
Saat pelajaran baru saja dimulai, Abhay merasakan getaran dalam saku celananya. Ia pun merogoh ponselnya, untuk mencari tahu siapa orangnya yang sedang menghubunginya. Dan ternyata, orang yang menelponnya adalah orang suruhannya dia. Abhay pun langsung beranjak dari kursinya untuk menerima panggilan yang sangat penting itu.
"Pak, saya izin ke belakang," izin Abhay kepada Pak Dadang yang tengah mengajar.
"Silakan."
Setelah diizinkan, Abhay segera keluar dari kelas dan berjalan menjauhinya kelasnya. Ia pun mengangkat panggilan itu.
"Iya," ucap Abhay dingin.
"Gue baru dapet info kalo Reno lagi ada di sini, Boss. Kemaren dia baru datang dari Medan," ujar penelpon itu tanpa berbasa-basi.
"Apa lo udah tau dimana posisi bajingan itu sekarang?" tanya Abhay.
"Belum Boss, sekarang gue juga mau cari dia," balas orang itu.
"Ya udah, sekarang lo cari dia. Kalo lo udah tau posisi dia, kasih tau gue." Abhay memerintahkan orang itu.
"Siap, Boss!"
Setelah percakapan mereka telah usai, Abhay langsung menutup panggilan itu. Tanpa sadar, ia pun meremas ponselnya dengan geram, karena setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya momen itu datang juga.
Awas lo Anjing! kesalnya dalam hati.
"Siapa yang nelpon?" tanya Vano setelah Abhay telah kembali ke kelas.
"Orang suruhan gue," jawab Abhay. "Dia kasih tau gue bahwa bajingan itu lagi ada di sini," tambahnya.
Tanpa dijelaskan, Vano langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Abhay. Lalu ia pun bertanya. "Apa yang akan lo lakuin?"
"Sesuai keinginan gue," jawab Abhay singkat.
...****************...
Bel istirahat berbunyi. Abhay dan Vano kini sudah berada di warung belakang sekolah. Dan Gilang, ia izin pergi ke toilet dahulu untuk memenuhi panggilan alamnya.
Saat mereka sedang terduduk santai, Abhay kembali merasakan getaran di dalam sakunya, dengan cepat ia mengambil ponselnya dan membukanya. Ternyata orang suruhan dia telah mengirimkan sebuah gambar.
"Udah ketemu?" tanya Vano setelah ikut melihat gambar yang tengah diliat oleh Abhay.
Setelah melihat gambar yang menampilkan 'bajingan' itu, tanpa berpikir Abhay langsung mengetahui di mana posisi orang itu berada. Dan tanpa berlama-lama Abhay langsung memasukan kembali ponselnya ke dalam saku, dan beranjak dari duduknya.
"Gue pergi sekarang," ucap Abhay pada Vano.
"Lo mau kesana sekarang?" tanya Vano memastikan.
"Ya iyalah. Nanti dia kabur lagi."
"Jadinya lo mau kabur dari sekolah?" tanya Vano lagi.
Tanpa menjawab, Abhay malah melemparkan kunci motornya di atas meja, bermaksud menyerahkannya kepada Vano.
"Gue titip motor gue, suruh orang lain aja bawa motor gue. Kalo ada yang nanyain gue, bilang aja gue sakit, trus disuruh pulang. Terus nanti tolong bawain tas gue," tutur Abhay.
Setelah mengatakan hal itu, Abhay berniat langsung pergi dari sana. Namun tiba-tiba, suara Vano menghentikan langkahnya.
"Eh bentar dulu!" seru Vano.
Abhay pun menoleh. "Apa?"
"Lo mau kesana sendirian?"
"Iyah. Emang kenapa?"
"Ya gila aja. Orang yang mau lo hadapi itu lebih tua dari elo," ungkap Vano, karena ia sendiri tahu siapa orang yang akan berurusan dengan Abhay.
"Gak peduli. Mau dia lebih tua dari gue, kalo bajingan ya tetep bajingan!" balas Abhay tegas.
"Ya udah gue temenin." Vano menawarkan dirinya.
"Gak usah. Ini urusan pribadi gue. Lo gak usah ikut campur," jelas Abhay.
"Ya tapi-"
Belum sempat Vano menyelesaikan ucapannya, tanpa ucapan salam Abhay langsung pergi dari tempat itu dan bergegas untuk segera melakukan aksinya.
Gilang yang melihat kepergian Abhay, ia langsung melihat pemandangan itu dengan bingung. Lalu ia berniat untuk menanyakannya pada Vano yang masih ada di sana.
"Mau kemana si Abhay? Buru-buru gitu," tanyanya.
Mendengar kata itu, Gilang pun langsung mengerti siapa orang yang dimaksud Vano. "Udah balik?" tanyanya.
