
Satu jam menuju pulang, kini Dara dan Ruby berada di dalam kelas untuk sekedar merumpi obrolan faedah maupun unfaedah. Di hari pertama masuk sekolah ini, kelas mereka benar-benar free. Guru-guru mereka datang hanya sekedar memberitahu materi yang akan dibahas saja, setelah itu pergi lagi.
Dan kini, mereka sedang membicarakan seputar kejadian di perpustakaan tadi. Ruby tertawa terbahak-bahak saat kembali mengingat kejadian tertangkap basahnya Dara dan Abhay saat sedang berduaan, karena Ruby pun melihat sendiri kejadiannya.
Lalu tiba saatnya Dara memberi tahu Ruby mengenai Abhay yang diperintahkan kuliah ke luar negeri.
"Kak Abhay mau ke Amrik?!" tanya Ruby cukup terkejut.
Dara mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban.
"Trus Kak Abhay-nya mau?"
"Tadi sih bilangnya enggak mau."
"Alesannya?"
"Jadi intinya Kak Abhay sama papahnya itu gak akur. Hubungan mereka itu bisa dibilang jauh. Ditambah Kak Abhay yang keras kepalanya minta ampun. Jadi dengan situasi kaya gitu, pastinya susah," jelas Dara. Ia hanya sekedar memberitahu secara umum saja, tak terlalu mendetail. Karena ia masih menjaga privasi Abhay.
"Bener alasannya itu? Bukan karena Kak Abhay gak mau jauh-jauh sama elo?" tebak Ruby.
"Mana ada. Kak Abhay gak ngomong gitu."
"Ya enggak akan ngomong lah. Kalo dia ngomong gitu ke lo, nanti lo bakal ngerasa gak enak. Karena lo adalah penyebab gagalnya dia untuk pergi," jelas Ruby mengungkapkan argumen dari sisi pemikirannya.
Dara termenung, mendengar baik-baik penjelasan Ruby. Dua kata yang ia pikirkan saat ini. Masa iya? Dara sendiri ragu tentang itu. Lebih tepatnya Dara tak mau kepedean. Karena mengetahui bagaimana rumitnya masalah keluarganya Abhay, sudah cukup membuatnya mengerti.
"Tapi gue lebih yakin sama alasan pertama sih. Gue yakin gak ada sangkut pautnya sama gue," ucapnya pada Ruby.
"Ya isi hati mana ada yang tahu, kan? Gue sih cuma nebak doang," timpal Ruby.
"Tapi seurisan deh, Ra. Kalo sampe beneran Kak Abhay jadi ke Amerika. Apa lo kuat nanti LDR-an? Kalo gue jadi lo sih ogah banget. Mana tahan jauh-jauh sama ayang. Lemes bestie!" seru Ruby sangat menggebu-gebu.
"Lo lebay banget si. Sekarang teknologi itu udah canggih, ada hp buat apa?" timpal Dara enteng.
Ruby berdecak dan menatap Dara tak percaya. Bisa-bisanya Dara dengan mudahnya berbicara seperti itu. Seolah-olah tak ada masalah yang berarti jika Abhay benar-benar pergi. "Pacaran lewat virtual? Janji bakal tahan? Gak akan bisa Dara!" pekik Ruby.
"Kok lo kaya berasa paling tahu sih? Emang lo pernah?"
"Iya enggak sih. Tapi cuma ngebayangin aja gue udah tau rasanya bakal gimana. Susah kalo dijelasin lewat kata-kata. Harusnya lo ngerasain sendiri, biar paham," jelas Ruby.
"Eh tapi gue harap jangan deng. Nanti lo ke siksa. Lagian gak akan terjadi ini. Kak Abhay-nya juga gak akan pergi, kan?" tanya Ruby.
"Ya belum pasti. Masa depan mana ada yang tahu. Kalo sekarang bilang enggak, bisa aja besoknya jadi mau," timpal Dara.
"Kalo Kak Abhay berubah pikiran, sebisa mungkin lo langsung tahan dia, Dara! Percaya sama gue." Ruby memberi saran.
"Gak lah. Mana ada tahan-tahan. Itu namanya gue egois."
"Ya terus lo mau pasrah gitu aja gitu?"
"Ya ... iyah," jawab Dara tak yakin. "Ya intinya gue bakal dukung apapun keputusan Kak Abhay," lanjutnya.
Untuk kedua kalinya Ruby kembali berdecak. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Dara. "Terlalu baik lo. Nanti nyesel baru tahu rasa. Gue mah kasih tau aja sama elo, karena gue gak mau lo kaget nantinya," ucap Ruby penuh arti.
Kemudian Ruby membuang nafas kasar. Sejujurnya ia merasa kasihan kepada Dara. Belum lama temannya merasakan memiliki seorang kekasih, namun badai masalah sudah datang menghampiri hubungan mereka. Walaupun Ruby hanya sekedar teman bagi Dara, namun di dalam hatinya ia selalu mengharapkan kebaikan dalam hubungan asrama temannya itu dan selalu mengharapkan kebahagiaan bagi Dara.
