
"Guys liat! Siapa orang yang ada di depan kita!"
Ray. Seseorang yang sudah mengacaukan waktu kebersamaan Abhay dan Dara adalah Ray. Masih ingatkah dengan anak dewan yang pernah dibuat Abhay masuk ke rumah sakit pada saat tawuran jilid II? Yah. Dia adalah Ray. Dengan ketiga temannya, kini ia sedang mencari masalah dengan Abhay.
"Eh Bhay! Sekarang lo punya cewek?! Gayaan banget bocah ini," tambah Ray lagi.
Tak ingin meladeni keempat orang itu, Abhay berniat langsung pergi tanpa ingin menggubris kehadiran mereka berempat. Ia beranjak dari kursinya dan melihat ke arah Dara yang sedang kebingungan. "Ayo kita pergi," ajaknya.
Dara dengan wajah linglungnya karena tak tahu dengan siapa yang sedang Abhay hadapi, ia menuruti saja ajakan Abhay. Baru saja mereka berdua bergerak melangkahkan satu kaki untuk pergi, namun dengan sigap orang-orang itu segara menjegal jalan mereka.
"Eh eh eh ... Mau kemana lo? Berusaha kabur? Katanya panglima tempur, masa kabur," ucap Ray dengan senyum picik terbentuk di kedua sudut bibirnya.
Dengan emosi yang mulai terbangun, Abhay menatap Ray sangat tajam, lalu ia sedikit memajukan tubuhnya lebih dekat. "Ini bukan saatnya, anjing!" ucap Abhay geram.
Ray semakin melebarkan senyumnya, melihat Abhay yang ingin menghindari dirinya, membuatnya semakin ingin terus memancing emosi Abhay. Ia pun melihat cewek yang berdiri di samping Abhay. "Emang kenapa? Takut cewek lo tau kalo lo itu berandalan?" tebak Ray.
Abhay hanya membuang nafas panjang. Emosinya masih cukup stabil untuk menahan tangannya agar tak menghajar orang di depannya ini. Bukannya ia takut, hanya saja posisinya ia kini sedang bersama Dara. Ia tak mau masalah pribadinya akan tersangkut pautkan dengan Dara.
Abhay meraih lengan Dara untuk mencoba lagi pergi dari sana. Namun lagi-lagi jalannya dihalangi oleh mereka berempat.
"Eh mau kabur lagi. Gimana nih guys! Yang katanya jagoan masa mau kabur?" Ray masih berusaha keras untuk memancing emosi Abhay.
Sejenak Abhay menarik nafas panjangnya sekali lagi. Lalu ia menatap Ray lebih tajam lagi. "Gue tadi udah bilang. Ini bukan saatnya!" ucapnya, ia mulai meninggikan suaranya.
"Ngeles aja nih orang. Setelah bikin gue masuk rumah sakit, lo mau kabur gitu aja!" Ray pun sama-sama meninggikan suaranya, lalu ia mengalahkan kakinya lebih dekat. Ia bukan ingin mendekati Abhay, namun ia memposisikan dirinya lebih dekat dengan Dara.
"By the way, cewek lo ternyata cantik juga yah. Pinter juga lo cari cewek," ucap Ray dengan mata yang menatap Dara lekat, dan senyum jahil tergurat di bibirnya.
Perlahan Ray mengangkat tangannya mendekati wajah Dara dan berniat menyentuh wajah itu. Namun niatnya terurungkan karena Dara dengan secepat kilat langsung meresponnya dengan menangkap tangan itu, dan memelintir tangan Ray lalu memutarkan tubuh itu hingga membuat tubuh Ray kini sudah terkunci. Diposisi seperti itu, Dara segara mendorong tubuh itu hingga membuat Ray tersungkur di tanah.
Diperlakukan seperti itu, Ray tersenyum kecut tak percaya. Ia sangat tak percaya karena dirinya dibuat jatuh oleh seorang perempuan. Sepanjang hidupnya, ia baru mengalami hal seperti itu. "Wah ... bener-bener pasangan serasi. Ternyata ceweknya model beginian juga," gumamnya.
Dengan cepat Ray kembali bangkit dan kembali memajukan tubuhnya mendekati Dara dan menatap Dara begitu mengintimidasi. "Lo diajarin cowok lo yah?" tanyanya.
"Gak. Malahan gue lebih jago dari pada dia," jawab Dara terkesan bercanda.
