Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
94. Mendung



Terhitung sejak kemarin, suasana di meja makan terasa begitu mendung. Apalagi setelah terjadi kejadian kemarin sore, kekakuan pun terus berlanjut bahkan semakin menjadi.


Bunda Iis beberapa kali mencuri pandangannya untuk melihat Dara yang sedang makan nasi goreng dengan lunglai. Terlihat raut wajah Dara yang sangat murung, matanya pun terlihat begitu sembab. Melihat itu, sudah jelas bahwa Dara habis menangis semalaman.


"Sayang, nanti berangkatnya dianter sama Ayah, yah," ucap Bunda Iis pada Dara.


"Gak usah, Bunda. Lagian arah ke sekolah sama rumah sakit berlawanan. Nanti jadi repot. Aku naik angkot aja," tolak Dara tanpa mengalihkan pandangannya dari nasi gorengnya.


Setelah menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk memakan sarapannya, Dara segera menggendong tas sekolahnya. Ia pun mendekatkan dirinya pada kedua orang tuanya untuk bersaliman.


"Dara berangkat sekarang. Ayah. Bunda," pamitnya dengan senyum paksaan yang ia ukir. Saat sudah selesai menyalimi kedua orang tuanya, Dara pun lantas pergi.


Bunda Iis melihat punggung Dara yang perlahan menghilang. Ia menatapnya dengan penuh rasa iba. Nafas kasar terhembus dari hidungnya. Bunda Iis merasa tak tenang.


"Yah. Gimana ini?" tanya Bunda Iis pada sang suami mengenai keadaan Dara saat ini.


"Ya gimana. Ayah juga bingung," timpal Ayah Leo. Pikirannya pun buntu, tak bisa memikirkan solusi terbaik untuk memperbaiki kekacauan yang sudah terjadi.


Bunda Iis memasang wajah memelasnya. Ia sangat frustasi. Karena secara tak langsung, kekacauan yang terjadi saat ini ada sangkut pautnya dengan dirinya. "Ini juga salah kita karena kita gak kasih tau fakta ini dari awal," gumamnya.


...****************...


Baru saja ia turun dari angkot, namun Dara langsung dihadiahi tatapan-tatapan aneh dari orang-orang yang ada di sana. Saat Dara berjalan melewati gerbang masuk sekolah, benar saja, sudah ada bejibun orang yang tengah menatapnya dengan pandangan yang serupa.


Dara sebenarnya tahu mengapa mereka seperti itu. Mereka yang biasa melihatnya selalu berjalan beriringan dengan Abhay. Namun sekarang mereka melihat pemandangan lain, dimana Dara berangkat sekolah seorang diri, pasti di mata mereka hal itu terasa aneh. Walau begitu, Dara tak mempedulikan tatapan mereka. Ia bahkan masih bisa berjalan dengan tenang sampai ia tiba di kelasnya.


Ruby yang melihat kedatangan Dara, ia melihat Dara begitu antusias. Ada sebuah tanda tanya besar yang kini sedang membelenggunya.


"Dara! Apa bener kalo Kak-" Ruby tak jadi menyelesaikan ucapannya. Kata-katanya reflek menghilang saat ia menyadari wajah Dara yang tak biasa.


Dara yang sudah duduk di sampingnya, membuat Ruby semakin jelas untuk melihat mata Dara yang sangat sembab. "Dara? Lo kenapa?" tanyanya dengan suara yang melembut.


"It's okay," jawab Dara singkat diiringi oleh sebuah senyuman tipis. Ia mencoba terlihat baik-baik saja.


Walaupun Dara menjawab baik-baik saja, Ruby tentu saja tak mempercayainya. Hanya melihat matanya saja, Ruby sudah tahu bahwa Dara sedang tak baik-baik saja. Ruby tak sebodoh itu untuk memahaminya.


"Dara, lo lagi kenapa sebenernya? Dari kemaren tingkah lo aneh. Lo selalu cuekin gue. Gue ajak ngobrol selalu gak digubris. Gue ngerasa lagi ngomong sama patung," ujar Ruby mengeluarkan unek-uneknya. Tak peduli jika Dara tersinggung dengan ucapannya.


