Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
23. Cemburu?



Di jam istirahat ini, Abhay, Vano dan Gilang memutuskan untuk mengisi energi mereka dengan pergi ke warung yang ada di belakang sekolah. Memang mereka sudah sering pergi ke sana. Jika mereka bosan dengan suasana atau menu di kantin, warung tersebut adalah pilihan mereka.


Dan kini Abhay sudah duduk di bangku panjang yang ada di warung itu. Dengan kepala yang menyadar pada bangku, kini ia sedang menenangkan pikirannya, mencoba melepaskan kepeningan akibat suasana membosankan yang terjadi di kelas.


"Kok lo malah ikut ke sini sih?" tanya Vano yang duduk di samping Abhay.


"Emang kenapa?" Abhay bertanya balik dengan mata yang masih terpejam.


"Gak nemenin doi lo?"


"Doi." Abhay tersenyum kecut. "Doi apaan sih?" tanyanya.


"Lah, bukannya sekarang lo udah pacaran beneran sama cewek lo?" tanya Vano lagi.


Abhay yang sedang enak-enak terpejam langsung membuka netranya saat mendengar Vano berkata seperti itu.


"Kata siapa kampret?!" tanya Abhay ngegas, kini ia sudah menegakkan kembali tubuhnnya.


"Lah. Kemaren lo khawatir banget pas cewek lo pingsan. Sampe ngebelain ngebopong dia segala lagi," ungkap Vano. "Beneran pacaran, kan?"


"Gak! Mana ada kaya gitu," jelas Abhay.


"Trus kenapa?"


"Kenapa apanya? Lo yang harusnya kenapa! Kenapa ngebacot mulu!" Kini Abhay benar-benar emosi.


"Ya gue mah mewakili rasa penasaran para anak-anak di sekolah," jelas Vano. "Lo gak tau sekarang rumor itu lagi viral?"


Abhay tak menjawab. Ia mengakat kedua bahunya acuh. Ia tak peduli dengan rumor-rumor semacam itu. Karena di setiap harinya pun ia sudah sering menjadi bahan omongan orang lain. Jadi hal seperti ini, Abhay sudah sangat kebal.


Di saat Abhay kembali menyadarkan punggungnya dan hendak memejamkan matanya lagi. Tiba-tiba saku celananya bergetar, menandakan ada pesan baru yang masuk di gadget nya. Ia pun segera membuka pesan itu.


Abhay sempat malas saat mengetahui pelakunya adalah Angel. Namun ia juga sedikit penasaran, karena tak biasanya Angel mengirim pesan gambar seperti ini. Dengan iseng, ia pun membuka gambar itu. Entah apa yang sedang Abhay pikirkan, yang jelas ia cukup lama menatap gambar itu.


Vano merasa heran melihat Abhay yang terus menatap gadgetnya dengan tatapan kosong. Karena penasaran, Vano pun melirik-lirik mencoba mencari tahu apa yang sedang dilihat oleh Abhay. Lalu saat mengetahuinya, Vano langsung tersenyum jahil.


"Wah cewek lo diambil orang tuh!" Vano mengompori Abhay. "Gak mau disamperin?" tanyanya.


Abhay langsung mematikan gadget nya saat mengetahui Vano ikut-ikutan melihat.


"Buat apa disamperin?" Abhay balik bertanya. Lalu ia pun mencoba tak peduli dengan kembali menyadarkan punggungnya.


"Mainan lo diambil orang, lo terima?" Vano kembali mamanas-manasi Abhay, berharap Abhay akan terpantik emosinya.


Abhay tak bergeming. Ia memilih kembali memejamkan matanya mencoba tak peduli dengan apa yang baru saja ia lihat. Dan Vano. Ia tersenyum sinis, karena ia sebenarnya mengetahui bahwa di dalam pikiran Abhay kini sedang berkecamuk.


Dan benar saja, satu menit kemudian Abhay kembali membuka matanya dan langsung berdiri tegak.


"Lo bener. Mainan gue diambil orang. Gue gak terima," ungkap Abhay. Lalu tanpa permisi, berjalan pergi meninggalkan warung itu.


Melihatnya, Vano tersenyum puas. Ia sudah menduga Abhay akan bereaksi seperti itu.


"Abhay Abhay. Lo emang jago barentem. Tapi kalo masalah beginian lo bego banget sumpah," ungkap Vano tersenyum lebar.


Lo pikir, perasaan apa yang bisa gerakkin lo sampe bertindak kaya gini, ujar batin Vano.


