Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
38. Penolakan



Tak terasa hari telah berganti. Kini Abhay tak lagi mencari kesempatan untuk tidur di perpustakaan lagi, karena musuh bebuyutannya yaitu matematika, hari ini tak ada. Jadi tak ada alasan lagi untuk Abhay untuk kabur dari kelasnya.


Setelah Pak Dadang selesai menjelaskan materi, beliau langsung memberi tugas kepada anak didiknya. Sistem tugasnya adalah kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 4 orang. Jadi sekitar 10 kelompok yang akan Pak Dadang bentuk.


"Baik, untuk tugas kali ini Bapak akan membagikan kelompok untuk kalian," ucap Pak Dadang.


Lalu Pak Dadang membuka buku absen untuk menyebutkan kelompok beserta nama-nama anggota di dalamnya.


"Kelompok 1. Vano, Selly, Fani, dan Gilang," ujar Pak Dadang.


"Yes!"


Mendengar namanya satu kelompok dengan Vano, lantas membuat Gilang kegirangan. Karena ia paling benci jika harus sekelompok dengan orang yang tidak akrab dengannya. Dan ia sangat bersyukur bisa sekelompok dengan Vano.


"Kenapa sih gue gak bisa lepas dari Gilang," ujar Vano kesal. Lain hal dengan Gilang, Vano justru tak suka jika ia lagi-lagi harus berurusan dengan Gilang.


Tak terima dengan ucapan Vano, Gilang pun memutar balik badannya. "Jangan gitu lah Vano sayang. Lo juga dalam hati seneng kan sekelompok sama gue," ujar Gilang kegeeran.


Vano tak menggubris perkataan Gilang, ia hanya memutar bola matanya malas.


"Kelompok 2. Panji, Syifa, Angel, dan Abhay," lanjut Pak Dadang.


Nama Angel dan Abhay disebut berbarengan, jelas hal itu membuat Angel membulatkan matanya lebar-lebar, jelas ia senang tak kepalang. Ia sampai tak bisa menyembunyikan senyumannya saking bahagianya.


"Jel! Lo sekelompok sama Abhay," ujar Rere menggebu-gebu. Dan hal itu membuat Angel semakin merekahkan senyumannya.


Namun tak lama, Abhay mengintruksikan diri kepada Pak Dadang dengan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.


"Maaf Pak. Apa bisa dituker?" tanya Abhay kepada Pak Dadang.


"Bisa saja. Asal temen yang kamu tukar bersedia," jawab Pak Dadang.


"Gilang mau tukeran sama saya, Pak."


Merasa namanya disebut, Gilang membelalakkan matanya.


"Apa!" Gilang terkejut.


Lalu Gilang kembali memutar badannya mengarah kepada Abhay untuk meminta penjelasan.


"Bhay! Kapan gue bilang mau?" tanya Gilang ngegas


"Kalo lo gak mau, lo gak diterima di rumah gue," ancam Abhay.


Setelah Abhay melontarkan ancaman itu, kini raut wajah Gilang sudah seperti anak tiri yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Gilang merasa ternistakan.


"Kok lo jahat banget sih sama gue," seru Gilang dengan wajah sendu dan bibir yang sedikit dimanyunkan.


Abhay mengangkat kedua bahunya acuh, "Terserah. Nasib ada di tangan elo," ujar Abhay.


Gilang mau tak mau harus segera menentukan pilihannya. Di sisi lain ia tak mau jika harus pindah kelompok. Namun di sisi lain, ia juga tak mau jika ia tak diterima di rumah Abhay. Baginya, diusir dari rumah Abhay bagaikan ia diusir dari nikmatnya surga. Dan tentunya itu akan menjadi mimpi buruk bagi Gilang.


"Gimana Gilang?" tanya Pak Dadang, karena tak sabar melihat Gilang yang terlalu lama berfikir.


Setelah ia sudah menentukan pilihannya, Gilang pun mendesah pasrah. "Ya Pak, saya mau."


Pak Dadang pun mengangguk. "Baik, berarti Abhay pindah ke kelompok 1 dan Gilang pindah ke kelompok 2," ucap Pak Dadang mempertegas.


