
"Rumah sakit?" tanya Vano saat mereka telah tiba di rumah sakit di mana Andra pernah dirawat.
Sesuai permintaan Vano, Dara telah menunjukkan tempat yang memungkinkan adanya Abhay di sana. Dan rumah sakit itu adalah jawabannya. Karena Dara ingat, saat Abhay membawanya ke atap, Abhay pernah bilang kepadanya bahwa tempat itu sering dikunjungi oleh Abhay. Jadi Dara berpikiran bahwa atap memungkinkan untuk menjadi tempat persembunyiannya Abhay.
"Iya," jawab Dara setelah turun dari motor Vano.
"Dia ngumpet di kamar mayat?" tebak Vano asal.
"Bukan, tapi di atap."
"Hah, atap?" Vano tak mengerti.
"Iyah di atas sana. Coba aja Kakak langsung cek. Kali aja ada."
"Lo aja deh yang ke sana," timpal Vano malah menyuruh balik Dara.
"Kok gue? Gue kan cuma nunjukin tempatnya doang. Kok gue juga yang harus nyamperin," ungkap Dara tak terima. Karena ia berpikir bahwa Vano hanya meminta antar saja. Setelah selesai, itu akan menjadi urusan Vano. Tapi kenapa Vano malah meminta lebih?
"Nih yah. Kalo gue yang ke sana, pasti tuh orang bakal marah ke gue karna tahu tempat persembunyiannya," jelas Vano.
"Tolong bantuin gue yah. Tolong cek keadaan dia," pintanya. Kini Vano sampai memasang muka memelas berharap Dara akan luluh dengan keinginannya.
"Trus Kakak gimana?" tanya Dara.
"Ya gue pulang."
"Kalo gak ada Kak Abhay gimana? Gue ditinggal dong."
Vano pun berpikir. Benar juga apa yang diucapkan Dara. Kalo tidak ada bagaimana? Sama saja menelantarkan anak orang jika ia pergi begitu saja.
Tak lama, sebuah lampu bohlam muncul di otaknya. "Udah gini aja. Siniin hp lo," pinta Vano.
"Buat?" tanya Dara tak paham dengan rencana Vano.
"Siniin aja dulu," jawabnya.
Tak mengerti dengan rencana Vano, Dara memberikan ponselnya. Setelah itu, Vano langsung mengoprek ponsel Dara seperti sedang mengetik sesuatu di sana. Setelah selesai, Vano mengembalikannya lagi.
"Nih nomer gue, kabarin gue kalo lo udah tau ada Abhay atau nggak," ungkap Vano
Baru mengerti rencana Vano, Dara pun manggut-manggut paham. "Ya udah deh, gue ke sana," kata Dara. Ia pun menuruti permintaan Vano untuk menemui Abhay.
Mendengar Dara menyetujuinya, Vano pun tersenyum senang. Sesuai rencana, ia akan menunggu Dara dari luar. Dan Dara, tak lama ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah sakit itu.
Saat sudah berada di dalam, Dara langsung melangkahkan kakinya menuju lift dan mengarahkan lift itu menuju lantai paling atas. Karena batas lift itu tidak sampai di atap, jadi Dara masih melanjutkan langkahnya untuk menaiki sebuah tangga. Setelah sampai, Dara pun membuka sebuah pintu yang menghubungkannya dengan keadaan luar. Dan saat itulah Dara langsung menemui keberadaan Abhay yang tengah duduk termenung di bibir atap.
Saat sudah memastikan keadaan Abhay, Dara seraya menelpon Vano yang sedang menunggunya.
"Halo, Kak. Dia ada di sini," ucap Dara.
"Sukur deh. Kalo gitu gue pulang yah," balas Vano.
"Trus gue harus ngapain?" tanya Dara.
"Ya samperin aja, ajak ngobrol dia. Pasti sekarang dia kaya orang kesepian. Apa lo gak kasihan ngeliatnya?"
Saat Vano mengatakan hal itu, Dara kembali melihat punggung Abhay. Hanya melihat dari belakang saja, Dara pun membenarkan apa yang dikatakan Vano. Abhay benar-benar seperti orang yang sedang kesepian. Dan Dara memang tak tega melihatnya.
"Oh ya. Nanti kalo misalkan Abhay cerita sesuatu sama elo, tolong coba bujuk dia," pinta Vano tiba-tiba.
"Bujuk gimana?"
"Intinya coba halangin apa yang mau Abhay lakuin."
"Halangin?" Dara masih tak paham.
"Nanti juga lo tau," kata Vano tanpa memberi jawaban yang jelas. "Gue titip dia yah," lanjutnya.
"Tapi, Kak. Gue gak pah-" ucapan Dara terpotong, karena Vano secara sepihak langsung memutuskan panggilan itu.
"Aish. Kak Vano ambigu banget sih!" kesal Dara setelah Vano memperlakukannya seperti itu.
