
Di jam pelajaran yang akan usai, sebuah ponsel terasa bergetar di saku seragam Dara. Dara awalnya tak mempedulikannya, dia pikir getaran itu berasal dari pesan notifikasi aplikasi tak penting. Namun saat getaran itu muncul sebanyak tiga kali, rasanya mustahil jika itu sekedar notifikasi biasa.
Dara dengan hati-hati mengeluarkan ponselnya, dan menaruhnya di bawah meja. Ia pun memeriksanya.
Kak Abhay.
Dara, gimana kabarnya?
Kalo lo ada waktu, pulang sekolah gue pengen ketemu sama elo.
Di rumah kita.
Dara cukup lama menatap pesan itu. Terkejut, senang, sedih, pilu, semuanya terjadi dalam waktu bersamaan. Setelah dua purnama ia lewati, Abhay baru memberi tanda bahwa dirinya masih ada. Semakin lama Dara melihat pesan itu, lama-kelamaan dada Dara terasa sesak, ditambah cairan bening yang memaksa ingin keluar, membuat Dara semakin kewalahan untuk mengontrol batinnya. Ia tak mau jika ada seseorang yang melihat gelagatnya, jadi ia buru-buru menengadahkan kepalanya ke atas, mencoba untuk memasukan kembali air mata itu.
Orang terdekat Dara tentu saja tahu. Ruby dapat melihat gelagat aneh Dara. Ia juga menyadari bahwa Dara sedang menahan tangis. Namun Ruby memilih diam. Jika ia tanya kenapa, pasti Dara malah akan menangis. Perempuan memang ditakdirkan seperti itu.
...****************...
Rumah kita. Itulah sebutan yang tak sengaja Dara ucapkan untuk menggambarkan atap rumah sakit itu. Dara menatap gedung di depannya cukup lama, hatinya merasa bimbang. Di sisi lain, ia sangat ingin melihat Abhay. Walaupun baru dua hari ia tidak bertemu dengan lelaki itu, namun rasa rindu yang menggebu-gebu tetap Dara rasakan. Di sisi lain juga Dara merasa ragu, takut dan juga tak tega. Tak tega melihat Abhay yang hancur akibat ulah keluarganya sendiri. Walaupun bukan dirinya yang melakukan dan bahkan dirinya pun tak tahu dengan seluk-beluk tentang masalah itu, namun tetap, Dara turut merasa bersalah juga.
Jika begitu, jadi apa pilihannya? Apakah dia harus menemuinya atau tidak?
Derap langkah kaki itu yang menjawabnya. Dara memilih untuk pergi menemui Abhay. Pilihannya tak salah. Lagi pula, dengan menemuinya, masalah akan lebih jelas untuk kedepannya. Dara pun tak boleh menghindar juga.
Perlahan tapi pasti Dara berjalan menuju lantai paling atas. Hingga tiba saat dia tinggal membuka pintu terakhir, Dara menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menyiapkan mental untuk menemui Abhay.
Ceklek.
Pintu yang menghubungkan dengan atap luar sudah Dara buka, perlahan Dara membuka pintu itu lebih lebar. Untuk sesaat jantung Dara berhenti berdetak. Saat pintu itu sudah Dara buka sepenuhnya, ia langsung mendapati punggung lelaki yang sudah sangat ia rindukan. Abhay sudah menunggunya di sana. Dengan duduk di bibir atap dan di atas lantai kotor, lelaki itu terus melihat ke depan sembari menatap langit sore.
Nafas Dara terasa berat, bahkan langkahnya pun turut merasa berat. Padahal ini adalah saatnya. Saat dimana ia menjawab kerinduannya, dan saat ia akan menemukan kejelasannya.
Dara berdehem kecil, memberi isyarat kepada Abhay bahwa dirinya telah sampai. Dengan gerakan lambat, Dara mendudukkan dirinya di samping Abhay, menyisakan jarak setengah meter dengan Abhay.
Kedatangan Dara nyatanya tak langsung direspon oleh Abhay. Entah sadar atau tidak, Abhay masih mempertahankan pandangannya menatap lurus ke depan. Akibatnya, kesunyian pun menemani mereka berdua, hingga membuat suasana menjadi begitu kaku.
"Makasih udah mau dateng."
