
Keesokan harinya di pagi hari.
Dengan jubah mandi yang melekat pada tubuhnya, Dara membuka lemari big sizenya lebar. "Gue pake baju apa yah?" tanyanya pada diri sendiri.
Dara menelisik setiap sudut lemarinya. Bola matanya terlalu sibuk untuk melirik ke kanan ke kiri. Ia mencoba memilah-milah baju yang kira-kira cocok untuk dipakainya. Namun tak lama, malah suara hembusan nafas yang terdengar, ia mengasihani dirinya sendiri saat melihat lemarinya yang hanya berisikan kaos-kaos, luaran, dan beberapa kemeja saja. Tak ada yang spesial.
"Dara ... Dara. Lo cewek apa bukan sih?"
Dara benar-benar frustasi. Ia tak mungkin mendadak membeli baju di saat Abhay sudah dalam perjalanan menuju rumahnya. Yah. Abhay tak main-main dengan omongannya. Hari ini mereka akan melakukan kencan pertama mereka setelah mereka meresmikan hubungan mereka yang kini sudah berbeda cerita.
Cukup lama Dara merenung tanpa ada jawaban, hingga akhirnya ia berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang akan ia kenakan. "Ah bodo lah. Pake aja yang ada," ujarnya.
Dan pilihan Dara jatuh pada kaus putih polos, dengan luaran kardigan rajut oversize dan bawahannya memakai celana hitam standar.
Setelah masalah pakaian selesai, kini masalah beralih pada rambutnya. "Trus rambutnya? Diiket apa digerai?"
Dara melepaskan ikatan rambutnya. Ia yang sudah terbiasa dengan kunciranya, jadi ia akan mencoba hal baru dengan menggeraikan rambutnya. Namun lagi-lagi ia selalu tak pede di saat rambutnya dibuat seperti itu.
"Kenapa selalu kelihatan aneh kalo coba diginiin," ucapnya geram. Ia pun mengacak-acak rambutnya kesal.
Tak lama, suara notifikasi chat terdengar. Dara melirik untuk mencari tahu siapa yang sudah mengirimkannya pesan. Dan layar kuncinya tertera nama 'penagih utang' di sana, dan ia pun membaca isi pesan yang tertera di bawah nama kontak itu.
Gue udah di depan.
Mengetahui Abhay yang sudah menunggu di depan rumahnya, Dara seketika panik. Ia masih belum beres dengan rambutnya.
Setelah lama berpikir, Dara kembali mengikat rambutnya yang sempat terurai. "Bodo ah. Diiket aja!" seru Dara, akhirnya ia memilih yang aman-aman saja.
Setelah itu, Dara memoles wajahnya dengan sedikit make up. Bagaimana pun ini adalah kencan, jadi setidaknya ada hal beda yang harus Dara tampilkan.
Saat semuanya beres, Dara bercermin untuk terakhir kalinya. Ia mengecek apakah penampilannya sudah cukup rapi. Di saat sudah merasa rapi, Dara segera berlari keluar dari kamarnya, ia pun buru-buru turun dari tangga untuk menemui Abhay yang sudah ada di luar. Untung saja kedua orang tuanya sedang pergi, dan Andra yang masih tidur, jadi ia dengan mantapnya bisa keluar rumah dengan leluasa, tanpa adanya pertanyaan-pertanyaan aneh dari anggota keluarganya.
Sebelum membuka pintu keluar, Dara mengatur nafasnya yang terengah-engah. Setelah nafasnya sudah teratur, Dara membuka pintu itu dan keluar.
"Udah. Ayo," ajak Dara pada Abhay.
Abhay yang sedari tadi sedang duduk di kursi teras, ia langsung memutar badannya dan berdiri berhadapan dengan Dara.
"Ayok," ajak Dara lagi, karena bingung saat Abhay yang malah terus menatapnya tanpa ada niatan untuk beranjak pergi.
"Bentar," pinta Abhay.
Seketika Dara menegangkan tubuhnya, karena Abhay yang terus saja menatapnya. Kenapa raut Abhay tiba-tiba sangat serius? Apakah ada sesuatu yang aneh dari wajahnya? Apakah make up nya terlalu tebal? Padahal ia hanya menggunakan make up tipis. Lalu ada apa sebenernya?
"Apa Kak?" tanya Dara memberanikan diri.
Bukannya menjawab, Abhay malah mendekatkan tubuhnya lebih dekat dengan Dara. Jelas saja hal itu membuat tubuh Dara yang sudah tegang menjadi lebih tegang lagi, sampai nafas pun terasa sangat sulit baginya.
