kini masih menjadi pusat perhatian bagi orang yang melihatnya.


"Baik-baik aja kok Kak. Pas udah sadar juga gue langsung segeran."


"Ya jelas lah. Masa calon sabuk hitam keok," gurau Rakha sambil terkekeh kecil. Begitu pun dengan Dara.


"Bisa aja nih Kakak," timpal Dara.


Saat mereka asyik bergurau, Ruby sebagai kaum yang lemah akan senyuman orang tampan, hanya bisa diam. Ia malah sibuk memuji bagaimana ciptaan tuhan yang begitu sempurna.


"Oh ya. Gue denger-denger sih, katanya Abhay yang nyelametin lo?" tanya Rakha tiba-tiba. "Kata orang-orang sih, Abhay keliatan khawatir banget pas bawa lo ke UKS. Emang bener?"


"Hah?" Dara sedikit terkejut, tak menduga Rakha akan menanyakan hal itu. "Gue gak tau Kak. Gue kan pingsan, jadi gue gak tau kejadian sebenarnya," ucapnya.


"Oh iya. Gue juga yang bego nanyain itu ke lo. Berarti gue harusnya nanya ke orang yang ngeliat langsung dong yah," ujar Rakha. Kini ia beralih melihat ke arah Ruby. "Lo liat, kan?"


"Eh... Iya-Kak," jawab Ruby gagu. "Yang gue liat sih gitu," ungkapnya.


"Oh gitu," timpal Rakha. "Jadi udah serius sekarang?"


Dara mengernyitkan alisnya, tak mengerti apa yang dimaksud Rakha. "Ha? Serius apanya?"


"Ya hubungan lo."


Untuk kesekian kalinya Dara dibuat terkejut oleh pertanyaan Rakha. Tak disangka, pertanyaan itu membuat Rakha ingin tahu juga. Ia sampai berpikir, sebegitu menarikkah hubungannya dengan Abhay? Sampai Rakha sekalipun ingin mengetahuinya.


Melihat Dara yang terdiam, tak langsung menjawab, membuat Rakha tak enak hati. "Eh sorry. Gue lagi-lagi udah kelewatan nanyanya."


Dara menggelengkan kepalanya. "Gak kok, Kak. Lagian gue sama kak Abhay juga masih sama. Gak ada yang berubah," jelasnya.


Rakha kembali meng-oh ria. Dan tanpa disadari, seutas senyuman terlukis dibibirnya setelah Dara mengatakan hal itu.


Di lain tempat. Angel, Rere dan Selly berjalan memasuki kantin. Namun saat mereka hendak memiilih tempat duduk mereka, dari kejauhan Rere melihat suatu pemandangan yang sangat menarik.


"Jel, Angel!" panggil Rere. Angel dan Selly pun serentak memberhentikan langkahnya.


"Apaan sih?" tanya Angel.


"Itu si Dara lagi sama cowok lain. Siapa tuh yang ketua taekwondo itu?" Rere balik bertanya karena tiba-tiba lupa dengan nama Rakha.


"Rakha?"


"Iyah, Rakha! Tuh liat mereka lagi barengan."


"Mana?"


"Itu tuh."


Rere menujuk ke arah Dara dan Rakha berada. Tak lama Angel pun melihatnya. Kemudian ia tersenyum picik.


"Dasar ******! Sok oke banget bisa deket- deket sama cowok famous di sekolah ini," jelas Angel dengan mimik tak suka terukir di wajahnya.


"Wajar sih. Dia emang oke kok," timpal Selly sembarangan.


Angel dan Rere pun serentak melotot ke arah Selly.


"Kalian kenapa? Kok pada melotot ke gue?" ujar Selly dengan raut wajah bodohnya.


"Lo pikir!" kata Rere geram. Kini ia beralih melihat Angel. "Tapi Jel. Bisa dimanfaatin gak sih ini?"


Angel berpikir. Pemandangan yang kini ia lihat memang sangat menarik. Sangat disayangkan jika ia membiarkannya begitu saja. Beberapa detik kemudian, senyum picik kembali muncul di bibir milik Angel. "Bisa dong!" seru Angel.


Kemudian, Angel mengeluarkan gadget di saku seragamnya. Lalu ia menekan mode kamera kemudian mengarahkan kamera itu kepada pemandangan yang ia lihat.


"Lo kenapa moto mereka Jel? Buat apa?" tanya Rere. Masih tak paham dengan rencana Angel.


"Buat ngasih tau ke majikannya lah, kalo anjingnya dicuri orang!" seru Angel bersemangat dengan senyum picik yang semakin mengembang.


"Oh ya. Pinter juga lo," timpal Rere. Lalu ia pun ikut tersenyum picik.


"Iya dong. Angel gitu loh!"


Setelah ia selesai menangkap gambar, ia pun segera mengirimkan foto itu kepada seseorang yang harus mengetahuinya.


Send to Abhay.