Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
51. Pemberontakan #2



"Yah. Gue anaknya!" sergap Abhay.


Kini Abhay semakin mendekatkan tubuhnya pada Reno. Dengan wajah yang sudah merah, ia menatap Reno dengan penuh kebencian.


"Dari tiga tahun yang lalu gue nyari-nyari elo di sini, tapi elo malah kabur ke Medan! Dan karena sekarang lo udah ada di sini, gak ada alasan bagi gue buat nahan-nahan lagi," ungkapnya.


"Lo harus bayar perbuatan elo, Anjing!!!" teriak Abhay lalu diikuti tendangan ke arah perutnya Reno. Dan Reno pun kembali jatuh tersungkur.


Tendangan itu belum cukup melepaskan semua keinginannya, karena itu Abhay segera menghampiri Reno yang sedang tersungkur lalu mencengkram kerah baju Reno dan meninju wajahnya berkali-kali.


"Mati lo. Mati!!" ucap Abhay sambil meninju wajah Reno dengan kemurkaannya, tak peduli dengan wajah Reno yang kini sudah mengeluarkan darah segar.


Kembali melihat Abhay yang menyiksa temannya, ketiga pemuda itu kembali menarik tubuh Abhay dan tanpa aba-aba langsung melayangkan tinjuannya pada Abhay.


"Dasar bocah gila!!" geram temannya dengan diikuti oleh pukulan-pukulan dari mereka. Dan jadilah Abhay yang dikeroyok oleh ketiga pemuda itu.


Dengan keadaan ia yang sedang dikeroyok, Abhay dengan seluruh kemampuannya mencoba menghadapi mereka bertiga. Ia beberapa kali berhasil melayangkan tinjuannya kepada orang-orang itu, namun tak lama ia kembali dihajar habis-habisan oleh mereka, dan hal itu sampai membuat Abhay jatuh tersukur. Karena bagaimanapun satu lawan tiga adalah perbedaannya sangat jauh. Sehebat apapun Abhay namun jika lawannya tiga, pasti ia kalah juga.


Saat mereka bertiga hendak menghajar Abhay lagi, tiba-tiba terdengar suara sirene polisi tak jauh dari mereka. Reno yang mendengar suara itu, ia pun memerintahkan ketiga temannya untuk berhenti memukuli Abhay.


"Heh udah-udah ada polisi! Kita pergi aja!" perintah Reno.


Mendengar Reno yang berusaha kabur, Abhay pun jelas tak terima.


"Lo jangan coba-coba kabur lagi, Anjing! Urusan kita belum selesai!!" tukas Abhay keras dengan sisa-sisa tenaganya.


Dengan keadaannya yang sudah lemas, Reno mencoba bangkit untuk pergi dari sana. Namun sebelum pergi, ia hendak mengungkapkan sesuatu kepada Abhay.


"Heh. Gue kasih tau sama elo yah. Itu memang motor gue, tapi orang yang nabrak ibu elo bukan gue, tapi orang lain!" tutur Reno.


Apa yang dikatakan Reno tentu kembali memancing emosi Abhay. "Anjing! Lo masih bisa ngelak setelah ada bukti yang udah jelas!!"


"Terserah lo mau percaya gue atau enggak. Pastinya itu bukan gue, lo salah paham," ungkap Reno untuk yang terakhir kalinya. Lalu ia melihat ketiga temannya. "Ayok kita pergi," perintahnya lagi.


Ketiga temannya itu pun menurut, mengingat suara sirene polisi yang semakin dekat ke arahnya. Lalu mereka pun menghampiri Reno dan membantu Reno untuk berjalan pergi.


Abhay yang melihat mereka pergi, ia pun kembali murka. "Woy! Jangan kabur!!" teriaknya.


Abhay mencoba bangkit dari posisinya untuk mengejar mereka, namun sayang tenaganya tak cukup kuat untuk mengejar mereka karena kondisinya yang begitu lemah.


Melihat kondisinya seperti itu, Abhay merutuki dirinya dan berteriak dengan sangat murka. Dengan wajah yang begitu memerah, Abhay pun berjanji pada dirinya sendiri.


Awas lo Anjing! Gue pastiin nasib lo sama seperti ibu gue!


...****************...


Di lain tempat, ada dua orang yang tengah cemas dengan keadaan Abhay. Karena sejak istirahat tadi sampai waktu akan pulang, mereka belum mengetahui keadaan Abhay yang sebenarnya.


