
1 tahun kemudian.
Sebagian orang berpendapat bahwa satu tahun akan berjalan begitu cepat jika seorang itu menikmati apa yang sedang mereka kerjakan. Namun tak semua orang memiliki pendapat seperti itu, termasuk bagi seorang gadis yang bernama Adara Leona. Bagi Dara, selama ia menjadi siswi kelas 12, semuanya terasa membosankan. Karena waktu yang ia jalani selama satu tahun itu, lebih banyak ia habiskan untuk belajar, belajar, dan belajar. Tak ada yang spesial. Mengapa demikian? Karena di sisi lain Dara juga ingin mengejar nilai terbaik agar ia bisa masuk ke universitas impiannya.
Dan satu lagi. Faktor tak ada penyemangat hidup, itu juga yang menyebabkan waktu terasa lambat. Walaupun terasa lambat, percaya atau tidak, sampai detik ini Dara masih kuat menjalaninya. Dia dan Abhay, masih kuat untuk menjalankan hubungan jarak jauh mereka. Namun di balik semua itu, tentu saja butuh perjuangan yang extra sabar. Sabar menanti hingga tiba waktunya mereka bertemu, walaupun mereka tak tahu, kapan waktu itu akan mempertemukan mereka.
Hingga tiba saatnya ia berhasil melampaui waktu yang membosankan itu, Dara meluapkan kelegaan yang amat luar biasa, karena hari esok adalah puncaknya, dimana ia akan melangsungkan kelulusan di SMA tercintanya.
"Dara. Lo sekarang bisa nggak anter gue?" ajak Ruby pada Dara saat waktu pulang sekolah telah tiba.
"Kemana?"
"Beli buket bunga."
"Buat?"
"Gue."
"Buat graduation besok?" tanya Dara lagi dan langsung diberi anggukan kepala oleh Ruby.
Dara mengerutkan keningnya heran. "Kok lo yang beli sendiri?" tanyanya.
"Nyokap gue mau ngasih buket bunga buat gue, tapi dia nggak tau tempat jualannya, jadi dia nyuruh gue," jelas Ruby.
Dara terkekeh kecil mendengar alasan Ruby. "Aneh banget. Buket buat elo, tapi lo sendiri yang beli," ucap Dara disela kekehannya.
"Biarin aja," timpal Ruby masa bodoh. "Anterin gue yah? Please, supaya gue punya rekomendasi dari lo, yah. Please," bujuknya lagi.
Dara cukup lama berpikir sebelum mengambil keputusan, karena sebenarnya ia juga punya rencana sendiri sesudah pulang sekolah ini. Namun setelah melihat wajah Ruby yang sangat memelas, membuatnya tak tega jika menolaknya.
"Iya iyah. Ayo," ucap Dara bersedia.
Ruby pun langsung merekahkan senyumannya, kemudian ia menarik lengan Dara untuk berjalan lebih cepat menuju halte. Karena dua-duanya tak ada yang membawa kendaraan pribadi, jadi mereka akan pergi ke toko bunga menggunakan angkutan umum. Baru beberapa menit mereka menunggu di halte, tak berselang lama benda besi itu langsung datang. Syukurnya sang dewi fortuna sedang memihak kepada mereka.
Kedua pemudi itu sudah tiba di toko bunga pilihan Ruby. Suasananya cukup ramai dipenuhi oleh para pembeli. Wajar saja karena besok adalah acaranya. Jadi mereka-mereka juga melakukan apa yang sedang Ruby lakukan sekarang.
Ruby berkeliling mencari bunga yang sekiranya menarik perhatiannya, dan Dara dengan setia membuntuti dimana Ruby melangkah. Tak lama langka Ruby terhenti saat ia melihat sekumpulan bunga mawar yang menyegarkan matanya.
"Dara, bagus mana? Merah, putih, pink, oren, atau ungu?" tanya Ruby meminta pendapat.
Dara melihat satu persatu bunga-bunga di depannya. Semua mawar itu memang menyegarkan matanya, namun hanya ada satu bunga yang paling menarik perhatiannya diantara bunga-bunga yang lain. "Menurut gue sih merah," ucapnya.
"Alesannya?" tanya Ruby.
"Ya menurut gue mawar paling identik sama merah. Warna yang paling mencolok dan maknanya paling dalem," ujar Dara menjelaskan.
"Maknanya melambangkan cinta yang kuat dan membara. Kalo ini sih cocoknya yang ngasih pacar gue. Sedangkan mana pacar gue-nya? Ngeledek gue yah lo?" Ruby sewot, merasa habis diledek oleh Dara.
