
Sepulang sekolah, Dara tak ingin langsung pulang ke rumah. Mengingat ulangan semester yang akan diadakan minggu depan, untuk itu dia ingin pergi ke toko buku untuk mencari buku mengenai kiat-kiat belajar cepat untuk memudahkan dia saat ulangan nanti.
"Kak gue mau ke toko buku dulu, bisa?" pintanya pada Abhay, takut-takut Abhay tak mau mengantarnya.
"Mau ngapain?"
Pertanyaan terbodoh yang pernah Dara dengar seumur hidupnya! Judulnya saja toko buku, masa iya dia mau makan!
"Ya beli buku lah!" ungkapnya ngegas. "Minggu depan kan udah mau ulangan semester."
Dengan wajah datar, Abhay hanya menyikapinya dengan santai dan menjawab. "Oh."
Menyebalkan memang saat mendengar reaksi Abhay. Namun Dara tak akan menyia-nyiakan energinya untuk membalas Abhay. Dara kini mengelus dadanya, membiarkan dirinya agar tetap stay calm. "Jadi gimana? Bisa?" tanyanya lagi karena Abhay yang belum menjawab.
"Okeh." Abhay pun mengiyakan.
Perjalanan tak terlalu lama agar mereka bisa sampai ke toko buku. Abhay meluncurkan motornya di sebuah toko buku yang telah di arahkan oleh Dara. Saat sudah sampai, Abhay segera memarkirkan motornya dan tanpa berlama-lama mereka langsung masuk ke dalam toko buku itu.
Hal pertama yang menyambut kedatangan mereka tentu saja semerbak aroma buku baru yang begitu menyengat. Lain hal dengan Dara yang begitu menikmatinya, Abhay dengan refleks langsung menutupi hidungnya yang terasa terserang. Ia merasa aneh dengan aroma itu.
"Bau apa nih?" tanyanya, penciumannya merasa tak nyaman.
"Bau buku baru lah," jawab Dara.
"Bikin enek."
Dara melirik Abhay heran. Untuk pertama kalinya ia mengetahui ada orang yang tak suka dengan aroma buku baru. "Aneh banget. Orang-orang tuh malah pada suka kalo nyium buku baru itu. Bau nya kaya coklat. Kok Kakak aneh banget sih?"
"Kayanya gini kok suka. Gak normal kali mereka," ungkap Abhay asal ceplos.
"Berarti gue gak normal?" tanya Dara ketus, ia tak terima karena secara tak langsung ia pun termasuk ke dalam golongan mereka yang dimaksud Abhay itu. "Itu karena Kakak belum terbiasa aja," lanjut Dara.
"Dah terserah kalo Kakak gak suka, gue aja sendiri, Kakak tunggu di luar aja," ucap Dara tak mau ambil pusing.
Dan ternyata Abhay langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Gak papa deh. Gue bisa tahan," ucap Abhay sok tegar.
Karena Abhay merasa baik-baik saja, tak ada alasan bagi Dara untuk berlama-lama menahan diri di sana. Ia pun berjalan menyelusuri area toko buku itu lebih dalam lagi, dengan Abhay yang setia membuntutinya.
Jika di awal Abhay sempat terganggu dengan aroma menyengat itu, namun jika lama-kelamaan ia terus menghirupnya, ia semakin penasaran dan tanpa sadar ia langsung terbiasa. Dan pada akhirnya ia membenarkan pemikiran Dara bahwa setelah dihirup lebih dalam lagi, buku baru itu memang seperti aroma coklat. Dan sekarang Abhay justru sudah menyukainya.
"Kakak gak mau beli juga?" Di saat tangannya sudah memiliki dua tumpukan buku, namun tangan Abhay masih bersih tak ternoda.
"Buat apa? Orang gue udah pinter, buat apa beli buku?" Abhay malah meninggikan dirinya.
Dara melirik sinis ke arah cowok di sampingnya, ia mengiyakan saja apa yang dikatakan Abhay. "Iya deh yang paling pinter," katanya pasrah.
Namun kemudian, di saat sedari tadi matanya tak tertarik oleh satu buku mana pun. Tiba-tiba bola mata Abhay terhenti oleh satu buku. Ia tertarik karena sampul buku itu terlihat beda dari yang lain.
"Tapi kayanya buku ini menarik juga," ujar Abhay sambil menunjukkan buku itu dengan satu dagunya.
