Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
47. Mission completed



"Sorry yah, gue udah bikin kacau," ucap Vano merasa bersalah.


"Gak papa. Santai aja."


Karena tak tega, Vano ikut membungkukkan badannya untuk memunguti buku-buku yang berserakan di lantai.


"Buku sebanyak ini lo bawa sendirian?" tanya Vano.


"Tau tuh si KM. Dia pikir karena gue jago taekwondo, tenaga gue kuat. Jadi nyuruh gue. Lah, gue kan anak taekwondo yah, bukan anak angkat besi. Emang ngadi-ngadi tuh orang," dumel Dara.


Apa yang dikatakan Dara berhasil membuat Vano terkekeh kecil. Melihat bagaimana respon Dara saat ditanya, ia bisa menyimpulkan bahwa Dara memang anak yang asik. Dara sama sekali tak canggung berbicara dengannya sekalipun itu adalah pertemuan pertama mereka. Melihat hal itu, ia jadi tak penasaran lagi mengapa Abhay sampai betah berlama-lama dengan Dara.


Setelah buku-buku itu selesai diambil, mereka pun berdiri.


"Sebagian gue bawain yah," tawar Vano tiba-tiba.


"Eh gak papa, Kak. Jadi ngerepotin," balas Dara merasa segan.


"Udah gak papa. Kelas gue ngelewatin kelas lo ini."


Dara pun tersadar, bahwa kelas 12 IPS memang melewati kelasnya. Jadi apa Dara terima saja tawaran Vano? Lagi pula perjalanan ke kelasnya cukup jauh, jadi lumayan juga jika ia menerima tawaran Vano.


"Ya udah kalo Kakak mau, gue jadi seneng deh," ucap Dara sembari menyeringai.


Mereka akhirnya berjalan beriringan untuk mencapai kelas mereka. Sesuai apa yang ditawarkan Vano, ia pun membawa sebagian buku yang sudah ia genggam di tangannya.


"Kakak namanya siapa, Kak?" tanya Dara. Sangat aneh rasanya jika ia tak mengetahui nama lelaki yang ada di sampingnya, di saat lelaki itu sudah tahu lebih dulu dengan namanya.


"Gue Vano," jawab Vano.


"Oh ... Terus ada satu lagi temennya Kak Abhay. Itu siapa?" tanya Dara lagi. Karena setahu dia, Dara melihat Abhay selalu bersama kedua temannya.


"Gilang," jawab Vano. "Kenapa tanya-tanya? Mau gabung sama kita?" tanya Vano iseng.


Mendengar pertanyaan Vano, Dara terkekeh kecil. "Enggak. Basa-basi aja gue mah," ujarnya.


Lalu setelahnya mereka termenung. Di momen itu Vano jadi berpikir untuk mengatakan sesuatu kepada Dara. Sesuatu yang sangat ingin ia katakan. Melihat situasi yang sangat mendukung, apakah ia harus mengatakannya sekarang?


"Gimana sama Abhay? Udah makin serius?" Vano memulai niatnya diawali dengan pertanyaan.


"Ha? Serius apaan? Orang gitu-gitu aja," jawab Dara.


"Ah masa? Orang gue liat Abhay kayanya makin serius sama elo," ungkap Vano. "Gak ada niatan buat jadian beneran? Atau jangan-jangan udah?" tiba-tiba Vano menuduh.


Dara seraya membulatkan matanya setelah Vano menuduhnya seperti itu. "Enggak kok! Kita gak jadian beneran," seru Dara.


"Wah sayang banget. Udah selama ini, tapi belum resmi juga?"


"Ya gimana. Emang niat awalnya juga gak begitu," ungkap Dara jujur.


Dari jawaban Dara, Vano jadi salut kepada Abhay. Karena sampai sekarang Abhay masih kuat mempertahankan hubungan seperti itu. Padahal Vano yakin betul bahwa Abhay sangat menginginkan hal lebih.


"Mau gue ceritain rahasia?" tawar Vano tiba-tiba.


"Rahasia apa?" Dara balik bertanya karena penasaran.


"Tentang Abhay."


"Ya kalo Kakak percaya sama gue, silahkan aja," ucap Dara tak masalah.


Setelah Dara menyetujuinya, Vano akan benar-benar menyampaikan niatnya. Ia akan mengungkapkan banyak hal penting yang harus Dara ketahui.


"Jadi Abhay ini punya keluarga yang kacau. Kacau banget. Kacaunya gimana, biar Abhay sendiri yang cerita ke lo," ujar Vano.


"Kok Kakak bisa yakin Kak Abhay bakal cerita ke gue?" tanya Dara heran.


"Ya yakinlah. Kalo gak percaya, liat aja nanti," timpalnya sangat yakin.


Lalu Vano kembali melanjutkan ceritanya. "Gue udah temenan sama Abhay sekitar tiga tahunan. Dan selama itu, setiap gue liat Abhay kaya gak ada semangat hidup gitu. Ya intinya kaya gak ada kehidupan aja dalam diri Abhay. Seriusan," jelas Vano.


