Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
90. Permintaan terakhir



Flashback on.


Ruangan serba putih itu terasa sunyi dan senyap. Bersama bau obat-obatan yang tercium jelas di indra penciuman, kini ada seorang wanita yang tengah berbaring lemas di atas ranjang. Alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya, selang infus yang terus meneteskan cairannya, dan balutan perban melingkar pada kepalanya, seolah memperjelas bahwa wanita itu tengah lemah tak berdaya.


Di samping ranjang itu, ada seorang pria dengan setianya menemani wanita itu begitu sabar. Sabar untuk menanti kesembuhan bagi istrinya. Namun sudah tiga hari berlalu, istrinya belum juga menujukkan sebuah peningkatan. Kondisinya masih tak jauh berbeda saat pertama kali terjadi tragedi naas itu.


Siang dan malam pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk termenung sembari mulutnya terus memanjatkan doa kepada sang maha kuasa. Dengan sebuah harapan yang sama, pria itu tanpa lelahnya mendoakan kesembuhan bagi istrinya.


Kedua netra yang cukup lama tertutup, kini wanita itu mulai membukanya. Wanita itu baru saja bangun dari tidurnya. Ia pun segera menoleh pada samping kanannya. Dan pemandangannya tetap sama. Setiap ia membuka matanya, orang pertama yang ia lihat pasti suaminya.


"Mas, kamu belum pulang juga?" tanya wanita itu pada sang suami dengan suara parau-nya.


"Mana mungkin aku pulang saat kamu masih ada di sini," jawabnya dengan suara berat khas pria dewasa. Pria itu terdengar serius saat mengatakannya.


Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Suaminya memang seperti itu, selalu keras kepala. Makanya tak heran jika sifat itu bisa menurun pada anak semata wayangnya.


Wanita itu kembali menatap suaminya. Wajah lelah terukir jelas pada raut pria itu. Wajar saja, setiap saat suaminya sibuk mengurusnya tanpa ada waktu untuk mengurus dirinya sendiri.


"Mas Arief," panggil wanita itu dengan lembut.


Dari panggilan itu, sudah jelas bahwa sepasang suami istri yang kini tengah bersama adalah kedua orang tua dari Abhay. Pak Arief dan Ibu Ratna.


"Aku mau bicara sama kamu," pinta Ibu Ratna.


"Mau bicara apa? Sudah, lebih baik kamu tidur saja, istirahat, kondisimu masih sangat lemah," tolak Pak Arief. Ia tak akan membiarkan istrinya mengeluarkan tenaga hanya untuk bicara sekalipun.


"Gak Mas. Ini penting. Kalo aku gak bilang sekarang, takutnya aku gak akan bisa bilang ini selamanya," ujar Bu Ratna dengan mudahnya.


Seakan tak terima dengan ucapan istrinya, raut wajah Pak Arief seketika menunjukan sebuah perubahan. Ia merasa geram atas apa yang baru saja istrinya katakan.


"Kamu bicara apa? Gak lama lagi kamu juga akan sembuh," timpal Pak Arief menyanggah pemikiran istrinya. "Jadi lebih baik kamu bicaranya nanti saja setelah kamu keluar dari sini."


Ibu Ratna kembali mengelengkan kepalanya. "Gak Mas. Aku tetap ingin bicara sekarang. Tolong dengerin aku, sebentar saja," mohon Bu Ratna begitu memaksa.


Pak Arief mendesah berat. Melihat istrinya yang begitu memaksa, ia tak tega untuk mengelak lagi. "Ya sudah kamu mau bicara apa?" tanya Pak Arief nampak pasrah.


Setelah suaminya mau mendengarkannya, Bu Ratna pun tersenyum simpul. Perlahan, Bu Ratna mengarahkan tangannya untuk membuka alat oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya. Hal itu bermaksudkan agar ia bisa berbicara lebih leluasa. Sempat ada tindakan pencegahan dari Pak Arief, namun segera mungkin Bu Ratna langsung memberikan isyarat menandakan bahwa ia baik-baik saja.


"Mengenai anak yang menabrak aku, aku memaafkan dia dan aku ingin dia dibebaskan," ucap Bu Ratna langsung menjurus.


