Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
89. Titik terang menyakitkan



"Kok lo tau?" tanya Andra penuh tanda tanya.


Bahkan tanda tanya itu terlihat begitu besar. Perkataan Abhay sungguh terdengar mustahil. Bagaimana bisa Abhay mengetahui rahasia besar itu? Bahkan Abhay bisa mengetahui hal dengan sangat detail. Plat nomer beserta nama temannya, bagaimana Abhay bisa mengetahui itu?


Inilah sebuah hari dimana ketegangan terjadi. Ketegangan yang semakin menjadi mengakibatkan suhu ruangan terasa begitu panas. Semilir AC yang menyelimuti ruang tamu itu seakan tak terasa sama sekali.


Mereka hanya saling menatap dengan sorot mata yang tak bisa terbaca. Walau saling menatap, Abhay sama sekali tak mau membuka suaranya. Bahkan menjawab pertanyaan Andra saja ia tak mampu. Otak, jiwa dan batinnya sudah begitu bergemuruh. Nafasnya pun sudah terdengar memburu. Pikirannya kacau. Ia bingung harus merespon bagaimana.


Kakak dari kekasihnya ternyata adalah orang yang sudah menyebabkan ibunya meninggal. Apakah itu mungkin?


"Abhay? Lo tau dari mana?!" ulang Andra dengan suara mulai mengeras.


Kini Abhay berada diambang kebingungan. Haruskah ia menghabisi pembunuh ibunya sekarang? Bukankah itu niat awal dia? Lalu bagaimana dengan kenyataannya? Kenyataannya bahwa pelakunya adalah kakak dari orang yang paling ia cintai. Apakah ia mampu melakukannya?


Abhay pun mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat. Mengapa sangat sulit baginya hanya untuk menghajar Andra? Padahal dalam soal seperti ini Abhay sudah sangat hafal. Ia bisa dengan mudahnya menghajar Andra habis-habisan. Namun mengapa lengannya terasa berat hanya untuk sekedar mengangkat?


"Sorry gue harus pergi." Ternyata Abhay memilih beranjak pergi dari sana. Ia tak mampu melakukannya. Ia sudah lemah. Nyalinya tak cukup kuat untuk mengambil keputusan. Dan pergi adalah tindakan yang bisa ia lakukan saat ini.


"Bhay! Abhay!" teriak Andra mencoba memberhentikan langkah Abhay. Namun sayang, Abhay tak mau menghiraukan panggilannya.


Saat Abhay sudah benar-benar pergi, Andra termenung dalam pikirannya. "Abhay. Kenapa dia-"


Andra tak mampu berkata-kata lagi. Ia kembali merangkai rentetan kejadian yang baru saja terjadi. "Gak mungkin! Gak mungkin dia anaknya, kan?" tanya Andra entah kepada siapa.


Andra terus meyakinkan dirinya bahwa semuanya tak benar-bener terjadi. Ia masih yakin bahwa semua kejadian yang menimpa dirinya tak ada sangkut-pautnya dengan Abhay. Ia masih yakin dengan hal itu!


Namun sekali lagi. Plat nomer dan nama temannya yang sudah Abhay sebutkan, apakah semuanya bisa dikatakan kebetulan semata? Apakah itu mungkin?


Tak lama saat Andra tengah bergelut dengan pikirannya, Dara datang dengan sebuah nampan berisikan minuman. Sesuai niat awalnya tadi, ia hendak berganti baju dan akan memberikan segelas minuman kepada Abhay.


Saat Dara sudah tiba di ruang tamu, ia tak melihat sosok Abhay di sana. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan lelaki itu. Namun anehnya, tak ada Abhay di sana, bahkan bayangannya pun tak terlihat. Lalu ia melihat ka arah Kakaknya yang masih ada di sana. Ia berniat menanyakan hal itu pada Kakaknya.


"Kak Abhay kemana, Bang? Dia udah pulang?" tanya Dara.


Seperti tak merasa ditanya, Andra malah diam saja. Ia berdiri dengan tatapannya yang kosong. Kesadarannya masih belum terkumpul sepenuhnya. Bahkan ia sudah seperti orang gila yang terus saja mengucapkan kalimat yang sama. "Gak mungkin. Gak mungkin. Gak mungkin." Itulah yang ia gumamkan dan hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri.


"Bang! Gue tanya jawab dong!" seru Dara kali ini cukup keras. Ia jadi kesal sendiri karena Kakaknya malah mengacuhkan dirinya dan komat-kamit tak jelas.