"Ya lo pasti denger lah dari orang-orang nakalnya Abhay itu gimana. Tapi selain itu, aslinya dia lebih kacau lagi. Dia hidupnya murung terus. Seumur-umur gue belum pernah liat Abhay senyum, apalagi ketawa bahagia. Gue belum pernah liat. Dan lagi, dia jarang banget pulang ke rumahnya."


Saat mendengar penjelasan Vano, Dara jadi sadar bahwa memang ada hal aneh dari diri Abhay. Hal itu semakin menguat saat ia sadar bahwa Abhay selalu menghindar jika ia menanyakan hal tentang keluarganya.


Jadi ini alasannya, ujar batin Dara.


"Dan percaya atau enggak, semenjak lo hadir dalam hidup Abhay, dia jadi berubah drastis," lanjut Vano.


"Berubah gimana?"


"Ya dia jadi lebih rajin dateng ke sekolah. Ya mungkin karena semangat nganterin lo ke sekolah," ujar Vano.


Dara mengerutkan keningnya tak percaya, karena Vano tiba-tiba beralasan seperti itu. "Masa kaya gitu?" tanyanya tak percaya.


"Ya sepantauan gue sih gitu," jawab Vano.


"Sekarang dia juga sering pulang ke rumahnya. Dan yang paling keliatan banget, gue udah mulai melihat tanda-tanda kehidupan dari diri Abhay. Dia gak murung lagi. Malahan gue sering banget mergoki dia lagi senyum-senyum sendiri. Ya pastinya gara-gara elo," kata Vano.


Lalu Vano berhenti berbicara untuk menyampaikan kesimpulan dari omongannya. "Jadi kesimpulan dari gue. Abhay udah serius sama elo," ucap Vano yang tak kalah seriusnya.


Mendengar ucapan Vano, Dara tersenyum remeh. Karena apa yang diucapkan Vano belum masuk di akalnya. "Masa sih, Kak. Gue aja gak kepikiran ke sana," ucapnya.


Vano pun berdecak saat Dara tidak mempercayainya. "Yeh ... lo gak percaya?"


Karena Dara yang belum mempercayainya, ia berniat untuk kembali memperkuat argumennya.


"Gue kasih bukti nyatanya," ujar Vano. "Abhay selama hidupnya, gak pernah peduli sama hidup orang. Boro-boro hidup orang, hidup sendiri aja gak diurus. Tapi sekarang apa? Dia mau aja jadi ojek pribadi elo. Dan gue juga yakin, sesekali Abhay juga berbuat baik sama elo. Bantu elo. Iya, kan?"


Dara membisu. Karena memang tak ada alasan bagi dia untuk menyangkal omongan Vano. Dan Dara tak munafik bahwa Abhay pernah, bahkan sering sekali berbuat baik kepadanya. Tanpa ia sadari secara langsung.


"Dan Abhay aslinya gak gitu," tambah Vano.


Lalu Vano melirik ke arah Dara yang tengah termenung. Melihatnya, Vano tersenyum puas, karena Dara sudah terbius dengan omongannya. Jika sudah begitu, saatnya Vano untuk mengeluarkan peluru terakhirnya.


"Jadi saran gue, lo lebih buka lagi mata lo. Pikirin apa yang udah Abhay perbuat sama elo. Karena Abhay sebenernya udah cinta sama elo," ucapnya tegas.


Tepat setelah Vano melontarkan kata cinta, Dara langsung terkekeh kecil. Karena sejatinya, kata itu sangat tidak cocok di telinga Dara.


Melihat respon Dara yang sepertinya meremehkan ucapannya. Vano kembali dibuat geram.


"Lo gak percaya lagi?" tanya Vano. "Liat aja nanti. Kalo Abhay sampe nyeritain kisah hidupnya sama elo, itu artinya dia udah percaya sama elo. Dan itu artinya, lo bukan orang lain lagi bagi hidup dia," tegas Vano dan berhasil membuat Dara kembali bungkam.


Saking seriusnya, mereka sampai tak sadar bahwa mereka baru saja melewati kelas Dara.


"Loh. Kelas lo kelewatan yah?" Vano menyadarinya lebih dulu.


"Aa?"


Dara masih linglung. Ia menengok ke kanan kirinya dan baru menyadari bahwa memang kelasnya terlewat satu kelas. "Oh iya, Siniin bukunya, Kak. Makasih udah bantu gue," ucapnya.


Lalu Vano pun menyerahkan buku yang sedari tadi ia pegang kepada Dara.


"Soal tadi, maaf gue terlalu banyak omong," ujar Vano.


"Kenapa minta maaf? Kakak kan gak salah," timpal Dara.


Vano pun tersenyum simpul lalu berniat langsung pergi dari hadapan Dara.


"Ya udah, gue pergi yah," pamit Vano. Namun saat ia baru melangkahkan satu kakinya, ia teringat sesuatu.


"Oh ya satu lagi. Lo jangan bilang ke Abhay gue ngomong kaya tadi yah. Lo pura-pura aja gak tau," pinta Vano dan langsung diberi anggukan dari Dara.


"Iya, Kak. Gue gak akan ngasih tau," ucapnya.


Setelah Dara menyetujui permintaannya, Vano pun benar-benar pergi meninggalkan Dara. Dan di situ Vano yakin, apa yang ia katakan tadi akan selalu terngiang-ngiang di otak Dara.


Mission completed.