
"Bang Andra! Lo bawa siapa?!"
Semua mata kini tertuju pada Andra. Tak ada hujan tak ada angin apalagi halilintar, Andra tanpa diduga-duga membawa seorang gandengan cantik yang belum pernah ia bawa ke rumah sebelumnya. Sungguh itu adalah pemandangan yang sangat langka.
"Bawa ustadzah buat ngedoain ayah," jawab Andra asal.
"Ish kamu ini. Ya bener lah ini siapa?" tanya Bunda Iis. Beliau tak bisa lagi membendung rasa penasarannya.
Dengan kesadaran dirinya, perempuan itu melangkahkan kakinya lebih dekat dengan mereka dan menyalami kedua orang tua Andra dengan sopan.
"Halo Om, Tante. Saya Diana," ucap perempuan itu sedikit malu saat mengenalkan dirinya.
"Selaku siapa nya Andra nih? Kok gak sekalian sebutin," tanya Ayah Leo.
"Sebagai—" Diana melirik pada Andra. Sepertinya ia tak cukup nyali untuk menyampaikan status sebenarnya. Untuk itu ia meminta Andra untuk membantu menjawab pertanyaan Ayah Leo.
Mengerti dengan isyarat Diana, Andra lalu menatap bergantian orang-orang yang kini tengah melihatnya penasaran. Terlihat raut wajah mereka yang benar-benar menunggu jawaban.
"Iya iya. Yang kalian pikirin emang bener," jawab Andra enteng bagai mengerti pemikiran mereka.
Serentak semua orang yang ada di sana sama-sama membulatkan mata mereka sempurna. Bukan hanya mata, mulut pun ikut menganga. Lalu mereka saling melemparkan pandangan satu sama lain dengan senyum jahil tergurat di bibir mereka. Ternyata ada yang diam-diam mengagetkan. Malahan Dara sempat berpikir bahwa abangnya itu homo.
"Ternyata ada yang mau sama elo," seru Dara.
"Yang ada banyak yang mau lah. Tampang kaya gini masa gak ada yang mau," timpal Andra dengan angkuhnya.
"Belagunya elo, Bang." Dara memutar bola matanya malas.
Kemudian Diana kembali menghampiri Ayah Leo, ia melupakan satu hal yang ia genggam sedari tadi. "Oh ini Om. Saya kelupaan," ujarnya, lalu Diana memberikan sebuah bingkisan kepada Ayah Leo sebagai tanda hadiah ulang tahun darinya. "Selamat ulang tahun ya Om. Mohon diterima pemberian dari saya."
Ayah Leo meraih hadiah itu dengan senyuman yang sangat merekah lebar. "Oh ya jelas diterima dong. Apalagi dari calon mantu kedua. Terima kasih yah."
"Sama-sama Om," jawab Diana masih malu-malu.
"Ya sudah tunggu apa lagi, kita langsung mulai aja," ujar Ayah Leo.
Andra dan Diana sontak turut duduk untuk bergabung bersama mereka. Dirasa semuanya sudah berkumpul, tak ada alasan lagi bagi mereka untuk menunda acara. Dengan cake yang sudah tertancap lilin berangkakan empat dan lima, mereka memulai acara tiup lilin. Walaupun ada sedikit rasa malu untuk meniup lilin itu, Ayah Leo tetap melakukannya karena ada paksaan dari Bunda Iis.
"Sebenernya Om agak malu yah ulang tahun sampe dirayain kaya gini. Padahal diumur segini harusnya gak ada perayaan-perayaan lagi ya kan. Udah bangka udah gak pentes lagi. Ya tapi gimana lagi, Bunda Iis nya maksa, jadi Om gak bisa nolak," jelas Ayah Leo saat dirinya selesai meniup lilin.
"Lagian perayaannya gak meriah-meriah amat. Cuma makan-makan doang, jadi buat apa malu. Iya kan?" timpal Bunda Iis pada semua orang.
