
Bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak di SMA Nusa Bangsa berhamburan keluar kelas dengan perasaan gembira. Namun tidak dengan Dara. Cewek itu tidak senang maupun sedih, yang ada dia seperti orang kebingungan. Lebih jelasnya, Dara sedari tadi bingung memikirkan rencana untuk bisa berbicara dengan Abhay. Yap. Ini berhubungan dengan perkataan Vano. Ia ingin berbicara serius dengan Abhay dan ingin mengetahui masalah yang sedang menerpa cowok itu. Namun, bagaimana cara ia memulai pembicaraan?
"Lo kenapa? Diem aja kaya orang mikir," tanya Abhay yang menyadari tingkah aneh Dara.
Mereka kini sedang berjalan menuju halte untuk pulang. Seperti tadi pagi, Abhay telah memesan taksi dan akan menunggu taksi di sana.
"Kak. Gue gak mau langsung pulang," pinta Dara tiba-tiba.
"Lo mau kemana dulu?"
Dara berpikir. Ia memikirkan tempat yang cocok untuk berbicara empat mata dengan Abhay. Tempat yang kira-kira tak banyak dikunjungi orang dan memiliki suasana yang cukup mendukung. Jadi, dimanakah tempat itu berada?
Setelah lama berpikir, Dara teringat satu tempat yang masuk ke dalam kriteria tersebut. Ia sempat lupa bahwa mereka memiliki sebuah tempat rahasia.
"Kita ke atap dulu yuk. Udah lama kita gak ke sana, gue jadi kangen." Dan pilihan itu jatuh pada atap rumah sakit yang pernah mereka kunjungi.
"Kangen tempatnya apa orang yang nunjukin tempatnya," ucap Abhay masih sempat-sempatnya menggoda Dara.
"Ngapain kangen sama orangnya, tiap hari juga ketemu," balas Dara tak mau kalah.
Abhay tersenyum sekilas. Lalu ia melingkarkan sebelah tangannya pada pundak Dara dan menggiring Dara untuk lebih cepat berjalan. "Udah ayok," ajaknya sangat antusias.
Tak butuh waktu lama untuk mereka bisa sampai di atap rumah sakit itu. Suasananya tak jauh berbeda pada saat terakhir kali mereka ke sana. Panorama langit sore yang menampilkan gugusan gedung-gedung tinggi nan gagah. Pemandangan yang selalu menjadi daya tarik bagi Dara pribadi.
Seperti biasa, mereka duduk lesehan di ujung atap rumah sakit yang sudah menjadi tempat favorit mereka. Mereka duduk tak beralaskan apapun, tak peduli dengan pakaian mereka yang kotor akibat debu. Karena sejatinya, setiap waktu yang mereka habiskan bersama selalu membuat mereka tak peduli dengan hal lainnya.
"Kakak sadar nggak? Atap ini udah kaya rumah buat kita," ujar Dara.
Abhay memutuskan pandangannya dari depan, lalu ia menoleh pada Dara dengan wajah linglungnya. "Rumah kita?" tanyanya tak paham.
"Iyah. Terutama gue," ucap Dara. "Gue pernah nangis di sini, ketawa, seneng, berkelu kesah. Bahkan, gue pernah ketemu laki-laki kurang ajar di sini," lanjutnya.
Abhay semakin menatap Dara bingung. Pengakuan Dara cukup membuatnya terkejut juga. "Laki-laki kurang ajar?! Siapa?! Kok lo gak bilang sama gue?!" tanya Abhay bertubi-tubi dan cukup emosi.
"Kakak mau tau gak, apa yang dilakukan laki-laki itu ke gue."
"Emang apa?"
"Dia ngambil ciuman pertama gue."
Jika sebelumnya level kemarahan Abhay berada di level sedang, kini emosi Abhay langsung berada di level up. Ia sangat marah. Wajar saja jika dia marah. Bagaimana tidak, mengetahui kekasihnya diperlakukan seperti itu oleh lelaki lain, apakah Abhay akan terima?
Abhay pun mengeraskan tulang di wajahnya. Matanya serasa ingin keluar dari tempatnya. Ia mengepalkan genggamannya kuat-kuat. Ia begitu murka.
"Apa!! Emang brengsek tuh orang!! Siapa orangnya?! Sebutin! Biar gue hajar tuh bajingan!" seru Abhay begitu emosional.
Sebenernya sedari tadi Dara ingin sekali tertawa melihat Abhay yang tak kunjung sadar mengenai siapa yang sedang ia bicarakan. Karena sudah kepalang tanggung, Dara memilih untuk menahan tawanya dan akan meneruskan sandiwaranya.
"Jangan, Kak. Kasian. Orang gue-nya juga suka."
"APA!!" Abhay semakin meradang. Ia tak cukup paham memahami situasi yang sedang terjadi saat ini.