Dara hanya terkekeh. Walaupun sebenarnya ia tak bermaksud seperti itu, namun melihat bagaimana cara Ruby menuduh, menurutnya malah terkesan lucu.
"Tapi, Ra. Bayangin deh kalo tiba-tiba Kak Abhay dateng ke acara graduation elo, trus bawain mawar merah ini. Beh.. janji gak mau meninggoy lu?" ujar Ruby random.
Dara menghentikan kekehannya, ia ganti kekehannya menjadi sebuah senyuman miris. "Gak mungkin," ucapnya.
"Kok nggak mungkin?"
"Dia sekarang lagi ujian, mana mungkin tiba-tiba dateng," ungkap Dara. Meskipun Abhay hidup jauh di sana, komunikasi mereka cukup baik, sehingga Dara sangat tahu apa yang sedang Abhay sibukkan saat ini.
"Di dunia ini gak ada yang nggak mungkin, bisa aja tiba-tiba Kak Abhay dateng lewat pintu kemana sajanya Doraemon. Iya, kan?" tutur Ruby diselingi candaan.
"Kalau pun ada, kamaren-kemaren pasti kita udah ketemu, gak harus nunggu setahun. Ada-ada aja lu," balas Dara meladeni candaan Ruby.
"Iya juga sih," ucap Ruby merasa bodoh dengan omongannya sendiri.
"Udah ayo pilih, malah cerita lagi," sahut Dara.
"Gue gak bisa milih. Semuanya cantik-cantik. Gue pilih tiga aja lah." Tiga yang dimaksud Ruby adalah dia akan membeli tiga buket bunga sekaligus.
Mengerti dengan niat Ruby, Dara melebarkan matanya. "Banyak-banyak amat lu!" seru Dara.
"Iya kan yang satu buat nyokap gue, satu lagi buat bokap gue, satu laginya buat kakak gue," ucap Ruby beralasan.
"Buat buat gimana? Orang ujung-ujungnya buat lo juga," ujar Dara mematahkan pemikiran Ruby.
"Hehehe. Iya sih. Bodo lah. Gue mau beli tiga. Biar kesannya gue dapet banyak buket gitu."
Dara lagi-lagi terkekeh dengan omongan Ruby. "Serah lo, Bambang. Jomblo emang sulit," ejek Dara, kali ini ia benar-benar bermaksud meledek Ruby.
"Anjir lo, ngeledek gue mantep banget," balas Ruby tak terima. Ia pun marah, namun marah yang terkesan dibuat-buat. Dara yang menyadari hal itu, ia malah semakin semangat menertawakannya, bahkan terdengar lebih keras.
Disela tawanya yang belum habis, Dara mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Dan saat ia tak sengaja mengarahkan pandangannya ke arah kasir, tawa Dara seketika berhenti secara mendadak. Lalu ia juga langsung menseriuskan wajahnya.
Itu kok punggungnya gak asing banget, ucap Dara dalam batinnya saat melihat seorang lelaki di meja kasir.
"Dah yuk, kita langsung bayar aja. Lo gak mau beli juga?" tanya Ruby setelah selesai memilih bunga-bunganya.
"Ra?" panggil Ruby, karena seruannya tak didengar oleh Dara.
"Dara?" panggilnya lagi, namun sama. Dara masih fokus dengan penglihatannya.
"Dara!" teriak Ruby akhirnya mengeluarkan khodamnya.
Suara keras itu tentu saja membuat Dara tersentak hebat. Ia langsung memutuskan pandangannya lalu melihat Ruby setengah sadar. "Hah iyah. Apa?" tanyanya linglung.
"Lo liatin apa sih sampe serius gitu?" tanya Ruby.
"Itu, gue..." Dara kembali melihat ke arah yang tadi ia lihat. Seseorang yang hendak ia tunjukan kepada Ruby, tiba-tiba saja menghilang. Dara pun mengendarkan pandangannya mencari sosok itu lagi, namun sayangnya tak ada. Ia mengira pasti orang itu sudah keluar dari toko bunga.
"Apa?" tanya Ruby bingung karena Dara malah sibuk mencari sesuatu.
Dara memutuskan pandangannya lagi dan kembali melihat Ruby yang sedang menunggu jawaban. "Nggak penting. Udah kan? Yuk bayar," ajak Dara. Ia tak ingin memperpanjangnya lagi karena percuma saja, orangnya pun sudah tak ada.
Tiga buket bunga ukuran sedang benar-benar jadi dibeli Ruby. Lalu mereka pun segera keluar dari toko bunga untuk pulang. Mereka akan pulang menggunakan angkot juga.