Kalimat pertama akhirnya diucapkan dari mulut Abhay. Dara sedikit tersentak, namun ia belum berani menimpali Abhay, bahkan melirik saja ia tak mampu.
"Gimana kabarnya?" tanya Abhay dengan suara beratnya.
Untuk kedua kalinya Abhay menanyakan kabar Dara. Lelaki itu memang aneh. Abhay masih sempat-sempatnya menanyakan kabar orang lain disaat kabar dirinya sendiri pun harus dipertanyakan. Dara sendiri menjadi iba saat mendengarnya.
"Ba... hmm... baik," jawab Dara dengan suara serak muncul di awal kalimatnya. Kegugupan masih menerpanya.
"Kak-"
"Dar-"
Jika tadi mereka sama-sama diam, kini mereka sama-sama bersuara. Mereka kompak memanggil satu sama lain.
"Kakak aja dulu," ucap Dara mempersilakan Abhay untuk berbicara lebih dulu.
"Gak. Lo aja dulu. Soalnya gue bakal ngomong lumayan panjang," balas Abhay melempar balik pada Dara.
Dara mengangguk, karena Abhay sudah memintanya, dia yang akan memulainya lebih dulu. Ia akan menanyakan pertanyaan yang sudah menggangunya selama dua hari terakhir.
"Kakak... habis kemana?" tanya Dara padanya, namun dengan pandangan yang masih sama-sama melihat ke depan.
"Gue sendiri gak tahu, gue habis kemana," jawab Abhay terdengar bercanda.
Susah payah Dara mengumpulkan keberanian untuk membuka suara, namun sekalinya ia bersuara malah dibalas candaan oleh Abhay. Ia pun melirik ke arah Abhay geram. "Kak, gue nanya serius," ucapnya datar.
"Gue juga serius," balas Abhay tak lama. Sesuai dengan perkataannya, memang raut wajah Abhay yang sudah nampak serius. "Karena gue pergi tanpa ada mikir apa-apa, gue ngikutin kemana perginya motor gue. Sadar-sadar gue udah ada di desa terpencil."
Dara termangu. Melihat bagaimana raut wajah Abhay, nampak Abhay tak sedang berbohong. Dia tak mempersalahkan tindakan Abhay, karena dia sadar diri dan tahu bagaimana hancurnya Abhay pada saat itu.
"Makan, tidur. Gimana?" tanyanya lagi.
"Ya buat makan ada. Kalo tidur. Pernah tidur di tempat ibadah. Kalo gak ada tempat, ya gue gak tidur," ungkap Abhay, tanpa ragu memberitahu kebenaran kepada Dara.
Dara kembali termangu, kini hatinya ikut merasa getir. Apa yang diakui Abhay sungguh membuat dirinya hancur sehancur-hancurnya. Ia berperasaan bahwa kesengsaraan yang terjadi kepada Abhay adalah akibat dari tragedi yang melibatkan keluarganya.
Dara tak sanggup mendengarkannya lagi. Ia pun tertunduk, menutupi wajahnya dari derai air mata yang mulai timbul pelupuk matanya.
Menyadari Dara yang diam saja, Abhay menengokkan kepalanya mengarah pada Dara. Ia segera mendapati Dara yang sedang tertunduk. Tanpa bertanya, Abhay dapat mengerti mengapa Dara tertunduk seperti itu.
"Udah gak papa. Gue juga baik-baik kok. Malahan seru, gue berasa kaya lagi petualangan," ucap Abhay dengan sedikit candaan, bermaksud menghibur Dara. Namun sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya.
Dara bukan lagi sekedar tertunduk sambil menangis tanpa suara, namun kini tangisan itu sudah beralih menjadi sebuah isakan. Dara menangis terisak-isak dengan kedua lutut yang menutupi wajahnya. Tangisan Dara pecah. Kalimat penghibur yang dilontarkan dari mulut Abhay malah membuat jiwanya semakin remuk.
"Kok lo malah nangis?" tanya Abhay. Jujur saja ia menjadi bingung. Ia merasa bahwa dirinya tak mengucapakan kalimat yang menyakiti hati Dara. Lalu mengapa Dara malah menangis?
"Dara lo kenapa?" Abhay kembali bertanya.
Dara sedikit mengangkat kepalanya, dengan diiringi isakan, Dara pun berucap. "Kakak gak usah bersikap seolah-olah Kakak baik-baik aja. Karena gue udah tau semuanya."