
Apa yang dibisikkan Abhay berhasil menohok hati Rakha. Bagai api yang tersiram bensin, emosi Rakha tiba-tiba tersulut begitu dahsyatnya. Ia pun dengan kasarnya langsung mendorong Abhay ke depan, dan menghajar wajah Abhay habis-habisan hingga membuat wajah itu langsung mengeluarkan darah segar.
Dara yang melihat jelas bahwa Abhay sedang dihajar habis-habisan oleh Rakha, tanpa sadar mulutnya meneriaki nama Abhay dengan kerasnya.
"Kak Abhay!" Raut wajah Dara langsung memancarkan kekhawatiran. Ia sungguh tak tega melihat Abhay dibuat seperti itu.
Dengan sisa tenaganya, Abhay pun menahan Rakha dengan mendorong perut Rakha dengan kakinya. Saat Rakha yang sudah tersungkur, Abhay membalas balik pukulan itu dengan brutalnya. Tak lama Rakha pun kembali membalas pukulan Abhay. Dan pada akhirnya pertarungan itu berjalan dengan sangat tidak kondusif karena kedua petarung yang sama-sama nafsunya.
"Stop stop stop! Pertarungan dihentikan!" teriak Pak Firman. Beliau segera memisahkan Abhay dan Rakha yang masih saling adu jotos.
Namun sayangnya, mereka sulit untuk dipisahkan. Karena itu, dengan terpaksa Pak Firman mendorong keduanya dengan keras hingga membuat mereka jatuh terpental ke matras.
"Sudah cukup! Kenapa malah brutal gini. Hah!!" teriak Pak Firman dengan amarah yang cukup meluap-luap. Ia sungguh tak mengharapkan pertandingan akan berakhir seperti ini.
Dengan nafas yang tersengal-sengal dan darah yang muncul dari kedua wajah mereka, mereka saling menatap tajam. Nampak jelas dari kedua rautnya, keduanya sama-sama memancarkan aura kebencian.
"Sudah! Kalian semua bubar!" teriak Pak Firman.
Dan akhirnya, pertarungan yang digadang-gadang akan menarik, berakhir dengan kekacauan layaknya dua preman yang saling adu kekuatan dengan cara yang brutal dan kasar. Karena hal itu, pertarungan diputuskan tanpa adanya pemenang.
...****************...
Di bangku panjang dekat parkiran sekolah, kini Dara tengah mengobati Abhay yang terluka. Sebelumnya ia sudah membeli sebongkah es dan es tersebut dibalut dengan sapu tangannya untuk ditempelkan pada luka Abhay yang sudah memar. Untung suasananya sudah sepi, jadi Dara dengan leluasanya bisa mengobati Abhay tanpa ada rasa malu.
"Aw aw aw. Sakit," ringis Abhay merasakan nyeri yang luar biasa saat Dara mengompresnya dengan es.
"Baru tahu rasa kan sekarang! Gue bilang juga apa! Pasti bakal babak belur, kan?! Dibilangin gak percaya!" cerocos Dara dengan geramnya.
"Si tolol itu aja yang bikin gedek. Bilangnya pertarungan sehat, tapi sendirinya yang nafsuan. Dasar Anjing!" seru Abhay tak kalah kesalnya.
"Kenapa harus kesel? Bukannya Kakak yang bikin Kak Rakha kaya gitu?" tanya Dara. "Gue tadi liat, Kakak kebisikin sesuatu sama Kak Rakha sampe buat Kak Rakha brutal kaya gitu. Iya, kan?!" tanyanya lagi sedikit emosi.
"Enggak. Gue nggak bisikin apa-apa." Abhay ngeles.
"Kakak gak usah bohong deh. Karena gue tadi liat dengan jelas!"
"Ya dianya aja pengen maen kasar."
"Gak. Gue tahu Kak Rakha. Gak biasanya Kak Rakha emosi kaya tadi."
Merasa aneh dengan perkataan Dara, Abhay menatap sinis ke arah Dara.
"Apa? Lo tahu Rakha? Kok bisa? Apa kalian cukup deket, sampe lo tahu kebiasaan Rakha?" cerocos Abhay. Kini ia yang berbalik menyerang omongan Dara.
"Apaan sih Kak! Kok malah balik nyerang gue? Semua anak-anak taekwondo pun tahu sifat Kak Rakha gak kaya gitu. Bukan cuma gue aja!' tegas Dara.
Abhay membuang wajahnya kesal. Selalu memuakkan saat Dara sudah menyebut nama Rakha, Rakha dan Rakha. Namun ia juga tak bisa marah pada Dara, karena ia pun merasa bahwa dalang dibalik kekacauan pertarungan tadi adalah dirinya juga. Jadi, apakah ia harus mengaku pada Dara bahwa ia memang mengompori Rakha?