Saat diperjalanan yang baru berjalan setengah jalan, Dara berseru pada Pak sopir angkot untuk meminta turun. "Pak, berhenti di rumah sakit depan yah," perintahnya.
"Iya, Neng," jawab Pak sopir itu.
"Ngapain berenti di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Ruby heran.
"Nggak ada yang sakit. Gue mau main aja," jawabnya terkesan bercanda, namun nyatanya seperti itu.
Jawaban itu jelas saja membuat Ruby melihat Dara aneh. "Stress lo. Main di rumah sakit. Main sama mayat?" tanyanya sambil cengengesan.
"Udah jangan kepo."
Angkot itu sudah sampai di tempat tujuan Dara. Tak lupa sebelum turun Dara membayarnya lalu segera masuk ke dalam rumah sakit. Jangan tanyakan lagi kemana Dara akan melangkah kakinya. Jika sudah menyangkut rumah sakit, pastinya ia akan pergi ke rumahnya.
...****************...
Di sini, di tempat tertinggi ini, Dara berdiri seorang diri membiarkan semilir angin sore menerpa wajahnya. Dara sering seperti ini. Dalam satu minggunya, ada satu hari dimana ia selalu menyempatkan datang ke tempat ini. Tak ada tujuan lain. Ia datang hanya untuk melepas rindu terhadap seseorang. Cukup dengan datang dan berbicara seorang diri, jiwa Dara selalu merasa lebih baik.
"Kak udah setahun, besok gue mau lulus aja," ucap Dara mulai bercerita.
"Gue juga mau kuliah Kak, tapi gak jauh-jauh di sini."
"Andai gue punya banyak duit, atau punya otak jenius, mungkin gue bakal nyusilin Kakak kuliah di sana," ucap Dara berandai-andai.
Setelah itu Dara menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu ia memejamkan matanya sembari menikmati angin sore yang sangat menyejukkan wajahnya.
Di saat seperti ini, Dara selalu teringat dia. Dulu, ia sering menikmati momen ini bersama dia. Di kala ia sudah teringat satu momen bersama dia, otomatis momen-momen lain pun turut datang menghampirinya. Bukannya sedih, Dara selalu tersenyum saat otaknya dikerubungi oleh ribuan momen-momen manis bersama dia. Karena hanya dengan membayangkan wajah dia di dalam otaknya, efeknya selalu membuat hati Dara terasa lebih berbunga-bunga.
"Kak, kapan kita bisa ketemu? Gue kangen pake banget." Dara kembali berucap dengan mata yang masih terpejam.
"Gue juga kangen pake banget."
Dara tersenyum miris, karena ia baru saja membayangkan Abhay yang membalas ucapannya. Apakah serindu itu ia dengan Abhay, sampai ia bisa berhalusinasi suara Abhay dengan begitu jelas? Sungguh, Dara juga mengasihani dirinya sendiri.
Dara pun membuka matanya kembali, lalu berucap lagi. "Saking kangennya, gue berasa gila. Masa iya gue ngehaluin suara Kakak."
"Iyah, gue juga gila karena lo."
Lagi-lagi Dara kembali terbayang suara itu. Kini ia bukan lagi tersenyum miris, namun ia tertawa kecil. Ia menertawai dirinya sendiri karena mengira bahwa dirinya memang sudah benar-benar gila.
"Tadi aja juga gue ngira Kakak ada di toko bunga. Padahal udah jelas tadi pagi pun Kakak ngirimin poto lagi belajar. Malah gue berharap itu beneran Kakak lagi. Sumpah sih, gue udah gila," ungkapnya. Dari ucapan Dara sudah terjawab bahwa seseorang yang ia lihat di toko bunga tadi mirip dengan postur tubuh milik Abhay.
"Lo liat gue?"
"Iyah," jawab Dara tanpa sadar.
"Kok gue gak liat lo?"
"Ya mana gue tau, kok tanya gue."
"Ya trus gue tanya siapa kalo bukan lo?"
"Ya gak-"
Dara berhenti berucap. Ia baru tersadar ada hal aneh baru saja terjadi. Ia tadi memang merasa dirinya sudah gila, namun menyadari ia yang sedang melempar omongan dengan seseorang, itu sudah tak lagi wajar dan sudah di luar batas kegilaannya.
"Ini udah gak wajar! Suaranya kok jelas banget ada di belakang gue!" seru Dara cukup keras.
Dengan tergesa-gesa Dara membalikkan badannya ke belakang, mencari tahu bahwa dugaannya benar atau salah. Dan saat ia sudah membalikkan tubuhnya secara keseluruhan, Dara mematung dengan kedua bola mata yang membulat hebat.
"Kak Abhay?"