Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
68. Hasrat



"Ada siapa ini?"


Dia adalah Pak Arief. Papahnya Abhay. Sepulang dari tempat kerjanya, beliau menyempatkan pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang yang beliau butuhkan. Yah. Sekedar itu saja. Kebiasaan yang paling dihafal oleh Abhay.


Dara yang menyadari kehadiran Pak Arief, ia bergegas bangkit dari duduknya. "Om," sapa Dara lembut. Lalu ia menyalami Pak Arief dengan sopan.


"Kamu siapa?" tanya Pak Arief.


"Saya Dara Om."


"Teman kelasnya Abhay atau-" ucapannya terpotong karena Abhay tiba-tiba bangkit dan menyanggah perkataanya.


"Buat apa nanya-nanya, gak ada urusannya sama kehidupan anda juga," ujar Abhay ketus.


Pak Arief beralih menengok ke arah anak semata wayangnya, lalu menatap Abhay tajam. "Abhay. Kamu ini kenapa? Papah juga kan mau tahu siapa dia," ujarnya.


"Buat apa? Kenapa mau tahu? Gak usah sok sok peduli deh."


"Abhay!"


Emosi Pak Arief mulai terbangun. Selalu begini jika sudah berurusan dengan anaknya. Keadaan selalu menjadi panas, belum pernah sekalipun terasa adem ayem. Semuanya telah berubah semenjak istrinya telah pergi meninggalkan mereka.


"Udahlah lakuin aja seperti biasanya. Ambil barang anda trus pergi," tegas Abhay tak mau berbasa-basi.


"Abhay kamu ini bener-bener-"


Pak Arief hendak meluapkan seluruh emosinya lagi, namun beliau segera sadar, bukan hanya ada mereka berdua saja yang ada di sana. Pak Arief beralih melihat Dara yang kini tengah kebingungan.


"Maafin anak Om yah. Ini juga salah Om karena gak bisa ngedidik anak Om dengan baik," ucap beliau.


Dara hanya menyimak, tak berani menyanggah hal sensitif seperti itu. Ia hanya menyikapi Pak Arief dengan sebuah senyuman tipis.


"Kamu pacarnya Abhay?" tanya Pak Arief tiba-tiba.


Dara seketika merasa gugup. Ia bingung harus menjawabnya seperti apa. Walaupun kenyataannya begitu, apakah ia harus mengiyakan? Apakah nyalinya cukup berani untuk menjawab iya?


Karena tak berani menjawab, Dara kembali menjawabnya dengan sebuah senyuman canggung.


Pak Arief pun turut tersenyum melihat Dara yang sepertinya malu untuk mengungkapkan hal itu. Walaupun beliau sendiri bisa menebak bahwa anak gadis di hadapannya ini adalah pacar anaknya, beliau dengan kesadaran dirinya memilih untuk mengalihkan topik.


"Kalian lagi belajar yah?" tanyanya pada Dara setelah beliau melihat buku-buku yang berserakan di atas meja.


Dara pun segera mengangguk dan mengiyakan. "Iya Om," kata Dara.


"Kok kamu bisa sih ngebujuk anak ini buat belajar? Ini anak kan gak bener, susah diatur. Sekolah pun seenaknya. Tapi kok kamu-"


"Udah cukup!" tukas Abhay keras.


Abhay yang sudah meredam emosinya kembali dibuat kesal saat melihat papahnya malah menjelek-jelekkan dirinya di depan Dara. Menurutnya papahnya sudah kelewatan. Sudah sabar melihat papahnya berinteraksi dengan Dara, namun kesabarannya hilang saat papahnya malah berkata seperti itu.


Lalu Abhay meraih lengan Dara untuk membawa Dara pergi dari sana. "Kita jangan di sini," ajaknya.


Tanpa meminta persetujuan Dara, Abhay membawa Dara menuju bagian belakang rumahnya. Entah kemana Abhay akan membawanya, yang jelas Dara hanya bisa pasrah. Karena Dara sendiri bingung dengan situasi yang sudah ia lihat tadi.


Ternyata Abhay membawa Dara di sebuah kolam renang yang ada di ujung rumah itu. Setelah sampai, Abhay melepaskan tangannya pada Dara dan berjalan membelakangi Dara. Ia mendekati ujung kolam renang itu.


Nampak jelas dari gelagatnya, Dara tahu bahwa Abhay kini sedang meredam emosinya. Ia tahu bahwa Abhay membelakanginya karena cowok itu tak mau memperlihatkan sisi terburuknya di depannya.


Melihat Abhay yang seperti itu, Dara menjadi sangat iba dan ia ingin sekali ia menghibur Abhay. Namun ia sendiri belum memikirkan caranya.


Lalu Dara melihat kesekeliling kolam renang itu dan mendapatkan sebuah ide. "Wah ... Keren banget. Kaya di hotel bintang lima," ujar Dara. Ia sengaja mengalihkan topik agar Abhay bisa mengalihkan pikirannya juga.


