
Dengan membelah gerimis yang sudah membesar, motor ninja itu meluncur mulus di halaman rumah Abhay. Lalu Abhay memarkirkan motornya tepat di area depan rumahnya yang sudah tertutup dengan atap tambahan yang begitu mewah.
Abhay pun turun dari motornya dengan santai, namun tidak dengan Dara. Kini Dara malah sibuk mengagumi dengan apa yang sedang ia lihat di sekitarnya.
"Kak! Lo bawa gue ke rumah siapa?" tanya Dara heran. Ia sampai tak sudi memutuskan pandangannya, karena sudah terhipnotis dengan pesona rumah yang ada di depannya.
"Rumah gue lah," jawab Abhay santai.
Mendengar jawaban enteng Abhay, Dara pun melihat Abhay tak percaya.
"Gak usah berlebihan gini deh kalo mau keliatan kaya. Rumah ini terlalu berlebihan kalo mau buat gaya doang," kata Dara. "Lagian ini mah bukan rumah, tapi udah kaya istana," tambahnya.
Lalu Dara kembali menengok ke arah lainnya yang tadi belum sempat ia lihat. Dan memang setiap penjuru rumah itu sangat sempurna. Malahan rumah itu lebih cocok ditinggali oleh sultan. Dan Abhay? Dara masih meragukan itu.
"Udah lah jangan di sini neduhnya, nanti pemilik rumahnya marah," ujar Dara. Ia masih tak percaya bahwa itu adalah rumah Abhay.
Dan Abhay. Ia menatap Dara aneh. "Lo ngomong apa sih?" tanyanya. Lalu tanpa permisi, Abhay berjalan masuk ke arah pintu super besar itu.
Melihat aksi itu, Dara pun kesal. "Heh, Kak! Jangan masuk! Nanti yang punyanya marah!" seru Dara, namun tak didengar oleh Abhay.
"Kak!" panggil Dara lagi.
Karena Abhay yang sudah masuk, Dara pun mau tak mau mengikuti Abhay di belakangnya. Karena Abhay yang sudah membawanya ke situ, jadi ia tak mau ditinggal sendirian.
Saat Abhay dan Dara sudah masuk ke bagian dalam rumah. Mereka langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya.
"Den Abhay sudah datang, tumben pulangnya cepet," ujar wanita itu.
"Iya Bi. Saya mau cepet-cepet pulang ke RUMAH SAYA," balas Abhay dengan menekankan dua kata di akhir kalimatnya.
Wanita itu mengangguk kecil. "Oh seperti itu."
Di tengah mereka yang sedang berbincang, ada seseorang yang kini sedang terkejut hebat. Ia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa itu adalah rumah Abhay.
What! Jadi ini beneran rumahnya Kak Abhay?! ucap batin Dara sangat terkejut.
Lalu wanita itu melihat seseorang yang sedang berdiri di belakang Abhay.
"Lalu Nona ini siapa?" tanyanya mengarah pada Dara.
"Dia mau numpang makan, Bi," jawab Abhay ngasal.
"Oh gitu. Kalo gitu Bibi pulang yah, Den. Itu makannya udah ada di meja makan," ucap wanita itu.
Abhay pun mengangguk kepalanya kecil. "Iya, Bi."
Wanita yang sedang diajak bicara oleh Abhay adalah Bi Wati, seseorang yang sudah lama bekerja di rumahnya. Saat sore tiba, dan pekerjaan rumah sudah selesai, memang biasanya Bi Wati diperbolehkan pulang ke rumahnya.
"Wah ... Jadi ini beneran rumah Kakak?" tanya Dara kembali memastikan.
"Dari awal kan gue udah bilang," jawab Abhay sedikit sewot.
Saat melihat hal ini, tak lama Dara jadi teringat percakapan mereka saat di pasar malam itu. "Berarti waktu di pasar malam itu, Kakak gak bohong kalo Kakak tinggal di istana?" tanyanya.
