Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
75. Keuwuan di balik musibah



"Lari, Kak!!"


Dengan gerak cepat mereka segera membangkitkan tubuh mereka dan berlari menjauhi terjangan ombak. Dan.


Byurrrr!


Benar saja, jika mereka tak segera berlari, mungkin mereka sudah tergulung bersama ombak. Lalu Dara pun membuang nafas lega, hampir saja nyawanya terancam. Tak lupa pula Dara mengucapakan syukur, karena mereka masih bisa melarikan diri dengan timing yang tepat.


"Nah kan. Insting cewek emang selalu bener. Kakak gak perca-"


Dara tak jadi mengomel, karena manik matanya dikejutkan oleh sesuatu yang sedang terombang-ambing di tengah lautan. "Sepatu gue!!" pekik Dara keras.


"Sepatu gue juga," timpal Abhay yang juga mengalami nasib yang sama.


"Gimana ini udah ke bawa ke tengah laut?" tanya Dara merasa sedih.


"Dah lah biarin, nanti beli lagi," jawab Abhay dengan santainya.


Namun tetap saja Dara tak rela jika sepatunya terbuang begitu saja. Karena masalahnya, Dara belum lama membeli sepatu itu dengan harga yang cukup lumayan dan ia juga baru memakainya hari ini. Kalo tahu akan begini, lebih baik ia pakai sendal jepit saja. Hilang pun tak jadi masalah.


"Udah nanti gue beliin. Gak usah sedih," ujar Abhay mencoba menghilangkan kesedihan Dara.


Dara mendesah berat. Walaupun sudah ditenangkan oleh Abhay, tapi tetap saja ia masih tak rela.


"Udah lah yuk, kita balik lagi ke sana," ajak Dara lemas.


"Udahan nih?"


"Di sini ngeri Kak, gak ada orang-orang lagi. Kalo ada apa-apa kaya tadi gimana? Gak akan ada yang tahu," jelas Dara.


"Ya tapi-"


"Udah ayo. Lagian kita udah cukup lama di sini."


Abhay tak menyanggahnya lagi karena Dara tiba-tiba melangkahkan kakinya pergi dari sana. Padahal bagi dia belum cukup lama, namun apa yang dikatakan Dara sebelumnya ada benarnya juga. Jadi ya sudahlah. Melihat Dara yang semakin menjauh, mau tak mau Abhay pun menyusul.


Saat Abhay baru saja menyamai langkahnya dengan Dara, tiba-tiba ia langsung dikejutkan oleh pekikan Dara.


"Aww!!"


"Kenapa?!" tanya Abhay panik.


"Kaki gue kaya nginjek sesuatu."


Spontan Abhay melihat kaki Dara. Ia segera berjongkok untuk mengeceknya. "Aish, ini udah berdarah," ucapnya.


"Masa sih?"


Dara pun turut melihat kakinya, dan memang telapak kakinya sudah mengeluarkan darah segar akibat tersayat oleh pecahan cangkang kerang.


Lantas Abhay melihat ke sana ke mari seperti sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang bisa menutupi luka di kaki Dara. Namun percuma, tak ada apa-apa di sana. Yang ia lihat hanya gundukkan tebing-tebing dan hamparan pohon kelapa. Bahkan orang pun tak ada.


Karena tak ada cara lain, pilihan Abhay jatuh pada baju yang ia pakai. Ia bermaksud menjadikan bajunya sebagai korban.


"Kak mau ngapain?!" tanya Dara heran saat Abhay baru memegang bajunya sendiri.


"Nyobek baju gue."


"Buat apa?"


"Nutupin luka lo lah. Ini kalo lama-lama dibiarin terbuka nantinya bakal infeksi. Trus juga kalo kena air laut pasti bakal perih," jelas Abhay.


"Tapi Kak. Sayang kalo dirob-"


Brewekk.


Tanpa meminta persetujuan Dara, Abhay dengan begitu mudah langsung merobek bajunya.


Dara pun membuang nafas kasar melihat kelakukan Abhay. "Kalo keras kepala emang susah," gumamnya.


Setelah merobek bajunya, Abhay menjadikan sobekan bajunya untuk dibalutkan kepada luka Dara. Dengan sangat hati-hati ia membuntal luka itu, sehati-hati mungkin agar Dara tak merasa kesakitan.


Kini bukan lagi sakit atau perih yang Dara rasakan, namun perlakuan ajaib Abhay yang membuatnya terpaku untuk ingin terus menatap Abhay begitu dalam.


Sampe segitunya Kak Abhay khawatir sama gue. Gue gak bisa bayangin, gimana kalo nanti terjadi suatu hal buruk dalam hubungan ini, gumam Dara dalam batinnya.


Abhay telah selesai membalut luka yang terbuka itu. Pendarahan pada kaki Dara kini sudah berhenti. "Udah yah. Mending sekarang kita gak usah main-main. Obatin dulu luka lo," ucapnya.


Kemudian Abhay membalikkan tubuhnya membelakangi Dara, namun dengan posisi yang masih berjongkok.


"Kakak lagi ngapain?" tanya Dara tak mengerti dengan maksud Abhay seperti itu.


"Ayo naik," perintah Abhay.


