
Dara berjalan menuruni anak tangga untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Saat ia hendak melangkahkan satu anak tangga lagi, Dara membelalakkan matanya karena matanya langsung menangkap sosok yang paling ia rindukan selama satu bulan terakhir.
"Bunda!" teriak Dara. Ia pun berlari menghampiri ibunya yang tengah berada di ruang makan, lalu memeluknya erat.
"Kok ada di sini?" tanya Dara heran. Karena semalam ibunya bilang bahwa ibunya akan langsung ke rumah sakit untuk menemui Andra. Namun siapa sangka, di pagi hari ibunya ada di rumah, hal itu jelas membuat Dara sangat kegirangan.
"Kamu gak suka liat Bunda di sini? Gitu?" Bunda Iis menggoda Dara.
"Ih... Bukan gitu maksudnya," kata Dara. Lalu ia melepaskan pelukannya. "Kan Bunda nemenin Bang Andra di sana," lanjut Dara.
"Iyah. Tapi Bunda mau ngambil baju kakak kamu dulu. Nanti kesana lagi," timpal Bunda Iis.
"Trus ayah?"
"Ayah masih di sana."
Dara kembali menatap lekat manik mata Ibunya. Tak lama ia pun kembali memeluk ibunya. "Duh. Sumpah! Dara kangen banget sama Bunda!" ungkap Dara masih melampiaskan kerinduannya kepada sang ibunda.
Bunda Iis mengelus puncak kepala Dara. "Baru juga ditinggal sebulan masa udah kangen," ujar Bunda Iis.
"Jangankan sebulan, satu hari aja Dara udah kangen," kata Dara dengan manjanya.
"Hm... Lebay kamu ini," timpal Bunda Iis.
Dara kembali melepaskan pelukan itu. "Bunda gak tau sih penderitaan Dara selama hidup berdua aja sama Bang Andra. Capek tau, Bun."
"Emang Bang Andra ngapain kamu?" tanya Bunda Iis.
Dara menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara. Karena setelah ini ia akan melapor semua tindakan Andra terhadap dirinya.
"Nih ya, Bun. Semenjak Bunda gak ada, dia jadi seenaknya. Males nganterin Dara, selalu telat jemput, ditelpon susah, sering gangguin Dara kalo lagi ngerjain tugas, trus suka nyuruh Dara beli ini lah itu lah dan masih banyak lagi," jelas Dara panjang kali lebar.
Bunda Iis menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum simpul. "Aduh kamu ini. Tapi gitu-gitu kakak kamu masih mau nganterin kamu, kan?" tanya Bunda Iis.
"Iya, sih," ujar Dara pelan. "Tapi kan harus diancem dulu!" seru Dara yang kembali meninggikan suaranya.
Bunda Iis kembali tersenyum, melihat Dara yang terus mengomel mengingatkan dirinya saat ia masih muda dulu. Dan beliau tak menyangka, sifat mudanya dulu bisa menurunkan kepada putrinya.
"Ya udah, kamu maafin aja perbuatan Bang Andra. Dia kan kecelakaan karena mau jemput kamu juga, kan?" ungkap Bunda Iis.
Mendengarnya, Dara langsung memasang muka sendu. Ia lupa bahwa di rumah sakit sana ada kakaknya yang sedang tidak baik-baik saja. Secara tidak langsung, kejadian itu pun terjadi karena dirinya juga.
"Iya, Bun. Dara akan lupain itu," ucap Dara pilu.
Bunda Iis kembali mengelus rambut Dara sembari tersenyum. Beliau lega melihat reaksi Dara yang sudah mau mengerti.
"Udah jangan ngomong terus ah! Nih, Bunda udah buatin nasi goreng buat kamu," ucap Bunda Iis.
Saat Ibunya memberi tahu hal itu, Dara seraya melihat meja makan yang ada di sampingnya. Lalu matamya langsung berbinar-binar saat melihat ada sepiring nasi goreng yang sangat berkilauan di matanya.
"Asyik! Nasi goreng," ucap Dara kegirangan. Lalu tanpa aba-aba ia segera melahap nasi goreng itu dengan bersemangat.
Dara sangat menikmati nasi goreng buatan ibunya. Walaupun masakan Bi Siti juga enak, namun seenak-enaknya masakan orang lain, tetap juaranya adalah masakan sang Ibu. Betul apa betul?
Saat Dara sedang fokus dengan nasi gorengnya. Bunda Iis kembali bertanya. "Oh iya. Kamu berangkat sekolahnya sama siapa? Bang Andra kan gak bisa."
Dara yang hendak menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya menjadi diurungkan karena ia teringat satu hal saat ibunya bertanya.
Bener juga, gue berangkat sama siapa yah? Apa iya Kak Abhay bener-bener mau jemput gue? tanya Dara ragu di dalam hatinya.
"Mau sekalian Bunda anter?" tawar Bunda Iis.
"Bunda mau bawa mobil ke sana?"
"Iya. Biar lebih gampang kalo mau kemana-mana," ungkap Bunda Iis.
Dara kembali dibuat berpikir. Apa dia berangkat dengan ibunya saja atau berangkat dengan Abhay? Jika dengan Abhay, belum tentu juga Abhay benar-benar menjemputnya dan belum tentu juga Abhay benar-benar akan mengantarkannya ke sekolah, mengingat perbuatan Abhay sebelumnya. Jika dengan Ibunya, sudah jelas dia akan selamat sampai tujuan. Jadi untuk itu, Dara akan memutuskan untuk berangkat dengan ibunya saja.
"Ya udah deh aku ikut," ujar Dara.
...****************...