"Bang! Jaw-"


"GAK MUNGKIN!!" Kali ini Andra mengucapkan kalimat itu dengan suara yang sangat menggelegar.


Andra benar-benar seperti orang yang sudah kehilangan akal. Ia juga menendangi sofa yang ada di dekatnya beberapa kali. Setelah puas ia mendudukkan dirinya di atas sofa dan mengacak rambutnya frustasi. Ia percis seperti orang depresi.


Melihat tingkah aneh Kakaknya, Dara jadi bingung sendiri. Ia pun meletakkan nampan minumannya di atas meja. Lalu ia mendudukkan dirinya di samping Andra. "Heh. Lo kenapa sih, Bang?! Lo kaya orang yang lagi kerasukan setan!"


Lagi-lagi Andra tak menghiraukan Dara. Lelaki itu malah terus mengacak-acak rambutnya dan mengusap-usap wajahnya kasar. Memang kini tak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya selain pikirannya sendiri.


"BANG!!" teriak Dara. Ia sudah jemu saat Andra terus saja mengacuhkan dirinya.


Di saat Dara berteriak, di saat itu pula Andra menghentikan pikirannya. Dengan wajah yang sudah sangat kacau, Andra kini mengalihkan perhatiannya pada Dara. "Gue mau tanya sama elo. Siapa ayahnya Abhay?" tanya Andra tanpa berbasa-basi.


"Pak Arief. Emang kenap-"


"OH ****!!!"


Andra semakin merutuki dirinya sendiri. Semuanya semakin terasa jelas. Ia sangat ingat bahwa nama Arief lah yang pernah terlibat dalam hidupnya. Pak Arief adalah suami dari wanita yang pernah ia tabrak. Dan secara otomatis, Pak Arief adalah ayah dari Abhay juga. Jika sudah begini, apakah ini masih bisa disebut dengan kebetulan juga? Ini sudah sangat jelas!


Andra kembali membangkitkan tubuhnya. Ia mondar-mandir tak jelas sambil terus mengacak-ngacak rambutnya.


"Lo kenapa sih, Bang?! Lo jangan bikin gue bingung dong!" seru Dara. Hanya dengan melihat Kakaknya yang frustasi, sudah cukup membuatnya menjadi frustasi juga. Dara sudah muak.


"Bang! Lo mau kemana?!"


"Bang!!"


Ini juga yang membuat Dara semakin geram. Bukannya menjawab kebingungannya, Kakaknya malah berlalu pergi begitu saja keluar rumah.


Sebenernya apa yang sudah terjadi di antara mereka? Kejadian apa yang sudah ia lewatkan saat dirinya pergi? Apakah itu sangat penting? Dara sebenernya ingin tahu kebenaran itu. Namun untuk saat ini, tak ada seorang pun yang bisa menjawab rasa penasarannya. Karena baik Andra maupun Abhay, semuanya sudah pergi.


...****************...


Di sepanjang perjalanan, kini ada seseorang yang tengah kesetanan. Bersama motor yang Abhay tunggangi, ia meliuk-liuk mengiris jalanan, menyalip-nyalip setiap kendaraan yang ada di depannya. Tak peduli dengan suara klakson yang terus menegur dirinya, tak peduli jika itu akan membahayakan nyawanya, ia terus saja menarik pedal gas motornya dengan kecepatan maksimal.


Andra pembunuhnya.


Andra orang yang gue cari-cari selama ini.


Dari banyaknya orang kenapa harus dia!!


Abhay semakin menarik pedal gasnya. Sebenernya ada satu tujuan yang harus ia datangi. Walaupun semuanya sudah nampak jelas, namun Abhay akan tetap mencari kebenaran pastinya. Kebenaran yang mungkin saja akan merubah kenyataannya kini.


Dan tempat tujuan yang Abhay maksudkan ternyata rumahnya sendiri. Saat sudah tiba di halaman rumahnya, Abhay memarkirkan motornya asal lalu ia berjalan menuju pintu utama rumahnya. Saat ia akan masuk ke dalam, ia membuka pintu utama itu dengan kasar hingga menimbulkan suara gebrakan pintu yang cukup keras.


Abhay berjalan lebih dalam lagi, ia mengedarkan kanan kiri pandangannya untuk mencari seseorang yang ingin ia interogasi.


"Udah pulang kamu?" tanya seseorang lebih dahulu.