"Gue sih kalo punya rumah kaya gini kayanya gak bakal pergi kemana-kemana. Karena di rumah pun serasa lagi rekreasi," lanjutnya.


Sebenarnya apa yang dikatakan Dara bukan sekedar basa-basi saja, namun ia jujur dengan apa yang ia lihat. Kolam renang super luas dengan pancuran air yang begitu mewah. Dara tak berbohong bahwa ia benar-benar takjub.


Dan berhasil! Kini Abhay membalikkan tubuhnya dan beralih menatap Dara dengan senyuman yang kembali terbentuk di bibirnya.


"Berarti kalo gue minta lo tetep di sini sampe besok, lo mau?" tawar Abhay entah serius atau tidak.


"Ya enggak gitu juga," jawab Dara sambil cengengesan.


"Mau gue tunjukkin tempat lain?"


"Mau dong!" jawab Dara begitu antusias.


Abhay pun semakin melebarkan senyumnya, dan ia membawa Dara untuk berkeliling-keliling rumahnya.


Tempat selanjutnya yang Abhay tunjukkan adalah sebuah taman rumah yang begitu asri dan mewah. Terdapat sebuah aneka macam bunga dan patung-patung mewah yang turut menghiasi taman itu.


"Keren sih. Cocok banget buat piknik," ujar Dara dengan mata yang berbinar-binar. Ia begitu terkesima dengan apa yang ia lihat.


Setelah puas, Abhay beralih membawa Dara ke bagian lain rumahnya, seperti di tempat gym pribadi, bioskop pribadi, dan tempat-tempat unik lainnya. Dan di sepanjang Abhay membawa keliling Dara, tak ada satu tempat yang tak menarik perhatian Dara.


"Berasa healing gue muter-muter rumah Kakak," ucap Dara begitu puas.


"Gue tunjukkin satu tempat lagi," tambah Abhay.


Abhay mengangguk dan segera menggiring Dara ke suatu tempat yang ia maksud. Kali ini perjalanan cukup jauh, karena Abhay membawa Dara ke bagian terbawah dari rumah itu. Mereka kini sudah berada di area bawah tanah dan membawa Dara ke suatu mini bar.


"Wih ... Ada mini bar juga! Wah udah gak kebayang sih, pasti buat rumah ini biayanya wow banget, iya kan?" tanya Dara.


"Mana gue tahu, gue cuma numpang tidur doang di sini," jawab Abhay begitu jujur.


Lalu Dara berkeliling menjelajahi di setiap sudut mini bar itu. Meja biliar, permainan bola meja bahkan meja bar ala-ala cafe pun ada di sana. Dara tebak bahwa ini adalah tempat yang biasa Abhay pakai bersama kedua temannya. Karena tempat itu memang cocok untuk dipakai tempat nongkrong.


Setelah sudah mengelilingi setiap sudut bar itu, Dara kembali menghampiri Abhay. "Emang usaha orang tua Kakak apa sih, sampe bisa buat rumah semewah ini?" tanya Dara.


Baru sadar dengan apa yang baru saja ia tanyakan, Dara seketika tak enak sendiri. Karena secara langsung Dara kembali menggali kejadian tadi karena ia telah menyinggung soal orang tua.


"Gak usah dijawab Kak," tambahnya langsung.


"Pengusaha batu bara," jawab Abhay tiba-tiba.


"Batu bara!"


Dara kembali tak bisa mengendalikan dirinya. Ia berbicara sangat lantang saat Abhay menyebutkan fakta itu. Dengan pengakuan itu, Dara tak penasaran lagi mengapa Abhay memiliki rumah bak istana ini. Ternyata pengusaha batu bara!


"Sorry Kak gue kelepasan," lanjut Dara jadi merasa malu.


"Harusnya gue yang bilang sorry," timpal Abhay. "Maaf soal kejadian tadi. Gak seharusnya lo liat itu," tambah Abhay.


"Kakak gak usah minta maaf. Gue juga ngerti kok," kata Dara. Bisa dibilang ia cukup mengerti karena dari jauh-jauh hari Dara sudah paham betul mengenai konflik keluarga yang menimpa Abhay.


Suasana mendadak menjadi serius di saat keduanya saling melempar maaf. Abhay yang sempat membinarkan wajahnya, kini kembali ke mode awal. Abhay memasang wajah yang begitu serius.


Dara yang melihat Abhay mengeraskan wajahnya, ia pun mau tak mau jadi ikut serius juga. Terlihat dari raut Abhay, sepertinya cowok itu hendak mengatakan suatu hal padanya.


"Dan gue juga minta maaf karena gue terkesan terlalu mengekang elo," kata Abhay memulai keseriusannya.


"Gue sering maksa lo buat ini lah itu lah. Ya karena ini. Orang yang seharusnya paling deket sama gue, tapi nyatanya paling jauh. Dan saat gue ketemu lo, gue jadi terlalu terpaku sama elo. Ya karena gak ada lagi orang yang bisa gue andelin selain elo," jelas Abhay dengan sendunya.


