
"Andra! Andra! Apa susahnya sih dateng tepat waktu!"
Sudah 25 menit Dara menunggu kakaknya menjemput. Namun selama itu pula ia hanya terduduk di kursi halte dengan suasana yang begitu membosankan. Ia begitu yakin kakaknya akan datang, karena sebelumnya ia telah menghubungi Andra, dan Andra pun sudah bilang jika dirinya akan berangkat. Namun nyatanya, hingga kini batang hidung Andra belum kelihatan juga. Hal itu tentu membuat Dara berang.
"Harus pake cara apa lagi coba gue, biar elo mau dengerin gue!" kesal Dara.
Ia pun memutuskan untuk kembali menghubungi Andra.
Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi-
Dara berdecak kesal setelah apa yang baru saja ia dengar. Ia pun menutup teleponnya dengan kasar. Lalu ia melihat waktu di gadgetnya dan jam sudah menunjukkan pukul 15.28. Itu artinya, ia sudah menunggu Andra selama hampir setengah jam.
Dara tersenyum miris. "Wah parah sih ini. Mau setengah jam gue ada di sini," gerutu Dara.
Saat suasana hati Dara sedang resah. Ada orang tak diundang tiba-tiba datang untuk menambah kekacauan pikiran Dara.
tint tint tint tint tint tint tint tint tint tint.
Jika orang lain melakukan spam chat, namun Abhay berbeda. Ia melakukan spam klakson.
Dara pun melihat Abhay dengan mata malasnya, lalu berdecak kesal.
"Kak, udah deh. Jangan bikin gue tambah kesel," ujar Dara tak bertenaga. Karena ia sudah tak punya energi untuk meluapkan amarahnya.
"Kesel kenapa lo?" kata Abhay. "Oh ya. Lo masih di sini, artinya abang lo belum dateng yah?"
Dara diam saja, sangat tak berminat untuk meladeni omongan Abhay. Apalagi saat ia mengingat kembali apa yang Abhay katakan pada saat jam istirahat tadi.
"Yeh malah diem," ucap Abhay saat melihat Dara yang diam saja.
"Gue kan barang, mana bisa diajak ngomong!" kesal Dara.
"Lah itu ngomong," timpal Abhay.
Dara kembali bungkam, lalu memutar bola matanya kesal. Dan Abhay. Ia menarik kedua sudut bibirnya. Selalu dibuat senang jika melihat Dara yang sudah kesal padanya.
"Udah ayok gue anterin pulang." Abhay tiba-tiba menawarkan tumpangan.
Awalnya Dara diam saja tak menghiraukan ajakan Abahy. Namun tak lama ia mencurigai satu hal saat Abhay menawarkan diri.
"Jangan-jangan abang gue nelpon Kakak buat nganterin gue?" tebak Dara.
"Enggak, dia gak nelpon gue," kata Abhay.
"Trus kemana dong?" guman Dara pelan.
"Udah lah. Buat jaga-jaga lo ikut gue. Nanti kalo abang lo ke sini, pasti juga dia nelpon lo." Abhay memberi saran.
Dara pun berpikir. Apa dia terima saja tawarannya? Karena setelah dipikir-pikir, saran yang Abhay katakan memang sangat efisien.
Setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk menerima tawaran Abhay. Namun saat ia hendak berdiri, tiba-tiba saku seragamya bergetar.
Dara sempat berharap yang menelponnya adalah kakaknya. Namun ternyata bukan. Ibunya yang malah menelpon.
Dara pun mengangkat panggilan itu.
"Halo Bun. Ada apa?" tanya Dara.
"Sayang, tolong kamu sekarang ke rumah sakit yah," ucap ibunya Dara. Ibu Iis. Dengan suara yang bergetar.
Mendengar suara ibunya yang bergetar, tentu Dara curiga ada sesuatu yang terjadi.
"Emang ada apa, Bun? Kok suara Bunda kaya yang cemas gitu," ucap Dara yang ikut-ikut cemas.
"Kakak kamu kecelakaan Dara."
"APA! KECELAKAAN?!"
Dara terkejut bukan main. Pantas saja kakaknya tak kunjung datang. Ternyata kakaknya sedang mengalami kecelakaan.
"Iyah, Sayang. Tadi dari pihak rumah sakit nelpon Bunda, katanya Kakak kamu kecelakaan," ungkap ibu Dara.