Mendengar suara itu, Abhay menghentikan langkahnya. Ternyata orang yang ia cari sedang berada di dapur. Tanpa berpikir apa-apa lagi, Abhay bergegas menghampiri papahnya.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, dan emosi yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun, Andra menatap papahnya begitu mengintimidasi. "Penabrak Mamah. Apa namanya Andra?" tanya Abhay langsung.


Pak Arief mengerut dahinya tak mengerti. Ia seperti tak siap mendapatkan pertanyaan tak terduga-duga dari Abhay. "Kamu ngomong apa Abhay? Dateng-dateng langsung interogasi Papah."


"Jawab aja!! Apa Andra namanya?!" Abhay mulai mengeraskan suaranya. Ia sudah tak sabar, ia tak ingin mendengar jawaban apa-apa selain iya atau bukan.


Pak Arief pun mendesah berat sebelum beliau membuka suaranya. "Iya," jawab Pak Arief pendek namun terasa menyakitkan bagi Abhay.


Abhay pun tersenyum kecut, ia pun mengacak rambutnya kesal. Sudah tak ada lagi harapan. Semuanya sudah terlampau jelas. Andra memang pelakunya. Andra adalah orang yang sudah membuatnya harus kehilangan ibunya.


"Aishh!" Abhay pun meringis kesal. Ia semakin beringas. Ia melihat kursi makan yang ada di depannya. Dan...


Bugh!!


Bugh!!


Bugh!!


Satu persatu kursi yang terlihat pada mata Abhay berhasil Abhay tendangi.


"Abhay kamu kenapa?! Kenapa kamu ngamuk kaya gini?!" seru Pak Arief kesal sekaligus bingung. Tingkah putranya sudah sangat gila. Mengapa anaknya menjadi brutal seperti ini?


Kemudian, Abhay kembali melihat papahnya dengan sisa amarahnya. Ada satu pertanyaan lagi yang harus ia ketahui.


"Dan satu lagi. Saat itu anda pernah bilang sama saya kalo dia bisa lolos karena dia belum cukup umur untuk dihukum." Abhay semakin mendekatkan tubuhnya pada papahnya, lalu ia menatap papahnya begitu mengintimidasi.


"Tapi nyatanya, orang itu bilang, dia tidak dihukum karena anda membebaskan dia begitu aja. Dan dia bilang, anda memaafkan dia tanpa ada alasan jelas. Apa itu benar?" tanyanya percis seperti apa yang dikatakan Andra.


"Itu memang benar, tapi-"


Jawaban Pak Arief tergantung akibat dikejutkan oleh suara cekikikan dari Abhay. Lelaki itu tertawa miris. Lebih jelasnya Abhay menertawai dirinya sendiri. Ia berpikir bahwa dirinya bodoh karena sudah percaya pada omongan papahnya tentang bawah umur itu. Karena sebenarnya itu semua hanya sebuah omong kosong.


Saat puas menertawai dirinya sendiri, Abhay kembali memantapkan kedua netranya untuk melihat papahnya.


"Kenapa anda seperti itu? Kenapa anda memaafkan dia begitu aja? Apa anda sudah hilang akal?!!" tanya Abhay cukup emosi.


"Karena Papah pun punya alasan!" sahut Pak Arief tak kalah kerasnya.


"Jadi apa alasannya?!" sahut Abhay.


Setelahnya Pak Arief diam, sejenak ia berpikir tentang satu hal. Ia berpikir bahwa ini saatnya untuk mengakui semuanya. Lagi pula Abhay sudah terlanjur tahu, jadi ia berniat untuk memberi tahu fakta besar lainnya.


"Karena sebenarnya, apa yang diputuskan Papah saat itu bukan murni keinginan Papah sendiri! Papah juga sebenernya ingin memenjarakan dia! Papah ingin memberikan hukuman setimpal bagi anak itu! Tapi Papah tidak bisa. Karena ada seseorang yang meminta Papah untuk menghentikan niat Papah," jelas Pak Arief.


Penjelasan dari papahnya membuat Abhay memasang wajah bingungnya. Fakta apa lagi ini? Mengapa ada sosok pihak ketiga yang ikut mengacaukan mereka? Dan siapakah orang itu?


"Siapa orangnya? Apakah orang itu orang yang sangat penting sampai bisa mempengaruhi pikiran anda?" tanya Abhay cukup mendalam.


"Sangat penting," jawab Pak Arief tanpa ragu.


Pak Arief semakin melekatkan manik mata coklatnya pada manik mata milik Abhay. Beliau akan memberitahunya sekarang.


"Karena orang yang meminta permintaan itu... adalah mamah kamu sendiri."