Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
40. Malam Minggu



Dara turun dari kamarnya untuk mengambil segelas air putih untuk dibawa ke kamarnya. Saat ia sudah tiba di anak tangga terakhir, Dara tiba-tiba menangkap sosok Abhay yang tengah bermain PS dengan Andra di ruang keluarga.


Dara pun berjalan menghampiri mereka berdua.


"Loh kok ada Kak Abhay?" tanya Dara heran.


"Gue yang nyuruh dia ke sini," ungkap Andra tanpa melepaskan pandangannya pada layar tv. "Gue mau malmingan sama dia," lanjutnya.


Dara lantas membulatkan matanya dan meringis jijik setelah mendengar jawaban aneh Andra. "Iyuh. Segitu gak lakunya elo sampe yang berbatang pun elo embat?" ledek Dara.


Merasa baru saja difitnah, Andra pun segera menjeda permainan mereka, karena ia tak terima dengan ocehan Dara.


"Heh kampret! Kalo kaki gue gak kaya gini, gue juga udah pergi sama cewek!" tegas Andra kesal.


"Emang lo punya cewek?" tanya Dara lagi.


Mendengar adiknya yang telah meremehkannya, Andra pun tersenyum miring, "Walaupun secara resmi gue gak punya, tapi yang ngantri banyak. Kalo gue mau, gue tinggal nyomot aja!" seru Andra dengan pedenya.


"Nyomot nyomot. Lo pikir bakwan!"


Abhay yang melihat interaksi kedua kakak beradik ini hanya bisa terkekeh kecil. Selalu dibuat terhibur saat ia sudah melihat Andra dan Dara sedang beradu mulut.


"Lagian lo cerewet banget sih! Cemburu pacarnya gue pinjem?" tebak Andra.


"Dih. Siapa juga yang cemburu," jawab Dara sewot.


Di tengah perdebatan mereka, Bunda Iis tiba-tiba datang dan hendak menimbrung perdebatan yang terjadi di antara kedua anaknya.


"Kamu pake nanya lagi. Jelas Dara cemburu lah," tambah Bunda Iis. Ternyata Bunda Iis malah membenarkan tebakan Andra.


Hal itu tentu membuat Dara mendengus kesal. "Bunda. Gak gitu Bunda," sanggah Dara.


"Lagi pula Bunda yakin, tujuan utama Abhay mau ke sini supaya bisa ngajak kamu keluar," ungkap Bunda Iis penuh percaya diri.


Lalu Bunda Iis beralih menoleh pada Abhay. "Benerkan Abhay?" tanyanya untuk memastikan bahwa pemikirannya memang benar.


Abhay pun merespon dengan wajah cengonya. Ia sendiri bingung, harus bagaimana ia menjawab pertanyaan Bunda Iis. Jika bilang tidak, pasti ia akan mengecewakan keyakinan Bunda Iis. Namun jika iya, rasanya akan aneh. Karena niat awalnya, dia hanya memenuhi keinginan Andra untuk datang ke sana.


Tak sabar menunggu jawaban Abhay, Ayah Leo yang baru datang dari rumah sakit dan tak sengaja mendengarkan obrolan mereka, langsung menjawab pertanyaan Bunda Iis. "Ya bener dong Bunda," ucap beliau.


"Udah Abhay, sana bawa Dara pergi. Biar dia bisa tau, rasanya malmingan bareng pacar itu gimana," kata Ayah Leo. "Atau sebelumnya udah pernah?" tanyanya.


"Belum Om," jawab Abhay.


"Cocok. Ya udah sana kalian pergi. Nanti keburu malem," ujar Ayah Leo.


Lama-kelamaan mendengar apa yang dikatakan kedua orang tuanya, membuat Dara menjadi heran sendiri.


"Ayah sama Bunda aneh banget sih. Kebanyakan orang tua itu, gak ngebiarin anaknya pergi keliaran malem-malem sama orang lain. Kenapa kalian malah sebaliknya?" tanya Dara, tak mengerti lagi dengan jalan pemikiran orang tuanya itu.


"Kan orang lainnya Abhay, jadi Ayah gak perlu khawatir," ungkap Ayah Leo.


"Tapi-"


"Udah kamu jangan banyak omong, udah sana siap-siap trus berangkat," perintah Ayah Leo untuk yang terakhir kali.


