Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
42. Terlanjur basah



Dara dan Abhay kini tengah duduk disalah satu bangku panjang yang ada di pasar malam itu. Mereka duduk bersebelahan dengan boneka besar yang membatasi mereka berdua.


Berbicara tentang boneka, walaupun tadi Abhay sempat kesal, namun pada akhirnya boneka itu tetap berada di tangan Dara. Karena Abhay yang sudah terlanjur memainkan permainan itu, jadi mau tak mau hadiah itu tetap harus diserahkan, sebagaimana sesuai dengan kesepakatan awalnya.


"Gue boleh nanya sama elo?" tanya Abhay.


"Nanya apa?" timpal Dara sembari memakan gula kapas yang ia beli.


"Kenapa orang tua lo aneh?" tanya Abhay.


"Jangankan Kakak, gue aja gak tau. Kenapa gue punya orang tua aneh kaya mereka," jawab Dara santai.


"Mending gitu. Dari pada serius terus," ucap Abhay lirih namun bisa didengar oleh Dara.


Kini perhatian Dara beralih pada Abhay, dan ia pun bertanya. "Emang orang tua Kakak serius terus?" tanyanya.


Abhay menatap Dara sekilas, lalu membuang mukanya.


Lebih dari serius, jawab Abhay dalam hatinya.


Sempat terjadi keheningan di antara mereka berdua, tak ada yang memulai pembicaraan lagi. Hingga keheningan itu terpecahkan saat ada seorang pria yang menghampiri mereka.


"Jasa gambarnya, Neng," ujar orang itu. Ia menawarkan jasa gambar dadakan kepada Dara dan Abhay.


"Gambar apa yah, Bang?" tanya Dara tak paham.


"Eneng nya mau digambar juga bisa," jawab Abang itu.


"Maksudnya, saya nya digambar?"


"Iya."


Dara manggut-manggut. Lalu ia bertanya lagi. "Harganya berapa?"


"Per orang harganya seratus ribu."


Dara pun berpikir sejenak untuk menimbang-nimbang tawaran orang itu. Tak lama, Dara pun menggangguk. "Boleh deh. Tapi saya nya harus gimana?"


"Enengnya biasa aja duduk di situ. Anggap aja saya enggak ada," ujar Abangnya.


"Oh gitu yah, Bang."


Tak lama Abang penggambar itu bergerak menjauhi Dara untuk menempatkan dirinya pada sudut posisi yang tepat untuk menggambar. Saat sudah memilih angle yang tepat, Abang itu duduk di kursi kecil lalu menyiapkan segala alat-alat menggambar lalu memulai pekerjaannya.


"Lo mauan aja sih, apa gak risih?" tanya Abhay pada Dara.


"Biarin aja sih. Itung-itung bantu Abang itu. Lagian gue ini yang digambar," ungkap Dara.


Lalu Dara dengan santainya memakan gula kapasnya kembali. Dan seperti yang dikatakan Abang itu, ia harus bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kaya udah terlalu rumit gak sih?" gumam Dara tiba-tiba saat ia sudah menghabiskan gula kapas itu.


"Maksudnya?" tanya Abhay tak mengerti.


"Kita terlalu jauh gak sih?" gumam Dara lagi namun semakin ambigu.


"Lo ngomong apa sih? Ngomong yang jelas lah," seru Abhay sedikit kesal.


Kemudian Dara menoleh pada Abhay dan menatapnya tajam. "Maksud gue, kapan Kakak selesai nagih utangnya!" tukas Dara ngegas.


Abhay sempat tak terkonek. Ia gagal paham dengan apa yang Dara maksudkan. Namun saat ia mengingat kata hutang, ia langsung mengetahuinya.


"Oh itu..." ucap Abhay. "Ya gimana mau selesai. Tiba-tiba Abang lo malahan ngasih wasiat ke gue. Trus Ayah lo minta gue jagain elo. Trus Bunda lo keburu suka sama gue. Jadi gue malahan terikat sama keluarga elo," jelas Abhay.


Dara pun mencerna semua tuturan Abhay. Harus diakui ia pun membenarkannya. Keterikatan mereka akhirnya memanjang akibat terlalu banyaknya kejadian-kejadian di luar dugaan. Atau kalimat sederhananya, mereka sudah terlanjur basah.


Lalu Dara menghembuskan nafas kasar. Jika sudah begini, ia hanya bisa menyesali kejadian yang sudah berlalu.


"Harusnya dari awal Kakak jangan nampakin diri di depan keluarga gue. Kalo enggak, harusnya Kakak jangan nujukin sisi baik Kakak. Buat image buruk di depan keluarga gue, supaya keluarga gue gak suka sama Kakak," jelas Dara.


"Image buruk? Maksud lo, gue datang-datang ngajak gelut sama keluarga lo, gitu? Udah gila kali gue," balas Abhay. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Dara.


"Ya nggak gitu juga. Harusnya dari awal Kakak bilang aja fakta tentang diri Kakak. Bilang aja kalo Kakak itu nakal, suka bolos, tawuran, berantem, jail. Sebutin semuanya yang jelek-jelek," jelas Dara lagi. Namun penjelasan kali ini sedikit menyinggung Abhay.


"Emang gue seburuk itu?" tanya Abhay sinis.


"Dih, gak nyadar?" Dara malah bertanya balik tanpa pakai hati.


Abhay pun hanya menatap Dara dingin. Ia heran, kenapa hari ini Dara sering sekali menghina dirinya? Jika orang lain yang mengatakanya, mungkin Abhay sudah berbuat sesuatu kepada orang itu. Namun kenapa tidak dengan Dara? Kenapa Abhay terima-terima saja? Apakah Dara bukan 'orang lain' lagi di mata Abhay?