Dara pun kembali menatap punggung Abhay. Apakah dia harus menemuinya? Lalu, apa yang akan dia katakan setelah ia sudah menemuinya? Keraguan-keraguan seperti itu berbarengan menyelimuti otak Dara. Namun semakin lama ia menatap punggung Abhay, semakin ia tak tega melihatnya.
Dengan sepenuh keyakinan yang sudah ia kumpulkan, perlahan Dara melangkahkan kakinya menuju lebih lebih dekat dengan Abhay. Tak peduli apa yang akan dia katakan nanti, yang jelas ia akan menemuinya terlebih dahulu.
"Hm." Dara berdehem pelan untuk menyadarkan Abhay yang tengah melamun.
Abhay pun sontak menoleh pada sumber suara, dan sedikit terkejut melihat keberadaan Dara yang tiba-tiba. "Kok lo di sini?" tanyanya heran.
Sebelum menjawab, Dara memposisikan dirinya untuk duduk di sana, dan menyisakan jarak satu meter dengan Abhay. "Disuruh temen Kakak," jawabnya setelah duduk.
"Vano?"
"Iyah." Dara mengiyakan. "Temen Kakak khawatir sama Kakak. Trus gue disuruh nyariin Kakak karena mereka gak tau," ungkapnya.
"Trus lo tau gue di sini?"
Setelah mengetahui jawaban sebenarnya, Abhay tak lagi bertanya. Ia kembali sibuk menatap lurus ke depan, dan melanjutkan lamunannya.
Dan Dara, ia iseng melihat wajah Abhay dan langsung mendapati sesuatu yang sangat menggangunya. Ia pun mengambil tas yang sedari tadi digendongnya dan merogoh sesuatu di sana. Setelah dapat, Dara segera menyerahkannya pada Abhay.
"Nih. Jijik banget gue liatnya," ucap Dara sambil menyerahkan sehelai sapu tangan kepada Abhay.
Abhay pun melihat apa yang Dara berikan. Tanpa bertanya, ia langsung mengerti apa yang dimaksud Dara. Lalu ia pun mengambilnya dan mengarahkan sapu tangan itu untuk menyeka sisa-sisa darah yang masih mengalir di beberapa bagian wajahnya.
Saat Abhay selesai menyeka darahnya, tak ada pembicaraan lagi setelahnya. Suasananya menjadi begitu hening. Saking heningnya, mereka sampai bisa mendengar suara kicauan burung-burung yang berterbangan di atas kepala mereka. Bukan hanya itu. Desiran angin sore pun sampai terdengar jelas oleh telinga mereka.
Karena keheningan yang terlalu berlarut-larut, hal itu menimbulkan suasana kecanggungan di antara mereka. Dara sendiri merutuki dirinya bahwa dugaannya ternyata benar. Pasti kecanggungan itu akan menyelimuti mereka.
Oh god! Kok canggung begini sih! Gue harus ngapain coba? tanya Dara dalam hatinya.
Apa gue basa-basi aja yah. Dari pada canggung begini kan, lanjut batin Dara mencoba mencari solusi.
Memang tak ada pilihan lain untuk mengakhiri kecanggungan mereka selain salah satu dari mereka harus membuka suaranya terlebih dahulu. Dan Dara bersedia melakukan itu, walaupun ia tak tahu apa yang akan dia katakan nanti.
"Kak-" ucapan Dara terpotong.
"Hidup gue ancur. Gue gak tau harus gimana."
Baru saja Dara membuka suaranya, tiba-tiba Abhay mengambil suara pertamanya. Karena Abhay yang lebih dulu berbicara panjang, Dara memutuskan untuk mendengarkan apa yang akan Abhay katakan.
"Orang yang paling deket sama gue, kenapa dia yang harus pergi," lanjut Abhay tanpa memutuskan pandangannya pada senja sore yang terlihat di depan mata mereka.
"Siapa orang yang Kakak maksud?" tanya Dara. Ia pun tiba-tiba tertarik dengan apa yang akan Abhay sampaikan.
"Ibu gue," jawab Abhay. "Tiga tahun lalu gue harus kehilangan ibu gue dengan cara yang tragis," lanjutnya.
Melihat raut wajah Abhay yang sangat serius, membuat Dara turut serius mendengarkan cerita Abhay dengan seksama.
"Ibu gue ditabrak motor sama anak SMA sampai meninggal. Dan sialnya orang yang melakukan itu sama sekali gak nerima ganjarannya. Malahan pas tadi gue nemuin dia, orang itu masih bisa hidup tenang," ungkap Abhay menyingung apa yang baru saja terjadi pada siang tadi.
"Kenapa bisa dia gak dihukum?" tanya Dara heran.
"Karena saat itu, si bajingan itu belum cukup umur buat nerima hukuman," ungkap Abhay.
