
Kebaya lotus, rok coklat corak batik, sepatu high heels standar, rambut sanggul, serta riasan wajah natural menempel pada diri seorang Adara Leona. Hari ini adalah harinya, dimana ia akan melangsungkan acara kelulusan di sekolahnya.
Sebelum keluar rumah, Dara memperlihatkan dirinya di depan cermin. Dara tersenyum manis memperhatikan dirinya yang sangat berbeda hari ini. Ibu penata rias yang dibawa bundanya benar-benar tak mengecewakannya. Dara yang jarang bersolek diri, kini disulap menjadi putri bak di kerajaan. Dara sangat puas dengan hasilnya.
"Haduh cantiknya anak Ayah ini," puji Ayah Leo saat Dara sudah keluar dari dalam rumah.
"Iya dong, siapa dulu yang cari penata riasnya. Bunda Iis gitu loh," sahut Bunda Iis malah memuji dirinya sendiri.
"Yuk, udah siap?"
"Bentar Yah, Andranya juga belum keluar," ucap Bunda Iis, kemudian beliau berteriak memanggil Andra. "ANDRA CEPETAN!! KITA MAU BERANGKAT!!""
Di saat Ayah Leo, Bunda Iis dan Dara sudah bersiap di depan mobil, Andra belum juga beres dengan dirinya. Wajar saja Andra belum siap, karena bangun pun baru tadi sekali.
"Lama banget sih kamu," dumel Bunda Iis setelah Andra sudah keluar.
"Ngapain sih Andra suruh ikut segala? Emang kita mau piknik? Sekeluarga harus ikut semua," cerocos Andra. Memang niat awalnya ia tak ingin ikut ke acara kelulusan adiknya, namun karena bundanya sangat memaksa dan mengancam motornya yang akan disita, jadi ia dengan sangat terpaksa menuruti keinginan bundanya.
"Udah lah Bunda, Bang Andra tinggal aja di rumah. Ngapain ngajak orang yang gak mau," timpal Dara tak ingin ambil pusing.
"Udah ayo berangkat. Kamunya juga udah siap-siap pake baju batik, tinggal berangkat aja, kan."
Andra pun melihat dengan pasrah baju batik yang ia kenakan. Ini juga akibat ulah bundanya. Bundanya sangat niat membelikan baju batik khusus untuknya. Kalo tidak dipakai, ancaman akan kembali dilontarkan.
"Ayo buruan. Nanti Ayah kebagiannya duduk di belakang. Ayo pada masuk," perintah Ayah Leo sudah tak sabar.
Mereka berempat pun berbondong-bondong masuk ke dalam mobil. Ayah Leo dan Bunda Iis duduk di depan, lalu Dara dan Andra duduk di belakang. Mereka sudah bersiap untuk berangkat.
Perjalanan baru berjalan sekitar lima menit, namun hal tak diinginkan tiba-tiba menimpa mereka.
Ngik! Ngik! Ngik!
Mobil yang dikendarai Ayah Leo berjalan putus-putus, dan menimbulkan goyangan di dalam mobil.
"Yah, mobilnya kenapa?" tanya Bunda Iis bingung.
"Berasa kaya lagi naik delman," sahut Andra masih sempat-sempatnya bercanda.
Tak lama kemudian, mobil itu bukan lagi berjalan seperti kuda, namun tiba-tiba mati begitu saja.
"Yah kok mati," ucap Bunda Iis mulai panik. "Coba nyalain lagi, Yah."
Ayah Leo pun menyalakan ulang mobilnya. Beliau memutar-mutar kunci lalu menekan tombol star. Berulang kali Ayah Leo melakukan hal yang sama, namun tak ada sedikitpun tanda-tanda mobil itu akan menyala. "Gak bisa," ucapnya.
"Haduh masa gak bisa, Yah? Ini Dara gimana dong? Nanti telat," sahut Dara mulai tak tenang.
"Bentar Ayah turun dulu."
Karena percobaan dari dalam sudah tak bisa, Ayah Leo turun dari mobil untuk mengecek mesin. Saat beliau membuka kap mobil depan, kepulan asap langsung keluar dari dalam. Ayah Leo nampak frustasi saat mobilnya mengeluarkan asap begitu banyak. Ia pun menghampiri keluarganya lagi untuk memberi tahu.
"Ini harus manggil tukang," ujar Ayah Leo.
"Emangnya serius?"
Ayah Leo mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya.
"Trus gimana dong? Bentar lagi acaranya mau mulai," ucap Dara gelisah.
