Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
98. Aneh



"Jangan-jangan kamu pacarnya anak Tante yah?"


Pertanyaan tak terduga-duga datang dari ibunya Rakha. Dara terkejut dalam sekejap, kemudian ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


"Bukan Tante, aku cuma adik kelasnya. Kebetulan aku juga ikut taekwondo bareng sama Kak Rakha," ungkap Dara diikuti penjelasan.


Jawaban dari Dara langsung merubah raut wajah ibunya Rakha yang semula berseri-seri menjadi kecewa. Beliau berdecak, karena di dalam hatinya, ia berharap bahwa tebakannya akan benar.


"Padahal Tante tadi udah seneng banget. Kirain anak Tante udah punya pacar. Mana cantik lagi," celetuk ibunya Rakha dan kembali membuat Dara tersenyum kikuk karena malu.


"Mamah ngomong apa sih? Jangan aneh-aneh deh," ucap Rakha turut nimbrung.


"Mamah kan ngarep. Emangnya salah?" ucap ibunya Rakha.


"Udah Mah, dari pada ngomong yang enggak-enggak, mending sekarang Mamah bantuin kita aja," sergap Rakha mengalihkan topik, karena ia sadar saat ibunya mengatakan hal yang tidak-tidak, raut wajah Dara terlihat begitu tak nyaman. Rakha pun menjadi tak enak sendiri.


Sesuai yang diminta putranya, ibunya Rakha menurut untuk tak memperpanjang obrolan itu lagi. Kini Dara dan ibunya Rakha bersama-sama menata meja yang akan dipakai untuk makan-makan. Sedangkan Rakha, ia membakar sebagian sosis-sosis.


Di tengah kesibukkan mereka, Dara dan ibunya Rakha terlibat obrolan ringan yang diselingi canda tawa. Mereka nampak begitu akrab walau baru pertama kali dipertemukan. Bahkan sesekali, ibunya Rakha bergelak tawa begitu keras, terlihat bahwa ibunya Rakha menikmati kebersamaannya dengan Dara.


Rakha yang sedang berdiri di depan pemanggangan, ia turut memperhatikan obrolan mereka. Ia juga menyadari bahwa ibunya begitu bahagia bersama Dara. Melihat ibunya yang berbahagia, seolah menjalar pada dirinya, seutas senyuman tipis pun terbentuk di bibir Rakha.


Nyokap gue aja suka sama lo. Andai aja lo belum ada yang punya, Dara, ucap Rakha dalam hatinya.


"Ini mana, kok belum pada dateng juga?" tanya ibunya Rakha. Di saat semua persiapan sudah beres, namun teman-teman Rakha yang lain tak kunjung datang pula.


Dara pun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu ia turut merasa aneh. "Iyah, padahal udah jam tujuh lewat," ucapnya.


"Anak-anak aja pada ngaret. Paling bentar lagi sampe," timpal Rakha menanggapinya dengan santai.


"Halo! Kami datang!!" Baru saja Rakha selesai berucap, segerombolan pemuda-pemudi mulai berdatangan.


"Nah kan. Udah pada dateng tuh," ucap Rakha.


Ibunya Rakha pun menyambut teman-teman Rakha dengan perasaan suka ria. "Mari sini-sini. Semuanya udah siap," seru ibunya Rakha dengan antusiasnya.


Satu persatu orang-orang berdatangan dan langsung duduk ditempat yang sudah disediakan. Karena sudah semakin banyak yang datang, Dara pun turut bergabung dengan mereka. Ia duduk di samping gadis yang cukup akrab dengannya saat di taekwondo. Gadis itu bernama Putri.


"Dara, lo udah ada di sini sejak kapan?" tanya Putri saat menyadari Dara yang sudah ada, mendahului teman-teman yang lain.


"Dari setengah tujuh," jawab Dara.


Mendengar jawaban Dara, Putri pun tersenyum miring. "Semangat banget, disuruhnya juga jam tujuh," celetuk Putri.


Dara menautkan alisnya bingung. "Hah jam tujuh? Orang Kak Rakha bilang ke gue jam setengah tujuh."


"Loh kok beda?" Putri turut mengerutkan alisnya. Ia merasa ada yang aneh dari pengakuan Dara. Tak lama, sebuah pemikiran negatif terlintas di otak Putri, kemudian ia tersenyum jahil.


"Jangan-jangan dia punya maksud terselubung lagi," goda Putri diikuti kerlingan mata jahil.


"Lo ngomong apa sih, mungkin aja Kak Rakha salah ngomong, yang harusnya jam setengah tujuh malah bilangnya jam tujuh," ucap Dara mencoba berpikir positif.


"Masa sih. Masa iya salahnya kebanyakan orang gini, sedangkan lo doang yang beda. Hayo, gimana tuh?"


