
Dan benar saja, Dara langsung tercengang mendengar balasan Abhay. Dari perkataan itu, jelas saja membuat otak Dara langsung berpikir negatif. "Oh... jadi belinya di sana. Berarti benaran ada dong. Oh gitu..." ucapnya sinis. Ia pun mengangguk-anggukan kepalanya paham.
Abhay menyunggingkan bibirnya. Ia tersenyum picik. Tak menyangka bahwa ucapannya malah membuat Dara salah paham.
"Kan kata gue, kalo. KALO. Berarti belum tentu ada dong," ucap Abhay mengklarifikasi dengan menekankan salah satu kata.
"Cantik gak nih gebetannya? Pasti cantik dong, orang bule gitu loh. Pasti levelnya jauh di atas gue," sindir Dara sangat menohok.
"Dara ngomong apa sih? Baru ketemu ngajak berantem, heran."
"Yang mancing duluan siapa?" tanya Dara menyerang balik.
"Udah cukup. Jangan diperpanjang lagi," pinta Abhay merasa jengah.
Itu lah mereka. Tiada hari tanpa berdebat. Tak peduli kondisinya sedang bagaimana, pasti ada saja topik yang memancing keributan. Namun tak ada yang perlu dikhawatirkan, pastinya juga tak berselang lama mereka akan kembali seperti semula.
"Terus, Kakak pulang mau ngapain?" tanya Dara terdengar sinis. Ia sengaja begitu untuk membalas Abhay agar balik emosi.
Dan berhasil, Abhay langsung menatap tajam pada Dara. "Pertanyaannya gak enak bener, seakan-akan gue gak diarepin di sini," ucap Abhay dingin.
Lalu Dara tertawa keras, ia merasa puas karena misinya berhasil untuk membuat Abhay kesal. Jadi kini mereka sudah impas.
"Ya maksud gue, kenapa Kakak pulang? Kok bisa pulang? Emang di sananya udah libur?" tanya Dara beruntun.
"Dari minggu kemarin juga udah libur," ungkap Abhay.
Dara menatap Abhay dengan dahi yang berkerut. "Trus foto itu?"
"Foto itu emang bener, gue lagi belajar buat ujian. Cuma diambilnya udah dua minggu yang lalu, trus dikirimnya baru tadi pagi. Padahal dari kemaren gue udah pulang," tutur Abhay memperjelas semuanya.
Dara berdesis karena dirinya baru saja dibohongi. "Jadi Kakak bohongin gue?"
"Ya kan suprise. Biar lo makin percaya gitu," ucap Abhay.
Lagi-lagi suprise. Dan bodohnya Dara tak mencurigainya sama sekali. Ia percaya-percaya saja saat Abhay mengirimkannya foto itu dan mengira bahwa Abhay masih ada di sana. Apa yang terjadi sungguh Dara tak menduganya.
"Kabar keluarga lo gimana?" tanya Abhay tiba-tiba.
Tubuh Dara seketika membeku. Abhay tanpa aba-abanya langsung menanyakan tentang keluarganya. Pembicaraan mengenai keluarganya, tentu saja akan bersangkutan dengan tragedi naas itu. Inilah sesuatu yang paling Dara khawatirkan.
"Ba-ik," jawab Dara sedikit gagu.
"Nanti gue mau ketemu sama mereka," ucap Abhay.
Mata Dara membulat. Abhay membuatnya terkejut dengan ucapannya. "Emangnya Kakak..."
"Pelan-pelan gue udah bisa nerima, Ra," sergap Abhay. Tanpa diberi tahu ia sudah tahu apa yang dimaksudkan Dara.
"Selama di sana gue bukan cuma belajar materi aja, Ra. Tapi gue juga belajar untuk bisa nerima kenyataan. Emang sulit, cuma gue terus meyakinkan diri gue bahwa apa yang sudah terjadi memang udah takdirnya. Dan lagi, papah gue bilang, keinginan mamah gue sebelum meninggal salah satunya dengan memaafkan abang lo. Jadi ini juga salah satu cara supaya mamah gue bisa tenang di sana. Intinya sih gue cuma butuh waktu aja, dan setelah setahun ini, gue udah mulai bisa menerima."
