Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
36. Debaran



Keesokan harinya, Dara sudah kembali pada aktivitas rutinnya dengan pergi sekolah. Ia merasa baik-baik saja setelah apa yang sudah ia alami kemarin. Dan seperti biasa, ia tadi diantar oleh Abhay.


Dan di pagi hari ini, Bu Yati yang seharusnya mengajar di kelas Dara tiba-tiba berhalangan hadir karena ada urusan mendadak. Jadilah beliau memberi tugas kepada anak didiknya untuk membuat makalah mengenai materi yang akan mereka pelajari nanti. Sistem tugasnya berkelompok, dan satu kelompok terdiri dari dua orang, atau disebut juga per bangku. Dan Bu Yati juga memberi kebebasan kepada anak didiknya untuk mencari bahan referensi dari sumber mana pun. Bisa di internet atau buku-buku pelajaran. Dara dan Ruby sendiri memutuskan mencari bahan referensi di buku langsung dengan mereka pergi ke perpustakaan untuk mendapatkan bahan materi yang lebih banyak.


Saat Dara yang tengah sibuk mencari buku, tiba-tiba.


Bug.


Dara jatuh tersungkur setelah kakinya baru saja menyandung sesuatu.


"Aw!" ringisnya.


Lalu Dara menoleh untuk mencari tau apa penyebabnya hingga ia bisa terjatuh. Dan ternyata, ada sebuah kaki yang menghalangi jalannya.


Dara pun melihatnya heran. "Kaki siapa itu?"


Perlahan, Dara mendekati kaki itu untuk mencari tahu siapa pemiliknya. Kemudian Dara memutar bola matanya malas saat mengetahui bahwa Abhay lah pelakunya.


Kini Abhay tengah berbaring santai dengan kepala ditandahi oleh tumpukan buku-buku dan lengan yang menutupi kedua matanya. Melihat hal tersebut, Dara bisa menyimpulkan bahwa Abhay sedang tidur.


"Kak Abhay, enak banget tidur di sini," guman Dara.


Lalu Dara melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Abhay. Dan seketika ide gila muncul di otak Dara.


"Gue jailin ah," ucapnya dengan senyum jahil terbentuk di bibirnya.


Dara pun memimpet hidung Abhay dengan kedua jarinya. Dia akan mengganggu tidur pulasnya Abhay.


"Rasain, gak bisa nafas kan. Hahaha," ujar Dara tertawa puas.


Ternyata apa yang Dara lakukan membuahkan hasil. Kini Abhay mengerang seperti anak macan, karena Abhay sudah kesulitan nafas. Abhay pun mulai kesal, ia pun membuka lengan yang sedari tadi menutup matanya, lalu perlahan membuka matanya.


Melihat Abhay yang terbangun karena ulahnya, Dara seraya melepaskan kedua jarinya dan berniat untuk pergi dari sana agar tak ketahuan oleh Abhay. Namun sayang, pergerakannya kurang cepat, karena Abhay lebih dulu mencengkram lengannya.


"Mau kemana?" tanya Abhay.


"Mau kabur lah," jawab Dara tak gentar.


"Dasar cewek aneh."


Abhay pun melepaskan cengkraman itu, lalu menegakkan tubuhnya menjadi duduk.


"Ya lagian suruh siapa tidur. Ini perpus bukan tempat tidur," ujar Dara.


"Bukan urusan lo," jawab Abhay sewot.


"Gue tebak, Kakak pasti bolos karena pelajaran matematika," tebak Dara.


Abhay pun mengerutkan kening, tak percaya Dara bisa menebaknya dengan benar. "Kok lo tau?"


Dara pun langsung memasang wajah sombong. "Ya iya lah. Gue bisa nebak muka-muka orang males," ujarnya.


"Apa? Lo baru aja bilang kalo gue orang males?" tanya Abhay tak terima.


"Iya lah. Buktinya Kakak tidur di jam belajar."


