
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana turnamen taekwondo itu akan dimulai. Setelah menghabiskan sekitar satu minggu untuk berlatih, ini saatnya untuk menunjukan hasilnya.
Pertandingan itu diadakan di salah satu Gor olahraga yang berada di pusat kota. Dan kini Pak Firman dan anak-anak didiknya sudah berada di pinggir lapangan. Beliau sedang melakukan perundingan kepada anak-anaknya, untuk memberikan motivasi dan semangat kepada mereka.
"Oke perhatian semuanya. Sekitar lima belas menit lagi turnamen agar dimulai. Mohon untuk segera tenangkan diri kalian, jangan sampai muncul perasaan ciut atau kalah sebelum berperang. Jika kalian seperti itu, perjuangan kalian selama latihan berhari-hari akan sia-sia. Mengerti!" seru Pak Firman dengan suara yang lantang untuk membakar semangat anak-anaknya.
"Mengerti, Saboeum nim!" timpal mereka serentak.
"Baik. Sebelum kita masuk ke arena tanding, jangan lupa kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa dalam hati, mulai."
Semua anak-anak serentak menundukkan kepalanya untuk bersama-sama meminta perlindungan agar pertandingan hari ini bisa berjalan dengan baik. Setelah selesai, mereka kembali menenggakan kepala mereka dan bersama-sama menyatukan tangan mereka.
"SMA Nusa Bangsa. Juara!" seru mereka semakin membakar semangat mereka.
Dikarenakan pertandingan sebentar lagi akan mulai, semua peserta ramai-ramai mempersiapkan diri mereka masing-masing. Ada yang sibuk berdoa, ada yang gelisah, bahkan ada yang tenang-tenang saja dan memilih untuk merenggang otot-otot mereka. Dan hal yang sama dilakukan oleh Dara dan Rakha. Kini mereka sama-sama sedang melakukan perenggangan kecil di pinggir lapangan.
"Keluarga lo ada yang dateng?" tanya Rakha tanpa berhenti menggerakkan tubuhnya.
"Bilangnya sih Bunda gue dateng. Tapi gue juga gak tau Bunda gue di mana sekarang," balas Dara.
Belum semenit Dara berbicara seperti itu, tak lama orang yang dimaksudkan Dara datang menghampirinya.
"Dara!" seru Bunda Iis.
Mendengar suara yang tak asing, Dara berhenti menggerakkan tubuhnya, lalu menoleh pada sumber suara. "Bunda! Kirain gak dateng," seru Dara.
"Dateng dong. Masa anak Bunda mau tanding, Bunda gak dateng," jelas Bunda Iis. Kemudian beliau beralih melihat orang yang berada di samping Dara. "Ini siapa?" tanyanya.
Merasa ternotice, Rakha pun dengan sopan langsung menyalami Bunda Iis. "Halo Tante. Saya Rakha," ujar Rakha memperkenalkan dirinya.
"Dia Kakak kelasnya Dara, Bun. Sekaligus kapten tim Dara," tambah Dara.
"Oh Rakha. Ganteng juga yah kamu," ungkap Bunda Iis dengan sangat jelas. Tentu hal itu membuat Dara yang mendengarnya langsung membulatkan matanya.
"Bunda!" Dara geram. Ia jadi tak enak hati kepada Rakha setelah apa yang bundanya katakan. Dan Rakha sendiri, ia tersenyum kikuk setelah bundanya Dara memuji dirinya.
Jadi ya begitulah Bunda Iis. Selalu tak bisa menahan rasa kagumnya saat sudah melihat manusia tampan. Mungkin saat mudanya, Bunda Iis adalah golongan para pengagum lelaki good looking, lalu kebiasaan itu masih terbawa hingga usianya sudah menua.
"Ini dimulainya kapan?" tanya Bunda Iis.
"Bentar lagi juga mulai, Bun."
"Ya udah, Bunda liat dari sana yah," ujarnya sambil mengarahkan pandangannya pada bangku penonton yang ada di atas sana.
Dara pun mengangguk. "Iya, Bunda."
Bunda Iis pun berjalan menuju salah satu bangku kosong yang masih tersisa di sana. Untung saja Bunda Iis masih kebagian tempat, karena sebenarnya suasana di Gor kini sudah sangat ramai oleh para pendukung peserta lain.
