Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
88. Terungkap!



Motor ninja merah itu sudah tiba di kediaman rumah Dara. Walaupun beberapa kali Abhay sempat hilang fokus saat menyetir, ia berhasil mengantarkan Dara pulang dengan keadaan selamat.


Dara menggerakkan tubuhnya untuk turun dari motor Abhay. Ia menyerahkan helmnya pada Abhay dan hendak menyampaikan maksudnya. "Kakak masuk dulu yuk ke dalem," ajaknya pada Abhay.


"Gue mau langsung pulang aja, Dara," balas Abhay menolak. Ia sedang dalam tak kondisi baik untuk ngapel ke rumah pacarnya.


"Gak. Pikiran Kakak itu lagi gak fokus. Gak bener kalo dilanjut nyetir. Masuk dulu yuk," ajak Dara lagi sangat memaksa.


Bukannya apa-apa, Dara cukup khawatir melihat kondisi Abhay seperti itu. Contohnya saja tadi, jika tadi ia tak berteriak menyadarkan Abhay, mungkin mereka sudah bernasib malang. Jadi ia bermaksud mencegah Abhay agar tak lagi terjadi hal serupa.


Untuk beberapa saat Abhay sempat berpikir untuk menerima tawaran Dara. Dan ia juga mengakui bahwa dirinya memang seperti apa yang Dara katakan. Hingga kini pikirannya pun masih terasa sumriwet. "Ya udah deh." Abhay pun menerimanya.


Bersama-sama mereka masuk ke dalam rumah. Dara mempersilahkan Abhay untuk duduk di sofa dan membiarkan Abhay merilekskan pikirannya.


"Gara-gara kecelakaan tadi yah, Kakak jadi gak fokus?" tanya Dara.


Abhay menatap Dara sendu, lalu ia mengangguk pelan mengiyakan tebakan Dara. "Kejadian tadi ngingetin gue sama almarhum ibu gue," ucapnya.


Sudah Dara duga, pasti ada hubungannya dengan ibunya Abhay. Ia tak jadi penasaran lagi saat sudah mendengar jawaban dari mulut Abhay langsung. Dan Dara bisa mengerti bagaimana perasaan Abhay kini. Pasti sangat sulit dan tak nyaman di saat tak sengaja melihat kejadian yang mengingatkan pada masa lalu yang kelam.


"Loh ada calon ipar nih," seru seseorang yang baru keluar dari tempat persembunyiannya.


Dara mengalihkan perhatiannya dari Abhay dan segera menemukan Kakaknya yang sedang berjalan menghampiri mereka.


"Kebetulan," ucap Dara. Ia pun membangkitkan tubuhnya dari sofa dan menghampiri Kakaknya.


Dara berjalan mendekatkan dirinya pada Kakaknya, kemudian ia juga mendekatkan wajahnya pada telinga Kakaknya. Ia pun berbicara setengah berbisik. "Tolong ngajak ngobrol dia, kalo bisa hibur dia," pintanya pada Andra.


"Kenapa? Emang gue badut," jawab Andra dengan suara yang pelan juga.


"Plis tolongin gue. Gue mau ganti baju sekalian mau bawain minum," lanjut Dara.


"Ya udah sono."


Dara pun tersenyum senang. Karena Andra sudah menurut perintahnya, ia hendak langsung pergi ke kamarnya. "Kak gue ke kamar bentar yah. Kakak ama Bang Andra dulu," izinnya pada Abhay dan langsung diberi anggukan oleh cowok itu.


Setelah Dara sudah pergi, Andra ikut mendudukkan dirinya di sofa di seberang Abhay. Ia segera menyadari raut wajah Abhay yang tak biasa. Terlihat jelas bahwa Abhay seperti orang tak bergairah dan wajahnya begitu murung.


"Kenapa Bro, lemes gitu mukanya?" tanya Andra.


"Oh ini... Ya... gitu deh, Bang," jawab Abhay seadanya sembari memaksa dirinya untuk tersenyum.


"Udah gak usah malu-malu, gue juga pendengar yang baik kok. Kali aja lo mau cerita, gue siap dengerin. Kalo lo gak mau, gue juga gak maksa," jelas Andra menawarkan dirinya untuk jadi pendengar. Tak apa lah sesekali ia bersikap serius pada pacar adiknya. Karena sesungguhnya cara terbaik untuk menstabilkan emosi ya dengan mengeluarkan unek-unek.


"Ini. Tadi ada kecelakaan di jalan. Trus malah ngingetin gue sama masa lalu, jadi yah... gue syok aja, Bang," aku Abhay jujur pada Andra.