"Udah lah, kelulusannya ditunda besok lagi aja," timpal Andra bercanda lagi.
Dara pun melirik kakaknya dengan sorot mata tajam. "Asli gak lucu," ucapnya ketus.
"Ya udah kita turun dulu yuk," perintah Bunda Iis.
Mereka semua turun untuk sama-sama mencari solusi. Ayah Leo pun segera menghubungi seseorang yang bisa menolong mereka.
"Ada, lagi ke sini. Tapi ya pastinya bakal lama," jawab Ayah Leo.
Dara langsung berdecak, ia sudah berada dalam puncak kefrustasian. Ada-ada saja masalah yang menimpanya di hari yang penting ini. Ia ingin marah, namun ia juga tak tahu akan marah kepada siapa, karena ayahnya pun tak mengira mobilnya akan seperti ini.
"Kamu naik kendaraan umum aja yah, nanti kita nyusul," usul Bunda Iis.
"Itu pun kalo ada Bunda. Dara hapal banget cari angkot di sini itu gak gampang," balas Dara sangat yakin, karena ia sudah berpengalaman dengan hal seperti ini.
Dara pun memutar otaknya. Tak akan beres jika ia hanya diam saja. Sebisa mungkin ia harus sampai ke sekolah bagaimana pun caranya.
"Udahlah, Dara cari cara sendiri aja," ucap Dara saat sebuah ide sudah muncul di otaknya.
"Cara gimana?"
Dara tak menjawab bundanya, ia langsung melangkah kakinya menjauhi keluarganya dan berdiri lebih dekat dengan jalanan.
"Dara, kamu mau ngapain?" tanya Bunda Iis, tak paham dengan tindakan yang akan dilakukan putrinya.
"Udah biarin aja Bunda. Tuh anak emang suka kaya gitu." Andra yang menjawab. Tanpa diberi tahu, ia sudah tahu apa yang akan dilakukan adiknya.
"Kaya gitu gimana? Dia mau ngapain?"
"Liat aja nanti," balas Andra enteng.
Bunda Iis kembali dibuat bingung oleh kedua anaknya. Dara tak memberi tahu, Andra pun malah memberi tahunya tak jelas. Saat beliau kembali melihat ke arah jalanan, mata Bunda Iis langsung membulat hebat dan berteriak.
"DARA!!"
Ngikkk!!
Suara gesekan ban yang direm terdengar begitu jelas. Pengedara motor itu berhenti mendadak saat melihat seseorang yang tiba-tiba menghadang jalannya.
Dengan high heels yang dikenakannya, Dara berlari tergopoh-gopoh menghampiri pengedara motor itu.
"Bang tolong anterin saya ke sekolah yah. Nanti saya bayar deh. Soalnya ini daru-"
Dara berhenti berucap. Ia baru saja menyadari keanehan dari seseorang yang ia cegat ini. Mengapa nampak tak asing?
"Kaya kenal. Motornya, helmnya," ucap Dara sambil memperhatikan sesuatu yang dibawa oleh orang itu.
TINT!! TINT!! TINT!!
Belum sempat Dara menemukan jawabannya, beberapa mobil dan motor beramai-ramai membunyikan klakson karena Dara sudah menyebabkan kemacetan.
Pengendara motor itu pun membuka kaca helm full face-nya, lalu berucap. "Ayo naik dulu," kata orang itu.
Dara terkejut saat mendengar orang itu mengeluarkan suaranya, lalu Dara pun melihat mata yang terlihat di balik helm itu.
"Kak Abhay?"
"Ayo cepetan, di belakang macet," perintah Abhay.
Dara bergegas menaiki motor ninja itu. Karena dirinya yang memakai rok ketat, jadi ia duduk di jok itu dengan posisi miring, lalu kedua tangannya berpegangan pada kedua bahu Abhay. Saat sudah siap, Abhay menjalankan motornya.
Bunda Iis menatap punggung Dara yang mulai menghilang dengan raut kebingungan. Hal yang sama terpatri pada raut wajah Ayah Leo. Mereka sama-sama bingung melihat tingkah gila putrinya.
"Dia naik sama siapa?" tanya Ayah Leo linglung.
"Bunda juga gak tau," balas Bunda Iis.
Jika kedua orang tua Dara menunjukkan kebingungannya, tapi tidak dengan kakaknya. Andra sama sekali tak terkejut dengan tingkah gila adiknya itu. Dan lagi, Andra juga dapat mengetahui siapa orang yang tadi pergi bersama Dara walau hanya dengan melihat motornya saja.
Itu Abhay. Dia udah pulang.