Dara membuka pintu gerbang lebar-lebar, karena ibunya akan mengeluarkan mobil untuk bersiap pergi. Namun saat Dara sudah membuka gerbang itu dan melihat ke arah jalan, ia langsung membulatkan matanya saat melihat Abhay yang sudah berdiri di depan rumahnya.
"Kakak udah ada di sini?!" tanya Dara.
"Iya iyalah. Semalem kan gue udah bilang mau jemput elo. Gimana sih. Lupa?" ujar Abhay sewot.
Bunda Iis perlahan berjalan keluar dengan mobilnya. Lalu langsung mendapati putrinya yang sedang berbincang dengan seseorang. Karena penasaran, Bunda Iis berniat bertanya pada Dara.
"Dara. Kamu lagi sama siapa?" tanya Bunda Iis di balik jendela mobil.
"Eh... Ini-" Lidah Dara serasa kelu. Ia tak tahu apa yang akan ia katakan pada ibunya.
"Halo, Tante," sambar Abhay tiba-tiba. Dia pun mengucapkan salam dengan kepala menunduk sopan.
Bunda Iis pun segera turun dari mobilnya. Beliau merasa sangat tidak sopan jika ia masih terus di mobil saat ada seseorang yang menyapanya.
Dara pun menggerutu dalam hatinya saat melihat ibunya turun dari mobil.
Aish. Bunda kenapa turun sih! geram Dara dalam batinnya.
"Kamu temennya Dara?" tanya Bunda Iis saat sudah berhadapan dengan Abhay.
Melihat ibunya Dara menghampirinya, Abhay buru-buru mengulurkan tangannya untuk bersaliman dengan ibunya Dara. Lalu setelah itu ia berkata, "lebih tepatnya pacar sih, Tante."
Damn.
Bagai petir di pagi hari. Dara hampir mengeluarkan bola matanya saat melihat Abhay yang mengaku kepada ibunya bahwa ia adalah pacarnya.
"Pacar?" tanya Bunda Iis heran. Lalu ia menoleh pada Dara yang berada di sampingnya. "Dara kamu udah punya pacar?"
Tubuh Dara tegang. Ia bingung harus mengatakan apa pada ibunya. Jika dia bilang iya, tidak mungkin juga. Karena hakikatnya dia dan Abhay tidak berpacaran sebagaimana semestinya. Namun jika dia bilang tidak, pasti Abhay akan mengelaknya, seperti halnya pada saat Abhay mengaku di depan Andra.
"Kamu kok gak bilang-bilang ke Bunda?" tanya Bunda Iis lagi.
"Ah a-nu. Itu-" Lidah Dara semakin kaku. Ia bener-bener sudah tak bisa berpikir alasan apa yang tepat untuk ia katakan.
Karena Dara yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, Bunda Iis kembali menoleh pada Abhay.
"Nama kamu siapa?"
"Saya Abhay, Tante," jawab Abhay sopan.
"Oh Abhay."
Bunda Iis menatap wajah Abhay begitu lekat. Tak bisa dipungkiri, beliau begitu terpesona melihat wajah Abhay yang sangat tampan.
"Wah... Kok kamu ganteng banget sih," ungkap Bunda Iis. Dan pujian itu berhasil membuat Abhay tersenyum tipis karena Abhay merasa segan.
"Dara kamu kok pinter banget nyari pacar?" tanya Bunda Iis pada Dara.
"Duh... Apaan sih Bunda. Dia itu-" ucapan Dara terpotong karena ibunya kembali berbicara pada Abhay.
"Oh ya. Kamu ke sini mau jemput Dara?" tanya Bunda Iis.
"Iya, Tante."
"Wah padahal tante kepengen banget lo ngobrol-ngobrol sama kamu lebih lama. Tapi dari pada kalian telat, mending sekarang kalian berangkat," jelas Bunda Iis.
"Loh. Katanya Bunda mau nganterin Dara," ucap Dara tak terima, karena sebelumnya ibunya sudah berjanji untuk mengantarnya ke sekolah.
"Kan pacar kamu udah jemput. Masa iya dibiarin," ujar Bunda Iis.
"Ya tapi-" Lagi. Ucapan Dara lagi-lagi terpotong karena ibunya kembali berbicara.
"Udah jangan banyak omong. Nanti telat lagi," kata Bunda Iis. Lalu ia menoleh lagi pada Abhay.
"Abhay, cepat bawa pergi Dara," kata Bunda Iis terkesan mengusir Dara.
Dara mengerutkan bibirnya kesal. Lagi-lagi ia diusir oleh anggota keluarganya sendiri.
Gak Andra, gak Bunda. Kok suka banget nyerahin gue sama Kak Abhay! kesal Dara dalam hatinya.
Melihat Dara yang tak kunjung bergerak. Bunda Iis pun melihat Dara heran.
"Kamu kok malah ngelamun. Itu Abhay nya udah nungguin," ujar Bunda Iis meminta Dara agar segera pergi ke sekolah.
Dengan muka yang masih cemberut, Dara bersaliman dengan ibunya lalu berjalan menghampiri motor Abhay. Dan Abhay. Ia pun melakukan hal yang sama.
"Pamit yah, Tante," ucap Abhay sopan setelah bersaliman dengan Bunda Iis.
Bunda Iis pun tersenyum simpul. "Iyah. Hati-hati yah," ucapnya.
Lalu Abhay pun berjalan ke arah motornya yang sudah ditunggu oleh Dara. Tak berlama-lama, Abhay pun langsung menyalakan mesin motornya dan mereka pun pergi untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang pelajar.
Saat punggung mereka perlahan menjauh. Bibir Bunda Iis kembali membentuk sebuah senyuman.
"Anak bontot Bunda Iis udah gede ternyata," ujar Bunda Iis masih mempertahankan senyumannya.