Gilang yang sudah kembali dari toilet ia langsung linglung karena tak melihat keberadaan Abhay.


"Abhay mana?" tanya Gilang pada Vano.


"Pergi sama betinanya lah!" jawab Vano sedikit ngegas.


"Wuih. Makin lengket aja tuh anak," ungkap Gilang yang kini sudah duduk di samping Vano.


"Lo juga makin lengket."


"Lengket apa?"


"Lengket sama kebegoan lo!" maki Vano dengan penuh semangat.


Gilang langsung memasang mimik kesal. Tak lama ia pun menerkam Vano dengan sangat erat. "Anjir lo! Gue kira mau muji gue. Emang segleng ni orang!" seru Gilang yang malah mengeratkan cengkeramannya pada Vano.


"Anjir. Lo sekarang jadi homo!" seru Vano sambil mencoba melepaskan tubuhnya dari cengkeraman Gilang.


"Iya gue homo. Puas lo!" kesal Gilang.


...****************...


Dengan langkah setengah berlari, Abhay berjalan menyusuri setiap koridor kelas. Seperti niatnya tadi, ia akan pergi ke kantin. Setelah sampai, ia pun langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia incar. Kemudian, manik mata Abhay terhenti di satu titik. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampirinya.


Angel yang sudah menunggu momen itu, langsung tersenyum senang saat melihat kehadiran Abhay di sana. Dia tak menyangka, Abhay akan begitu cepat memakan umpannya. Dan tentunya, ia sudah tak sabar untuk melihat apa yang akan dilakukan Abhay pada Dara.


Enjoy the show, ujar Angel dalam hatinya sambil tersenyum picik.


"Lagi pacaran kalian berdua?" tanya Abhay yang kini sudah duduk di samping Rakha.


"Kak Abhay! Kenapa tiba-tiba ada di sini?" Dara sedikit terlonjak saat melihat kehadiran Abhay yang tiba-tiba.


"Emang kenapa? Gak boleh? Apa gue ngeganggu kalian pacaran?"


Dara membulatkan kedua matanya. "Dih apaan sih, Kak!" kesalnya.


Dan benar saja, kehadiran Abhay telah mencuri perhatian semua orang yang ada di sana. Mereka semua berbondong-bondong melirik-lirik ke arah Abhay mencoba mencari tahu apa yang akan Abhay lakukan terhadap Dara, setelah mengetahui wanitanya sedang bersama lelaki lain. Tentu hal ini akan sangat menarik. Dan Ruby. Ia menjadi satu-satunya penonton VVIP, di mana ia bisa melihat kejadian itu dengan sangat jelas.


Kini Abhay beralih menoleh pada Rakha. "Heh. Bro. Lagi ngapain di sini?"


"Gue lagi ngobrol sama Dara lah, apalagi," jawab Rakha enteng.


"Dara kan junior gue di taekwondo."


"Oh gitu..."


Setelah mendengar pernyataan Rakha, Abhay jadi teringat momen di mana ia melihat Dara yang menghabisi para perundung tanpa ampun.


Pantesan aja ni cewek jago barantem, ternyata anak taekwondo, pikir Abhay.


"Berarti lo jago berantem dong?" tanya Abhay lagi pada Rakha.


Namun kali ini Rakha tak menjawab. Mana mungkin juga ia mengklaim bahwa dirinya memang jago dengan mulutnya sendiri. Bukannya jagoan sejati tak menganggap dirinya jagoan?


Abhay yang melihat Rakha yang terdiam, ia pun secara tak langsung mengetahui jawabannya. "Okeh lo diem artinya lo mengiyakan," jelas Abhay.


"Boleh dong kapan-kapan kita tarung. Gue juga pengen tau kemampuan lo." Abhay tiba-tiba menantang Rakha.


Rakha tersenyum sinis, tak menyangka Abhay sampai ingin menantangnya. Ia pun berpikir sejenak untuk menimang-nimang tawaran Abhay.


Setelah cukup lama berpikir, Rakha mengangukkan kepalanya. "Kenapa enggak," ujar Rakha.


Abhay menarik salah satu sudut bibirnya setelah Rakha menerima tantangannya.


"Okeh, kapan? Pulang sekolah bisa?" tanya Abhay. Sepertinya ia sudah tak bisa menantikan pertarungan itu.


"Pulang sekolah gue ada urusan," tolak Rakha.