"Tapi kok bisa, Bun?!"
"Kayanya kejadiannya pas dia mau jemput kamu... katanya kakak kamu ditabrak dari belakang sama mobil."
Hati Dara seketika ikut bergetar saat mendengar penjelasan dari ibunya. Tak sadar, pelupuk matanya pun sudah dipenuhi oleh butiran kristal bening yang siap diluncurkan.
"Ya udah ya, Sayang. Sekarang kamu temuin kakak kamu dulu yah. Bunda sama ayah juga sekarang lagi siap-siap mau pulang."
"Ya Bunda. Tapi rumah sakitnya dimana?" tanya Dara kini dengan suara yang sudah bergetar.
"Rumah sakit tempat ayah kamu bekerja."
"Ya udah, Bun. Aku sekarang ke sana," ujar Dara, lalu ia pun menutup teleponnya.
"Ada apa?" tanya Abhay penasaran. Karena saat Dara menelpon, ia juga ikut menyimak.
"Bang Andra kecelakaan," jawab Dara.
"Apa!"
Abhay tak bisa berbohong bahwa dirinya benar-benar terkejut. Mengingat ia sudah cukup mengenali Andra.
"Ya udah. Ayo gue anter ke sana," tawar Abhay. Ia pun bergegas memakai helmnya.
Dan Dara. Ia tak ada alasan lagi untuk menimbang-nimbang tawaran Abhay lagi. Karena yang ada di pikirannya kini hanya keselamatan kakaknya.
"Thanks ya, Kak."
...****************...
"Maaf, Sus. Pasien atas nama Andra Leondra dimana yah, Sus?" tanya Dara dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Oh pasien yang baru saja mengalami kecelakaan?"
"Iyah, Sus!" seru Dara cepat.
"Dia sekarang masih di IGD."
"Makasih yah, Sus."
Setelah berterimakasih, Dara kembali berlari menuju IGD dengan tergesa-gesa. Setelah sampai, dari luar ruangan Dara langsung mendapati kakaknya yang tengah ditangani oleh dokter. Hati Dara goyah saat melihat tubuh Andra yang sedang terpuruk di atas ranjang. Tanpa sadar, air mata Dara pun sudah menetes di permukaan pipinya.
Bang, lo kenapa jadi kaya gini sih! batin Dara meringis.
Karena tak tenang, Dara berjalan ke sana kemari tanpa arah tujuan yang jelas. Ia sangat cemas. Pikirnya sudah sangat kacau. Segala pikiran buruk berbondong-bondong mengerumuni otaknya.
Abhay yang sedari tadi membuntuti Dara, ikut tidak tenang melihat Dara yang terus mondar-mandir tak karuan. Karena tak tahan, ia pun berniat menenangkan Dara.
"Udah tenang aja. Abang lo lagi ditangani sama dokter. Dia pasti baik-baik aja," ucap Abhay mencoba menenangkan Dara.
"Gimana gue bisa tenang. Abang gue lagi gak sadarkan diri di sana!" balas Dara ngegas.
"Ya tapi dengan lo mondar-mandir kaya gini gak akan bantu abang lo buat sadar juga!" Abhay ikut meninggikan suaranya.
"Mendingan lo sekarang duduk, berdoa supaya abang lo baik-baik aja. Itu cara terbaik yang bisa lo lakuin sekarang." Abhay menasehati Dara.
Perkataan Abhay berhasil meluluhkan hati Dara, terbukti dengan Dara yang langsung bungkam dan duduk di kursi yang telah disediakan khusus untuk keluarga pasien IGD. Seperti yang Abhay katakan, ia pun langsung berdoa dengan mata terpejam. Dan di sepanjang doanya, air mata pun kembali membanjiri pipinya.
Abhay yang duduk di samping Dara, turut terenyuh melihat Dara yang tengah berdoa. Seketika hati Abhay pun ikut bergetar saat melihat cairan bening itu terus mengalir di pipi Dara. Dan entah mengapa, saat ia melihatnya, ada sebuah keinginan untuk menghampus air mata itu. Namun ia sadar, ia tak punya hak tuk melakukannya.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Andra keluar dari ruang IGD. Dara pun dengan sigap langsung menghampiri dokter itu.
