Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
70. Kalah saing? Itu bukan Abhay



"Pertandingan dimulai dalam hitung satu, dua, tiga!"


Prittt!!


Pertandingan pun dimulai. Dara pun kembali mengalihkan pandangannya ke tengah lapangan untuk melihat pertandingan yang sudah berlangsung. Pertandingan tim putra memang selalu menjadi yang terseru, karena cara bermain tim putra memang enak untuk lihat, tidak seperti tim putri yang selalu grasak-grusuk.


Abhay yang menyadari Dara yang begitu antusias melihat pertandingan itu, ia menjadi cukup panas. "Jaga mata," ucap Abhay memperingati Dara.


"Apaan sih Kak. Gue liat pertandingannya bukan Kak Rakha nya doang," balas Dara tanpa memutuskan pandangannya.


Dan saat Rakha berhasil mencetak point dengan cara yang spektakuler, tanpa sadar mulut Dara mengeluarkan sebuah suara. "Wuih keren!" pujinya tanpa sadar pada Rakha.


Sadar dengan kebodohannya, Dara buru-buru mengalihkan pandangannya pada Abhay. Dan benar saja, kini Abhay sudah menatapnya dengan sorot mata yang begitu tajam. Jika begitu, Dara harus segera meluruskan kesalahpahaman itu.


"Tekniknya! Bukan Kak Rakhanya. Kakak curiga mulu sama gue." Dara pun ngeles.


Tak tahan dengan keantusiasan Dara pada Rakha, Abhay membangkitkan dirinya dan melangkah kakinya menuju tengah lapangan.


"Kak mau ngapain?!" seru Dara. Ia cukup terkejut dengan apa yang akan Abhay lakukan di sana.


"Kak Abhay bener-bener gak bisa ditebak!"


Dan benar saja, kini Abhay sudah berdiri ditengah lapangan dan menghampiri salah satu teman kelasnya yang sedang bertanding.


"Lo sana, biar gue aja," pintanya pada orang itu.


Orang itu pun langsung menganggukan kepalanya cepat. Jika Abhay sudah memerintah seperti itu, ia mau tak mau harus menurut. Karena jika tak begitu, Abhay akan terus memaksa.


Lalu Abhay melangkah kakinya lebih dekat dengan Rakha dan menatap cowok itu dengan mata elangnya.


"Mau ngapain lo?" tanya Rakha lebih dulu.


"Bikin malu lo lah," jawab Abhay begitu yakin.


Rakha melihat seragam putih abu yang melekat pada tubuh Abhay. "Pake seragam kaya gini?"


"Apa yang gue pake gak pengaruh sama kemampuan gue," timpal Abhay dengan segala keangkuhannya.


Tenyata aksi meraka berdua sukses menyita banyak pasang mata yang ada di sana. Mereka yang tadinya tak tertarik dengan pertandingan itu, kini banyak orang turut melihat. Jika sudah berhubungan dengan Abhay dan Rakha, itu akan selalu menjadi hal yang sangat menarik untuk dilihat. Tak terkecuali dengan sang pemandu pertandingan.


"Wah ternyata ada pemain baru guys! Kedua babang tampan akan saling bertarung! Pertandingan yang sangat seru pemirsa!" seru pemandu itu dengan pengeras suaranya.


Dan pertandingan babak kedua akan segera dimulai, wasit pun sudah berdiri di tengah lapang untuk mengawasi jalannya pertandingan.


Prittt!!


Wasit telah meniup peluitnya, pertadingan pun telah dimulai. Abhay dengan jiwa yang begitu membara langsung menunjukkan skill basketnya. Seperti apa yang baru saja ia katakan pada Rakha, ia akan membuat orang itu merasa malu.


Baru beberapa menit pertadingan berlangsung, ternyata Ruby kembali menujukkan batang hidungnya. Ia pun duduk di samping Dara lagi.


"Kak Abhay ikut tanding?" tanya Ruby.


"Gak tau tuh, kalo liat Kak Rakha bawaannya selalu begitu. Gak mau kalah!" jawab Dara. Lalu ia mengalihkan pandangannya sejenak. "Katanya pergi, kenapa balik lagi?"


"Gak usah diambil hati, Kak Abhay emang gitu. Tapi aslinya baik kok dia."