"Emang tadi ada kecelakaan? Dimana?"


"Di perempatan jalan sana. Korbannya ibu-ibu."


Dari pengakuan Abhay, Andra bisa menebak apa yang sebenarnya Abhay pikirkan. Kecelakaan, masa lalu, dan ibu-ibu. Dari clue-nya Andra pikir pasti ada hubungannya dengan keluarga. "Apa ibu lo ngalamin hal yang sama?" tanya Andra memastikan.


Abhay pun mengangguk mengiyakan. "Dan sialnya kenapa harus sama. Pelakunya sama-sama anak sekolah," tambah Abhay.


"Maaf ni sebelumnya. Kabar ibu lo sekarang gimana?"


"Udah meninggal, gak lama setelah kejadian itu."


Sejenak jiwa Andra seketika terenyuh. Ia merasa iba mengetahui kemalangan nasib Abhay yang sebenarnya. Wajar saja jika Abhay merasa tak nyaman seperti itu. Teringat masa lalu yang kelam memang tak enak untuk dikenang.


"Emang brengsek tuh bocah. Ngapain pake kabur segala. Gaya doang digedein, sok-sokan jadi penguasa jalanan, giliran ada masalah kaya gini bisanya kabur. Orang-orang kaya gitu pantesnya lenyap! Gak pantes dikasih nyawa," seru Abhay sedikit emosi. "Gue jadi pengen tau, sebenernya apa sih yang dipikirin bocah brengsek itu, sampe berani-beraninya kabur gitu aja?"


"Pasti pikirannya kacau," jawab Andra tak lama.


Abhay pun melihat Andra heran. "Maksudnya, Bang?"


Penjelasan Andra malah membuat Abhay semakin heran. Bukan heran karena tak mengerti isi penjelasan itu, tapi Abhay heran mengapa Andra bisa berkata seperti itu. Andra berkata seolah ia memposisikan dirinya seperti penabrak itu.


"Kok Abang bisa ngomong gitu, Bang?" tanya Abhay, tak peduli jika Andra akan tersinggung dengan ucapannya, yang terpenting rasa ingin tahunya bisa terjawab.


"Karena gue pernah jadi diposisi dia," ungkap Andra tak gentar. "Gue dulu pernah jadi pelaku juga. Tiga tahun yang lalu gue pernah gak sengaja nabrak ibu-ibu. Dan kalo boleh jujur, gue juga sempet dipenjara. Tapi penjaranya beda sama penjara orang dewasa, karena pada saat itu gue masih di bawah umur," tambahnya lagi lebih terperinci.


Andra tanpa rasa malunya berbicara sangat terbuka di depan Abhay. Ia berani mengakui sisi bejadnya di masa lalu pada Abhay. Mungkin karena ia sudah lama mengenal Abhay dan sudah menganggap Abhay seperti saudara sendiri, jadi ia dengan leluasanya berani berbicara mengenai hal pribadinya, karena ia sudah percaya pada pacar adiknya itu.


Namun dari pengakuan Andra, Abhay tak bisa lagi menahan rasa terkejutnya. Ia sungguh terkejut mengetahui fakta mencengangkan itu. Andra pernah jadi pelaku kejahatan? Dan anehnya mengapa Andra sudah bebas dan bisa kembali hidup normal?


"Tapi maaf, Bang. Kenapa Abang sekarang udah bebas?" tanya Abhay.


"Gue juga gak tau pastinya. Karena dari pihak keluarga korban tiba-tiba memberhentikan kasus dan memaafkan gue," jawab Andra.


"Alasannya?"


Andra mengangkat kedua bahunya tak tahu. "Suami ibu itu gak ngasih tau alasannya, dia tiba-tiba memaafkan gue aja. Dan dia cuma bilang ke gue kalo gue harus berubah."


"Korban sendiri, apa meninggal?"


"Gak langsung meninggal, sempet dibawa ke rumah sakit dan sempet bertahan juga, tapi gak lama ibu itu... meninggal."


Andra semakin menseriuskan wajahnya. Mengingat masa lalu memang selalu membuat jiwanya terguncang. Walau sudah tiga tahun berlalu, namun rasanya baru kemarin. Walaupun ia sudah kembali hidup normal, namun ia selalu merasa rendah dan selalu muncul sebuah rasa penyesalan jika ia sudah mengingat kejadian itu. Andai waktu bisa berputar kembali. Andai pada malam itu ia tak memaksa pergi dari rumah, mungkin tragedi itu tak akan terjadi menimpanya.