Sepulang mengantarkan Dara pulang, Abhay memutuskan untuk tak pergi kemana-mana. Ia langsung pulang ke rumahnya.
Di saat ia hendak naik ke tangga atas menuju kamarnya, pandangannya tiba-tiba saja menampakkan sosok yang tak asing di matanya. Ia melihat papahnya sedang duduk santai di ruang keluarga dan sedang menonton tv. Dalam hatinya ia bertanya-tanya. Karena tak biasanya papahnya bersantai-santai di rumah. Ia curiga, pasti ada sesuatu yang tak biasa akan terjadi.
Menyadari Abhay yang terus menatapnya, Pak Arief pun bersuara. "Kenapa ngeliatin Papah? Biasanya juga ngeleos aja," tanya beliau tanpa memutuskan pandangannya pada benda lebar itu.
"Ngapain santai-santai di sini? Biasanya juga langsung pergi," ujar Abhay dengan intonasi suara seperti biasanya. Dingin dan tak bersahabat.
"Terserah Papah lah. Rumah rumah Papah," jawab Pak Arief tak kalah dinginnya. "Lagi pula mulai hari ini Papah memutuskan untuk menetap di rumah ini," lanjutnya.
Pengakuan papahnya cukup membuat Abhay terkejut. Sangat menjengkelkan, pikirnya. Untuk apa papahnya memutuskan untuk tinggal kembali di rumah? Padahal belum lama ia sudah betah tinggal di rumah, namun setelah mengetahui hal itu, entahlah, mungkin setelah ini Abhay akan sering-sering pulang malam.
Dirasa sudah malas untuk menghadapi papahnya, Abhay berniat untuk langsung pergi ke kamarnya. Namun tak lama kemudian, ia teringat suatu hal. Percakapan dengan Dara di perpustakaan tadi tiba-tiba muncul di otaknya. Kaki yang hendak ia langkahkan, ia tak jadi lakukan, karena ia berniat untuk meminta penjelasan dari papahnya dan akan meluruskan semuanya.
"Ada apa lagi?" tanya Pak Arief saat melihat Abhay tak kunjung pergi dan seperti hendak mengatakan sesuatu.
"Ada yang mau saya omongin," ucap Abhay langsung.
"Tumben. Mau ngomong apa kamu?"
"Maksudnya apa?" tanya Abhay sangat to the point bahkan tak jelas.
Pak Arief mengerutkan dahinya tak paham. Pertanyaan Abhay memang sangat tak jelas. "Kok malah balik nanya," ujarnya.
"Maksudnya apa nyuruh-nyuruh Dara?"
Pak Arief masih memasang wajah bingungnya. Beliau belum mengerti. "Kamu ngomong apa sih? Kamu bikin Papah bingung."
Abhay mengacak rambutnya frustasi. Papahnya masih saja belum mengerti maksudnya. Padahal yang ia inginkan papahnya bisa paham dengan sendirinya, agar ia tak perlu menjelaskan secara terang-terangan, karena ia sangat malas. Kalau seperti ini, mau tak mau ia harus menjelaskannya secara mendetail.
"Kuliah ke Amerika," jelas Abhay pada akhirnya.
Pak Arief tak langsung merespon, karena ia mengingat-ingat dulu bahwa dirinya pernah mengatakan itu kepada pacar anaknya. Tak lama, Pak Arief pun menyadarinya.
"Oh itu ..." ucap Pak Arief. "Ya karena Papah gak punya pilihan lain. Karena kalo Papah yang bilang, pastinya kamu gak akan dengerin Papah. Jadi Papah minta tolong sama pacar kamu, kali aja kalo pacar kamu yang bilang, kamu mau dengerin," ungkap Pak Arief apa adanya.
"Jadi gimana? Kamu mau, kan?" tanya Pak Arief dengan percaya dirinya.
Sekilas Abhay tersenyum kecut melihat papahnya yang begitu yakin. "Ya jelas enggak lah. Buat apa saya turutin kemauan anda," ungkap Abhay tak berperasaan.
Abhay pun membuang nafas kasar. Satu unek-unek sudah ia tanyakan pada papahnya. Kini saatnya Abhay melontarkan kalimat pamungkas.
"Okeh. Sebenarnya saya gak akan ngomong panjang lebar. Saya cuma mau tanya itu aja. Dan satu lagi. Saya minta anda jangan melibatkan urusan anda dengan Dara. Karena dia gak tau apa-apa. Biarin dia hidup tenang," jelas Abhay begitu menohok.
Setelah mengatakan itu, Abhay hendak ingin langsung pergi ke kamarnya. Bahkan satu kakinya sudah ia langkahkan pada anak tangga. Namun dilangkah keduanya Abhay terhenti, karena tiba-tiba saja papahnya mengatakan sesuatu.
"Apa gara-gara dia?" tanya Pak Arief.
"Maksudnya?" Abhay tak mengerti.
"Kamu gak mau ninggalin pacar kamu?"