"Betul," jawab mereka serentak.
"Ya sudah, kalo judulnya makan-makan, berarti kita langsung makan aja," perintah Ayah Leo. Lalu mereka pun memulai acara makan-makan mereka.
Kini suasana meja makan terasa begitu sibuk dengan suara gesekan sendok dan piring. Ditambah lagi dengan canda ria dan obrolan-obrolan yang terbentuk diantara mereka, membuat suasana makan-makan itu menjadi begitu riuh. Hampir semua orang yang ada di sana menikmati momen itu, namun tidak dengan seseorang.
Seorang gadis yang sudah berusaha berdandan cantik, kini menyadari kebodohannya karena apa yang ia usahakan tak ada hasilnya. Kebahagian yang ia harapakan saat melihat Andra, kini beralih menjadi sebuah kesedihan. Ia sungguh tak mengharapkan akan melihat pemandangan seperti ini. Andra dan seorang perempuan cantik, kini terlihat bahagia dan terlihat menikmati momen itu.
Gadis itu bernama Ruby. Ia berusaha keras mencoba berbaur dengan mereka dan memaksakan dirinya untuk bisa tersenyum. Ia tak mau terlihat lemah, sekuat tenaga ia menahan dirinya untuk tetap di sana, walaupun dalam benaknya ingin sekali ia pergi dari sana.
"Oh iya, Om jadi penasaran. Kamu sama Andra udah dari kapan?" tanya Ayah Leo pada Diana disela makan mereka.
"Hmm ... Deketnya sih udah lama Om, cuma resminya baru-baru ini," jawab Diana.
"Oalah masih pasangan anget. Kenapa gak dari dulu aja?"
Dicanda seperti itu, Diana tersenyum malu. "Hehehe. Gak tau juga Om," ujarnya.
"Bang Andra nya pasti kelamaan mikir. 'Dia mau gak yah sama gue?' Gitu kan?" Kini Dara ikut-ikutan nimbrung. Namun sekalinya nimbrung, ia langsung memancing keributan di sana.
Andra pun melemparkan sebuah jeruk ke arah Dara karena tak terima. "Lo ngomong apa sih bocil! Sotoy lu!"
"Gue kan cuma nebak, apa salahnya!" Dara kembali melempar jeruk itu balik kepada Andra.
"Tapi tebakan lo udah ngeremehin harga diri gue!"
"Emang lo punya harga diri?!"
"Lo bener-bener adek durhaka yah!"
"Lo Kakak jahanam!"
Saat mereka saling melempar cercaan dan sebutir jeruk. Bunda Iis merasa jengah dan menghentikan aksi kedua anaknya itu.
"STOP!!" ujar Bunda Iis berteriak. "Bisa gak sih kalian anteng. Apapun kondisinya pasti ribut terus!" lanjut Bunda Iis kesal. Dibentak seperti itu, Andra dan Dara pun sama-sama bungkam, mereka tak melanjutkan perselisihan mereka.
Melihat konflik keluarga itu membuat Diana dan Abhay ikut tersenyum geli. Apalagi Abhay. Setiap melihat Andra dan Dara sedang bersama, momen itulah yang selalu ingin dia lihat. Menurutnya, momen itu selalu menjadi hiburan baginya.
Saat keadaan kembali kondusif, Ayah Leo melanjutkan ceritanya. "Dara udah ada, Andra juga udah ada. Ayah bener-bener ngerasa tua karena ngeliat anak-anak Ayah udah pada punya calon," ujarnya.
"Tua apaan sih, Yah. Rambut yang putih masih sedikit, belum bisa disebut tua," timpal Bunda Iis.
Lalu Ayah Leo mengarahkan pandangannya pada Ruby. "Ruby. Harusnya kamu bawa juga dong. Biar lengkap semuanya."