Satu baris kalimat itu sukses membuat Pak Arief tercengang. Ia melihat wajah Bu Ratna dengan sebuah tatapan tak percaya.


"Kamu bicara apa? Dia sudah membuat kamu celaka dan membuat kamu menjadi seperti ini. Mana bisa aku bebaskan dia begitu saja. Aku akan tetap menghukum dia," tutur Pak Arief tak mau tahu.


"Gak Mas. Dengerin aku dulu," sergah Bu Ratna meminta untuk didengarkan lebih dahulu.


"Dia itu masih remaja, emosinya belum stabil. Lagi pula aku tahu, anak itu pasti tidak sengaja menabrak aku dan tak bermaksud ingin membuat aku celaka. Dan aku juga yakin, saat ini pasti anak itu sudah sangat menyesali perbuatannya. Dan bagi aku, hal itu sudah cukup untuk bisa membuat aku memaafkan dia," jelas Ibu Ratna.


Pak Arief tersenyum miris, ia mengelengkan kepalanya tak percaya. "Konyol. Aku tidak bisa mengerti pemikiran kamu," ujarnya.


Kemudian Pak Arief kembali menatap wajah istrinya, ia mencoba tenang walaupun sebenernya ia sedikit emosi mengenai apa yang akan diputuskan istrinya.


"Mau dia remaja, atau pun anak-anak, jika dia sudah mencelakai seseorang, apa bedanya dengan orang dewasa? Semuanya sama saja. Jadi aku akan tetap menghukum dia," tegas Pak Arief begitu bersikukuh.


Bu Ratna menarik nafasnya panjang. Efek dilepasnya selang oksigen pada alat pernafasannya mulai terasa di dadanya. Namun sebisa mungkin ia tahan, karena tujuannya belum tercapai. Ia belum berhasil membujuk suaminya.


"Bagaimana jika itu terjadi sama anak kamu sendiri?" tanya Bu Ratna pada sang suami. "Apa kamu rela melihat Abhay dipenjara karena hal yang tak sengaja ia lakukan? Apa kamu rela? Pasti enggak Mas," lanjutnya.


Dan inilah yang menjadi alasan mengapa Abhay terlahir sebagai anak tunggal. Karena menantikan satu buah hati saja mereka harus menempuh jalan yang panjang dan juga sulit. Prosesnya sungguh mengorbankan perjuangan yang begitu berat.


"Lalu bagaimana rasanya jika perjuangan kita selama ini telah dirusak oleh sebuah tragedi yang tak sengaja anak kita lakukan. Buah hati yang sangat kita damba-dambakan harus pergi hanya karena satu kesalahan. Dan itu pun tak disengaja. Kita sebagai orang tua pasti akan hancur Mas."


Setelah lama terdiam hanya mendengar penuturan istrinya, Pak Arief mulai membuka suaranya. "Tapi ini bukan Abhay. Ini anak orang lain," sergah beliau tak ingin membenarkan pemikiran istrinya.


"Apa bedanya. Apapun latar belakang anak itu, pasti perasaan orang tua akan tetap sama," timpal Bu Ratna.


Pak Arief menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak percaya dengan kelembutan hati istrinya. "Kamu terlalu baik, Ratna. Kamu terlalu baik."


"Terserah kamu mau mendengarkan aku atau tidak. Yang jelas, jika kamu mau menuruti permintaan aku, aku pastikan aku akan pergi dengan tenang."


Pak Arief tertunduk. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya, Ia tak sanggup untuk mendengarkannya lagi. Dari perkataan istrinya seolah meyakinkan dirinya bahwa istrinya tak lama lagi akan pergi. Dan Pak Arief sangat benci dengan hal itu.


Bu Ratna kembali mengatur nafasnya. Rasa sesak di dalam dadanya mulai menjadi. Namun ia belum selesai bicara. Untung saja suaminya masih tertunduk, jadi pria itu tak lagi melihat dirinya yang tengah menahan sakit.


"Dan aku ingin minta hal lain lagi sama Mas, apa boleh?"


