
Sebuah motor ninja berhasil mendarat mulus di area parkiran sekolah. Kedua sejoli itu pun segera turun dari motor itu untuk segera berjalan menuju kelas mereka masing-masing.
Mereka berjalan beriringan. Sontak hal itu berhasil membuat beberapa pasang mata turut bertanya-tanya mengenai keseriusan hubungan mereka. Tentu saja saat melihat pemandangan ini, orang-orang akan semakin yakin bahwa rumor yang beredar beberapa hari yang lalu memang benar adanya.
Namun bukan Dara dan Abhay jika mereka mempedulikan tatapan-tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya. Mereka masih bisa berjalan tenang sampai mereka tiba di area dalam sekolah.
"Lo kenapa sih tadi. Takut gue jemput?" tanya Abhay pada Dara.
"Bukan takut, tapi trauma. Orang Kakak pernah nipu gue dua kali," jawab Dara tanpa memberhentikan langkahnya. Begitu pula dengan Abhay.
"Lo curigaan banget sih sama gue," ujar Abhay.
"Makanya. Orang kalo udah pernah ditipu apalagi sampe dua kali, pasti susah buat percaya lagi," jelas Dara yang membuat Abhay tersenyum kecut mendengarnya.
Lalu saat mereka berjalan melewati koridor sekolah, Dara sekilas melirik ke arah jendela kelas. Ia langsung mendapati orang-orang yang sedang mengintip-intip di balik jendela.
"Kenapa orang-orang pada kaya cicak gini," ujar Dara.
Abhay pun seraya melihat apa yang Dara lihat, lalu ia pun tersenyum miring, "Sekarang lo dah liat kan, kekuatan pesona gue itu gimana."
"Pesona," gumam Dara sambil tersenyum remeh.
"Sekarang gue mau nanya," ucap Dara tiba-tiba.
"Apa?"
"Kenapa Kakak pinter banget buat image bagus di depan keluarga gue?" tanya Dara.
"Gue mah gak dibuat-buat. Emang gue ganteng, gimana?" timpal Abhay kepedean.
Dara memutar bola matanya malas saat mendengar Abhay yang kembali memuji dirinya sendiri.
"Trus kenapa juga Kakak pake ngaku pacar gue di depan bunda gue?" tanya Dara lagi.
"Mau bilang apa enggak, nanti juga bakal tau. Lo pikir abang lo gak bakal ngasih tau?"
Dara terdiam, seperti membenarkan apa yang Abhay katakan. Mengingat, bagaimana mulut Andra yang sangat ember. Jadi mustahil sekali jika Andra tak melaporkan hal seperti ini kepada sang pemilik rumah.
"Tapi yah. Gue pikir ibu lo bakal marah waktu tau lo punya pacar. Eh... Dia malah kesenangan sama gue," ucap Abhay.
Memang, kejadian tadi Abhay sempat tak menduga melihat respon ibunya Dara terhadap dirinya. Dia kira ibunya Dara akan bertanya yang tidak-tidak seperti ibu-ibu rempong pada umumnya, namun ternyata ibunya Dara sangat welcome terhadapnya.
"Soalnya bunda gue kepengen banget gue punya pacar. Katanya, biar gue layaknya manusia yang pada punya pacar," jelas Dara menjawab kebingungan Abhay.
Namun Abhay dibuat heran lagi oleh pernyataan Dara. "Emang selama ini lo belum pernah punya pacar?"
"Belum," jawab Dara singkat.
"Gak laku?"
Dara berdecak mendengar ucapan Abhay yang secara tak langsung telah merendahkannya.
"Gak laku? Sorry yah. Lebih tepatnya gue gak tertarik. Yang ngantri mah banyak," ucap Dara tak kalah pedenya.
Abhay kembali menarik kedua sudut bibirnya melihat kepercayaan dirinya Dara. Lalu ia pun berkata, "tapi lo tertarik pacaran sama gue," ucap Abhay.
Dara pun memberhentikan langkahnya setelah apa yang baru saja ia dengar. "Emang kita pacaran?" tanyanya.
Abhay terdiam saat Dara bertanya seperti itu. Entah kenapa ada suatu perasaan aneh saat Dara mengatakan hal itu. Padahal yang dikatakan Dara tidak salah. Toh kenyataanya mereka tak berpacaran sebagaimana semestinya.
"Bentar. Kelas 12 kan di sana. Kenapa Kakak ikut-ikut ke sini?" tanya Dara setelah tersadar bahwa Abhay masih mengikutinya di saat kelas mereka yang berbeda arah.
"Ha?" Abhay masih belum sadar sepenuhnya. Ia pun menengok ke kanan dan ke kiri seperti orang linglung.
"Oh iya. Lo sih ngajak ngomong terus!" seru Abhay menyalahkan Dara.
"Dih. Sendirinya yang ngajak ngomong duluan, kok nyalahin gue!" timpal Dara tak terima.
"Dah ah gue pergi," ujar Abhay. Lalu ia membalikan badannya dan berjalan menjauh dari Dara dengan raut wajah yang tak bisa terbaca.
Dara pun kembali melanjutkan langkahnya tuk pergi menuju kelasnya.
...****************...
Baru saja Dara melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas, ia langsung disambut oleh tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya. Ia pun sempat bingung. Memangnya apa yang sudah ia perbuat hingga ia ditatap seperti itu.
Tak lama semua kebingungannya terpecahkan saat Ruby tiba-tiba memanggilnya.
"Dara!" panggil Ruby saat Dara mendekati bangkunya.