Abhay mengacak rambutnya. Tak akan menang jika ia berdebat tentang hal ini dengan Dara. Toh apa yang Dara katakan memang benar. Ia memang selalu malas belajar apalagi jika sudah berhubungan matematika. Jadi sebagai gantinya, Abhay berniat menyerang balik Dara.


"Trus, lo sendiri ngapain di sini? Pasti gak jauh beda sama gue, kan?"


"Enak aja, gue di sini buat belajar yah," timpal Dara, kini ia yang tak terima dengan apa yang sudah Abhay tuduhkan kepadanya.


"Masa?" Abhay tak percaya.


"Kakak gak liat, gue bawa-bawa buku, nih!" ujar Dara sambil menyodorkan buku-buku yang ia pegang di depan mata Abhay.


"Tapi sayangnya, gue mau bilang ke ibu perpus kalo lo kesempatan mau tidur di sini." Abhay berniat memfitnah Dara.


Namun bukan Dara namanya jika ia pasrah begitu saja. "Ah masa? Tapi sayangnya, gue yang mau bilang duluan," ucap Dara.


Lalu Dara memalingkan wajahnya menghadap ke arah depan. Dia akan bersiap melakukan aksinya.


"IBU PERPUS! ADA YANG LAGI TI-"


Ucapan Dara menggantung, karena tiba-tiba saja Abhay langsung menarik lengan Dara lalu menutup mulut Dara dengan satu tangan lainnya. Tarikan itu cukup kuat, hingga berhasil membuat tubuh Dara terpental jatuh dan membentur dada bidang Abhay. Hal itu membuat Dara dan Abhay menjadi begitu dekat, sampai tak ada jarak sedikit pun yang menghalagi mereka berdua. Karena tubuh mereka yang sudah sangat menempel.


"Dara gue udah-"


Ruby yang tak sengaja melihat adegan itu tak jadi melanjutkan ucapannya dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak ingin ketahuan sedang memergoki mereka berdua, jadi ia langsung membalikkan tubuhnya dan bersembunyi di antara rak-rak buku.


Tak lama, Ruby pun tersenyum lebar, dan ia pun melangkah kakinya untuk kembali ke tempat asalnya. Dan tentunya ia akan terus mengingat-ingat tentang apa yang baru saja ia lihat.


Kembali ke Dara dan Abhay. Cukup lama mereka mempertahankan posisi seperti itu. Dan Dara sendiri, entah kenapa ia langsung merasakan hal aneh pada tubuhnya. Darahnya serasa mengalir begitu deras, lalu jantungnya mendadak berdetak begitu cepat, dan tak terasa juga butiran peluh pun mulai muncul di ujung pelipisnya. Lalu Dara pun bingung, reaksi macam apa itu?


Sadar dengan apa yang sedang ia lakukan dengan Abhay. Dara langsung membelalakkan matanya lebar dan menghempaskan tangan Abhay yang menutupi mulutnya. Ia pun bergerak menjauhi Abhay.


"Apa-apaan sih Kak! Pake nutup-nutupin mulut gue. Mending kalo tangannya wangi!" kesal Dara.


"Eh. Ada juga lo yah. Tangan gue jadi bau gara-gara mulut lo," balas Abhay balik menyalahkan.


"Enak aja!"


Suasana tiba-tiba menjadi canggung setelah Dara mengucapkan kalimat terakhirnya. Dan Dara sendiri jadi mendadak tak berani menatap Abhay.


Karena sudah merasa tak nyaman, Dara berniat untuk pergi dari sana. "Udah ah gue pergi!" seru Dara.


Tanpa berlama-lama, Dara langsung pergi dari sana dengan langkah yang tergesa-gesa.


Melihat Dara yang salah tingkah, seketika Abhay pun menarik kedua sudut bibirnya saat melihat raut wajah Dara yang menurutnya begitu menggemaskan. Baru pertama kali Abhay melihat raut wajah itu, dan entah kenapa Abhay langsung menyukainya.