"Dok, Dok! Gimana keadaan kakak saya, Dok?" tanya Dara cemas.
"Kamu walinya?"
"Iya, Dok. Saya adiknya."
"Oh begitu," ucap dokter itu. "Jadi kakak kamu mengalami patah tulang di pergelangan kaki sebelah kanannya. Tidak terlalu parah, hanya patah tulang ringan. Namun tetap, walau begitu kakak kamu harus diberi pengobatan yang maksimal. Dan saja juga tadi sudah memasang gips di kakinya untuk membantu memperbaiki struktur tulang yang patah itu," jelas dokter itu.
"Lalu kapan kakak saya sadar, Dok?" tanya Dara lagi.
"Sebentar lagi juga sadar. Dia hanya mengalami syok saja."
"Lalu bagaimana dengan bagian tubuh lainnya, Dok? Apa baik-baik saja?"
"Baik-baik saja. Untungnya kakak kamu pada saat kejadian memakai helm, jadi aman. Begitupun anggota tubuh lainnya," ungkap Pak Dokter.
Mendengarnya, Dara langsung membuang nafas lega. "Oh, begitu yah Dokter."
"Iyah. Setelah ini juga dia akan langsung dibawa ke ruang inap."
"Ya, Dok. Terima kasih banyak Pak Dokter."
"Iya, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter itu.
"Iya, Dok," ucap Dara sambil menggangguk.
Setelah mendengar kabar baik itu, Dara langsung mengucapkan syukur. Dan dia pun tak munafik untuk membenarkan apa yang sudah dikatakan Abhay. Kecemasan berlebihan tak akan membantu apa-apa. Karena sesungguhnya apa yang terjadi di alam ini semuanya atas kehendak sang pemilik alam. Jadi sebagai manusia, yang bisa dilakukan hanyalah bertawakal.
...****************...
Sesuai yang dikatakan dokter tadi. Andra langsung bisa dibawa ke ruang inap dengan keadaan yang belum tersadar. Dan kini Dara duduk di samping ranjang kakaknya menunggu kakaknya siuman.
Sudah hampir 1 jam Dara dengan setia menemani Andra. Walau di hari biasa Dara selalu durhaka kepada kakaknya, namun saat melihat kondisi Andra yang lemah seperti ini, Dara pun pasti menunjukkan rasa kasih sayangnya. Karena bagaimanapun Andra adalah kakaknya.
Kini bukan hanya ada Dara di sana. Abhay pun masih dengan setia menunggu di sana. Tentu hal itu membuat Dara bertanya-tanya.
"Kenapa belum pulang?" tanya Dara pada Abhay yang tengah duduk di sofa.
"Gue males pulang aja, gak papa kan gue di sini?" Abhay balik bertanya.
"Terserah," jawab Dara dengan suara paraunya.
"Udah jangan sedih terus. Bentar lagi abang lo juga bangun," ucap Abhay pada Dara setelah melihat Dara yang terus melamun.
"Lo gak jenuh apa di sini terus?" tanya Abhay tiba-tiba. Karena ia sudah merasa jenuh berada di ruangan yang sunyi senyap itu.
"Trus gue harus kemana?"
Abhay merenung untuk sesaat. Sebenarnya ada satu bagian di rumah sakit ini yang sering ia datangi. Dan tempat itu sangat jarang didatangi orang. Tentu tempat itu sangat cocok bagi orang yang ingin menenangkan pikirannya. Apa dia harus membawa Dara ke sana?
"Mau gue tunjukkin satu tempat?" tawar Abhay.
"Mau kemana, Kak? Abang gue di sini masa gue pergi," tanya Dara terheran-heran.
"Masih di rumah sakit ini, kok."
"Trus kalo abang gue bangun?"
"Nanti minta suster buat ngehubungi elo."
Dara berpikir dahulu sebelum menerima ajakan Abhay. Sebenarnya kini pikirannya sedang sumpek. Dan dengan melihat Andra yang terus terpejam tanpa ada niatan tuk membuka mata, membuat Dara selalu gundah melihatnya. Apa ia terima saja ajakannya?
"Mau gak nih?" tawar Abhay lagi.
Dara menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. "Boleh, deh."
Mereka pun berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu. Entah kemana Abhay akan membawanya, Dara hanya bisa mengikutinya dari belakang.