"Ya ada lah urusan laki-laki. Lo gak usah tau." Dan Abhay memutuskan untuk merahasiakannya pada Dara.
Dara berdecak. Namun ia juga tak memaksa Abhay untuk mengaku. Karena jika ia memaksa, bisa jadi Abhay akan memandangnya sebagai cewek posesif yang serba ingin tahu urusan orang lain, sekalipun itu pacar. Dara tak mau seperti itu.
"Awas kalo Kakak kaya gini lagi, gue gak mau ngobatin Kakak lagi." Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba Dara melontarkan ancaman pada Abhay.
"Kenapa?" tanya Abhay dengan raut yang berubah menjadi lugu.
"Males!" jawab Dara tegas.
Seakan tak percaya dengan jawaban Dara, Abhay malah berpikiran lain. "Males apa khawatir?" tanya Abhay namun lebih terkesan menggoda Dara dengan senyum jahil terpatri di kedua sudut bibirnya.
Tak terima dirinya malah digoda, Dara mengambil kesempatan untuk memberi Abhay pelajaran. Dengan kompresan yang masih ada ditangannya, ia menempelkan kompresan itu pada memar Abhay dengan kasarnya. "Nih khawatir!" ucapnya.
"Ya suruh siapa malah ngeledek!"
Raut kesal Abhay seketika berubah menjadi sendu. Ia memalingkan wajahnya, lalu bergumam, "padahal kalo khawatir juga gak papa. Gue malah seneng, karena baru pertama kalinya ada orang yang ngekhawatirin gue."
Ucapan Abhay seketika menohok hati Dara. Entah kenapa ia langsung merasa bersalah karena sudah berbuat semena-mena pada Abhay. Ditambah lagi saat ia teringat bahwa Abhay memiliki keluarga yang kacau, membuat Dara semakin merasa bersalah.
Dara, lo bener-bener gak punya hati! Lo bego! Padahal kan yang diomongin Kak Abhay bener. Lo sebenernya khawatir!
Yah. Dara sebenernya khawatir. Karena gengsi yang menyelimuti dirinya, telah mengubahnya menjadi seseorang yang terlihat kejam.
"Udah beres."
Suara Dara memecahkan keheningan yang tadi sempat terjadi. Karena ia sendiri telah selesai mengobati Abhay, ia juga telah menutup luka yang terbuka itu dengan plester.
"Hah. Udah beres? Cepet amat," ujar Abhay tak percaya. "Tapi kayanya sebelah sini belum dikompres."
"Udah tadi."
"Belum."
"Udah. Tuh bekasnya keliatan masih basah."
"Masa sih. Perasaan belum."
Abhay sebenernya mengada-ada. Namun namanya juga lelaki, selalu punya cara untuk modus ke lawan jenisnya.
"Udah lah, udah keburu sore, ayo kita pulang," ajak Dara.
Dara pun beranjak berdiri, dan berjalan lebih dulu ke motor Abhay. Mau tak mau Abhay pun turut bediri dan mengikuti Dara di belakangnya.
"Tapi Kakak masih bisa nyetir?" tanya Dara saat mereka sudah tiba di motor yang akan mereka tunggangi.
"Ya bisa lah. Orang badan gue masih utuh, masa gak bisa," jawab Abhay dengan yakin.
Abhay pun segera naik ke motornya, namun sebelum ia memakai helmya, tiba-tiba ia menyempatkan dirinya untuk mengaca di kaca spion depannya.
"Tuh, kan. Walaupun babak belur, tapi muka gue masih ganteng," ujar Abhay dengan kepercayaan diri tingkat dewa.
"Aish. Masih sempat-sempatnya narsis," lirih Dara. Namun ia juga tak mau menyangkal itu, karena di dalam hatinya pun mengatakan hal yang sama. Untung ganteng beneran.
Saat mereka sudah sama-sama naik, dan Abhay yang sudah siap-siap meluncurkan motornya, tiba-tiba saja ada hal yang terbesit di otak Abhay.
"Besok bukannya Minggu?" tanya Abhay pada Dara.
"Terus kalo Minggu?"
"Nanti besok gue ke rumah elo."
"Mau ngapain?"
"Mau ngebahagiain cewek gue."
Deg.
Bagaikan hati yang dikelilingi oleh ribuan kupu-kupu, dada Dara seketika terasa sesak. Sesak bukan karena penyakit serius, namun sesak akibat serangan hati yang efeknya membuat kedua bibirnya kini mengutaskan sebuah senyuman manis. Yah. Dara benar-benar tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
Bisa ae cowok gue.