
Dua bulan kemudian.
Menit telah berganti menit, jam telah berganti jam, hari telah berganti hari, minggu telah berganti minggu, bahkan bulan telah berganti bulan. Begitulah kehidupan. Waktu berjalan begitu cepat, bagaikan seseorang yang naik pacuan kuda. Hal itu sangat terasa terutama bagi kedua sejoli yang tengah berbahagia.
Dara dan Abhay tanpa terasa sudah menjalin hubungan selama empat bulan. Selama itu pula, hubungan mereka bisa dikatakan adem ayem. Pertengkaran memang selalu ada, namun semuanya biasa saja, tak sampai berhari-hari saling marahan atau sampai loss contact. Dan rekor terlama pertengkaran mereka pun hanya berkisar 6 jam saja, setelah 6 jam berlalu mereka sudah kembali seperti semula.
Lalu bagaimana dengan Abhay? Apakah Abhay sudah pulang ke rumah? Karena seperti yang diketahui, Abhay sempat pergi dari rumah.
Jadi setelah kejadian di atap rumah sakit itu, tak lama Abhay benar-benar pulang ke rumahnya. Dara effect memang terbukti adanya. Dengan kepiawaiannya dalam memilih kata, Dara berhasil meruntuhkan kepala batunya Abhay yang begitu keras.
Dan bagaimana kabar Abhay mengenai hubungannya dengan papahnya? Apakah sudah akur?
Hubungan mereka belum bisa dikatakan akur, karena mereka masih minim komunikasi dan Abhay yang masih bersikap cuek. Namun walau begitu, hubungan mereka mulai membaik semenjak mereka tinggal satu atap. Pertengkaran-pertengkaran hebat sudah tak terjadi lagi di antara mereka. Dan tentunya itu akan menjadi sebuah kemajuan besar untuk ke depannya. Mungkin tak lama lagi mereka akan benar-benar akur sepenuhnya.
Dan kini, tepat di waktu pulang, dan dengan motor yang sudah kembali, Abhay mengantarkan Dara pulang. Perjalanan mereka cukup lambat karena mereka sempat terjebak kemacetan. Tak lama saat mereka lolos dari kemacetan, dari jauh mereka melihat sebuah keramaian yang tengah terjadi di pinggir jalan.
"Kak, itu ada apa rame-rame?" tanya Dara sangat penasaran.
"Gak tau." Abhay pun tak mengetahuinya juga.
"Coba kita liat dulu yuk."
Karena mereka yang sama-sama penasaran, Abhay mulai melambatkan laju motornya. Saat sudah berhenti, Abhay segera mengstandarkan motornya dan mereka ikut menghampiri kerumunan itu.
Saat mereka sudah berhasil masuk ke dalam kerumunan itu, Dara dan Abhay sama-sama membulatkan matanya lebar-lebar, mereka cukup terkejut karena ternyata yang mereka lihat adalah seorang ibu paruh baya yang tengah terbujur lemah dengan kepala yang sudah mengeluarkan darah dan keadaan yang sudah setengah sadar.
"Ya ampun. Ibu ini kenapa, Pak?" tanya Dara pada bapak-bapak yang berdiri di sampingnya.
"Kasus tabrak lari, Neng. Kata saksi mata pelakunya remaja sekolah," ungkap bapak-bapak itu.
"Trus kenapa malah didiemin gini? Kenapa gak langsung dibawa ke rumah sakit?" tanya Dara lagi.
"Kita udah nelpon ambulans, tapi gak dateng-dateng."
"Kalo boleh tau ambulans dari rumah sakit mana yah, Pak?"
"Rumah sakit Kharisma."
"Haduh pasti kejebak macet, soalnya tadi saya lewat jalan sana macetnya parah banget. Ini gak bisa lama-lama didiemin," ucap Dara jadi ikut-ikutan cemas.
Di sisi lain Dara pun merasa geregetan sendiri melihat orang-orang yang hanya bisa diam menonton dan hanya mengandalkan ambulans yang belum tentu akan cepat datang. Mirisnya tak ada satu pun orang yang berinisiatif untuk membawa ibu itu ke rumah sakit. Padahal mereka tahu bahwa nyawa ibu itu sedang terancam.
"Kak mending cegat mobil lewat deh, kali aja ada yang berbaik hati mau nganterin ibu ini," pinta Dara pada Abhay.
Seperti tak merasa disuruh, Abhay malah diam membeku sambil melihat ibu itu dengan tatapan kosong.
"Kak?" panggil Dara lagi. Namun tetap, Abhay tak merespon apa-apa.