Vano hanya mengangkat alisnya sebagai jawaban.
"Trus dia mau pergi sendirian?" tanya Gilang lagi.
"Tau tuh. Gue udah nawarin buat ikut, tapi dianya gak mau," ungkap Vano.
Lalu Gilang kembali menatap kepergian Abhay dari jauh. Ia pun menggelengkan kepalanya. "Emang bener-bener si Abhay," ucapnya.
...****************...
Karena motornya ditinggal di sekolah, Abhay memilih untuk pergi ke lokasi itu menggunakan taksi. Sekitar 15 menit untuk Abhay bisa sampai di sana, sebelum akhirnya ia tiba di sebuah tongkrongan kecil yang tak terlalu ramai.
Tanpa ada rasa takut, Abhay langsung menghampiri ketiga pemuda yang sedang nongkrong di sana. Tak berminat untuk mengucapkan salam, Abhay berniat untuk langsung bertanya kepada ketiga pemuda itu.
"Siapa yang namanya Reno di sini?" tanya Abhay sedikit kasar.
Merasa ditanya, ketiga pemuda itu serentak menoleh kepada Abhay dan menatapnya bingung.
"Lo siapa? Dateng-dateng gak sopan," ujar salah satu dari ketiga pemuda itu.
"Gue tanya siapa yang namanya Reno di sini?!" tanya Abhay lagi dan semakin mengeraskan suaranya.
Bukannya bersikap ramah, Abhay malah menambah rasa tidak hormatnya kepada mereka. Jelas sikap Abhay berhasil memantik emosi ketiga orang itu dan mereka pun serentak berdiri dari kursinya.
"Nih bocah kenapa sih? Masih bocah sekolah belagunya minta ampun," ujar orang itu setelah melihat Abhay yang mengenakan seragam sekolah.
Di tengah suasana yang mulai memanas, datang seseorang yang menghampiri mereka.
"Ada apa nih?" tanya orang yang baru datang itu.
"Ini Ren, ada yang nyariin elo," jawab temannya.
Mendengar orang itu menyinggung nama Reno, Abhay sontak menatap orang yang baru datang itu dengan tatapan tajam.
"Oh jadi lo yang namanya Reno?" tanya Abhay memastikan.
"Iyah," jawab orang yang bernama Reno itu.
Setelah orang itu membenarkan nama itu, tanpa aba-aba Abhay langsung meninju wajah Reno itu dengan sangat keras.
"Apa-apaan nih!" seru Reno tak terima.
Bukannya menjawab, Abhay kembali meninju wajah Reno di sisi lainnya. Kali ini pukulannya lebih keras lagi, terbukti dengan Reno yang langsung jatuh tersungkur.
Melihat temannya diperlakukan seperti itu, ketiga pemuda itu pun jelas tak terima. Mereka pun langsung menarik tubuh Abhay dan hendak memberi pelajaran kepada Abhay.
"Dasar bocah kurang ajar!" tukas orang itu dan hendak langsung meninju Abhay. Namun pukulannya digagalkan karena Reno tiba-tiba menyanggahnya.
"Bentar-bentar. Kita dengerin dulu penjelasan dia," ucap Reno. Ia mencoba mencari tahu dahulu keadaan sebenarnya, karena sangat aneh jika mereka meninju balik Abhay di saat ia sendiri tak tahu penyebab aslinya.
Orang dengan nama Reno itu pun menenggakan tubuhnya dan mendekati Abhay. "Maksud lo apa dateng-dateng hajar gue?" tanyanya.
"B 3141 YA. Itu plat motor lo tiga tahun yang lalu kan?!" ungkap Abhay to the point.
Reno pun mengerutkan keningnya heran, tak percaya bahwa Abhay bisa mengetahui hal itu. "Kok lo tahu?" tanya dia bingung.
"Jelas gue tau! Karena gara-gara motor lo, hidup gue jadi ancur!" ucap Abhay dengan murka.
"Maksud lo apa? Gue gak paham," timpal Reno tak mengerti.
"Apa lo inget, motor lo pernah merenggut nyawa orang?! Hah!!!" tambah Abhay lagi melupakan seluruh amarahnya.
Reno pun berpikir. Ia kembali mencerna setiap penuturan Abhay.
Tiga tahun yang lalu, motor, lalu merenggut nyawa seseorang. Apa maksudnya? Pikir Reno.
Tak lama Reno membulatkan matanya lebar-lebar, karena ia sudah mengerti maksud perkataan Abhay. "Apa jangan-jangan elo..."
"Yah. Gue anaknya!" sergap Abhay dengan kesal.
...****************...
Gantung yah? Emang gantung, Hehehe. Karena gantung, lanjutannya akan nyusul yah. Gak nunggu besok kok, hari ini juga up. Nanti malam aku up yah. Terima kasih :)