Dara lama-lama bisa kehilangan akal melihat tingkah aneh kedua orang tuanya. Ia pun jadi penasaran sendiri, apakah ada orang tua di dunia ini yang memiliki watak seperti kedua orang tuanya?


Lalu Ayah Leo beralih melihat Andra. "Kamu juga Andra. Udah main PS nya, Abhay nya mau pergi," ujar beliau.


Andra pun berdecak sebal. "Yang manggil siapa. Perginya sama siapa," ujar Abhay.


Andra tak menimpali, ia malah memasang mata malas. Ia selalu malas jika orang tuanya sudah menyinggung tentang masalah seperti itu. Dan dari sini lah kesamaan Dara dan Andra terlihat. Mereka sama-sama tidak terlalu tertarik mengenai masalah percintaan.


Lalu, kenapa Dara bersedia berpacaran dengan Abhay jika tak tertarik? Hei brother! Apakah Dara menerima Abhay atas dasar cinta?


...****************...


"Lempar bolanya ayok dicoba dicoba dicoba!"


"Lempar gelang dapet hadiah! Ayok mari mari dicoba!"


"Mancing ikan untuk si buah hati, silahkan kemari!"


"Gak perlu jauh-jauh buat naik kora-kora. Di sini pun ada!"


"Gulali manis gulali manis. Murah murah murah!"


"Bakar jagung bakar jagung. Masih anget dan nikmat!"


Kira-kira seperti itu lah suara-suara yang menggambarkan di mana Abhay dan Dara kini sedang berada.


Kini mereka sudah berada di sebuah pasar malam yang berada tak jauh dari pusat kota. Suasananya tentu sangat ramai, karena malam itu bertepatan dengan malam minggu. Jelas, banyak sekali pengunjung yang memutuskan untuk mengisi waktu malam minggu mereka di sana.


"Kenapa kita ada di sini coba?" tanya Dara heran, di tengah ramainya orang-orang yang berhilir mudik ke sana ke mari seakan membelah kedua matanya.


"Kan disuruh bokap lo," jawab Abhay.


"Kenapa kita mau aja coba?"


"Kan dipaksa sama bokap lo."


"Trus kita mau ngapain di sini?"


"Mana gue tau. Gue seumur hidup belum pernah pergi ke tempat kaya gini," jawab Abhay polos.


Mendengar omongan Abhay, jelas membuat Dara tersenyum kecut tak percaya. Karena mana ada orang di dunia ini yang selama hidupnya belum pernah pergi ke pasar malam. Memangnya dia pangeran, pikirnya.


"Seriusan belum pernah? Kakak tinggal dimana? Di istana? Sampe belum pernah pergi ke tempat kaya gini?" tanya Dara, sekaligus meragukan pernyataan Abhay.


"Ya semacam itu," balas Abhay singkat.


Dara pun berdecak. "Malah di iyain lagi. Orang gue cuma bercanda," ucapnya.


"Tapi kalo belum pernah, kenapa Kakak ngajak gue ke tempat ini?" tanya Dara lagi.


"Ya gue tau aja tempat ini, tapi cuma ngeliatin dari jauh doang," jelas Abhay. "Terus gue juga tadi bingung harus bawa elo kemana, eh malahan tempat ini yang tiba-tiba ada dipikiran gue," lanjut Abhay.


Dara pun mendesah berat. Jika sudah begini ia bisa apa. "Udah deh, karena kita udah di sini setidaknya kita liat-liat dulu," ucap Dara.


Lalu Dara mulai melangkahkan kakinya untuk menelusuri pasar malam itu. Setidaknya, ia harus mengulur-ngulur waktu agar ia bisa dianggap malmingan sungguhan oleh kedua orang tuanya.


Namun di tengah ia sedang berjalan-jalan tak jelas, Dara malahan melihat manusia yang paling ia tidak ingin ia lihat di saat ia sedang berada di posisi itu.


"Mampus! Kenapa ada Ruby di sini?!" Kaget Dara luar biasa.


Dara pun panik. Ia tak mau jika Ruby sampai melihat ia sedang bersama Abhay, apalagi tempat ini sangat tidak tepat untuk dipergoki. Bisa-bisa Ruby akan berpikir yang tidak-tidak nanti.


Please jangan liat jangan liat!