Abhay sudah seperti manekin yang terus saja melihat ibu itu tanpa berkedip. Melihat Abhay seperti itu, Dara jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebenernya apa yang sedang Abhay pikirkan, sampai suaranya tak didengar sama sekali oleh lelaki itu? Mengapa dalam situasi seperti itu Abhay masih bisa-bisanya melamun?
Namun tak ingin terlarut lebih lama dengan pikirannya, Dara memutuskan untuk melakukannya sendiri mengingat waktu yang semakin darurat. Ia akan mencegat mobil yang lewat di jalanan.
Sang pengemudi mobil itu membuka jendela mobilnya dan menampakan wajahnya. "Ada apa yah?" tanya bapak-bapak yang mengendarai mobil itu.
"Maaf Pak. Apa Bapak bisa anterin ibu ini ke rumah sakit? Mohon maaf ini darurat sekali, Pak."
"Maaf Neng, tapi saya juga lagi buru-buru," tolak pengendara mobil itu tanpa pikir panjang.
Dara sedikit kecewa mendengar penolakan itu. Namun bagaimana lagi? Itu juga hak bapak itu, ia juga tak bisa memaksanya. "Oh gitu yah Pak. Makasih Pak," ucap Dara.
Tak ingin menyerah pada satu mobil, Dara akan mencari mobil lainnya. Saat ada salah satu mobil yang mulai mendekati dirinya, Dara tak berpikir lagi untuk langsung mencegat mobil itu.
"Pak, maaf. Apa Bapak bisa anterin ibu ini ke rumah sakit? Mohon maaf ini darurat sekali Pak. Apa Bapak bisa bantu?" pinta Dara langsung.
"Boleh-boleh, silahkan bawa masuk ke mobil saya."
Berbeda dengan bapak sebelumnya, bapak yang satu ini tak sungkan untuk langsung memberi pertolongan. Tanpa sadar, Dara pun langsung mengembangkan senyumannya. "Makasih banyak, Pak," ucapnya cukup senang.
Saat sudah ada kendaraan yang bersedia untuk mengantar ibu itu, tak berlama-lama ibu itu segera diangkat oleh orang-orang untuk masuk ke dalam mobil itu. Bersama saksi yang melihat kejadian itu, mereka akan pergi ke rumah sakit lain yang tak terjebak oleh kemacetan.
"Syukur deh masih ada orang baik yang mau nolongin ibu itu," gumam Dara sambil bernafas lega.
Dara mengalihkan pandangannya untuk melihat Abhay. "Ya udah, ayo kita pulang, Kak," ajaknya pada cowok itu.
Tidak berbeda dengan sebelumnya, Abhay masih mempertahankan lamunannya. Bahkan saat ibu itu sudah pergi, Abhay masih sibuk dengan pikirannya.
"Kak?"
"Kak Abhay?"
"Kak Abhay!" teriak Dara pada akhirnya.
Abhay pun langsung mengerjapkan matanya beberapa kali dan menoleh pada Dara. "Ha? Iya kenapa?" tanyanya cukup linglung.
"Kakak kenapa? Gue perhatiin dari tadi ngelamun mulu?" tanya Dara.
Abhay pun bingung untuk memberi tahunya bagaimana, karena momentumnya tak cukup baik untuk memberi tahunya sekarang. "Gue... gak papa kok. Yuk pulang," ajak Abhay tak mengindahkan pertanyaan Dara.
Walau belum puas dengan jawaban Abhay, Dara tetap mengikuti ajakan Abhay. Ia pun membuntuti Abhay dan bergegas naik ke motor dengan pikiran yang menerka-nerka apa yang sedang Abhay pikirkan.
Ketika Abhay sudah melanjutkan perjalanannya, di tengah jalan pikiran Abhay masih terbawa-bawa dengan kejadian tadi. Bahkan Abhay sempat beberapa kali kehilangan fokus saat menyetir.
"Kak Awas!" teriak Dara cukup keras. Hampir saja nyawa mereka terancam, karena baru saja Abhay hendak menabrak sebuah mobil yang datang dari arah yang berlawanan.
"Maaf, Dara. Gue tadi meleng dikit," seru Abhay merasa bersalah. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mencoba mencari fokusnya kembali.
Di balik punggung Abhay, ada gadis yang kini sedang kebingungan. Sikap Abhay sudah sangat aneh. Dara sudah sangat curiga bahwa suatu hal serius tengah mengganggu pikiran Abhay.
Kak Abhay kenapa yah? Sikapnya aneh setelah kecelakaan tadi. Atau jangan-jangan ada hubungannya dengan ibunya? Apa kecelakaan tadi mengingatkan dia sama ibunya?