Abhay semakin dekat dan semakin dekat lagi dengan Dara. Karena jarak mereka yang sangat-sangat begitu dekat, membuat Dara tak berani menatap Abhay lagi, dan ia pun menutup matanya karena gugup.
Dan yang terjadi sebenarnya adalah, Abhay menarik ikatan rambut Dara hingga membuat rambut panjang Dara kini terurai begitu indah.
Diperlakukan seperti itu, sontak Dara membuka matanya kembali dan tertegun dengan apa yang baru saja Abhay perbuat. Sebelumnya ia sudah dibuat bingung dengan rambutnya, namun dengan mudahnya Abhay menjawab kebingungannya itu.
"Kok tali rambut gue malah dilepas?" tanya Dara ingin mencari tahu alasannya.
"Gue bosen ngeliat rambut lo diiket terus. Kalo digerai gini kan keliatan beda. Dan tentunya ... lebih cantik," tutur Abhay.
Suara Abhay begitu hangat dan terdengar begitu manis di telinga Dara. Ia sampai tak bisa menutupi rasa malunya karena ia benar-benar terbuai dengan ucapan manis itu. Karena rasa malunya yang begitu kuat, ia pun menghempaskan pandangannya dari Abhay, dan mencoba menetralisir jantungnya yang langsung berdegup kencang.
Seakan tahu apa yang Dara rasakan, Abhay mengeluarkan senyum jahil andalannya. "Udah gak usah baper. Biasa aja," goda Abhay.
"Siapa juga yang baper," balas Dara dengan pandangan entah kemana. Ia berlagak acuh tak acuh seakan tak terjadi apa-apa pada dirinya.
Abhay hanya tersenyum simpul melihat tingkah Dara yang begitu menggemaskan di matanya. Seolah belum cukup puas untuk membuat Dara salting, Abhay berencana untuk menggoda Dara lagi.
"Lagian kenapa pake tutup mata segala sih? Lo pikirnya gue mau ci-" ucapan Abhay disergap lebih dulu oleh Dara.
"STOP!! Mending sekarang kita pergi aja! Okeh! Ayok pergi!"
Dara tahu apa yang akan Abhay katakan padanya, dan untung saja ia dengan sigapnya langsung memotong ucapan itu. Jika Abhay berhasil meloloskan ucapannya tadi, bisa-bisa Dara dibuat malu untuk kedua kalinya.
Abhay kembali menarik kedua sudut bibirnya, ia tak akan lagi menggoda Dara. Melihat bagaimana reaksi Dara tadi, sudah cukup baginya untuk membuatnya senang.
...****************...
Setelah menempuh waktu sekitar 20 menit dari rumah Dara, ternyata Abhay membawa Dara ke salah satu mall terbesar yang ada di pusat kota. Saat mereka sudah masuk di mall itu, tiba-tiba Dara menghentikan langkahnya dan merenung.
"Kenapa?" tanya Abhay menyadari tingkah Dara yang tiba-tiba aneh.
"Apa gak masalah, kita jalan-jalan di tempat umum kaya gini? Kalo ada anak dari sekolah kita yang liat, gimana?" tanya Dara, mempertanyakan ke khawatirannya pada Abhay
"Ya mau dimana lagi? Dimana-mana pun tempat umum," jelas Abhay. "Mau ke rumah gue aja yang sepi?" tawarnya dan langsung dihadiahi pelototan lebar dari Dara.
"Kak Abhay! Apa-apaan sih?!" seru Dara geram, karena apa yang ditawarkan Abhay berhasil membuat pikirannya kotor.
"Tuh kan. Yang rame gak mau, yang sepi gak mau. Maunya dimana?" tanya Abhay, kini ia sangat serius menanyakan itu.
Dara kembali termenung. Ia sendiri tak tahu, dimana tempat yang paling cocok itu. Karena yang diucapkan Abhay memang benar. Judulnya juga kencan, dan tempat yang umum didatangi pun pastinya tempat-tempat hiburan yang tentunya banyak orang-orang di dalamnya.
"Udah lah. Yang penting kita waspada aja," tambah Abhay, mencoba menjawab kebingungan Dara.
Tak lama Dara membuang nafasnya pasrah, dan ia pun mengangguk kepalanya pelan. "Ya udah deh," ucapnya.