"Iyah. Buktinya aja dia sekarang jadi pacar gue," tambah Dara, ia semakin semangat untuk menjahili Abhay.
"HAH PAC-"
Abhay tak jadi ngegas, karena setelah beberapa saat berlalu, Abhay baru saja merasakan sebuah keanehan dari ceritanya Dara. "Eh bentar-bentar. Ini gimana sih? Pacar lo kan gue," ucap Abhay dengan muka linglungnya.
Mengetahui Abhay yang sudah tersadar, Dara melepaskan tawanya yang tadi sempat ia tahan. Ia tertawa sangat kencang, ia begitu puas karena berhasil mengelabui Abhay. "Kakak mendadak amnesia apa gimana sih? Kakak kira gue lagi ngomongin siapa?" tanya Dara disela tawanya.
Abhay tersenyum smirk. Antara bingung dan malu tercampur menjadi satu. Ia sadar bahwa ia telah dikerjai oleh Dara. Karena sebenernya, laki-laki yang sedari tadi Dara ceritakan adalah dirinya sendiri.
"Ya lagian kenapa ngomongnya pake laki-laki kurang aja segala sih. Kenapa gak langsung sebut nama aja, Abhay Adhitama. Kan lebih jelas," seru Abhay.
"Tapi emang kurang ajar, kan?" tanya Dara tak ingin disalahkan.
"Walaupun kurang ajar, tapi lo suka, kan?" Abhay pun tak mau kalah.
Dara kembali menghempaskan pandangannya pada gedung-gedung itu. Ia merasa puas, karena setidaknya ia sudah memulai pembicaraan dengan santai dan berhasil mencairkan suasana. Jika sudah begitu, niat utamanya akan lebih mudah untuk dilakukan.
"Jadi intinya tempat ini tuh punya banyak banget cerita," kata Dara mulai melangsungkan rencananya. "Dan kalo Kakak berkenan, hari ini gue mau dengerin cerita dari Kakak," lanjut gadis itu.
"Cerita apa?"
"Gue tau Kak. Kakak sekarang gak lagi baik-baik aja. Iya, kan?" ungkap Dara.
Abhay sedikit melebarkan pupil matanya, ia sempat tersentak mendengar pengakuan Dara. Bagaimana bisa Dara mengetahui isi otaknya? Padahal ia sudah merasa sukses menutupi masalahnya di depan Dara. Lalu, mengapa Dara bisa tahu?
"Gue sih gak mau maksa. Kakak mau cerita silakan, gak juga gak papa. Yang jelas gue bakal setia dengerin cerita Kakak. Kali aja setalah Kakak udah curahin hati Kakak, Kakak bisa jadi lebih tenang, dan syukur-syukur Kakak bisa nemuin jalan keluar," tutur Dara. Ia sebisa mungkin memancing Abhay agar cowok itu mau membuka suaranya dengan ia berbicara lembut dan penuh perhatian.
Setelah mendengarkan ucapan Dara, raut wajah Abhay langsung seperti orang berpikir. Terlihat bahwa Abhay sedang menimbang-nimbang ucapan Dara. Melihat raut itu, Dara sangat yakin bahwa tak lama lagi Abhay akan membuka suaranya dan mau menceritakan masalahnya.
"Gue pergi dari rumah. Dan gue nggak tau siapa yang salah dalam masalah ini."
Dan benar saja, Abhay sudah mau membuka suaranya dan sudah mengakui bahwa dirinya memang pergi dari rumah.
"Kalo boleh tau, akar masalahnya apa?" tanya Dara.
"Bokap gue udah balik ke rumah, dia bakal sering tinggal di rumah. Dia bilang, dia pengen memperbaiki hubungan sama gue. Dia nyesel udah nelantarin gue selama tiga tahun ini. Dia ngaku kalo dia salah. Dia kepengen kehidupan yang normal lagi, yaitu dengan akur sama gue," ungkap Abhay. Tak lebih tak kurang, semua perkataannya sama percis dengan apa yang terjadi kemarin sore.
Tanpa memutuskan pandangannya pada langit sore, untuk sesaat Abhay termenung sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan ucapannya.
"Tapi anehnya, kesadaran itu baru muncul tepat saat gue diperintahkan buat kuliah ke Amerika. Di situ gue gak bisa berpikir jernih, gue gak bisa berpikir positif. Jadi yang terjadi selanjutnya, gue malah berdebat sama bokap gue. Karena emosi gue gak bisa ke kontrol, gue memilih pergi dari rumah. Untuk itu, sampai sekarang gue juga masih bingung, apa bokap gue bener-bener tulus mau akur sama gue, atau terpaksa karena ada maunya," jelas Abhay begitu jujur.