Mendengar Dara dengan sengaja memuji sang kekasih, Ruby pun mengerucutkan bibirnya. "Aduh yang muji pacarnya sendiri, gue jadi iri," ucapnya.


Dara hanya tersenyum tak menimpali dumelan Ruby. Ia mengalihkan perhatiannya untuk kembali melihat pertandingan. Dan Ruby pun melakukan hal yang sama.


Di tengah lapangan, Abhay menujukkan skillnya dengan baik. Ia beberapa kali mencetak point dan berhasil mengungguli tim Rakha yang kini sudah tertinggal jauh. Suara gemuruh selalu mengiringi Abhay disetiap kali ia berhasil mencetak point.


"Harus gue akui Kak Abhay emang keren sih. Dia lebih jago basket dari pada Kak Rakha," puji Ruby. Ia tak munafik untuk mengakui bahwa Abhay sangat jago bermain basket.


Pertandingan akhirnya usai dan Abhay mengantarkan kelasnya menjadi yang nomor satu. Abhay pun turut merasa bahagia. Sebenernya bukan itu penyebab Abhay merasa begitu, karena alasan utamanya adalah seperti janji awalnya, ia berhasil membuat Rakha malu.


Lalu Abhay mendekati Rakha dengan wajah angkuhnya. "See? Gue emang jago dari pada elo," ucapnya. Lalu ia berjalan menjauh dengan senyum remeh yang sempat ia lontarkan pada Rakha. Ia sungguh merasa menang.


...****************...


Di malam harinya, seperti apa yang Dara katakan, acara makan-makan akhirnya terjadi. Kini di atas meja makan sudah dipenuhi oleh berbagai macam makanan dan tentunya cake ulang tahun yang turut terletak di sana.


Seiring berjalannya waktu, Abhay pun datang dengan sebelah tangan yang menjinjing sebuah bingkisan. Lalu Abhay pun mendekati Ayah Leo dan menyalaminya.


"Selamat ulang tahun Om. Ini ada sedikit hadiah buat Om," ucap Abhay sembari memberikan bingkisan itu.


Dengan wajah yang berbinar-binar, Ayah Leo menerima hadiah itu dengan begitu antusias.


"Haduh mantu Om yang satu ini memang pengertian sekali. Terima kasih yah Abhay," ucap Ayah Leo dan berhasil membuat Abhay malu saat Ayah Leo telah menyebutnya mantu.


"Hehehe. Iya Om," timpal Abhay dengan senyuman canggung.


Tak lama, Ruby pun datang dengan hal serupa. "Selamat ulang tahun Ayah Leo. Ini hadiah dari saya, mohon diterima yah," ucapnya dengan sopan.


"Haduh jadi banyak yang ngasih kado gini. Terima kasih yah Ruby," seru Ayah Leo. Beliau memang sudah mengenal Ruby karena Ruby sering bolak-balik ke rumahnya untuk menemui anaknya. Jadi beliau sudah mengenal betul.


"Ini tinggal tunggu siapa lagi?" tanya Ayah Leo.


"Si Andra kan belum dateng Yah," jawab Bunda Iis dengan tangan yang masih sibuk menata makanan-makanan yang ada di atas meja.


Yah Andra. Di saat semua orang sudah duduk manis melingkari meja makan, hanya Andra lah yang belum ada di sana.


"Oh iya. Bang Andra kemana Bun? Dari Dara pulang sekolah udah gak ada," ujar Dara baru tersadar.


"Tadi sih bilangnya mau main, tapi sekalian mau jemput temennya ke sini," jawab Bunda Iis.


"Aneh banget pake dijemput segala. Emang temennya pejabat apa gimana?" tanya Dara curiga.


"Lagi ngomongin gue yah?"


Bagai terpanggil, Andra langsung menujukkan dirinya. Semua orang di sana pun serentak menoleh dan sama-sama membulatkan matanya. Bukan Andra yang sudah menyita perhatian mereka, namun sosok 'teman' yang telah dibawa Andra.


"Bang Andra! Lo bawa siapa?!" tanya Dara sangat sangat terkejut.


Dan seseorang yang dibawa Andra adalah seorang perempuan cantik nan anggun dengan usia yang tak jauh berbeda dengan Andra. Disitulah kecurigaan semua orang terbangun dan berpikir bahwa perempuan itu adalah kekasihnya Andra.