"Ada apa?" tanya Dara setelah ia duduk di kursinya.
Ruby langsung memperlihatkan gadgetnya kepada Dara. "Nih liat!" serunya.
Setelah melihatnya, Dara refleks membulatkan matanya saat mengetahui ada foto dirinya masuk di akun lambe sekolah. Dan lebih terkejutnya lagi, foto itu menampilkan dirinya tengah bersama dengan Abhay saat berada di parkiran tadi.
"Kok ada gue di sini?" tanya Dara heran.
"Justru gue yang harusnya nanya itu ke lo," ucap Ruby. "Lo tadi berangkat sama Kak Abhay?" tanyanya.
"Iya," jawab Dara singkat.
"Kok bisa?" tanya Ruby lagi. "Wah... Kayanya rumor itu kayanya bener yah?" tebak Ruby.
Dara menghembuskan nafas berat. Lagi-lagi Ruby bertanya seperti itu. Apakah harus menunggu mulutnya berbusa dulu sampai Ruby bisa percaya?
"Ini semua gara-gara wasiat Bang Andra," ungkap Dara membuat Ruby bingung.
"Wasiat Kak Andra? Kok wasiat?" tanya Ruby terheran-heran.
Dara pun tersadar, ia lupa bahwa ia belum menceritakan kejadian kemarin kepada Ruby. Dan Dara pun sudah bisa menebak bagaimana respon Ruby nantinya. Jadi untuk berjaga-jaga, ia akan membuat perjanjian dulu kepada Ruby.
"Janji jangan kaget yah," pinta Dara pada Ruby.
"Apa sih, Ra? Lo jangan bikin gue penasaran deh," geram Ruby mengetahui Dara yang terlalu bertele-tele.
"Ayang lo kecelakaan," ungkap Dara.
"Ayang? Ayang siapa sih?" tanya Ruby tak mengerti.
"Lo punya berapa ayang sih?" tanya Dara.
"Ya banyak. Ada ayang Song Jong Ki, trus ada ayang And-" ucapan Ruby menggantung. Karena ia baru saja menangkap pemikiran negatif dari otaknya.
"KAK ANDRA KECELAKAAN!" teriak Ruby menggelegar hingga membuat orang-orang di sana turut melihatnya.
"Tuh, kan. Kata gue juga apa," ucap Dara pasrah.
"Tapi seriusan Kak Andra kecelakaan?!" tanya Ruby lagi dengan suara sedikit dipelankan.
"Iya, Ruby."
"Kok bisa?! Kecelakaannya dimana?! Kapan?! Apa yang sakit?! Gak parah, kan?! Baik-baik aja, kan?! Sekarang Kak Andra dimana?! Di rumah sakit apa di rumah?! " tanya Ruby beruntun.
"Tanyanya satu-satu bisa gak?" pinta Dara karena ia bingung harus menjawab yang mana dahulu karena Ruby telah memberikannya soal bercabang.
"Gak bisa, Ra! Lo harus jawab semuanya!" tegas Ruby karena ia terlalu penasaran.
Dara mengembuskan nafas pasrah. Dia jadi menyesali dirinya yang sudah memberitahu berita ini kepada Ruby. Namun jika tidak diberi tahu sekarang, Ruby pasti akan merajuk padanya. Memang serba salah jadi Dara.
"Jadi kejadiannya kemaren pas dia mau jemput gue. Dia ditabrak dari belakang sama mobil. Kecelakaannya dimana gue gak tahu. Trus sekarang dia masih di rumah sakit. Gak ada cedera serius. Hanya saja sementara waktu dia belum bisa jalan karena pergelangan kakinya ada yang patah. Paham?" jelas Dara sedetail mungkin.
Ruby menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ya Allah Song Jong Ki lokal gue kasihan banget," ucap Ruby pilu.
"Trus wasiat itu apa?" tanya Ruby lagi. Karena sebelumnya Dara sudah menyinggung tentang wasiat.
"Ya karena abang gue gak bisa jalan, jadi gak bisa nganterin gue ke sekolah dong. Jadi Bang Andra nyuruh Kak Abhay buat nganter jemput gue ke sekolah," jelas Dara.
"Sampe kapan? Sampe Bang Andra sembuh?"
Dara mengangkat bahunya. "Gak tahu."
"Tapi Kak Abhay nya mau?"
"Ya buktinya tadi pagi," ucap Dara.
Ruby menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. Mendengar penjelasan Dara, ia telah menduga ada yang tidak beres dari hubungan Dara dan Abhay.
"Wah... Lo tau gak sih itu tandanya apa?" tanya Ruby.
"Apa?" timpal Dara sedikit sewot.
Ruby pun sontak tersenyum jahil melihat Dara yang sepertinya berpura-pura tak mengerti.
"Gue yakinlah, lo gak sebego itu. Gak usah sok-sok gak tau deh," jelas Ruby masih mempertahankan senyum jahilnya.
"Orang gue gak tau," timpal Dara seraya membuang mukanya tak ingin menatap Ruby.
"Hm... Pura-pura saja kau ini," ucap Ruby sambil terkekeh kecil.
Dara tak menjawab. Karena menurutnya, semakin ia meladeni omongan Ruby, semakin lancar Ruby akan menggodanya. Dan Dara pun tak munafik, untuk tidak menyalahkan omongan Ruby. Karena sesungguhnya bukannya Dara tak tahu, lebih tepatnya Dara tak ingin membenarkan pemikiran yang terbesit di otaknya.