"Digendong maksudnya?"


"Ya iyah."


"Udah Kak gak papa. Gue masih bisa jalan kok. Lagian lukanya kecil ini."


"Gak mau tau. Udah cepetan naik," perintah Abhay tak mau tahu.


Dara masih berpikir untuk menuruti perintah Abhay. Apakah ia harus menurut? Namun jika iya, apakah tidak akan aneh? Lalu bagaimana jika ada orang yang melihat mereka? Apakah tidak akan malu?


"Ayo cepetan. Kaki gue pegel lama-lama," perintah Abhay lagi.


Semakin didesak, semakin sulit bagi Dara untuk berpikir lagi. Mengingat sikap Abhay yang selalu gigih terhadap sesuatu, tak ada cara lagi bagi Dara untuk bisa menolak. Dengan sedikit keraguan, Dara mendekatkan tubuhnya pada Abhay. Kemudian, Dara melingkarkan kedua tangannya pada leher Abhay dari belakang.


Saat Dara sudah menurut, Abhay pun membangkitkan tubuhnya sembari mengangkat tubuh Dara. Bagai mengangkat sehelai kapas, Abhay menggendong Dara tanpa beban. Dan itu lah yang membuat Dara sedikit terheran-heran.


"Kakak gak keberatan gendong gue?" tanya Dara.


"Berat. Tapi gue tahan," jawab Abhay.


"Apa?! Jadi gue berat?!" timpal Dara ngegas.


Abhay terkekeh kecil mendengar respon Dara. Sebenernya ia hanya bercanda saja. Baginya Dara sama sekali tak berat. Dia hanya ingin tahu saja. Kata orang, perempuan paling sensitif jika sudah membahas berat badan. Melihat Dara bereaksi seperti itu, Abhay jadi membenarkan omongan orang-orang.


Saat sudah berjalan setengah perjalanan, mereka memasuki area yang banyak dikunjungi orang-orang. Di situ Dara merasa malu, ia menenggelamkan wajahnya pada punggung Abhay.


"Kak malu tau," gumam Dara, namun dapat didengar oleh Abhay.


"Biarin aja. Ini kan lagi emergency," timpal Abhay santai. Ia sama sekali tak terganggu dengan tatapan orang-orang yang kini tengah melihat mereka aneh. Lagi pula apa yang aneh? Memangnya dia sedang romantis-romatisan dengan Dara? Niat awalnya kan hanya ingin membantu Dara yang sakit. Ya walaupun Abhay juga sadar, tindakan yang ia lakukan memang wajar untuk mengundang fitnahan. Namun tetap Abhay tak akan perduli.


Dari kejauhan, tiga orang yang sedari tadi sedang bersenang-senang kini telah kembali. Mereka segera menghampiri Abhay yang tengah menggendong Dara.


"Wuih romantis bener pake gendong-gendongan segala. Jiwa jomblo gue meronta-ronta!" seru Gilang.


"Siapa yang lagi romatis-romantisan? Lo gak liat kaki Dara?" balas Abhay sinis.


Pernyataan Abhay membuat mereka spontan melihat kaki Dara. Dan orang yang paling terkejut saat melihat kondisi Dara tentu saja Ruby. "Kaki lo kenapa Dara?!" tanyanya panik.


"Tadi nginjek pecahan cangkang kerang. Gak papa kok. Luka dikit doang," jawab Dara santai.


"Trus ini gimana kalo kaya gini?" tanya Ruby lagi.


"Ya udah kalian lanjut aja mainnya. Gue baik-baik aja kok. Gak usah khawatir, biasa aja."


"Udah kalian lanjut main aja sana," tambah Abhay.


"Beneran kita tinggal?" Kini Vano yang bersuara.


"Iyah. Udah sana," jawab Abhay.


"Ya udah guys. Karena mereka juga baik-baik aja, kita lanjut main lagi!" seru Gilang. Hidup dia memang simple. Dirasa keadaan baik-baik saja, tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Berbanding terbalik dengan mindset Ruby.


Sebenernya Ruby masih belum puas bermain-main di sana, namun ia juga tak tega jika membiarkan Dara dalam kondisi seperti itu. Di saat temannya kesakitan, masa iya dia malah bersenang-senang. "Gue nemenin lo aja deh," ujar Ruby.


"Kalo cuma nemenin gue juga bisa. Udah sana lo seneng-seneng aja sama mereka," perintah Abhay.


"Ya Ruby. Gak papa. Udah sana," tutur Dara terus meyakinkan Ruby bahwa ia memang baik-baik saja.


Ruby kembali termenung. Apa yang dikatakan Abhay memang benar. Menemani Dara saja tidak akan membuat kaki Dara sembuh. Jadi tak ada pengaruhnya.


Lalu Ruby membuang nafas kasar. "Ya udah kalo emang gitu, gue ke sana," ujar Ruby. Ia beserta kedua cowok itu kembali pergi untuk melanjutkan bersenang-senang di pantai itu.


Saat mereka sudah pergi, Abhay pun membawa Dara pergi ke mobil. Karena seingat dia, di dalam mobilnya terdapat kotak P3K, jadi ia akan segera mengobati luka Dara di sana.