
Seperti biasa, di pagi hari ini Dara berangkat sekolah dengan di jemput oleh Abhay. Dara pun tadi sempat terkejut, kenapa pagi-pagi sekali Abhay sudah berada di depan rumahnya? Apakah Abhay benar-benar mengikuti apa yang kakaknya minta? Padahal ia menduga bahwa Abhay itu tipikal orang yang tak mau mendengarkan omongan orang lain, apalagi sampai diminta bantuan. Tapi kenapa kini Abhay menurut? Pemikiran-pemikiran itu lah yang sedikit mengganggu pikiran Dara.
Saat mereka sudah tiba di tempat tujuan mereka, Dara dan Abhay pun serentak turun dari kendaraan yang mereka tunggangi. Lalu mereka pun berjalan beriringan menuju kelas mereka.
"Pulang nanti, Kakak pulang aja. Gak usah nungguin gue," ujar Dara.
Dara ingat bahwa hari ini adalah hari pertama dimulainya latihan rutin untuk persiapan turnamen nanti. Jadi untuk berjaga-jaga, Dara memberi tahu hal ini kepada Abhay, takut-takut nanti Abhay menunggunya.
"Emang mau ngapain?" tanya Abhay heran.
"Gue ada latihan taekwondo."
"Sama si neraka itu?" tanya Abhay sedikit ngegas. Entah kenapa ia selalu emosi jika sudah menyangkut dengan Rakha.
"Ya iyalah," ujar Dara. "Bukan hari ini aja. Tapi setiap hari," tambah Dara.
Abhay langsung tersenyum miring. Ia terheran-heran. Ekskul macam apa yang mengharuskan muridnya untuk berlatih setiap hari? Memangnya Dara atlet pelatnas?
"Mana ada latihan setiap hari. Udah gak usah bohong. Bilang aja mau kabur dari gue," tebak Abhay dengan pedenya.
Dara berdecak mendengar kepercayaan dirinya Abhay. "Ngapain juga gue kabur. Emang gue punya salah?" tanya Dara.
"Trus apa?"
"Gue mau ada turnamen," ujar Dara.
"Ngapain sih lo ikut-ikutan kaya gitu? Buang-buang waktu dan tenaga doang," ungkap Abhay enteng.
"Kakak sendiri. Ngapain ngurusin kehidupan orang? Suka-suka gue lah." Dara tak mau kalah. Ia pun menjawabnya dengan sewot.
Ternyata gerak-gerik mereka sedari tadi sudah dipantau oleh cctv berjalan. Dengan memicingkan mata, mereka menatap Dara tak suka.
"Jel, Angel. Liat tuh si Abhay sama si ****** itu. Kayaknya mereka beneran pacaran deh," ujar Rere dengan pandangan tak lepas dari couple terhits seantero sekolah.
"Iyah. Dari kemaren mereka barengan mulu kalo berangkat sekolah," tambah Selly memperkeruh keadaan.
"Udah kalian pada diem!" tukas Angel. "Sekarang tujuan utama gue bukan lagi ngejar-ngejar Abhay, tapi si ****** itu harus bener-bener menderita di tangan gue!" ungkap Angel geram.
"Kita langsung siap-siap aja," perintah Angel.
Kemudian dua orang di sampingnya pun turut mengikuti apa yang Angel perintahkan. Mereka akan pergi untuk menyiapkan sebuah rencana baru.
...****************...
"Dara!" seru Ruby saat Dara memasuki kelas.
"Apa?" tanya Dara malas saat ia sudah menghampiri bangkunya. Dan ia pun menyimpan tasnya di atas meja lalu duduk di samping Ruby.
"Gimana keadaan Kakak elo?" tanya Ruby cepat.
Dara membuang nafas kasar. "Baru juga dateng langsung nanyain keadaan orang lain," timpal Dara malas, walaupun ia sudah menduga bahwa Ruby akan menanyakan hal itu. Tapi Dara tetap saja malas.
"Trus gue nanyain keadaan siapa? Elo? Gak penting," ujar Ruby tak pakai hati.
Mendengarnya, Dara tersenyum sinis kepada Ruby. "Wah parah. Lo gak mau restu dari calon adik ipar lo?" goda Dara.
Ruby pun membelalakkan matanya saat menyadari apa yang sudah ia katakan kepada Dara. Ia sadar, ia tidak sepantasnya berkata seperti itu kepada calon adik iparnya.
Ruby seraya memeluk Dara erat. "Eh... Iya iya. Maaf yah calon adik ipar. Kakak keceplosan tadi," ujar Ruby lebih mengeratkan pelukannya.
Merasa risih. Dara pun memberontak. "Lepasin ah! Jijik banget dah!" Dara kesal.
Ruby pun perlahan melepaskan pelukannya. "Ya udah makanya jawab!" seru Ruby sewot.
Dara mendesah berat. Seperti inilah kelakuan sahabatnya. Jika tak dituruti, pasti akan berulah.