"Apa jangan-jangan ada hubungannya sama Kak Abhay?"


Nama itu baru saja disebut oleh Ruby, spontan mimik wajah Dara bereaksi dengan sendirinya. Batinnya terasa getir saat mendengar nama itu.


"Dara lo tau gak sih, kalo sekarang itu lo lagi tranding di sekolah? Mereka sadar, ada keanehan dari hubungan lo. Kalian yang biasanya nempel banget kaya prangko, tapi sejak kemaren lo gak barengan sama Kak Abhay. Mereka juga sadar kalo sejak kemarin lo berangkat sekolah sendirian. Jadi mereka semua pada berasumsi aneh-aneh tentang elo," jelas Ruby memberi tahu semuanya.


"Bairin aja mereka mau ngomongin apa tentang gue," timpal Dara dengan mudah.


"Masalahnya serius banget yah?" tebak Ruby.


Lebih dari serius, ucap Dara hanya mampu diucapkan lewat batinnya.


"Maaf Ruby. Kali ini gue belum bisa ngasih tau apa-apa sama elo. Karena gue belum siap. Jadi gue juga minta sama elo, untuk saat ini biarin gue kaya gini," pintanya pada Ruby.


Menurut Dara lebih baik seperti itu, karena jika ia memberi tahunya sekarang, bisa-bisa ia akan menangis lagi. Sudah cukup banyak air mata yang ia tumpahkan tadi malam. Ia tak mau menangis lagi, apalagi ini di sekolah. Dara masih punya malu. Dan lagi. Ini bukan persoalan yang biasa, namun ada sangkut-pautnya dengan Andra. Dan Dara bisa menebak bagaimana respon Ruby jika nantinya cewek itu sampai tahu.


"Oke kalo itu yang lo mau, gue juga gak maksa. Tapi gue harap, masalah yang sekarang lagi menimpa lo, semoga segera terselesaikan. Dan lo bisa hidup normal lagi sama Kak Abhay," ucap Ruby berharap. Ia benar-benar tulus mengatakan hal itu.


...****************...


"Hey Dara. Gue boleh gabung," ucap seorang lelaki yang datang entah dari mana.


Dara yang sedang menyeruput minumannya, ia segera mendongakkan kepalanya saat seseorang memanggil namanya. Matanya segera mendapati Rakha yang kini sudah berdiri di depannya.


"Boleh, Kak," ucap Dara.


Karena sudah diberi izin, lantas Rakha mendudukkan dirinya di kursi depan Dara bersama makanan yang sudah ia beli.


"Hari ini kan ada latihan terakhir karena anak-anak kelas dua belas mau ujian. Apa hari ini lo bisa ikut latihan terakhir ini?" tanya Rakha.


"Kalo gue izin gak ikut, apa boleh Kak?" izinnya pada Rakha.


"Boleh aja sih kalo lo bener-bener gak bisa," balas Rakha.


"Makasih yah, Kak."


Keheningan terjalin diantara mereka bertiga. Yah, mereka bertiga. Karena di sana pun ada Ruby yang dengan setianya selalu berada di samping Dara. Tak seperti biasanya, kali ini Ruby sedikit was-was melihat kehadiran Rakha. Ruby takut bahwa Rakha akan menanyakan pertanyaan yang kini sedang dihindari Dara.


"Gue denger, kalian lagi ada masalah yah?" tanya Rakha tiba-tiba.


Seketika Ruby berdengus. Belum lama ia mengkhawatirkan itu, namun Rakha langsung mengesekusinya.


Dara termenung. Ternyata Rakha sama saja seperti anak-anak lainnya. Apa sebegitu menariknya hubungannya dengan Abhay, sampai tak ada seorang pun yang ingin melewatkannya?


Dara pun menarik kedua sudut bibirnya. Ia berusaha bersikap santai. "Gitu deh, Kak," jawab Dara sekenannya.


