Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
55. Pengakuan



"Dara!!" teriak Ruby keras.


Mendengar panggilan itu, dengan reflek Dara membulatkan matanya lebar-lebar. Ia membeku di tempat, ia benar-benar sudah tertangkap basah, karena Ruby telah melihatnya.


"Kak! Lepasin, Kak! Lepasin!" gumam Dara meminta Abhay untuk melepaskan genggaman itu.


"Udah lah ... biarin satu orang tau," timpal Abhay santai tak mau menuruti keinginan Dara.


Mendengar balasan Abhay, Dara pun mengerang kesal. Karena Abhay yang tak mau melepaskan genggaman itu, Dara dengan sekuat tenaganya mencoba melepaskannya sendiri. Namun sayang, genggaman itu semakin kuat karena Abhay yang malah sengaja menguatkan genggaman itu.


"Kak!" kesal Dara, mencoba membuat Abhay agar mau mendengarkannya. Namun lagi, orang yang diminta Dara malah tersenyum senang seakan ia sangat menikmati itu.


Dan waktu pun akhirnya habis. Kini Ruby sudah berdiri di depan Dara dan Abhay. Hal pertama yang langsung diliat Ruby tentu saja genggaman tangan itu. "Kalian mau nyebrang?" tanyanya.


"Kita lagi pacaran. Ganggu aja lo!" Dan Abhay yang menjawabnya dengan seenak jidat.


Mendengar Abhay yang sangat jujur sekali, membuat Dara langsung melotot ke arah Abhay seakan ia mempertanyakan apa maksudnya? Dan Abhay walaupun sedang dipelototi, tak berhasil membuatnya sadar. Ia malah melontarkan senyuman kepada Dara. Seakan ia tak mempedulikan apa yang sudah ia katakan.


Karena suasana yang terlanjur canggung akibat ulah Abhay, Dara pun berniat untuk mencairkan suasana. Ia pun beralih melihat Ruby yang sedang membeku.


"Hahaha. Kak Abhay ini emang suka ..." Dara pun kembali mencoba melepaskan genggaman itu dengan satu tangannya lagi. Dan kali ini berhasil. Genggaman itu akhirnya terlepas. "becanda," lanjut Dara.


Lalu Dara pun segera menghampiri Ruby dan melingkarkan tangannya pada pundak Ruby untuk membawanya menjauh dari sana.


"Udah, yuk. Ke kelas yuk," ajak Dara. Dan menggiring Ruby untuk berjalan menuju kelas mereka.


Kepergian Dara membuat Abhay mendengus kesal. Belum lama ia bersama Dara, namun kebersamaan mereka harus segera berakhir karena tiba-tiba saja ada sebuah benalu yang mengganggu mereka.


Ribet banget kalo kaya gini, gumam Abhay


...****************...


Setibanya di kelas, mereka segera duduk di kursi mereka masing-masing. Ruby dan segala rasa penasarannya, langsung menatap Dara lekat seperti hendak menerkam Dara.


Merasa ditatap, Dara membuka suaranya terlebih dahulu. "Kenapa lo ngeliatin gue terus?" tanyanya.


"Lo udah mengkhianati gue," jawab Ruby dengan dinginnya. Ia tiba-tiba menjadi orang yang paling tersakiti.


"Mengkhianati apa sih Ruby?"


"Gue udah bilang kan sama elo, kalo lo pacaran beneran sama Kak Abhay, detik itu juga lo harus laporan sama gue!" ucap Ruby dengan tegasnya.


"Siapa juga yang pacaran beneran," gumam Dara. Ia masih sempat-sempatnya mengeles.


"Dara! Gue gak bego yah! Jelas-jelas tadi lo pegangan tangan sama Kak Abhay!" ungkap Ruby cukup menggelegar. Tentu hal itu membuat beberapa pasang mata yang ada di sana turut melirik ke arah mereka.


Melihat tingkah Ruby yang sudah kelewatan, Dara pun langsung melototi Ruby dengan geramnya. "Ruby! Bisa pelan-pelan gak sih ngomongnya!" kesal Dara.


"Udah deh sekarang mending lo ngaku. Lo pacaran beneran sama Kak Abhay, kan?" tanya Ruby lagi, namun dengan volume suara yang lebih kecil.


Yang ditanya malah bersikap acuh tak acuh. Dara malah memilih tuk menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Tak berniat untuk menjawab Ruby.


Melihat hal itu, sudah pasti memancing emosi Ruby. "Dara jawab!" tukas Ruby.


Karena Ruby yang terus memaksa dirinya, dengan malas Dara pun menjawabnya dengan, "hm."


"Hm apa?" tanya Ruby tak mengerti.


"Ya hm."