"Lagian ngapain juga gue bohong tentang begituan."
Dara manggut-manggut. Ia kembali sibuk menelisik setiap sudut rumah Abhay yang sangat menarik untuk dipandang. Semua interior yang ada di sana, semuanya jauh dari kata sederhana.
"Gue mau ke kamar, mau ganti baju," ujar Abhay. Lalu ia pun melihat baju Dara yang sama seperti dirinya.
"Lo gak mau ganti baju juga? Baju lo basah gitu," tanya Abhay.
Setelah diberi tahu seperti itu, Dara memutuskan pandangannya dari rumah Abhay lalu melihat bajunya. Dan memang benar, walaupun hanya tertimpa gerimis, namun jika terus-menerus diguyur, pastinya membuat bajunya tetap basah juga.
"Ganti baju gimana? Orang gue gak bawa baju ganti," timpal Dara jujur.
"Di sini gak ada baju cewek. Mau pake baju gue?" tawar Abhay.
"Hah? Baju Kakak?!" Dara tersentak.
"Ya terserah. Kalo lo mau masuk angin, silahkan."
Dara pun dibuat berpikir. Bajunya memang basah, namun apa ia juga harus memakai bajunya Abhay? Apa tidak aneh?
"Gak mau? Ya udah."
Abhay berniat langsung pergi ke lantai atas karena sudah tak sabar dengan Dara yang selalu memakan waktu jika ditanya olehnya. Saat ia sudah melangkahkan kakinya ke anak tangga pertama, Dara tiba-tiba memberi jawaban.
"Ya udah deh gak papa," kata Dara. Ia mencoba tak peduli dengan hal lainnya. Bukannya yang terpenting sekarang adalah kesehatannya.
Lalu dengan seenak jidat Abhay pun berkata, "ya udah ke kamar gue."
"Ngapain ke kamar Kakak?!" Dara dibuat terkejut lagi dengan ceplosan Abhay.
"Ya ngambil baju gue lah."
"Ya tapi Kakak kan bisa nganterin ke sini."
"Gue mau sekalian mandi. Males banget kalo gue bolak-balik," ungkap Abhay.
Dan lagi, Dara kembali dibuat berpikir untuk kesekian kalinya. Tentunya hal itu membuat Abhay kembali geram, karena Dara terlalu lama berpikir hanya untuk menjawab ya atau tidak.
"Ya bukan gitu. Ya aneh aja," balas Dara.
"Ya terserah lo. Mau nunggu sampe gue selesai mandi? Silahkan aja kalo lo gak keburu masuk angin," jelas Abhay.
Dan apa yang dikatakan Abhay memang benar. Sama saja dengan hujan-hujanan jika ia tak segera mengganti bajunya.
Sudah Dara, hilangkan rasa takutmu! Lagian gak akan ada apa-apa ini. Karena emang gak ada apa-apa diantara lo sama Kak Abhay. Jadi lo gak usah mikir macem-macem! seru Dara dalam hatinya meyakinkan diri.
Setelah sudah yakin, Dara pun menjawab. "Ya udah," katanya. Lalu ia membuntuti Abhay untuk naik ke lantai atas di mana kamar Abhay berada.
Setelah sampai, Dara menunggu Abhay di depan pintu kamar Abhay. Tak lama, Abhay pun keluar dengan membawa bajunya untuk diserahkan kepada Dara.
"Nih," ucap Abhay sambil menyerahkan bajunya.
Menyadari Abhay yang sudah ada, Dara pun membalikan badannya untuk menerima baju itu. Namun baru saja ia membalikkan badannya, tak lama ia kembali membalikkan badannya lagi secepat kilat. Ia sangat terkejut.
"Lo kenapa sih?" tanya Abhay heran.
"Ya Kakak sendiri kenapa?! Kan buka bajunya bisa nunggu gue pergi!" seru Dara kesal.