Dan Vano sendiri, ia sampai sembunyi-sembunyi untuk menghubungi Abhay dengan ponsel yang ia sembunyikan di bawah meja. Karena jika tak begitu, Bu Ratna yang sedang mengajar di kelasnya pasti akan menegurnya jika Vano melakukannya dengan jelas.


"Gimana, belum diangkat juga?" tanya Gilang yang kini sudah duduk di kursi Abhay.


"Belum," jawab Vano.


"Gimana kalo Abhay yang malah celaka terus dia yang mat-" ucapan Gilang terpotong karena lebih dahulu diserobot oleh Vano.


"Kok lo malah doain temen lo mati sih?" sergap Vano, tak habis pikir dengan jalan pikiran Gilang.


"Kalo kita maksa, yang ada Abhay marah sama kita. Apa lo mau gak dibolehin main ke rumahnya dia?" tanya Vano.


"Oh iya yah. Abhay kan orangnya keras kepala," balas Gilang.


"Gue malah yakin, Abhay sekarang cuma lagi gak mau diganggu aja. Lo tau sendiri, Abhay kalo lagi ada masalah kaya gimana," ungkap Vano dengan yakin karana ia sudah mengetahui bagaimana karakter Abhay.


Gilang pun berpikir, ia juga teringat bagaimana kebiasaan Abhay jika sedang tertimpa masalah.


"Oh iya. Pasti dia lagi ngumpet sekarang," kata Gilang. "Gue lama-lama penasaran, Abhay biasa ngumpet dimana sih? Sampe gak mau ngasih tau kita," lanjut Gilang lagi.


Apa yang dikatakan Gilang berhasil membuat Vano berpikir juga. Ia sendiri penasaran dengan tempat persembunyian Abhay, karena setiap ia bertanya pada Abhay, orang itu selalu tak memberi tahu.


Tak lama, Vano tiba-tiba teringat seseorang yang sepertinya akan menjawab rasa penasarannya.


"Tapi kayanya ada seseorang yang tau di mana Abhay biasa ngumpet," ungkap Vano.


"Siapa?" Gilang pun tak tahu.


...****************...


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Vano bergegas pergi menghampiri orang yang ia duga-duga akan mengetahui keberadaan Abhay. Saat orang itu keluar dari kelasnya, Vano pun memanggilnya.


"Dara!" panggil Vano sedikit keras.


Merasa terpanggil, Dara pun menoleh dan Vano langsung berjalan menghampiri Dara.


"Kak Vano, ada apa?" tanya Dara saat Vano sudah berdiri di depannya.


"Gue mau nanya, apa lo tau tempat yang biasa Abhay datengin?" tanya Vano langsung.


"Hah? Mana gue tau, Kak. Pastinya kan banyak tempat yang biasa Kak Abhay datengin," jawab Dara heran. Karena pertanyaan Vano memang sangat universal.


"Maksud gue, mungkin Abhay pernah cerita ke elo, waktu dia lagi ada masalah dia suka pergi ke mana gitu," lanjut Vano lebih terperinci.


"Emang Kak Abhay lagi kena masalah?" Dara malah balik bertanya.


"Ya semacam itu. Abhay juga sekarang udah pergi gak tau dimana. Makanya gue tanya sama elo, kali aja lo tau tempat persembunyian Abhay," jelas Vano lagi.


Mendengar penuturan Vano, Dara pun jadi berpikir. Memangnya Abhay pernah berbicara seperti itu pada dirinya? Pikir Dara. Namun beberapa saat kemudian, ada satu tempat yang tiba-tiba terbesit di otak Dara.


"Kayanya gue tau deh," ucap Dara.


Apa yang dikatakan Dara membuat Vano bernafas lega. Karena sesuai dugaannya, pasti Dara akan mengetahuinya.


"Ya udah. Kalo lo gak keberatan, apa lo mau ke sana?" pinta Vano. "Tenang aja, gue akan anterin lo," lanjutnya.


Dara pun kembali berpikir, apa ia harus kesana? Karena belum tentu juga perkiraanya akan benar. Namun jika dipikir-pikir lagi, tak ada salahnya juga ia mencoba ke sana.


Dan akhirnya Dara pun mengangguk mengiyakan. "Boleh deh."


...****************...


Minal aidzin wal faidzin para pembaca setia othor. Mohon maaf lahir dan batin. Maafkan othor jika ada salah yah :)