"Hm apa? Yang jelas dong!"


Mendengar kata iya, sontak Ruby pun melebarkan matanya dan menatap Dara dengan antusiasnya.


"Seriusan lo?! Jadi kalian berdua meresmikan hubungan kalian?!" ucap Ruby memastikan.


Dan Dara hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.


Atas respon Dara, Ruby pun tersenyum bahagia. "Haduh Dara. Gue bilang juga apa. Pasti kalian gak bakal tahan. Orang setiap hari barengan, mustahil kalo kalian gak ada rasa," jelas Ruby.


Mengetahui ketidak jombloan Dara, membuat Ruby turut merasa senang. Ia sampai terus mengembangkan senyumannya. Mungkin momen itu selalu menjadi momen penantian Ruby. Karena seperti yang dikatakan Ruby pada saat itu, Ruby selalu menginginkan temannya ini untuk segera merasakan cinta. Supaya hidupnya Dara tidak datar-datar amat. Namun siapa sangka, temannya ini pada akhirnya mengakhiri status jomblo yang sudah lama berkepanjangan.


"Tapi sejak kapan kalian begini? Atau jangan-jangan udah lama yah?" tebak Ruby.


"Baru juga kemaren," jawab Dara.


"Hah, kemaren! Masih anget dong!" seru Ruby bersemangat.


"Anget apa sih Ruby. Aneh-aneh aja dah bahasa lo."


"Ya anget hati, pikiran. Jangan-jangan anget ini juga," ucap Ruby ambigu.


Tak mengerti dengan maksud perkataan Ruby, Dara pun melihat Ruby heran. "Ini apa?" tanyanya.


"Ya ini," ucap Ruby masih teguh dengan jawaban ambigunya. Namun kali ini, ia mengucapkannya sembari melirik ke arah bawah.


Namun tetap saja, hal itu tak cukup membuat Dara mengerti. Dara pun memasang wajah frustasi. "Ini apa sih?! Yang jelas dong kalo ngomong."


Ruby yang geram karena Dara yang tak juga mengerti maksudnya, ia pun berdecak sebal. Jika sudah begini, tak ada pilihan lain selain dirinya akan berbicara jelas. Ia dengan bodo amatnya akan berbicara tanpa difilter. "Ciuman!" seru Ruby dengan badassnya.


Apa yang dikatakan Ruby, jelas membuat Dara membulatkan matanya. Ia terkejut bukan main.


"Ruby! Lo apa-apaan sih!" kesal Dara. Ya bagaimana tidak kesal, orang Ruby baru saja berbicara vulgar di depan khalayak ramai. Wajar saja ia merasa kesal.


"Ya elo. Gue kasih kode gak ngerti-ngerti," balas Ruby tanpa ada rasa bersalah.


Dara tak menimpali omongan Ruby. Ia terlanjur kesal dengan ulah temannya. Jadi ia memilih kembali menyibukkan dirinya dengan ponselnya.


"Jadi lo ciuman gak?" tanya Ruby lagi. Namun kini suaranya sudah kembali dikecilkan.


"Tau ah," jawab Dara acuh.


"Wah jangan-jangan udah," tebak Ruby dengan senyum jahilnya.


Mendengar tebakan Ruby, membuat otak Dara spontan mengingat momen di saat Abhay menciumnya. Momen itu seakan kembali berputar-putar dalam memori Dara. Karena hal itu, membuat raut wajah Dara seketika berubah seperti orang kebingungan dengan tatapan kosong. Dara benar-benar terbawa lagi dengan adegan itu.


Ruby yang sadar dengan reaksi Dara yang aneh, seperti orang linglung, ia bisa menyimpulkan bahwa tebakannya memang benar.


"Jadi bener?!" tanyanya lagi memastikan.


Dan Dara pun diam. Ia tak mengiyakan ataupun menidakkan. Namun dengan diamnya Dara, sudah cukup bagi Ruby untuk mengetahui jawabannya. Karena jika tidak, pastinya Dara dengan cepat langsung berkata tidak. Namun jika diam, itu adalah bahasa lainnya Dara yang artinya iya.


Ruby pun membelalakkan matanya. "Seriusan udah?! Omo omo omo! Lo harus cerita sama gue sedetail mungkin!" pinta Ruby dengan begitu antusiasnya.


Tepat di saat Ruby meminta hal itu. Sang malaikat penyelamat Dara datang dengan timing yang tepat.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa Bu Desi yang kini sudah masuk ke kelas mereka.


"Tapi udah masuk," ucap Dara dengan senyum yang sudah kembali merekah.


Karena hal itu, Ruby pun berdecak kesal. "Pokoknya istirahat nanti lo harus cerita sama gue!" perintah Ruby memaksa.