Setelah Dara berhasil menjauhi Abhay, nafas Dara menjadi tak karuan. Dengan raut wajah bingung, ia masih tak mengerti dengan situasi yang sudah terjadi.


Oh God. Tadi gue kenapa? tanya Dara dalam hati.


Sial! Pasti ini gara-gara omongan Ruby nih! Gue jadi terpengaruh! tambahnya.


Dara pun segera mungkin menutupi rasa kebingungannya karena ia tak mau jika Ruby sampai mengetahuinya. Setelah sudah berhasil menetralkan wajahnya, ia seraya duduk di bangku yang ada di perpustakaan itu, dan ia duduk tepat di depan Ruby.


"Nih gue udah nemu buku yang cocok. Punya lo mana?" tanya Dara sambil menyodorkan buku-buku itu di hadapan Ruby.


Ruby tak menjawab, ia malah berpura-pura tak mendengar Dara dengan mata yang sibuk membaca buku yang dipeganginya. Namun anehnya, Ruby membaca dengan bibir yang mesam-mesem tak jelas seperti sedang menahan tawa. Jelas hal itu membuat Dara heran.


"Lo kenapa sih. Ditanya malah mesam-mesem," ujar Dara.


"Enggak. Enggak kenapa-kenapa," jawab Ruby masih dengan bibir yang menahan tawa.


"Enggak kenapa-kenapa gimana? Tuh buktinya lo masih mesam-mesem gitu."


Karena tak tahan, Ruby menutup buku itu. Kemudian, dengan mempertahankan senyuman itu, Ruby pun menatap Dara lekat.


"Okeh. Gue mau tanya sama elo," kata Ruby. "Tadi lo habis ngapain sama Kak Abhay?"


"Kak Abhay?"


Dara masih loading. Ia bingung, mengapa tiba-tiba Ruby membicarakan Abhay? Namun tak lama, ia pun mengerti tentang apa yang Ruby maksud. Kemudian ia langsung membelalakkan matanya lebar-lebar.


"Lo tadi liat?!" tanya Dara panik.


Ruby menjawabnya dengan mengangkat kedua alisnya beberapa kali sambil tersenyum jahil.


"Gak! Gak! Ini bukan seperti yang lo pikirin yah," jelas Dara. Ia khawatir duluan takut-takut Ruby berpikiran yang tidak-tidak.


"Emang gue mikirin apa?" tanya Ruby dengan senyum jahilnya.


"Ya pokoknya tadi gak disengaja."


"Gak disengaja gimana?"


Dara membuang nafas berat. "Aish. Ya intinya tadi itu-" Dara menjeda ucapannya, karena ia sendiri bingung, harus dengan kata apa lagi agar Ruby mempercayainya.


"Apa?" tanya Ruby. Ia semakin senang melihat Dara yang sudah kikuk. Dan ia juga senang, karena akhirnya ia bisa kembali menggoda Dara setalah sekian lama.


"Bukan apa-apa Ruby. Udah pokoknya lo jangan mikir yang aneh-aneh. Okeh."


Ruby pun memudarkan senyum jahilnya. Sudah puas baginya untuk melihat Dara yang sudah salah tingkah. Kini saatnya ia menuruti keinginan Dara. Karena semakin lama, ia juga merasa kasihan melihat Dara yang panik luar biasa. "Oke deh. Gue gak akan mikir yang aneh-aneh," ucapnya.


"Tapi tadi jantung lo gimana?" tanya Ruby tiba-tiba.


"Jantung gue? Gak kenapa-kenapa," jawab Dara santai.


"Masa? Gak berdebar?" tanya Ruby, ia kini kembali memunculkan senyum jahilnya.


"Enggak. B aja," jawab Dara tanpa membalas tatapan Ruby.


Ruby pun otomatis langsung tau, dengan Dara yang tak berani menatap matanya, itu artinya jawaban Dara sesungguhnya bukanlah tidak, tapi sudah jelas iya.


Ruby pun tersenyum simpul. Dara, Dara. Ego lo kuat banget sih! Mau sampe kapan lo begini terus?