Lalu Ruby menatap balik Ayah Leo dan berniat menjawab pertanyaan itu. "Aku ... Belum punya." jawab Ruby jujur
"Oh belum. Maaf yah, Ayah gak tau," timpal Ayah Leo merasa bersalah.
"Gak papa Ayah Leo." Ruby kembali memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Kemudian Ayah Leo beralih mengarahkan pandangannya pada Dara. "Dara. Kamu gimana sih! Kenapa gak sekalian cariin buat temen kamu?" tanya beliau.
Ditanya seperti itu, Dara jadi ikut-ikutan bingung. Bagaimana ia harus menjawab omongan ayahnya? Bahkan manusia yang diinginkan Ruby pun ada di sana.
"Ya ... gimana, Yah. Dara pun gak tahu gimana caranya." Dan Dara pun hanya bisa menjawabnya seperti itu.
"Mau sama temen gue? Namanya Gilang, dia lagi nganggur tuh," ujar Abhay mencoba memberikan saran dengan mempromosikan teman tak bergunanya itu.
"Atau mau gue yang cariin?"
Yang barusan bersuara adalah Andra. Lelaki itu kini ikut-ikutan nimbrung dengan menawarkan bantuan pada Ruby.
Di kala Andra menawarkan dirinya untuk membantunya, bukannya rasa senang yang ia dapatkan, namun Ruby semakin merasa iba kepadanya dirinya sendiri.
Apa yang mau dicari? Karena orangnya itu elo, Kak! Apalah daya, Ruby hanya berani meneriaki itu di dalam benaknya.
"Gak Kak Andra. Gu-gue—"
Ruby menggantungkan ucapannya cukup lama. Ia begitu bingung, sangat bingung. Ditambah semua mata tertuju padanya, ia semakin dibuat gugup untuk menghadapi situasi itu. Semakin juga ia tak bisa berpikir jernih untuk mencari jawaban yang cocok. Pikirannya sangat-sangat kacau.
"Gu-gue harus pergi sekarang." Akhirnya kata pamit yang bisa ia katakan. Ruby tak bisa lagi menahan dirinya untuk tetap di sana. Sungguh Ruby tak kuat lagi!
"Ayah Leo sama Bunda Iis. Aku izin pulang yah. Kata Mamah aku gak boleh pulang malem-malem," izinnya pada kedua orang tua Dara.
"Tapi kan ini belum malem-malem banget, kita pun belum selesai makan. Masa udah mau pergi?" timpal Bunda Iis merasa kecewa.
"Maaf yah Bunda. Gak tau Mamah aku. Aku harus pulang sekarang."
Ruby pun memantapkan dirinya untuk pergi dari sana. Ia berdiri dan mengambil tas selempangnya dan segera dipakaikan pada pundaknya. Lalu ia menghampiri Ayah Leo dan Bunda Iis untuk bersaliman pamit.
"Makasih udah undang aku, Bunda. Maaf Ayah Leo, Bunda, dan semuanya. Aku izin pulang duluan. Dah semuanya." Dengan senyuman tipis, Ruby benar-benar pergi dari sana.
Kepergian Ruby membuat Dara menjadi semakin merasa bersalah. Karena secara tak langsung dia lah orang yang telah menyebabkan Ruby menjadi seperti ini. Andai saja ia tak mengajak Ruby untuk datang, mungkin kejadian ini tak akan terjadi.
"Kalo kalian jangan dulu pulang yah. Om masih pengen ngobrol banyak sama kalian," ucap Ayah Leo tak lama setelah Ruby meninggalkan tempat itu.
"Mau ngobrolin tentang apa Om?" tanya Abhay sedikit penasaran.
"Ya tentang kalian," jawab Ayah Leo. Lalu Ayah Leo melihat Diana yang nampak begitu pendiam, tak banyak bicara. Terlihat bahwa Diana masih malu-malu terhadapnya.