Melihat Gilang yang langsung badmood, Vano pun sangat gatal untuk menggoda Gilang.


"Jangan marah Lang. Lo gak peka? Si Abhay lagi menjaga perasaan istrinya," seru Vano. Namun jika didengar lebih baik, Vano malah terkesan lebih menggoda Abhay.


Lalu bagaimana dengan respon Angel? Tentu saja ia langsung melunturkan senyumannya. Dan kini wajah Angel sudah seperti sapi betina yang kehilangan kekasihnya. Ia mendengus kesal sambil meremas rok nya dengan geram. Sampai Rere yang melihatnya pun tak berani membuka suara.


Setelah pembagian kelompok selesai, tak lama bel istirahat berbunyi. Anak-anak 12 IPS 2 berbondong-bondong berhamburan ke luar kelas untuk beristirahat. Begitu pun dengan Abhay dan kedua kawannya. Mereka pun akan melakukan hal yang sama.


Namun saat mereka baru saja berdiri, tiba-tiba saja ada yang menghampiri mereka.


"Abhay. Tunggu!"


Orang yang memanggil Abhay adalah Angel. Kini ia sudah berdiri di hadapan Abhay.


Abhay pun menatap malas ke arah Angel. Lalu beralih menoleh kepada kedua temannya. "Kalian duluan aja," ucap Abhay.


Mereka berdua pun mengangguk, menuruti perkataan Abhay.


"Kacau nih. Pasti masalah perlope-lopean," gumam Gilang sambil berjalan ke arah pintu keluar.


"Apa?" tanya Abhay malas.


"Bhay. Kok lo minta diganti sih?!" tanya Angel sedikit ngegas.


Memang kejadian tadi membuat Angel sungguh geram sekaligus heran mengenai keputusan Abhay. Ia tak bisa terima. Jadi ia memutuskan untuk memberanikan diri tuk bertanya langsung kepada Abhay mengenai alasannya.


"Terserah gue lah," jawab Abhay santai.


"Kenapa lo gak mau sekelompok sama gue? Alasannya apa?" tanya Angel lagi.


"Gak ada."


Angel pun membuang nafas kasar. Walaupun Abhay bilang tidak ada, namun ia yakin pasti ada suatu alasan yang membuat Abhay mengambil keputusan itu. Lalu ia berinisiatif untuk menyangkut paut kan dengan Dara.


"Apa karena Dara? Apa karena kejadian dua hari yang lalu?" tebak Angel.


Abhay tak menjawab, ia malah membuang muka acuh, seakan tak tertarik dengan omongan Angel.


"Itu bukan seperti yang lo kira, Bhay! Gue dari awal gak berniat ngelakuin itu ke dia, gue gak sengaja. Lo jangan ketipu sama omongan dia!" tegas Angel.


Mendengar penjelasan Angel, Abhay pun tersenyum miring. Kini ia beralih menatap tajam ke manik mata Angel.


"Tapi dari awal lo berniat ngunciin dia di gudang, kan?" tanya Abhay, dan berhasil membuat Angel bungkam.


Sudah sangat malas meladeni Angel, kini Abhay dibuat malas lagi saat Angel yang malah membatu di depannya. Jadi Abhay pun berinisiatif untuk pergi dari sana, tanpa seizin Angel.


Abhay pun melangkah kakinya melewati Angel. Namun langkahnya terhenti saat Angel kembali bersuara.


"Tapi apa pedulinya?" tanya Angel. Lalu Angel membalikan badannya berhadapan dengan punggung Abhay.


"Bukannya hubungan kalian gak serius. Jadi apa pedulinya elo?" tanya Angel lagi.


Kini Abhay yang membalikkan badannya untuk menghadap pada Angel. Lalu ia pun berkata, "iyah. Gue peduli," ucapnya.


Lalu Abhay kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi menjauhi Angel.


Dan Angel. Kini wajahnya sudah memerah dengan air mata yang perlahan membendung di pelupuk matanya. Dengan geram, ia kembali meremas rok nya. Ia merasa sangat terhina dengan apa yang sudah Abhay perlakukan padanya.


...****************...


Khusus malam ini aku up 2 eps yah.