"Semoga hubungan lo sama Abhay cepat membaik yah," harap Rakha dengan sebuah senyuman yang tak bisa diartikan.


Dara hanya menggaguk sebagai jawaban. Ia tak ingin berbicara lebih banyak lagi.


"Oh ya kalo gue boleh jujur, gue belum lama liat Abhay tingkahnya aneh banget," ungkap Rakha setelahnya.


Dari pengakuan Rakha, tiba-tiba Dara langsung tertarik. Karena di saat ia belum melihat Abhay lagi, namun Rakha sudah melihatnya. "Kapan, Kak?" tanya Dara penasaran.


"Kalo gak salah kemarin lusa, pas sore lebih tepatnya. Gue liat dia di jalan. Cuma gue ngerasa aneh aja pas ngeliat dia kemaren. Dia naik motor kaya orang kesurupan. Pokoknya bahaya banget. Bukan cuma nyawa dia aja yang terancam, tapi membahayakan pengendara lain juga," aku Rakha dengan jelas.


Dara terpatri. Dari pengakuan Rakha, Dara menduga bahwa waktu dimana Rakha melihat Abhay adalah waktu dimana Abhay baru saja pergi dari rumahnya, tentu saja setelah Abhay melakukan obrolan dengan Andra. Wajar saja jika Abhay seperti yang dikatakan Rakha. Mengetahui kenyataan pahit itu, pastinya membuat Abhay saat itu merasa hancur.


"Jadi. Apa ada hubungannya dengan itu?" tanya Rakha.


Menyadari Rakha yang kelewat ingin tahu, Ruby menjadi geram sendiri. Dari raut wajah Dara, seharusnya Rakha bisa tahu sendiri bahwa kini Dara sedang tak suasana baik. Namun lelaki masih saja ingin tahu.


Ruby melihat jam di pergelangan tangannya. "Wah lima menit lagi mau bel masuk nih," ujar Ruby menyela pembicaraan mereka. "Maaf yah Kak, kita harus balik ke kelas. Ngobrolnya dilanjut nanti aja yah."


Ruby pun berdiri dan meraih lengan Dara. "Ayo Dara kita ke kelas," ajaknya.


Dengan setengah lamunan, Dara menuruti keinginan Ruby. Ia pun ikut terbawa tarikan tangan Ruby dan meninggalkan Rakha seorang diri.


...****************...


Seorang remaja laki-laki melajukan motornya ke area halaman rumah super besar. Ia memarkirkan motornya asal dan segera masuk ke dalam rumah yang sudah beberapa hari ini ia tinggal.


Dengan penampilan acak-acakan, dan raut wajah kusut, lelaki itu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat-lihat setiap sudut rumahnya untuk menemukan sosok yang ia cari.


"Abhay! Kamu kemana saja? Kamu sembuyi dimana selama ini?" pekik Pak Arief sangat terkejut saat melihat kedatangan Abhay yang kini tiba-tiba saja ada di depan matanya.


Abhay berjalan lebih dekat mendekati papahnya. Ia menatap papahnya begitu dalam. Tak lama mulutnya pun bersuara. "Pah," panggil Abhay dengan sebutan tak biasa.


Pak Arief tentu saja ia langsung terkejut. Bagaimana tidak, untuk pertama kali setelah tiga tahun lamanya, baru kali ini Abhay kembali menyebutnya dengan sebutan 'Pah'. Sudah melihat putranya kembali, lalu ditambah lagi dengan putra menyebut dirinya papah. Tak ada yang bisa menandingi kebahagian Pak Arief saat ini.


"Abhay mau bicara sama Papah," ucap Abhay terlihat serius.


"Bicara apa?"


"Abhay memutuskan untuk menuruti permintaan Papah."


"Permintaan apa?" tanya Pak Arief, karena beliau lupa dengan permintaannya sendiri.


"Abhay setuju untuk..."


Abhay menarik nafas panjangnya dalam-dalam. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa pilihannya sudah tepat. Dan ia juga memastikan bahwa dirinya tak akan menyesal.


"Kuliah ke Amerika."