Yah begitulah Dara. Diposisi seperti itu Dara masih bisa bersikap tenang dan malah menyikapi intimidasi Ray dengan santainya. Ia memang berbeda dari kebanyakan cewek-cewek di luar sana. Jadi tak usah diragukan lagi keberaniannya.
"Buat apa sopan sama orang modelan begini. Lebih pantes kalo dikasarin!" tegas Dara.
"Aish ni cewek bener-bener!"
Ray hendak melayangkan telapak tangannya untuk menampar Dara, karena cewek itu telah membuatnya kesal. Namun tangannya hanya terhenti di udara karena Abhay tiba-tiba saja menendang perutnya dengan sangat keras. Bug!
Dalam sekejap, Ray kini sudah tersungkur di atas tanah untuk kedua kalinya. Bukannya merasa kesakitan, Ray malah mengembangkan senyumannya karena Abhay sudah terpancing dengan jebakannya. "Okeh, karena lo mulai duluan, tunggu apa lagi."
Ray beralih melihat ke arah ketiga temannya. "Habisin dia!" perintahnya keras.
Karena sudah diperintah, dengan cepat mereka bertiga berbondong-bondong segera melayangkan pukulannya pada Abhay. Melihat ia yang sudah diserang, Abhay mau tak mau harus meladeni mereka bertiga. Pukulan-pukulan itu coba ia tangkis, di saat yang tepat Abhay langsung melayangkan tendangannya pada mereka semua, dan akhirnya mereka bertiga berhasil ia lumpuhkan.
Melihat ketiga temannya keok, Ray pun tak bisa tinggal diam. Kini giliran ia yang harus menyerang balik Abhay. Ia menatap Abhay tajam dan berlari menghampiri cowok itu dengan sebuah tendangan melayang di udara. Namun sayangnya tendangan itu berhasil dihindari oleh Abhay.
Kini Ray dan Abhay bergulat dengan begitu sengit. Di waktu yang bersamaan juga, ketiga teman Ray segera bangkit, dan ikut-ikutan mengeroyok Abhay. Dan jadilah pertarungan yang sangat tak adil, karena kini telah terjadi pertarungan satu lawan empat.
Tak tega melihat Abhay yang dikeroyok, membuat Dara menjadi tak tenang sekaligus tak tega. Walaupun Abhay mahir berkelahi, namun jika lawan empat, itu akan berbeda cerita lagi. Abhay pasti akan segera dilumpuhkan.
Dengan segenap keyakinannya, Dara menghampiri mereka dan melayangkan tendangannya pada ketiga orang itu. Dan sangat beruntung, tendangan itu berhasil mengenai mereka semua dan berhasil membuat mereka terjatuh.
"Kalian berdua coba halangin cewek itu!" perintah Ray dengan murkanya. Dan perintah itu didengar oleh kedua temannya, mereka segera menghadang Dara dan mulai bersikap kasar pada cewek itu.
Menyadari Dara yang ikut-ikutan bergulat, membuat pikiran Abhay menjadi tak tenang. Dengan pikiran yang terbagi, Abhay mencoba fokus menyerang Ray dengan pandangan yang sesekali melihat ke arah Dara.
Disaat Ray dan temannya yang meringis kesakitan akibat ulahnya, Abhay mengambil kesempatan berbalik ke belakang untuk memerintah kepada Dara "Dara! Lo pergi aja!"
Dengan keadaan yang sibuk bergulat dengan kedua lelaki itu, Dara sempat mendengar perintah itu dan melihat Abhay sekilas. Namun tak lama, ia melebarkan kedua matanya di saat melihat Abhay yang akan dipukul oleh Ray dari arah belakang. "KAK ABHAY AWAS!!" teriak Dara sekuat tenaga.
Dengan refleks Dara segera mendorong kedua lelaki itu dengan kuatnya dan berlari menghampiri Abhay. Ia pun mendorong tubuh Abhay dan membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk tinjuan Ray yang begitu keras. Bug! Pukulan itu mendarat mulus dia area pipi Dara dan hingga membuat Dara terjatuh.
Melihat Dara yang berkorban demi dirinya, Abhay syok bukan main. Tanpa sadar ia meneriaki nama Dara dengan begitu kerasnya. "DARA!!"
...****************...
Lanjutannya besok lagi yah. Maafkan daku yang lagi males ngetik :)