Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
74. Hanya ada kita



Deburan ombak silih berganti, menghantam keras karang-karang kecil di sekitarnya. Angin barat berhembus begitu kuatnya, menimbulkan pohon-pohon kelapa terhuyung begitu padunya. Dua pasang kaki itu berjalan beriringan di bibir pantai, membiarkan pasir pantai menempel di antara jari-jari kaki mereka. Satu tangan mereka memegangi sepatu yang baru saja mereka lepas, dan satu tangan lainnya menyatu membentuk satu ikatan. Sudah seperti diberi perekat, jari-jari tangan mereka menempel begitu eratnya. Seakan alam pun tak boleh untuk melepaskan genggaman tangan mereka.


"Kita mau jalan sejauh apa?" tanya Dara.


Sudah cukup jauh mereka berjalan menyusuri bibir pantai, namun sampai saat ini belum ada kejelasan ke mana ujungnya mereka akan terus berjalan.


"Muterin pantai ini juga gak papa," jawab Abhay.


"Katanya capek?"


Abhay mengangkat genggam tangan mereka sedikit lebih tinggi, membiarkan gadis itu untuk melihatnya. "Gue kan lagi di charger. Jadi capeknya ilang," kata Abhay begitu manis.


Dara tersenyum malu, pipinya seketika bersemu merah ketika mendengar Abhay berkata semanis itu. Selalu dibuat membisu saat Abhay sudah mengeluarkan senjata andalannya.


Lama-kelamaan berjalan, Dara akhirnya merasakan pegal di pergelangan kakinya. "Duduk dulu yuk. Lama-lama kaki gue pegel," pintanya pada Abhay.


Abhay mengangguk. Ia pun tersadar bahwa mereka sudah berjalan begitu jauh, bahkan meninggalkan keramaian. Jadi wajar saja jika Dara sudah merasakan pegal.


Lalu mereka berjalan sedikit lebih jauh dari bibir pantai. Sengaja agar mereka tak terkena cipratan air laut yang begitu deras. Saat sudah menemukan posisi yang pas, mereka mendudukkan diri mereka di atas pasir putih, dan meletakkan sepatu di samping mereka.


Sejenak Dara menarik nafas panjang bersama dengan kedua netranya yang terpejam. Untung saja cuacanya tak terlalu terik, jadi ia masih bisa merasakan angin yang begitu menyejukkan menerpa wajahnya. "Huft. Enaknya," ucapnya lirih.


"Apalagi ditambah ditemenin sama gue, pasti enaknya makin nambah," timpal Abhay penuh percaya diri. Dan Dara pun tersenyum tipis saat mendengarnya.


"Tapi jujur gue seneng—banget bisa diajak liburan ke tempat keren kaya gini," ucap Dara serius.


Lalu Dara membuka kedua matanya kembali. Dari jauh ia melihat Ruby yang sedang asyik menaiki jetski. Walau jauh, Dara bisa tahu bahwa Ruby terlihat begitu bahagia. Dan itu menandakan bahwa misinya telah berhasil, karena inilah adalah alasan utama Dara mengajak Ruby untuk ikut dengannya. "Dan gue juga seneng bisa ngeliat Ruby seneng lagi."


Dara mengalihkan pandangannya untuk menatap Abhay. "Thanks ya Kak udah ngerencanain ini semua," tutur Dara begitu lembut.


"Tapi gue lebih seneng lagi kalo cuma ada kita berdua di sini," balas Abhay.


"Kakak kenapa sih? Kenapa gak suka kalo mereka ikut?"


"Tadinya harapan gue itu bisa pergi ke sini dan cuma sama elo. Gak ada yang lain. Gue bener-bener kepengen ngabisin waktu gue selama mungkin sama elo. Eh tapi akhirnya malah begini," jelas Abhay merasa kecewa.


"Di jalan boring banget. Gue sama sekali gak bisa nikmatin perjalanan gue ke sini," lanjut Abhay.


"Udah lah, Kak. Yang penting kan sekarang hanya ada kita berdua. Gak ada yang lain. Sama aja, kan?"


"Tapi gak akan lama."


Dara termenung menatap Abhay yang tengah memandang laut lepas di hadapannya. Terlihat dari raut wajah Abhay, lelaki itu masih belum puas sekalipun sudah diberi perhatian oleh Dara. Jika sudah begini, Dara harus memutar otaknya. Bagaimana caranya agar Abhay menaikan mood-nya kembali.


Entah dorongan dari mana, Dara tiba-tiba memberanikan diri untuk menyadarkan kepalanya pada bahu lebar Abhay. Mungkin ini juga salah satu cara untuk menyenangkan hati Abhay, yaitu dengan memperlakukan cowok itu dengan cara tak biasa.


"Ya udah kita lama-lamain di sini," ucap Dara dengan kepala yang masih bersandar pada Abhay.