Tak terasa 15 menit sudah berlalu. Satu persatu para perserta turnamen pun memulai pertarungan mereka. Dalam satu lapangan Gor itu, terdapat beberapa pertandingan dari berbagai kelas. Dan Dara sendiri, ia termasuk ke dalam kelas 46 Kg - 50 Kg.
Babak demi babak, Dara bisa melakoni pertandingan itu dengan sangat baik. Sampai tak percaya, Dara bisa menebus ke babak result, atau babak final. Dari bangku penonton pun, Bunda Iis sampai tak bisa menutupi rasa bahagianya, karena tak percaya putrinya bisa sampai berada di titik puncak.
Lalu Rakha. Dia jangan ditanya. Ia sukses membabat habis lawan-lawannya dengan skor yang sangat mencolok. Jadi tak heran jika Rakha pun berhasil melaju ke babak final.
"Rakha, Dara. Kalian adalah harapan dari SMA kita. Bapak hanya minta satu hal dari kalian. Tetap fokus! Jangan sampai kalian hilang fokus karena ini adalah final! Kalian sudah terlanjur melangkah jauh, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini. Mengerti?" ujar Pak Firman memberi wejangan terakhir.
Dara dan Rakha mengangguk secara bersamaan. "Iya. Saboeum nim!" seru mereka.
Saat Dara sedang bersiap-siap untuk melakoni babak finalnya, tak sengaja Dara menangkap sosok yang sangat tidak asing di matanya saat ia sedang mengedarkan pandangannya pada bangku penonton. Ia pun mengerutkan alisnya heran.
Kenapa ada Kak Abhay di sini? ujarnya heran di dalam hati.
Yah. Apa yang dilihat Dara memang benar. Karena kini Abhay sudah berada di sana dengan seragam putih abu yang masih melekat di tubuhnya.
"Loh Abhay!" seru Bunda Iis, karena secara kebetulan Abhay duduk di kursi yang bersebelahan dengan Bunda Iis.
Abhay pun menoleh, dan ia pun sedikit terkejut karena tak sadar dengan kehadiran Bunda Iis di sana.
"Eh Tante," ucap Abhay lalu menyalami Bunda Iis.
"Kamu ke sini? Bukannya masih jam sekolah?" tanya Bunda Iis heran, setelah melihat waktu yang baru menunjukkan jam satu siang.
Abhay pun tersenyum kikuk setelah mendapatkan pertanyaan itu. Karena ia sendiri bingung, bagaimana ia harus menjawabnya. Rasanya akan aneh jika ia jujur bahwa dirinya sengaja kabur dari sekolah.
Karena Abhay yang tak kunjung menjawab, Bunda Iis pun menebaknya. "Oh Tante tau. Pasti kamu kabur yah?"
Mendengar tebakkan itu, jelas membuat Abhay terkejut karena tak menyangka Bunda Iis dapat menebaknya dengan benar. "Tante kok tau?" tanyanya.
"Ya tau lah. Tante kan tau pikiran-pikiran anak muda. Kalo istilah zaman sekarang itu disebutnya bucin. Kamu rela kabur dari sekolah cuma mau liat Dara. Iya, kan?" jelas Bunda Iis sambil tersenyum jahil.
Memang aneh rasanya saat melihat reaksi Bunda Iis seperti itu. Abhay sendiri sempat menduga bahwa Bunda Iis akan meresponnya tak suka, namun siapa sangka, Bunda Iis malah menimpalinya dengan santai. Sekali lagi, keluarga Dara memang sungguh ajaib.
"Kamu datang di waktu yang tepat. Dara melaju ke babak final. Dan bentar lagi mau dimulai," ujar Bunda Iis pada Abhay.
"Dara masuk final, Tante?"
"Iya. Dari SMA kalian ada dua orang yang masuk final. Dara sama... siapa tuh yang kapten tim itu?" tanya Bunda Iis. Ia sempat lupa dengan nama itu, padahal belum lama ia berkenalan dengan orangnya.
Saat Bunda Iis menyebutkan panggilan kapten tim, otomatis Abhay pun mengetahuinya. "Rakha?"
"Iyah itu! Tadi anak itu hebat banget. Tante yakin sih dia bakal jadi juaranya," ujar Bunda Iis.
Entah kenapa saat Bunda Iis memuji Rakha secara blak-blakan, ada sedikit perasaan tak nyaman dari benak Abhay. Moodnya tiba-tiba turun secara drastis.