Ya. Memang saat Abhay menyerahkan baju itu kepada Dara, kondisi Abhay sudah bertelanjang dada. Jadi maklum saja jika Dara terkejut luar biasa, karena Abhay benar-benar tidak sopan.
Namun dengan entengnya, Abhay malah bertanya, "emang kenapa?"
Spontan Dara pun membulatkan matanya tak percaya setelah mendengar pertanyaan bodoh Abhay.
"Kenapa kenapa! Udah siniin bajunya!" pinta Dara kasar. Lalu ia mengulurkan sebelah tangannya tanpa melihat Abhay.
Dengan nurut, Abhay pun menyerahkan bajunya.
"Gue ganti bajunya dimana?!" tanya Dara sewot.
"Di bawah juga ada kamar mandi. Ke sana aj-"
Belum juga Abhay menyelesaikan ucapannya, namun Dara sudah pergi secepat kilat tuk menjauhinya. Melihatnya, Abhay pun menarik kedua sudut bibirnya. Selalu menggemaskan jika sudah melihat Dara yang kesal padanya.
"Kak Abhay emang udah gila!" geram Dara sambil menuruni anak tangga.
Tak lama, bayangan Abhay yang tengah telanjang dada kembali membayangi pikiran Dara.
Mana kotak-kotak, pikir Dara tanpa sadar.
Dara pun keluar dari kamar mandi dapur setelah selesai mengganti bajunya. Saat ia kembali ke ruang utama, secara berbarengan Abhay pun turun dari lantai atas. Melihat itu, Dara pun langsung menghampiri Abhay.
"Ujannya kayanya udah reda. Gue mau langsung pulang," pinta Dara setelah tak lagi mendengar suara guyuran hujan.
"Seriusan ujannya udah reda?" tanya Abhay tak yakin.
"Dengerin aja. Gak ada suara hujan."
Abhay pun jadi ikut mendengarkan suasana luar. Memang tak ada suara hujan, namun petir-petir kecil yang malah terdengar. "Tapi masih ada petir," ujarnya.
Lalu tak lama.
JEGER!!!
Sang induk petir mengeluarkan suaranya. Tentunya hal itu membuat Dara yang kagetan dengan refleks memegangi bahu Abhay dan bersembunyi di sana. Dan Abhay. Ia tak berkutik diperlakukan seperti itu.
Sadar dengan apa yang ia lakukan, dengan cepat Dara langsung melepaskan pegangannya pada bahu Abhay.
"Gue bukan modus, tapi kaget." Tanpa diminta, Dara langsung mengklarifikasi, takut-takut Abhay yang akan berfikir yang tidak-tidak.
"Siapa juga mikir gitu," ucap Abhay lirih berusaha bodo amat. Namun sebenarnya, tadi jiwanya sempat bergetar.
"Masih mau pulang?" tanya Abhay memastikan.
"Ya pulang lah," jawab Dara ketus.
"Kalo ada petir lagi gimana?"
"Gak akan! Soalnya raja petirnya udah keluar," ujar Dara dengan sangat yakin.
"Kata siapa? Emang lo pawang petir?"
"Kata nenek moyang gue!" geram Dara. "Udah ayok!" perintahnya tak tertahan. Karena semakin lama-lama ia di sana, dikhawatir hal tak terduga lainnya akan terjadi pada dirinya.
Karena Dara yang sudah memaksa, Abhay pun menuruti keinginan Dara untuk mengantarnya pulang. Padahal dalam hati kecilnya, Abhay masih ingin ...
Ah sudahlah.
...****************...
Dara langsung menghempaskan tubuh di atas kasur setelah ia sudah sampai di kamarnya. Hari ini terasa berat bagi Dara, karena secara bersamaan ia melalui banyak hal yang tak terduga. Dari mulai Vano sampai dengan Abhay. Semuanya berhasil memenuhi pikirannya.
Lalu ia melihat baju yang kini ia kenakan. Yah. Itu baju Abhay. Lalu Dara pun bergumam.
"Kalo gini caranya, bisa-bisa gue dikira pacaran beneran."