"Dan Diana. Kamu gak usah canggung-canggung atau malu-malu lagi sama Om, sama Tante. Dan kalo bisa sih kamu sama Abhay juga jangan panggil Om sama Tante, panggil aja kita Ayah, Bunda. Biar kita lebih deket. Iya gak Bunda?"
Bunda Iis mengangguk menyetujui. "Betul."
"Jadi kamu gak usah takut karena kita gak gigit juga," tambah Ayah Leo diselingi candaan, berharap Diana tak lagi canggung. Dan malah dihadiahi tawa dari semua orang yang ada di sana.
"Ayah bisa ae nih," timpal Andra.
"Ya iyah. Karena Ayah sama Bunda punya komitmen. Abhay juga udah tahu. Kalo Ayah sama Bunda membolehkan anak-anak untuk menjalin hubungan atau istilahnya berpacaran lah. Kenapa? Alasannya karena kita pun pernah muda. Jadi Ayah juga mau anak-anak Ayah bisa ngerasain indahnya cinta di masa-masa muda. Itu kan momen yang hanya datang sekali aja. Jadi biar kalian gak nyesel nantinya. Karena kalo udah tua kaya Ayah dan Bunda. Wuh! Pikirannya gak lagi cinta-cintaan tapi beban hidup yang semakin menjadi. Jadi intinya puas-puasin aja masa muda kalian," jelas Ayah Leo panjang lebar.
"Tapi pacarannya sewajarnya aja," lanjut Ayah Leo. "Kontak fisik juga sewajarnya aja. Pegangan tangan, pelukan boleh aja. Tapi kalo sampe ngesun-"
"Ngesun apa, Yah?" tanya Andra tiba-tiba karena tak tahu.
"Itu. Maksudnya ciu-"
Belum sempat Ayah Leo menyelesaikan ucapannya, ada dua orang yang langsung keselek berjamaah. Dara dan Abhay yang sedang mengunyah makanan mereka merasa dikejutkan dengan ucapan Ayah Leo.
Melihat keanehan dari kedua orang itu, Andra melihat Dara dan Abhay heran. "Kalian kenapa? Keseleknya kok bisa barengan?" tanyanya.
Raut kebingungan itu, kini berubah menjadi sebuah kecurigaan. Andra menatap Abhay dan Dara secara bergantian, dan tersenyum jahil. "Oh ... Atau jangan-jangan—"
"Jangan-jangan apa sih, Bang!" sanggah Dara gerak cepat. "Kita cuma kaget aja pas Ayah bilang ngesun. Aneh banget ngedengernya." Dara pun ngeles, walaupun kenyataannya ia merasa tersindir keras.
"Ah masa? Gua gak percaya tuh," timpal Andra lagi masih dengan senyum yang sama.
"Ih bener! Emang gitu kan, Kak?" Dara akhirnya meminta bantuan kepada Abhay. Ia menatap Abhay dengan raut harap-harap cemas. Semoga aja Kak Abhay bisa diajak kerja sama!
Mengerti maksud Dara, Abhay mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ah- iyah ... iyah," jawab Abhay berusaha meyakinkan. Mana mungkin juga ia mengungkapkan hal sebenarnya, bisa berabe nantinya.
Tak lama Ayah Leo dan Bunda Iis sama-sama terkekeh kecil. Melihat putrinya panik, tak bisa menahan diri mereka untuk tidak tersenyum. Padahal jika iya, mereka pun tak terlalu mempermasalahkan itu.
"Pokoknya hanya satu yang gak boleh. Yaitu jangan sampe meninggalkan bekas. Kalian cukup pintar lah untuk mengerti maksud Ayah," tambah Ayah Leo. "Paham semuanya?"
Andra dan Diana serentak menganggukkan kepalanya paham, tak terkecuali dengan Dara dan Abhay. Bukan hanya mengangguk, mereka pun bernafas lega. Hampir saja! Padahal Ayah Leo tak tahu saja jenis ngesun yang sudah Abhay dan Dara lakukan. Entahlah bagaimana responnya jika mereka sampai tahu.