Babak final pun dimulai. Dan Rakha terlebih dahulu menjalani babak resultnya. Dan sesuai perkiraan, Rakha pun dengan mudah memenangi pertandingan itu. Tak butuh waktu lama untuk medali emas itu mengalungi leher Rakha.
Lalu beralih pada Dara. Kini gilirannya untuk menjajali pertarungan terakhirnya. Dara sempat gugup untuk beberapa saat, namun tak lama ia langsung ingat tujuan awalnya. Sebisa mungkin ia harus meraih gelar tertinggi itu, ia ingin membanggakan Bundanya yang kini sedang berharap-harap cemas terhadapnya.
Ternyata, keyakinan itu berhasil membuktikan kemampuan Dara. Karena kini ia berhasil merebut gelar juara yang sangat ia damba-dambakan.
"Itu anaknya Bunda Iis!" seru Bunda Iis lantang dari bangku penonton, beliau tak peduli dengan reaksi orang-orang yang ada di sekitarnya.
Setelah proses penyerahan medali dan hadiah telah selesai, Dara pun segera turun dari podium juara. Saat ia turun, Dara langsung dihampiri oleh Rakha.
"Gue bilang juga apa. Lo pasti juara," seru Rakha. "Selamat yah," lanjutnya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dara
Saat Dara hendak menerima uluran tangan itu, tiba-tiba Abhay menyerobotnya dan jadilah Rakha dan Abhay yang kini sedang bersalaman.
"Selamat yah. Karena lawan-lawan lo cetek, jadi lo bisa menang. Coba gue ikut, lo pasti bakal keok," ucap Abhay dengan percaya dirinya. Lalu Abhay melepaskan cengkraman tangan itu dengan kasar.
"Kak! Lo ngomong apa sih!" geram Dara.
"Gue ngomong fakta," jawab Abhay.
"Lagian kenapa Kakak di sini? Ini kan masih jam sekolah."
Dan dengan santainya Abhay menjawab, "gue kabur."
Tak lama, Bunda Iis ikut menghampiri mereka bertiga.
"Bunda!" seru Dara saat melihat bundanya yang menghampirinya.
Bunda Iis pun seraya memeluk Dara dengan rasa bangganya. "Bunda bangga banget sama kamu Dara," ucapnya. Tak lama Bunda Iis melepaskan pelukan itu dan beralih menoleh pada Rakha.
"Kamu juga selamat yah. Dari awal ngeliat kemampuan kamu, Tante udah yakin kamu pasti bakal menang. Eh ternyata bener," jelas Bunda Iis pada Rakha.
Rakha pun tersenyum ramah. "Makasih, Tante."
Ternyata ada yang tak suka melihat Rakha yang disanjung oleh Bunda Iis. Kini Abhay langsung mendatarkan wajahnya, dan melirik Rakha sinis.
"Kayanya harus dirayain deh ini," ucap Bunda Iis. "Gimana kalo kita makan-makan? Nanti selesai dari ini, Bunda bakal belanja banyak dan masak yang banyak. Kita makan-makan di rumah. Setuju?"
"Udah lah Bunda gak usah," timpal Dara.
"Ya gak papa dong. Itung-itung syukuran," ujar Bunda Iis.
Lalu Bunda Iis secara bergantian menatap kedua anak lelaki yang ada di depannya.
"Nanti kalian berdua juga datang yah," pintanya.
"Udah lah Bunda. Takut mereka nya juga pada sibuk," balas Dara. Sebenernya Dara lebih kepada tak nyaman jika nantinya ia melihat kedua lelaki itu datang ke rumahnya. Mengingat hubungan di antara Abhay dan Rakha yang jauh dari kata akur.
"Kalian bisa, kan?" tanya Bunda Iis pada mereka.
"Saya sih bisa, Tante," jawab Abhay lebih dahulu.
"Saya juga bisa, Tante." Kini Rakha yang ikut-ikutan menjawab.
"Tuh kan mereka nya juga bisa kok," ujar Bunda Iis. "Tapi kamu tahu kan rumah, Tante?" tanyanya khusus kepada Rakha. Karena jika Abhay tentu saja sudah tahu.
"Tahu, Tante" jawab Rakha.
"Oke cocok. Di tunggu nanti malam yah," ujar Bunda Iis dengan full senyum.
Apa yang diputuskan oleh Rakha, tentu saja mendapatkan respon negatif dari Abhay. Ia pun menggerutu dalam hatinya.
Disuruh tanding sama gue banyak alasan, giliran diajak sama bundanya Dara kegirangan. Dasar setan!