Di tengah seriusnya obrolan mereka, tiba-tiba Abang penggambar itu menghampiri Dara dan menyerahkan hasil gambar yang telah ia buat. "Neng, ini gambarnya udah jadi," ucapnya pada Dara.


"Oh udah? Kok cepet Bang." Lalu Dara meraih gambar itu.


Saat melihatnya, Dara tak bisa menyembunyikan ekspresi kagumnya. Karena gambar yang telah Abang itu buat benar-benar luar biasa. Walaupun hanya sebuah gambar dengan guratan pensil, namun gambar itu seakan nyata.


"Bagus banget, Bang," pujinya.


Tak lama, Dara menyadari ada keanehan dari gambar itu. Lalu ia memperlihatkannya pada Abang itu.


"Oh iya. Soalnya tadi kalo saya gambar Eneng nya doang, kaya kurang greget aja. Kalo sama pacarnya kan lebih nyata," tutur Abang itu.


Abhay yang penasaran dengan gambar yang mereka maksud, lalu ia ikut-ikutan melihat. Dan memeng benar, ternyata ada gambar dirinya di sana.


"Wah Abang nya gak bener nih, masa gak minta izin dulu," ujar Abhay sedikit sewot.


"Maaf yah Dek. Soalnya pas tadi saya mau bilang, kalian lagi serius ngobrol. Jadi saya gak berani nyanggah," ucap Abang itu.


Tak tega melihat Abang itu disalahkan, Dara pun menyelanya. "Udah udah gak papa, Bang. Lagian gambarnya bagus ini, saya suka," ujar Dara.


Lalu Dara membuka tas selempang kecilnya untuk mengambil uang. "Jadi ini berapa?" tanyanya.


"Karena ada dua orang, jadi dua ratus ribu," jawab Abang itu.


"Bonekanya gak diitung?"


"Bonekanya gak papa gratis."


Dara pun mengangguk, lalu ia segera mengambil uang yang Abang itu minta. Namun saat ia sedang sibuk mengambil uang itu, Abhay tiba-tiba menyerobotnya.


"Dua ratus ribu, kan?" tanya Abhay memastikan.


Abang itu pun mengangguk. "Iyah."


Lalu Abhay memberi uang dua ratus ribu itu kepada Abang itu.


"Makasih yah, Dek," ucap Abang itu lalu pergi meninggalkan mereka.


"Kok Kakak yang bayar? Gue kan gak minta?" tanya Dara heran.


"Kan ada gambar gue di situ," jawab Abhay.


"Trus gue utang seratus gitu?"


"Gak perlu. Gue gak kekurangan duit," timpal Abhay, kembali dengan keangkuhannya.


Mendengar kesombongan Abhay, Dara pun memasang wajah kesal. "Kok nyebelin yah dengernya," ucapnya.


Lalu Abhay beranjak dari tempat duduknya. "Ini mau gimana? Masih mau di sini?" tanya Abhay pada Dara.


Dara pun melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya. "Udah malem, kita pulang aja," ucap Dara.


Abhay pun mengangguk, lalu ia beranjak pergi dengan diikuti Dara di belakangnya. Pada akhirnya, mereka pun mengakhiri malam Minggu mereka.


...****************...


"Ya ampun! Dara pulang-pulang langsung punya anak?!" seru Andra saat melihat Dara yang sudah pulang.


"Apaan sih, Bang?!" kesal Dara.


"Ya itu yang dipegang, anak lo, kan?" tanya Andra sambil mengarahkan dagunya ke arah boneka yang Dara pegang.


Dara tak menjawab, ia hanya memutar bola matanya malas dan hendak langsung pergi ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba bundanya bertanya.


"Abhay nya dimana?" tanya Bunda Iis.


Memang pada saat ini, Andra, Bunda Iis, dan Ayah Leo tengah berkumpul di ruang keluarga. Saat melihat Dara pulang, tentu mereka tak mau melewatkan hal itu untuk tidak bertanya pada Dara.


"Udah pulang," jawab Dara.


"Kok gak suruh masuk dulu?"


"Mau ngapain lagi dia ke sini? Lagian udah malem juga," jelas Dara.


"Trus gimana? Seneng malam mingguannya?" Kali ini Ayah Leo yang bertanya.


"Biasa aja sih," jawab Dara sekenanya.


"Biasa biasa. Tapi sambil bawa kenangan ke rumah," goda Andra sambil terkekeh kecil.


"Bang Andra cerewet banget sih!"


Karena sudah terlalu kesal dengan ocehan Andra, Dara pun pergi ke kamarnya. Sekaligus Dara juga ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh dari orang tuanya.


"Kamu seneng banget godain Adek kamu," ujar Bunda Iis saat Dara sudah pergi ke kamarnya.


"Iyah. Jangan cuma bisa godain, masa kamu kalah sama Adek kamu," tambah Ayah Leo.


Jika sudah membahas hal itu, seperti biasa Andra akan mengeluarkan jurus andalannya. "Andra ke kamar," ucapnya.


Beralih pada Dara. Kini ia sudah sampai di kamarnya. Ia pun menyimpan boneka yang sedari tadi ia pegang di atas kasurnya. Lalu ia juga menyimpan gambar itu di atas meja belajarnya. Saat ia sudah menyimpan barang-barang itu, Dara pun merenung untuk sesaat, sambil memperhatikan benda-benda itu.


"Boneka, gambar ini. Apa gak terlalu kelewatan?" gumam Dara seorang diri.


Ia juga bertanya-tanya dalam dirinya. Apa yang ia lakukan bersama Abhay tadi, bisa dikatakan wajar?