Dara ikut melihat buku yang dimaksud oleh Abhay. Tak lama ia langsung menatap Abhay penuh misteri. "Kenapa dari sekian banyaknya buku Kakak tertarik yang ini?" tanyanya curiga.
Dan buku yang Abhay maksud adalah sebuah buku biologi berjudulkan 'Fisiologi sistem reproduksi pria', dengan sampul buku yang menggambarkan benih-benih kehidupan tersebut. Pasti tahu lah maksudnya apa.
"Mencurigakan!" ucap Dara tegas.
Abhay tersenyum geli melihat Dara yang sudah berpikir kotor. Memang apa salahnya?
"Lo kenapa? Walaupun gue anak IPS, tapi pelajaran biologi juga ada. Curiga mulu sama gue," ucapnya terdengar begitu yakin. Entah itu sebuah kebenaran atau hanya alasan semata.
Dara memutar bola matanya malas. Tak akan benar jika ia meneruskan obrolan tentang itu. Jadi ia lebih memilih mengendarkan pandangannya untuk mencari buku yang tepat untuk diberikan kepada Abhay. "Kakak jangan milih buku itu. Biar gue yang pilihin."
Setelah cukup lama matanya berputar-putar mencari buku yang tepat, pada akhirnya Dara menemukan buku yang ia inginkan. "Ini dia!" ucapnya antusias.
Abhay pun melotot bukan main melihat buku yang dipegang oleh Dara. "Buset! Itu buku apa balok kayu? Tebel amat?!"
"Ini buku kisi-kisi ujian nasional. Kakak kan bentar lagi mau ujian, jadi harus punya buku ini. Lebih ringkas dan praktis buat belajar. Jadi Kakak gak repot-repot lagi belajar semalaman, karena buku ini sudah lengkap," tutur Dara bagai seorang PSG handal.
Mendengar penuturan Dara hanya membuat Abhay terbengong-bengong. Melihat buku itu saja sudah membuatnya pusing. Lalu apa? Belajar dengan buku itu? Abhay tak cukup nyali hanya untuk membayangkannya saja! Abhay tak sanggup!
"Dah jangan banyak mikir, gue beliin buat Kakak."
Tanpa seizinnya, Dara dengan seenak jidat langsung membawa buku itu ke meja kasir. Dara serius dengan ucapannya. Ia akan membelikan buku itu untuk Abhay.
"Mbak. Buku yang tebel itu gak jadi," sanggah Abhay tiba-tiba, ia berusaha mencuri-curi kesempatan.
"Gak Mbak, jadi kok," sanggah Dara lagi.
Alhasil sang Mbak kasir pun kebingungan, ia bingung harus menuruti perintah yang mana. "Jadinya gimana yah, Kak?" tanya penjaga kasir itu.
"Gak jadi!"
"Jadi!"
Mereka menjawab serentak namun dengan jawaban yang berbeda. Dara pun melototi Abhay agar cowok itu mau menurutinya. Namun Abhay malah menjulurkan lidahnya tak mau kalah.
"Jadi gimana, Kak? Saya jadi bingung."
Setelah puas melototi Abhay, Dara kembali memutarkan kepalanya dan menjawab dengan cepat. "Jadi Mbak. Tolong cepetan dibungkus."
Penjaga kasir itu pun mengganggukan kepalanya menuruti perintah Dara. "Totalnya keseluruhan 527 ribu rupiah," ujar penjaga kasir itu.
Melihat penjaga kasir itu sudah memasukkan buku itu ke dalam satu kantong buku dengan Dara, Abhay pun mendesah pasrah. Sebenernya percuma saja Dara membelikan buku itu, toh nantinya juga buku itu hanya akan menjadi pajangan di kamarnya.
Dara sudah siap untuk mengeluarkan dompetnya. Baru saja ia merogoh uang, Abhay lebih dahulu mengulurkan enam lembar uang dengan pecahan seratus ribu kepada kasir itu.
"Kak! Gue kan udah bilang kalo gue yang bayarin," ujar Dara, karena niat awalnya memang begitu.
"Masa iya cewek yang bayarin gue. Gengsi lah."
Dara mendesis, perkataan Abhay sangat tak cocok dengan perbuatan Abhay di masa lalu. "Halah. Sekarang ngomong gitu. Kemaren-kemaren gue disuruh bayarin semua traktiran anak-anak," ucapnya menyidir Abhay dengan begitu menohok.