Dara termenung mendengar dugaan Putri. Setelah dipikir-pikir, memang masuk akal juga. Mana mungkin Rakha salah bicara kepada banyak orang. Jika begitu, apakah Rakha yang salah bicara kepada dirinya? Tapi jika salah, mengapa Rakha menjemputnya di waktu yang ia kira salah itu? Sangat membingungkan, bukan?


Pikiran-pikiran aneh segera mungkin Dara tepis dari otaknya. Ia tak ingin memikirkan hal itu terlalu berlarut-larut. Ia juga tak ingin tahu dengan alasannya yang sebenarnya. Mungkin saja terjadi kesalahan yang tak disengaja. Pemikiran itu yang Dara yakini sekarang.


Mengetahui semua teman-temannya sudah hadir, Rakha pun berdiri di depan meja untuk mengatakan sebuah kata pengantar.


"Baik saboeum nim!!" jawab mereka serentak, menyebut Rakha sebagaimana mereka menyebutnya saat di tempat latihan.


Sebanyak lima belas orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, berkumpul dalam satu meja besar. Memang tak semuanya bisa hadir dalam acara yang diadakan Rakha ini, namun tetap, keriuhan selalu ada. Mereka semua bersatu dalam kegembiraan. Canda tawa mengiringi kegiatan makan-makan mereka. Mereka saling melempar obrolan dengan mulut yang menggerus sosis-sosis bakar.


Sudah satu jam mereka menghabiskan waktu untuk mengenyangkan perut mereka. Namun walaupun judulnya pesta barbequean, mana mungkin mereka pergi begitu saja saat perut mereka sudah kenyang. Waktu berkumpul tak akan afdol jika tak diselingi sebuah permainan.


"Kita kan udah pada kenyang nih, gimana sebelum kita pulang, kita maen games dulu?" ajak salah satu orang di antara mereka.


"Boleh juga tuh, games apa?"


"Gimana kalo kita main truth or dare aja," usul seorang lainnya.


"Bener. Ya udah gue ambil dulu botolnya."


Karena semuanya setuju untuk melakukan permainan truth or dare, salah satu dari mereka mengambil sebuah botol bekas soda untuk dijadikan alat yang akan dipergunakan sebagai penentu nasib. Lalu sisa-sisa makanan yang masih ada di atas meja mereka singkirkan lebih ke pinggir, kemudian botol itu disimpan di tengah-tengah meja yang kosong itu. Saat sudah siap, mereka berkumpul mengelilingi meja.


"Dah siap? Kita putar botolnya!" seru seseorang memulai permainan.


Kini botol itu sudah berputar dengan cepatnya. Jantung semua orang berdegup kencang berharap ujung botol itu tak mengarah pada diri mereka. Putaran botol itu lama-kelamaan semakin melambat, dan akhirnya berhenti pada seorang laki-laki.


"Bimo! Kena kan lo!" seru seseorang merasa puas.


"Okeh. Truth or dare?"


"Karena gue pemberani, gue pilih dare dong!" seru orang yang bernama Bimo itu dengan sangat yakin.


"Okeh. Biar gue yang kasih dare nya," ucap seseorang yang siap memberi tantangan. "Gue pengen lo tanding lawan Rakha!"


"Jangan dong. Kita kan lagi have fun, masa iya kita berantem," tolak Bimo beralasan. Padahal alasan utamanya ia tak berani.


"Bener, ada-ada aja lu," timpal Rakha turut menolak.


"Ya udah deh gue ganti. Gue mau lo habisin sisa-sisa sosis ini. Gimana? Pasti sanggup dong."


"Gila lo, udah kenyang loh ini." Bimo masih mengeles.


"Katanya dare, harus berani dong."


Posisi Bimo semakin tersudutkan. Ditambah teman-temannya yang lain ikut meneriakinya untuk melakukan tantangan, Bimo menjadi sulit berkutik lagi. Bimo pun melihat sosis-sosis yang disodorkan temannya dengan pasrah. Satu persatu sosis-sosis itu pun ia makan juga. Semua orang bergelak tawa melihat kepasrahan Bimo, setelah puas mereka kembali melanjutkan permainan.


"Sekarang kita puter lagi botolnya."


Botol itu kembali diputar. Semua orang menunggu botol itu berhenti. Dan orang kedua yang mengenai sasaran adalah...


"Dara!"


Dara membelalakkan matanya, tak menyangka botol itu akan mengarah pada dirinya.


"Lo mau truth atau dare?"


"Truth aja deh," jawab Dara. Setelah melihat bagaimana sengsaranya Bimo saat diberi tantangan, jadi Dara lebih memilih kejujuran ketimbang tantangan.


"Baik, gue aja yang kasih pertanyaannya," ucap seorang perempuan.


"LDRan selama lima tahun, atau cari pacar lagi?"