Pelajaran berharga Abhay dapat selama ia di Amerika. Karena ia hidup sendiri, tak ada satu pun orang yang dekat dengannya, ia jadi banyak waktu untuk merenungkan diri. Jarak yang sangat jauh juga berpengaruh bagi Abhay untuk bisa bersahabat dengan dirinya sendiri. Jika Abhay masih di sini, mungkin prosesnya akan lama. Karena setiap momen yang Abhay lakukan di sini, akan terus mengingatnya dengan peristiwa naas itu.
"Maafin gue, Kak," ucap Dara.
Entah ke berapa kali Dara meminta maaf kepada Abhay mengenai hal ini, hingga membuat Abhay sangat bosan saat mendengarnya.
"Udah jangan maaf-maaf terus. Gue sampe bosen dengerinya."
"Ya tapi-"
"Hep. Kita baru ketemu, gue gak mau mellow-mellowan," sergap Abhay tak mau dengar apa-apa lagi, apalagi mendengar kata maaf lagi. Abhay sudah jenuh.
"Terus Kakak mau berapa hari di sini?" tanya Dara.
"Apa seminggu?!" pekik Dara sangat keras. Ia kira Abhay akan berlibur selama sebulan, atau paling tidak dua minggu. Tapi apa ini? Hanya seminggu saja?
"Iyah. Kenapa? Kok kaget gitu?"
Dara membuang wajahnya dari Abhay, lalu wajahnya seketika murung. "Sebentar banget," gumamnya.
"Makanya puas-puasin dari sekarang," balas Abhay.
"Apanya yang mau dipuas-puasin? Seminggu doang kita mau ngapain?" Dara malah bertanya masih dengan wajah masamnya.
Abhay melebarkam senyumnya melihat Dara kesal seperti itu. Seperti biasanya, saat Dara sudah kesal, di mata Abhay selalu terlihat menggemaskan. Saking gemasnya, ada sebuah keinginan untuk memakan Dara. Canda makan.
"Banyak yang bisa kita lakuin, salah satunya kaya gini," ucap Abhay, tanpa menjelaskan secara terperinci.
"Kaya apa?" tanya Dara tak paham.
"Kaya gini," jawab Abhay masih tak jelas.
Dara berdecak. Mood-nya sedang tak baik namun Abhay malah bermain teka-teki dengannya. "Apaan sih, gak jelas banget," ucap Dara jutek.
"Makanya liat gue dulu," pinta Abhay karena sedari tadi Dara memalingkan wajah darinya.
Dara mendesah berat. Abhay sering sekali seperti ini, berbicara tak jelas dan membuatnya jadi bingung. Ia pun mau tak mau menuruti perintah Abhay.
Dara menggerakkan kepalanya untuk menghadap ke arah Abhay. Ia juga melihat Abhay dengan wajahnya yang masih masam.
"Kakak mau ap-"
Cup!
Satu kecupan mendarat mulus di bibir merah jambu milik Dara. Sontak Dara pun membulatkan matanya hebat. Ia begitu terkejut dengan tindakan tak terduga-duga dari Abhay.
"Kak Ab-"
Cup!
Kecupan kedua mendarat lagi di bibir Dara. Untuk kedua kalinya juga Dara membulatkan matanya. Baru saja ia ingin berucap, namun bibirnya malah dibungkam lebih dulu oleh bibir milik Abhay.
"Kak Abhay ap-"
Cup!
"Bairin gue ngom-"
Cup!
Double attack baru saja dilayangkan oleh Abhay. Cowok itu sama sekali tak memberi kesempatan Dara untuk berbicara.
"Udah puas belum? Apa mau lagi?" Tanpa bebannya Abhay malah bertanya seperti itu.
Tatapan Dara seketika mengosong. "Kakak bener-bener..." ucapan Dara menggantungkan, lebih tepatnya ia sudah kehilangan kata-kata.
"Bener-bener apa?" tanya Abhay. Lalu ia tersenyum jahil menyadari pipi Dara yang sudah sangat memerah.
Dara sudah tak sanggup lagi melihat Abhay. Ia buru-buru memalingkan wajahnya lagi dan memengangi kedua pipinya yang sudah seperti kepiting rebus. Dirinya pun bertanya-tanya, mengapa Abhay jadi seagresif seperti ini? Apakah efek budaya barat menular pada Abhay hingga terbawa sampai ke sini?
Kak Abhay udah gila!
Tapi gue suka.