"Tapi setelah liat itu semua, apa lo masih mau sama gue?" tanya Abhay.


"Maksudnya?" Dara balik bertanya karena ia tak paham.


"Sekarang lo tau bahwa gue emang anak yang gak bener. Dan bener yang dibilang orang tua gue. Gue emang anak yang gak bener dan susah diatur. Dan gue juga durhaka sama orang tua gue sendiri," lanjut Abhay dengan pandangan yang tak lepas dari manik mata milik Dara.


Abhay yang sudah menjelaskan panjang lebar padanya, Dara pun mengelengkan kepalanya pelan, seolah ia tak membenarkan penjelasan Abhay. "Itu semua gak bener," kata Dara.


"Yang dibilang Kakak itu salah. Kakak itu sebenarnya anak baik. Buktinya Kakak banyak banget bantu gue. Trus Kakak juga sopan sama keluarga gue. Sampe dari mulai Ayah, Bunda, trus Bang Andra semuanya suka sama Kakak," jelas Dara tegas disetiap perkataannya.


"Itu hanya karena sebuah keadaan yang menjadikan Kakak jadi begini," lanjutnya.


"Tapi kemarin gue udah bikin lo celaka," ujar Abhay. Ia merasa tak pantas disanjung seperti itu di saat dirinya sudah membuat gadis itu celaka.


"Gak sebanding sama apa yang Kakak lakuin ke gue," sanggah Dara tak lama kemudian.


Dara semakin memperdalam tatapannya pada Abhay. Ia akan menyakinkan Abhay agar Abhay tak menilai rendah dirinya sendiri.


"Dan lagi. Gue sama sekali gak ngerasa kalo Kakak ngekang gue. Gue ke sini pun karena kemauan gue sendiri," ujar Dara.


"Dan satu lagi. Kakak jangan lagi yakinin gue kalo Kakak itu anak yang gak bener, karena gue gak akan percaya," kata Dara sangat yakin.


Dara memberanikan diri melangkah satu kakinya pada Abhay. Hal itu membuktikan bahwa kini ia sedang serius dengan apa yang ia katakan.


"Kakak itu anak baik. Gue yang jadi saksinya. Karena gue adalah korban dari ketulusan hati Kakak," ucap Dara lagi.


Perkataan terakhir Dara berhasil menghangatkan hati dan perasaan Abhay yang sempat berkecamuk. Di situlah ketenangan itu muncul. Lambat laun, ada sebuah reaksi jiwa yang mendorongnya untuk bertindak sesuatu kepada gadis di depannya itu. Dorongan itu sempat ia tahan. Namun semakin ia tahan, semakin ia tak bisa menahannya di saat ia terus menatap Dara dengan begitu dalamnya.


"Kalo sekarang gue ngelakuin hal kurang ajar, apa lo masih mikir kalo gue anak baik?" tanya Abhay bagai teka-teki.


Dara menautkan kedua alisnya tak mengerti. "Kurang ajar gimana?" tanyanya.


Bukannya menjawab, Abhay malah memegangi kedua sisi wajah Dara untuk lebih dekat dengannya. Belum sempat Dara terkejut dengan tindakan itu, tanpa berlama-lama Abhay langsung memajukan wajahnya dan melahap bibir Dara dengan sangat cepat. Abhay yang sudah tak bisa menahan lagi hasratnya, ia terus ******* bibir Dara dengan lembutnya.


Dara yang sangat terkejut dengan tindakan itu, ia sempat bingung bagaimana ia harus meresponnya. Namun lama-kelamaan, ia bagai terhipnotis dengan tindakan Abhay. Ia pun menutup matanya dan memberanikan diri untuk membalas ciuman itu.


Menyadari Dara yang membalas ciumannya, Abhay menekan tengkuk Dara agar lebih memperdalam tautan itu. Bibir mereka terus beradu hingga membuat ciuman itu terasa cukup panas.


Setelah cukup puas melampiaskan hasrat mereka dan mereka yang sama-sama kehabisan nafas, perlahan mereka memundurkan wajah mereka dan keduanya sama-sama mengatur nafas mereka yang sangat tak karuan.


Untuk sepersekian detik terjadi sebuah kecanggungan di antara mereka. Mereka memang saling menatap namun tak ada yang membuka suara lebih dahulu. Mereka sama-sama bingung.


Karena sudah tak tahan dengan suasana canggung itu, Dara memberanikan diri untuk membuka suara lebih dahulu.


"Ki-kita keluar aja-yuk," ajak Dara gagu.


Tak ingin melihat respon Abhay, Dara bergegas berjalan lebih dulu ke arah pintu keluar dengan memengangi dada yang serasa ingin lepas dari tempatnya dan pikiran yang begitu kacau.


Katanya pertama kali pacaran, kok Kak Abhay bisa ngelakuin itu?


Eh gue juga kan pertama kali. Tapi kok gue-