Diperlakukan seperti itu, tentu saja Abhay sedikit syok namun dengan hati yang berbunga-bunga. Karena Dara belum pernah bertindak manis seperti ini sebelumnya. Mungkin karena hubungan mereka sudah terjalin cukup lama, jadi Dara sudah berani bersikap terang-terangan tanpa ada rasa malu lagi.


Sekitar satu menit Dara mempertahankan posisi seperti itu. Dan saat Dara hendak mengangkat kepalanya kembali karena ingin berbicara. "Eh tapi-"


Ucapannya tiba-tiba terpotong karena tangan Abhay langsung menahan kepalanya seakan Abhay tak mau ia melepaskan sandaran itu.


"Kak, kenapa pala gue diteken?" tanya Dara.


"Lo tadi mau ngomong apa?" tanya Abhay karena ingat telah memotong pembicaraannya Dara.


Dara mengingat kembali perkataannya yang tadi sempat terjeda. Namun karena perlakuan Abhay, kata-kata yang ada di otaknya seketika lenyap entah kemana. "Ngomong apa yah? Gue jadi lupa," kata Dara.


"Ya udah gak papa. Yang penting kepala lo tetep begini," pinta Abhay.


Dara pun menurut. Lalu mereka sama-sama termenung dengan pikiran yang sama. Satu kata yang ada di otak mereka. Menyenangkan. Dimana hanya ada mereka berdua, dan dengan suasana yang begitu indah pula.


"Itu temen lo kayanya langsung akrab sama temen-temen gesrek gue," ujar Abhay saat tak sengaja melihat Ruby yang sedang asyik bermain jetski.


"Kak. Sebenernya Ruby itu anaknya friendly banget. Dia sebenarnya gampang akrab sama orang. Apa lagi yang diajak kenalannya orangnya asik. Jadi cepet banget akrabnya," jelas Dara memuji temannya.


"Beda banget sama waktu pertama kali ketemu gue. Tegang banget kaya lagi sidang," timpal Abhay.


"Ya Kakak pikir aja. Image bad boy Kakak udah begitu melekat pada diri Kakak. Jadi temen gue udah takut duluan."


"Tapi elo kok enggak?"


"Karena-"


"Karena gue itu manusia, bukan iblis," sergap Abhay tiba-tiba.


Dara terkekeh mendengar sergapan Abhay. Baru saja ia akan mengatakan itu, namun Abhay sudah mengetahuinya lebih dulu. "Kakak masih inget?"


"Akan selalu inget," tegas Abhay. Karena secara tak langsung kalimat itu sudah menjadi kalimat legend dari Dara dan pastinya akan sulit untuk dilupakan.


"Kalo diinget-inget lagi, apa yang gue lakuin waktu pertama kali ketemu Kakak, gue sadar sih kalo gue aneh banget. Berdiri di tengah jalan trus ngehadang Kakak. Udah gila sih gue." Dara kembali terkekeh kecil dengan penjelasannya sendiri. Masa lalunya dengan Abhay memang nampak begitu lucu saat ia mengingatnya lagi.


"Tapi tingkah gila lo udah bikin gue tergila-gila juga. Karena itulah yang ngebedain lo dari gadis-gadis di luar sana," balas Abhay.


Lagi-lagi Abhay melontarkan kata-kata manisnya. Untuk kedua kalinya pipi Dara kembali bersemu merah. Di saat seperti ini ia selalu meragukan jika Abhay belum pernah berpacaran. Karena dari tingkah manis Abhay, itu terlihat seperti orang yang sudah berpengalaman.


Abhay membuang nafas panjang. "Rasanya pengen ngeberentiin waktu kalo udah kaya gini. Gue gak rela kalo tiba-tiba ada yang gangguin kita lagi," tutur Abhay.


Tak lama setelah mengatakan hal itu, dari kejauhan Dara melihat pemandang yang tak biasa. Di mana ia melihat gulungan ombak yang begitu besar. Gulungan ombak itu sudah seperti tsunami kecil yang siap menghantam mereka.


"Tapi Kak. Itu kok ombaknya kaya gede banget yah. Sampe ke sini gak yah?" tanya Dara.


"Gak akan," jawab abhay sangat yakin.


"Ah masa sih. Keliatannya gede banget gitu."


"Perasaan aja. Gak akan nyampe ke sini."


Dara berusaha menyakinkan otaknya untuk membenarkan ucapan Abhay. Namun di saat ombak itu semakin dekat dengan mereka, Dara kembali meragukannya lagi. Dara sangat yakin gulungan ombak itu beda dari biasanya.


Saat ombak itu semakin dekat, semakin dekat lagi, dan Dara kembali yakin dengan dugaannya. Karena benar saja, saat sudah dekat dengan mereka, ukuran ombak itu masih terlihat begitu besar.


Dara pun membangkitkan kepalanya. "Mampus, Kak!! Beneran mau ke sini!" pekik Dara panik.


"Lah kok iya?" Abhay pun bingung tak menduga bahwa tebakannya ternyata salah.


"Lari, Kak!!"