Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
101. Inginku hentikan waktu



Seorang laki-laki bertubuh tinggi, atletis, dan juga berparas tampan berdiri tegap berjarak lima meter di depan Dara. Lelaki itu tersenyum tipis, sembari memandangi Dara yang tengah syok sekaligus kebingungan.


Dara masih mematung dengan mata yang membulat menatap lelaki itu. Pikiran Dara berseteru antara mempercayainya atau tidak. Kemudian Dara membalikan badannya kembali membelakangi lelaki itu, ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Gak mungkin! Gak mungkin! Dia jelas-jelas lagi di Amerika kok! Mata gue udah ngaco nih!" seru Dara cukup keras. Ternyata ia berpikiran bahwa lelaki yang ada di depannya kini tidaklah nyata, melainkan hanya sebuah khayalan dia semata.


Dara membalikkan badannya lagi untuk melihat laki-laki itu. Tapi tetap sama. Lelaki itu masih berdiri di depan Dara, malahan kini dengan senyuman yang semakin melebar.


"Aish, dia malah senyum lagi. Gue ngebayanginnya terlalu over!"


Dara masih teguh dengan keyakinannya, ia masih tak mau percaya. Ia pun memukul-mukul pelan wajahnya, dengan matanya juga yang ikut tertutup. Sadar Dara, sadar!


Saat Dara membuka matanya kembali, bukannya menghilang, laki-laki itu malah berjalan maju menipiskan jarak diantara mereka berdua.


"Loh kok ngedeketin?"


"Loh kok!"


Laki-laki itu sudah berdiri berjarak satu meter dengan Dara. Dara semakin melebarkan matanya, tubuhnya pun semakin mengeras bagaikan batu. Ia diam tanpa suara melihat laki-laki di depannya.


"Lo kenapa? Jangan-jangan udah gila beneran yah?" tanya laki-laki itu.


"Haduh, ditinggal gue setahun kok malah kaya gini?"


Dara masih tak bergeming. Tubuhnya seperti tak bernyawa, namun pikirannya terus bertanya-tanya. Apa ini bener? Apa ini nyata? Apa dia bukan khayalan gue?


"Hey. Kok diem aja? Apa lo gak kangen sama gue? Gak ada niatan mau peluk gue, gitu?" tanya orang itu lagi.


Dara terus bungkam, tubuhnya pun tak bergerak sama sekali. Namun ada satu bagian tubuh yang nampak berbeda. Matanya mulai berkaca-kaca. Saat mendengar lelaki itu terus berbicara, Dara mematahkan keyakinannya. Kini ia mulai yakin bahwa lelaki di depannya ini benar-benar nyata.


"Kok malah mau nang-"


Bukan jawaban berupa kata-kata yang Dara berikan, melainkan sebuah gerakan nyata yang Dara lakukan. Dara bergerak mendekati lelaki itu dan langsung memeluknya dengan sigap.


Dara memeluk tubuh lelaki itu sangat erat. Dari tindakan itu juga Dara semakin yakin bahwa tubuh yang kini sedang ia peluk memanglah nyata. Itu artinya ia sedang tak berkhayal. Laki-laki yang sedang ia peluk memang laki-laki yang ia maksud.


Kak Abhay. Ini beneran Kak Abhay. Gue gak lagi mimpi!


Abhay Adhitama. Lelaki itu telah kembali dari tempat yang sangat jauh. Ia tersenyum lebar sembari merasakan pelukan erat dari Dara. Bahkan sangat sangat sangat erat. Namun ia membiarkannya. Malahan Abhay membalas pelukan itu dengan sama eratnya.


Tubuh mereka menyatu berpelukan, sampai tak ada satu senti pun jarak memisahkan mereka. Mereka saling diam cukup lama, membiarkan emosi jiwa mereka yang berbicara.


Masih mempertahankan posisi yang sama, namun kini satu tangan Dara bergerak lebih turun, lalu tindakan tak terduga dilakukan oleh Dara.


"Aw! Kok nyubit gue?!" ringis Abhay. Saat mereka sedang romantis-romantisnya, tiba-tiba saja Dara mencubit keras pinggang Abhay.


Dara pun melepaskan eratan tubuhnya dari Abhay, dan memandang Abhay kesal. "Suruh siapa pulang gak bilang-bilang dulu?!"


"Ya kalo bilang namanya gak suprise dong," balas Abhay.


"Gue kan jadi malu tadi!" Dara semakin mengeraskan suaranya.


"Malu kenapa? Sejak kapan lo malu di depan gue?"


"Iya malu lah. Gue tadi abis ngomong sendiri kaya orang gila," gerutu Dara namun dengan suara yang mengecil. Wajar saja jika Dara sampai malu, karena secara tak sengaja, aibnya yang suka bicara sendiri baru saja diketahui oleh Abhay.


Lalu Abhay terkekeh kecil. "Lo malu? Iya udah gue balik yah, trus pura-pura gak tau apa-apa," ucap Abhay. Ia pun bergerak untuk melangkahkan kakinya pergi, ia bermaksud untuk menggoda Dara.


Dan benar saja, Dara tak terima lalu menahan lengan Abhay. "Ya jangan," pintanya terdengar seperti rengekan anak balita.