"Kalo tiga tahun lalu, berarti sekarang dia gak di bawah umur lagi dong. Setahu gue, kasus bisa diteruskan kalo si pelaku udah gak di bawah umur lagi," jelas Dara. Ia berani mengatakan hal itu, karena ia pernah melihat kasus yang sama dengan apa yang terjadi pada Abhay.
"Kenapa Kakak nggak laporin dia lagi?" tanya Dara.
"Sejak hukum ngelolosin dia begitu aja, gue gak percaya lagi sama hukum. Menurut gue, pembunuh ya tetep pembunuh, seharusnya gak mandang umur. Dan seharusnya si bajingan itu udah nerima hukumannya tepat saat dia ngelakuin hal itu. Tapi kenyataanya, sampe sekarang bajingan itu masih keliaran dimana-mana," tutur Abhay dengan jiwa yang begitu berkecamuk.
"Ditambah bokap gue yang lepas tangan begitu aja. Jadi gue berniat buat hukum sendiri dengan tangan gue sendiri," jelas Abhay dengan yakinnya.
Mengerti apa yang dimaksud Abhay, Dara sontak melebarkan matanya dan menoleh pada Abhay dengan tatapan tak percaya.
"Kakak mau buat nasib dia sama seperti nasib ibu Kakak? Bukannya kalo gitu, Kakak malah mempersulit keadaan?" tanya Dara. "Nanti gimana perasaan ayah Kakak. Udah berat harus kehilangan istrinya, masa dia juga harus menerima kenyataan bahwa anaknya adalah seorang pembunuh. Apa Kakak gak kasihan?"
Mendengar penuturan Dara, Abhay seraya tersenyum miris. "Ayah? Ngapain juga gue kasihan sama dia. Dia nya juga gak pernah nganggap gue anak. Pulang hanya karena ada maunya aja. Sibuk kerja lagi trus lanjut cari wanita lain. Apa bisa orang kaya gitu disebut ayah," jelas Abhay.
Apa yang dijelaskan Abhay membuat Dara sadar bahwa memang ada sesuatu yang tak beres terjadi pada keluarga Abhay. Dan ia langsung memaklumi itu.
"Gue emang gak tahu sesuatu yang terjadi di dalam keluarga Kakak. Tapi apa dengan melakukan hal yang sama, apa akan membuat Kakak puas?" tanyanya pada Abhay.
"Gue yakin, bukan kepuasan yang akan Kakak dapetin, tapi tatapan-tatapan kasihan dari orang-orang yang ngeliat keputus asaan Kakak. Apa Kakak mau, dipandang lemah sama orang-orang?"
"Gue emang gak berhak ngatur keputusan Kakak. Tapi gue juga memawakili temen-temen Kakak yang gak mau ngeliat Kakak lemah kaya gini. Masih ada orang yang gak rela kalo ngeliat Kakak jadi pembunuh. Karena sebenarnya, masih ada orang yang peduli sama Kakak."
Mendengar semua penuturan Dara, membuat diri Abhay sedikit tersadar. Jiwa yang tadinya sangat berkecamuk kini Abhay sudah merasakan sebuah ketenangan di sana.
Lalu Abhay mengalihkan pandangannya untuk menatap Dara yang tengah menatap langit yang semakin menjingga.
"Kalo lo. Apa lo peduli sama gue?" tanyanya pada Dara.
"Kenapa enggak," jawab Dara tanpa memutuskan pandangannya ke depan.
"Tapi kenapa? Bukannya lo benci sama gue," tanya Abhay lagi masih menatap Dara lekat.
"Awalnya iya. Tapi sekarang gak ada alasan lagi bagi gue untuk benci sama Kakak. Malahan akhir-akhir ini, Kakak sering banget berbuat baik sama gue. Malu rasanya kalo sampe sekarang gue masih ngebenci Kakak," tutur Dara dengan sangat jujur.
Di saat Dara masih tak memutuskan pandangannya untuk melihat ke depan, di situlah Abhay masih setia untuk memandangi Dara. Kini pandangannya lebih lekat dari sebelumnya.
"Dara," panggil Abhay dengan lembut.
Merasa terpanggil, Dara perlahan memutuskan pandangannya dan beralih menatap Abhay. "Yah," seru Dara.
Bukannya berbicara untuk menyampaikan maksudnya, Abhay malah terdiam. Dan jadilah mereka yang saling terdiam dengan pandangan yang saling terkoneksi.
Dara yang tak mengerti dengan maksud Abhay yang terus menatapnya, ia pun menjadi bingung sekaligus kikuk. Dan juga, lama-kelamaan di tatap seperti itu, membuat jantung Dara berdetak begitu cepat.
Setelah cukup lama mereka saling menatap dan Abhay sudah puas menatap Dara. Abhay pun membuka suaranya.
"Sial. Kayanya gue cinta sama elo."