"Dia udah pulang," jawab Dara.
"Trus, lo maunya abang gue lama-lama di rumah sakit, gitu?" tebak Dara.
"Ya bukan gitu. Gue cuma heran aja," seru Ruby.
"Ya lagian buat apa dia di rumah sakit? Pertama, dia sakit pun kaya lagi gak sakit. Kedua, rumah sakit sama rumah sama aja. Di rumah kan ada dokter," jelas Dara.
Ruby pun tak lama membulatkan bibirnya. Ia lupa bahwa kedua orang tua Dara adalah seorang pahlawan kesehatan.
"Oh iya iya. Gue lupa," ujar Ruby sambil nyengir kuda.
"Okelah kalo begitu. Fix, pulang sekolah nanti gue bakal besuk Kak Andra!" ungkap Ruby bersemangat.
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba datang seorang murid perempuan yang tak dikenal, dan sepertinya hendak mencari seseorang yang berada di kelas itu.
"Ada yang namanya Dara di sini?" tanya cewek itu.
Merasa terpanggil, Dara segera menoleh pada orang itu. "Gue Dara? Ada apa?" tanyanya.
"Lo dipanggil sama Pak Sugito," jelas orang itu.
Dara pun mengernyitkan alisnya. "Mau ngapain?"
"Mana gue tahu. Gue cuma disuruh," ucapnya. Tak lama cewek itu pun pergi setelah selesai melakukan tugasnya.
"Lo buat masalah?" Ruby bertanya pada Dara.
"Perasaan enggak," ujar Dara. Tak lama ia pun berdiri dari bangkunya. "Ya udah gue ke sana deh," ujar Dara.
Kalo sudah berurusan guru, mau tak mau Dara harus menurut. Walaupun ia sendiri tak tahu apa yang sudah ia perbuat hingga membuatnya dipanggil oleh Pak Sugito.
Kini Dara pun berjalan menuju di mana ruang BK itu berada. Tempatnya cukup jauh dari kelasnya. Ia pun sampai melewati kelas 12 dahulu dan melewati gudang yang cukup sepi. Namun saat ia akan melewati gudang yang berisikan peralatan biologi itu, tiba-tiba ada lengan-lengan yang menyeret Dara masuk ke dalam ruangan itu. Dara tak sempat memberontak karena saking terkejutnya. Ditambah lagi pelakunya dengan cepat langsung mendorong Dara dan tanpa sengaja malah membuat tubuh Dara menabrak sebuah lemari besar. Sebuah patung tengkorak yang berada di atas lemari pun menjadi goyang akibat hal itu. Tak lama.
Prak.
Akibat goyangan itu, patung itu pun terjatuh dan mendarat tepat di kepala Dara. Dengan hitung detik, kening Dara langsung mengeluarkan darah segar. Dara pun sempat memegangi darah yang mengalir di keningnya. Tak lama, kepalanya pun ikut merasakan reaksinya, ia merasakan pening di kepalanya. Kemudian, Dara pun langsung kehilangan kesadarannya.
Sang pelaku tak lain tak bukan adalah Angel dan kawan-kawannya. Melihat Dara yang sudah pingsan, tak bisa dipungkiri mereka pun terkejut bukan main sekaligus panik. Mereka tak sengaja mendorong Dara ke arah lemari, mereka hanya berniat menguncikan Dara di dalam gudang, tapi ternyata kejadiannya malah seperti ini.
"Angel gimana! Kok jadi begini?!" tanya Rere panik.
"Udah tenang-tenang. Kita juga gak sengaja ngebuat dia jadi begini," timpal Angel dengan raut wajah tak selaras dengan ucapannya.
"Trus gimana kalo begini?!"
Angel memutar otaknya keras. Dia harus segera mungkin menyelesaikan masalah ini tanpa harus melibatkan dirinya. Karena ia tak mau jadi tersangka atas apa yang menimpa Dara. Menurutnya, kejadian ini tak disengaja, jadi ia tak sepenuhnya bersalah.
Kemudian, Angel pun akhirnya menemukan solusi yang tepat.
"Udah. Biarin aja dia di sini. Trus kita biarin pintunya ke buka. Pasti nanti juga ada yang liat, biarin orang lain yang nyelametin dia," jelas Angel.
"Kalo Dara sadar, trus ngelaporin kita gimana?" tanya Rere.
"Gak akan. Karena gak ada bukti. Gue juga udah sumpel mulut anak itu pake duit," kata Angel. Anak yang dimaksud Angel adalah orang yang menyuruh Dara untuk menemui Pak Sugito.
"Udah sekarang kita pergi. Sebelum ada yang liat kita," perintah Angel.
"Kita tinggal aja nih?" tanya Selly memastikan.
"Udah iya. Ayok!"
Angel pun melangkah kakinya pergi dari sana, dan diikuti oleh kedua orang temannya.
"Maafin gue Dara. Gue gak sengaja," ujar Selly sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Dara di sana.