Jika biasanya Dara marah saat Abhay mengacak-acak rambutnya, namun kali ini tidak. Justru ia sangat bahagia karena sudah satu tahun lamanya ia tak pernah diperlakukan seperti itu. Dara sangat merindukannya.


"Kak," panggil Dara saat tangan Abhay sudah turun dari rambutnya.


"Apa?"


"Gue boleh peluk lagi?" pinta Dara tanpa malu.


"Kenapa minta izin segala? Peluk ya peluk aja, gue kan milik lo," balas Abhay diiringi sebuah perkataan manis.


Senyum Dara semakin mengembang saat Abhay mengizinkannya. Jika sudah seperti ini, tak ada alasan lagi bagi Dara untuk menahan diri. Ia pun menggerakkan tubuhnya mendekati Abhay lalu memeluk laki-laki itu lagi.


"Agak lama boleh?" izin Dara lagi.


"Sepuasnya boleh," balas Abhay dengan senang hati.


Dengan senang hati pula Dara semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada punggung Abhay. Rasa rindu yang sudah menumpuk selama satu tahun, ia tenggelamkan lewat pelukan itu. Ingin juga rasanya ia menghentikan waktu untuk sesaat, membiarkan dirinya seperti sekarang ini, sungguh Dara sangatlah sudi.


"Apa gue harus pergi lama dulu biar lo kaya gini?" tanya Abhay. "Dulu, selalu gue yang mulai. Tapi sekarang, lo yang agresif."


Dibilang agresif, Dara mengendurkan eratannya. "Oh jadi kalo kaya gini agresif yah? Ya udah gue lepasin." Dara dongkol, karena ia tak mau disebut cewek agresif.


Dara sudah bersiap untuk melepaskan lingkaran tangannya dari punggung Abhay, namun belum juga Dara bergerak ternyata sang pemilik punggung langsung meresponnya dengan cepat. Abhay menahan bahu Dara agar gadis itu tak melepaskan pelukannya.


"Eh jangan dong. Gue tadi cuma becanda," ucap Abhay sembari satu tangannya ia gunakan untuk mengelus-elus puncak kepala Dara.


Dara kembali luluh saat diperlakukan seperti itu. Rasa dongkol seketika hilang saat Abhay bertindak manis. Ia pun jadi menurut, dan kembali mengeratkan pelukannya.


Sesuai permintaan Dara, mereka mempertahankan posisi mereka sangat lama. Mereka benar-benar meluapkan kerinduannya sampai mereka merasa sudah puas. Barulah saat mereka sama-sama merasakan hawa panas pada tubuh mereka, mereka sama-sama melepaskannya.


...****************...


Duduk di bibir gedung sudah menjadi kebiasan wajib bagi mereka sejak dulu. Menatap langit sore yang menjingga, itu juga hal yang cukup dirindukan mereka. Untuk sesaat, mereka sama-sama diam menikmati senja yang memanjakan mata.


Sesekali Dara mencuri-curi pandangan untuk melihat Abhay. Dalam hatinya bertanya, apakah lelaki di sampingnya ini benar-benar nyata? Jujur saja, ada rasa takut dalam diri Dara. Ia takut bahwa apa yang ia alami ini hanyalah sebuah mimpi. Jikalau pun itu mimpi, Dara memohon pada sang pembuat mimpi agar tak dibangunkan. Sungguh, Dara tak ingin bangun dari mimpi indah ini.


"Kenapa lirik-lirik ke gue terus?" tanya Abhay. Ia sadar bahwa sedari tadi Dara terus saja mencuri-curi pandangan untuk melihatnya.


"Gue lagi mimpi gak sih? Ini beneran Kakak, kan?" Dara balik bertanya. Keraguan yang ada dalam dirinya, Dara tak segan untuk bertanya langsung.


"Lo masih ragu juga?"


"Ya habisnya muncul gak bilang-bilang. Coba aja kalo bilang dulu, gue kan gak akan linglung kaya gini," tutur Dara.


"Ya kan kejutan. Masa bilang-bilang," balas Abhay. Kemudian ia teringat satu hal saat ia mengucapakan kata kejutan. "Eh tapi gak sepenuhnya kejutan sih. Tadi lo bilang kalo lo liat gue di toko bunga," sanggah Abhay pada dirinya sendiri.


"Emang itu beneran Kakak?"


Abhay mengangguk pelan mengiyakan. "Gak seru ah, jadi kurang kejutannya," ucap Abhay.


"Emang Kakak ngapain di toko bunga? Jangan-jangan mau beli buat gue yah?"


Tanpa disangka-sangka Dara tiba-tiba kepedean. Abhay pun menolehkan kepalanya melihat Dara lalu terkekeh kecil. "Geer banget sih lu," ucapnya, lalu kembali terkekeh.


"Trus buat siapa kalo bukan buat gue? Atau jangan-jangan buat gebetan Kakak yang ada di Amerika yah?" tuduh Dara terdengar sensi.


"Jauh-jauh amat belinya disini. Kalo pun ada, belinya di sana lah. Orangnya di sana ya belinya di sana," timpal Abhay dengan mudah. Ia tak sadar bahwa perkataannya baru saja memancing keributan.