"Jujur aja pas tau itu gue ancur banget. Gue bener-bener ngerasa bersalah, dan sempet ada pemikiran, apa gue harus menyerahkan diri aja?" ungkap Andra mengutarakan perasaannya pada saat itu. "Tapi ya... gimana. Pasti gak mudah."


Mendengar semua pengakuan Andra, entah kenapa membuat Abhay lama-kelamaan menjadi terpancing emosinya. Tanpa sadar Abhay pun mengepalkan genggamannya kuat-kuat. Sungguh tak adil! Itulah yang Abhay pikirkan sekarang. Menurut Abhay, sekalipun orang di depannya itu Kakak pacarnya, ia harus mengakui bahwa tindakan itu sudah tak benar. Kejahatan tetaplah kejahatan. Sekecil apapun kejahatan yang dilakukan, haruslah mendapatkan imbalan yang setimpal. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Semuanya harus adil sesuai tingkat kejahatan yang manusia itu lakukan. Lalu, mengapa Andra tidak?


Sebenernya Abhay juga sudah mulai terpancing emosinya saat Andra memberitahunya bahwa Andra dimaafkan begitu saja oleh keluarga korban dan tanpa ada alasan yang jelas. Fakta itu bukan lagi aneh, tapi sudah konyol dan tak masuk di akal. Hal itu cukup membuat Abhay jadi kesal sendiri. Manusia mana yang begitu mudahnya melepaskan penjahat begitu saja? Jika Abhay tau siapa siapa orang itu, ingin sekali Abhay berteriak untuk menyadarkannya.


"Di sisi lain gue kasihan sama temen gue, dia juga ikut kena dalam masalah ini," aku Andra lagi.


"Maksudnya?" tanya Abhay tak paham.


"Belum lama gue ketemu sama temen gue, dan dia bilang kalo anak korban tau plat nomer motor dia dan ngehajarin dia habis-habisan karena anak itu berpikir bahwa temen gue adalah pelakunya. Padahal sebenernya, pada malam itu, motornya lagi dipinjem sama gue," jelas Andra begitu terang-terangan.


"Dan anehnya, kasus ini sebenarnya ditutup rapet banget, karena suami korban adalah orang penting. Orang itu berpikiran kalo sampe kasus ini bocor, itu bakal mempengaruhi usaha dia. Bahkan katanya, anaknya pun gak boleh tau fakta mengenai kasus ini. Tapi kenapa anaknya bisa tau plat nomer temen gue?"


Sungguh mencengangkan! Otot dalam tubuh Abhay seketika mengencang, dan otaknya seketika menjurus pada satu ingatan.


"Gue kasih tau sama elo yah. Itu memang motor gue, tapi orang yang nabrak ibu elo bukan gue, tapi orang lain!"


Fakta macam apa lagi ini? Mengapa pengakuan Andra mengingatkannya pada kejadian saat ia menghajar Reno beberapa bulan yang lalu? Dan jika Abhay mengingat kembali, mengapa semua pengakuan Andra dari awal sampai akhir sangat berhubungan dengan dirinya? Dari waktu kejadian yang sama, kronologinya sama, dan yang paling menguatkan keyakinannya yaitu mengenai plat nomer itu. Mengapa semuanya terasa begitu mengarah pada dirinya?


Beberapa kali Abhay pun berusaha menyakinkan dirinya bahwa Andra bukanlah pelakunya. Lagi pula dari jutaan manusia, mengapa harus Andra? Sangat mustahil! Tidak mungkin Andra pelakunya! Namun semakin ia mengelaknya, fakta itu malah semakin menempel di otaknya. Lalu ia harus bagaimana?


Walaupun tak siap untuk mengetahui kenyataannya, Abhay berniat untuk memastikannya langsung. Ia tak ingin larut dalam rasa penasaran yang berlebihan. Itu hanya akan membuat dirinya semakin gila. Jadi, apakah ini saatnya?


Dengan dada yang bergemuruh, dan mulut sedikit kaku. Abhay akan melakukannya. Apapun jawabannya nanti, ia harus siap mendengarkannya.


"Apa plat nomernya B 3141 YA?" tanya Abhay pada akhirnya.


"Seinget gue sih itu," jawab Andra.


"Atas nama... Reno?"


"Iya."


Andra tiba-tiba tersadar. Hal aneh baru saja terjadi. Padahal ia tidak mengatakan identasnya asli temannya. Lalu, bagaimana Abhay bisa mengetahui tentang itu?


Andra membulatkan kedua matanya lebar-lebar, dan ia pun bertanya. "Kok lo tau?"