Abhay berdecak. "Najis. Sok sibuk banget lo," seru Abhay.


"Emang kenyataannya begitu. Gimana?"


Abhay tertawa kecil mendengar pernyataan Rakha. Setelah mengetahui keangkuhan Rakha, ia semakin tak sabar untuk menghajar wajah Rakha.


Abhay pun menghela nafas kasar. "Oke. Nanti kita atur lagi waktunya," ujar Abhay.


Keadaan semakin serius saat mereka tak lagi saling berbicara. Dan anehnya, suasana kantin yang biasanya ramai kini tiba-tiba menjadi hening. Memang the power of Abhay. Mereka semua sampai lupa tujuan awal mereka ke kantin saat mereka melihat Abhay.


"Oh ya. Lo inget gak, gue pernah bilang apa ke lo sebelumnya?" Abhay kembali bertanya pada Rakha.


"Apa?"


"Jangan coba curi barang yang udah gue beli. Inget?"


Apa yang baru saja Abhay katakan, jelas membuat Dara terpantik emosinya. Ingin sekali ia menampar mulut Abhay dengan jurusannya. Namun sayang, ia sadar ia sedang berada di keramaian.


"Kok lo bisa ya, manusia lo sebut barang," ungkap Rakha.


"Emang kenyataan gue anggap begitu. Masalah lo?"


Rakha menggelengkan kepalanya pelan. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Abhay. Bisa-bisanya Dara disebut barang.


"Jadi saran gue lebih baik lo juah-jauh dari ni anak," lanjut Abhay.


"Emang kenapa kalo gue deketin dia? Ada masalah?" Kini giliran Rakha yang menyerang balik omongan Abhay.


"Ya seperti gue bilang tadi. Gue gak suka kalo barang gue curi," jelas Abhay.


Rakha tersenyum kecut mendengarnya. Apa yang Abhay katakan sangat tidak masuk akal. Apa hanya itu alasannya sampai Abhay bertindak sejauh ini? Rakha sangat meragukan hal itu.


Untuk menjawab kebingungannya, Rakha berniat untuk bertanya langsung pada Abhay. "Heh bro. Lo ngomong kaya gini gak lagi cemburu, kan?"


Abhay cukup terkejut saat Rakha tiba-tiba menanyakan hal itu. Untuk menutupi rasa terkejutannya, ia langsung tersenyum kecut.


"Cemburu." Kini Abhay tertawa remeh. Walaupun sebenarnya pikirannya sedang bertanya-tanya, kenapa bisa Rakha berpikiran seperti itu.


"Kenapa, omongan gue salah?" tanya Rakha lagi memastikan.


Entah kenapa Abhay menjadi tak nyaman saat ia didesak oleh Rakha seperti itu. Karena rasa tak nyaman itu, ia pun berniat untuk pergi dari tempat itu. "Hadeh gak penting banget," ucapnya.


Tak lama Abhay pun benar-benar berdiri. Ia hendak beranjak pergi. Namun sebelum pergi, ia kembali mengingatkan Rakha.


"Oh iya, mengenai pertarungan tadi, gue serius. Awas lo kalo kabur."


Setelah mengatakan hal itu, Abhay pun melangkah pergi. Tanpa sadar, ia telah meninggalkan kebingungan di antara mereka semua yang hadir di sana. Karena secara tak langsung Abhay belum menjawab pertanyaan Rakha.


Jadi sebenarnya Abhay cemburu atau tidak? Itulah pertanyaan semua orang.


Tak terkecuali dengan Angel dan kawan-kawan. Mereka pun mempertanyakan hal yang sama.


"Jel. Ini si Abhay kaya lagi cemburu gak sih?" tanya Rere memastikan.


"Iya, gue kira dia mau ngapain si Dara. Eh dia malah nantangin Rakha," tambah Selly.


"Gak! Gak mungkin Abhay cemburu!" seru Angel meyakinkan dirinya.


"Wah. Rumor mereka pacaran beneran kayanya bener deh," ucap Selly kembali berulah.


"Anjir Selly! Lo bisa diem gak sih! Dari tadi omongan bikin gue sakit hati mulu!" kesal Angel tak tertahan.


"Ya maap. Gue spontan aja tadi," ujar Selly merasa bersalah.


Angel kembali bergelut dengan pikirannya. Berulang kali ia meyakinkan dirinya bahwa Abhay tak mungkin cemburu pada Dara.


Gak mungkin, gak mungkin Abhay cemburu. Gak mungkin!