Abhay murni mengatakan semua yang ada diotaknya. Semua pikiran-pikiran yang telah menganggunya sudah selesai ia ungkapkan kepada Dara. Dan benar kata Dara, setelah ia mengungkapkan itu, beban pikirannya terasa lebih ringan, dan ia jauh merasa lebih tenang.
Dara sendiri, sebelumnya ia cukup berpuas hati setelah Abhay mau terbuka padanya. Dan dari pengakuan itu, Dara juga cukup paham mengapa Abhay sampai berbuat sejauh ini. Memang masalahnya cukup rumit, dan Dara juga tak bisa menyalahkan salah satu pihak. Apalagi ia juga mengetahui karakter Abhay dan papahnya yang sama-sama keras, jadi wajar saja jika mereka saling berselisih paham.
"Mau gue kasih tau caranya supaya Kakak bisa tau?" tawar Dara mencoba membantu menjawab kebingungannya Abhay.
"Apa?"
"Coba Kakak inget-inget lagi deh kejadian pada saat papahnya Kakak mengakui kesalahannya. Kakak inget-inget lagi gimana cara bicaranya, gimana emosionalnya. Dan yang paling gak bisa bohong adalah dari sorot matanya. Pasti Kakak bisa ngebedain setelah Kakak perhatiin baik-baik," ucap Dara memberi saran.
Karena secara tak langsung Dara telah memerintahkannya, otak Abhay dengan otomatisnya langsung mengingat kembali mengenai kejadian kemarin. Semua gerak-gerik papahnya, tutur katanya, dan sorot matanya, Abhay kembali mengingatnya lagi.
Sembari menunggu Abhay sibuk dengan pikirannya, Dara mengambil kesempatan untuk berbicara banyak di depan Abhay. Berharap dari perkataannya ini, sedikit demi sedikit ia bisa membantu membuka hati dan pemikiran Abhay agar jauh lebih jernih.
"Dan... walaupun gue gak tau percis kejadiannya seperti apa, tapi gue yakin dengan satu hal. Gak ada satupun orang tua di dunia ini yang mau bermusuhan dengan anaknya. Sekalipun anaknya itu nakal, atau gak sesuai ekspektasi orang tuanya, tapi yakin, orang tua akan selalu mendukung anaknya dalam kondisi apapun. Mungkin sesekali cara orang tua kita salah dalam menyampaikan isi hati mereka, tapi di balik itu semua, orang tua akan selalu memikirkan rencana terbaik untuk anaknya."
Jujur saja Abhay sudah menyadari bahwa papahnya memang benar-benar tulus dengan keinginannya untuk memperbaiki hubungan dengannya. Ditambah Dara yang bertutur kata seperti itu, membuat Abhay semakin tersadar bahwa dirinya lah yang sudah bersikap egois. Ia terlalu sibuk menutup mata, sampai ia tak mau melihat apapun dan tak mau mengetahui apapun.
"Lo bener. Semua omongan lo emang bener. Gue emang durhaka sebagai anak," ujar Abhay merendahkan dirinya sendiri. "Tapi gimana? Bener-bener susah buat gue untuk kembali semula lagi," lanjut Abhay mengungkapkan kegundahannya.
"Iyah gue ngerti. Pasti gak semudah itu untuk kembali hidup normal. Semuanya butuh proses," balas Dara. Ia menjeda ucapannya sejenak lalu melanjutkan kembali ucapannya.
"Tapi semuanya tergantung pada niat kita juga, Kak. Kalo semisal Kakak punya keinginan untuk kembali dan ingin berubah, perlahan pasti keadaan pun akan membaik. Mulai aja dengan perlakuan kecil. Contohnya..."
Dara mengalihkan pandangannya untuk melihat Abhay. Lalu ia pun berucap. "Dengan Kakak pulang ke rumah."
"Pulang aja dulu, gak perlu ngomong apa-apa selagi Kakak belum siap," lanjut Dara. Ia mengerti bagaimana ego Abhay yang terlalu besar, jadi ia dengan caranya, sebisa mungkin membujuk Abhay agar cowok itu mau pulang lebih dulu.
"Kalo kaya gitu, apa namanya gak tau diri?" tanya Abhay seakan meragukan usulan Dara.
"Gak apa-apa, karena papah Kakak pun gak akan mikir sampai ke sana," balas Dara. "Yang ada dia bakal seneng kalo liat Kakak pulang."
Abhay sejenak berpikir untuk mengambil keputusan. Memang itu bukan sebuah pilihan yang mudah untuk cepat diambil. Ia perlu waktu untuk memikirkan keputusan itu lebih lama lagi.
"Nanti gue pikir-pikir lagi deh." Akhirnya Abhay menjawabnya dengan tak pasti.
Namun dari jawaban tak pasti itu, seketika Dara tersenyum simpul dan malah merasa puas. Karena selagi Abhay tak menjawab tidak, sangat besar kemungkinan bahwa tak lama lagi Abhay akan segera pulang.