Abhay pun tersenyum lega. Karena Dara yang sudah setuju, ia perlahan menautkan jari-jarinya pada jari-jari milik Dara. Dan ia membawa Dara untuk berjalan lebih dalam lagi.
Jika dipikir-pikir, memang sangat aneh. Di saat Abhay baru saja mengatakan kalimat 'waspada', namun tindakannya jauh dari kata waspada. Dan yang lebih aneh lagi, Dara begitu pasrah saat Abhay menautkan jari jemarinya. Seakan kewaspadaan itu benar-benar tak ada. Mereka sebenarnya sama-sama menikmati momen itu.
Dan siapa sangka, dalam hitungan detik kekhawatiran Dara benar-benar terjadi. Karena kini, dari kejauhan ada seseorang yang sedari tadi sudah memperhatikan gelagat mereka berdua. Dengan ponsel yang ada di tangannya, ia mengarahkan ponselnya pada mereka. Dan...
Jepret!
...****************...
Mungkin sudah hampir setengah jam Dara dan Abhay hanya berputar-putar mengelilingi mall tanpa ada tujuan yang jelas. Karena sudah terlalu lama dibuat jalan-jalan oleh Abhay, Dara pun berniat untuk bertanya.
"Kok kita malah muter-muter gak jelas sih? Kakak mau bawa gue ke mana sebenarnya?"
Pada akhirnya Dara bertanya, karena kakinya sudah merasa pegal akibat Abhay yang malah membuatnya seperti sedang berjalan santai di acara tujuh belas agustusan.
Dan dengan wajah tanpa dosanya Abhay menggidik bahunya acuh, dan menjawabnya dengan, "gak tau."
Sungguh. Itu adalah jawaban terkesal yang pernah Dara dengar. Kakinya sudah ia korbankan, namun dengan entengnya Abhay malah menjawabnya dengan 'gak tahu'.
"Dih dodol! Gue kira Kakak punya planning kita mau ngapain!" seru Dara kesal, ia sungguh tak bisa menahan emosinya lagi.
"Gue bawa lo kesini aja baru kepikiran tadi pas di jalan. Boro-boro planning," tutur Abhay dengan sejujur-jujurnya.
Dara berdecak, dan menatap Abhay kesal. Dia kira kencan yang akan mereka lakukan akan begitu terkesan dan terasa indah seperti apa yang pernah Ruby ceritakan kepadanya. Namun apa ini? Kencan tanpa rencana yang jelas? Sungguh kasihan sekali Dara ini.
"Gini deh. Kakak sebelumnya pernah bawa cewek Kakak kemana?" Dara mencoba mencari solusinya.
"Mana gue tau. Orang gue belum pernah," jawab Abhay begitu polosnya.
Jawaban Abhay tentu saja membuat Dara terkejut bukan main. "Hah! Belum pernah?!" tanyanya ngegas.
"Iya," jawab Abhay.
"Seriusan?" Dara masih mencurigakan keseriusan Abhay.
"Lo gak percayaan banget sih?"
Jelas saja Dara tidak percaya. Karena fakta yang Abhay katakan sangat tidak sinkron dengan apa yang sudah Abhay perlakukan terhadapnya. Perkataan manis itu. Tindakan-tindakan kecil Abhay yang berhasil membuat jantung Dara berdebar. Dan ciuman itu? Kenapa semua itu terlihat seperti Abhay yang sudah sangat-sangat berpengalaman?
Sebingung-bingungnya Dara memikirkan fakta itu, namun ia juga tak berani menanyakannya langsung kepada Abhay. Ia malah membalasnya dengan hal lain.
"Gue kira cowok bad boy itu terkenal play boy. Tapi ternyata ada yang masih polos," tutur Dara.
Abhay tersenyum miring saat Dara baru saja menyinggung harga dirinya dengan sangat jelas. "Ngomongin orang. Lo sendiri emang pernah pacaran? Gak juga kan." Abhay pun mengskakmat balik Dara.
Dara pun terpaku. Bodohnya dia malah menyampaikan hal seperti itu di saat posisinya tak jauh berbeda dengan Abhay. Jika sudah begini, Dara pun jadi tak bisa menyangkal omongan Abhay, jadi ia berniat akan langsung mengalihkan topik.
"Ya udah deh, biar gue yang pilih tempatnya," ucap Dara.
Karena Abhay yang tidak tahu akan berbuat apa, jadi Dara mau tak mau harus mengendalikannya. Karena ia sendiri tak mau jika kencan pertamanya dengan Abhay akan berakhir tanpa adanya kesan.