Pak Arief tak menjawab. Mulutnya serasa kaku untuk digerakkan. Hatinya merasa pilu. Dan ia tak bisa berkata-kata lagi.


"Tolong rahasiakan ini dari Abhay. Bilang saja anak itu tidak dihukum karena dia masih dibawah umur. Karena aku bisa menebak, jika Abhay sampai tau alasan yang sebenarnya, dia pasti akan sangat marah."


"Dan satu lagi. Tolong rahasiakan identitas asli anak itu. Sebisa mungkin jangan sampai ada berita yang mengungkapkan identitas anak itu. Karena aku tau, jika itu sampai terjadi, Abhay pasti akan sangat murka dan akan berbuat buruk pada anak itu. Dan aku tidak mau anak kesayanganku akan tumbuh menjadi seorang kriminal."


Tak lama setelah Bu Ratna menyampaikan permintaannya Pak Arief, bagai sudah direncanakan, keesokan harinya Bu Ratna dinyatakan meninggal karena pendarahan otak yang semakin memburuk. Sehingga permintaan itu sungguh menjadi permainan terakhir dari seorang ibu yang telah melahirkan Abhay.


Flashback off.


Pak Arief telah selesai memberitahu semuanya. Semuanya sudah beliau bongkar kepada Abhay. Dengan begitu, sudah tak ada lagi tembok yang menghalangi mereka berdua, karena kini tak ada lagi rahasia.


Lalu Abhay pun tersenyum getir, menatap papahnya tak yakin. Sejujurnya ia sedikit ragu tentang hal itu. Biasa dibohongi oleh papahnya membuat ia sempat tak mempercayai itu. "Apakah saya harus percaya dengan cerita itu?" tanyanya.


"Itu bukan sekedar cerita. Tapi kenyataannya memang begitu," ucap Pak Arief begitu yakin.


Kemudian Pak Arief melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Abhay. Ia menatap putranya dengan tatapan melembut.


"Abhay. Itulah mamah kamu. Dia memang memiliki hati seperti malaikat. Dalam keadaannya yang sudah sangat lemah, ia masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain. Dan maaf, Papah sudah merahasiakan ini dari kamu. Karena apa yang Papah lakukan semata-mata hanya untuk memenuhi permintaan terakhir mamah kamu. Walaupun Papah tau, momen ini pasti akan terjadi. Lambat laun kamu akan mengetahuinya sendiri," tutur Pak Arief.


Tak ada kebohongan. Ketika Abhay melihat sorot mata papahnya yang begitu dalam, ia tak menemukan sebuah kepalsuan di sana. Di samping itu, Abhay juga menyesali dirinya yang sudah berpikiran buruk terhadap papahnya. Karena di balik semua itu, ternyata sosok ibunya lah yang berpengaruh. Kelembutan hati bak malaikat dari sang ibu, sudah membuatnya salah paham.


"Jadi Papah ingin kamu juga melakukan hal yang sama seperti apa yang mamah kamu minta. Dengan kamu memaafkan dia, itu sama seperti kamu membantu mamah kamu agar bisa hidup tenang di sana," jelas Pak Arief.


"Gak semudah itu," sergah Abhay seketika. "Karena jauh sebelum saya tahu hal ini, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk menghancurkan siapa pun orang yang sudah membuat ibu saya tiada. Tanpa terkecuali."


Abhay mengeraskan rahang wajahnya, bukan hanya pikirannya saja yang sudah kacau, rautnya pun sudah terlihat kacau, matanya pun terlihat memerah karena menahan hawa panas yang bergejolak di dalam jiwanya. Ia pun kembali melanjutkan ucapannya.


"Namun kenyataan bahwa Andra lah orangnya! Membuat saya berpikir, bahwa saya lah yang sudah hancur."


Tepat saat mengatakan itu, Abhay menggerakkan kakinya pergi menjauh dari papahnya. Bukan tangga yang ia datangi, melainkan pintu utama yang ia pilih. Abhay serius dengan ucapannya. Ia benar-benar sudah hancur. Sehingga ia memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Lagi.


"Abhay! Kamu mau pergi kemana?!" teriak Pak Arief.


"Abhay!!"