
Di sinilah mereka berada. Bagian paling tertinggi di rumah sakit itu. Sebuah atap berselimutkan langit yang sudah menjingga. Yah. Senja itu telah datang, dan matahari pun sudah siap untuk tertidur di ufuk barat. Kepergian matahari meninggalkan goresan indah dalam hamparan cakrawala. Dan lembayung senja membawa perpaduan warna yang begitu harmonis, dengan awan tipis yang terus melintasi dan deretan rapi gedung-gedung pencakar langit, mereka turut mengisi bagaimana gagahnya bumi.
"Wah. Keren banget!" ucap Dara dengan mata yang berbinar-binar. Kini ia tengah tertegun melihat lukisan terindah di muka bumi ini.
Dara pun menoleh pada seseorang yang telah membawanya ke sana.
"Kok gue baru tahu ada tempat kaya gini. Padahal gue sering bolak-balik ke sini, tapi gue gak tau," ujar Dara.
"Gue juga gak sengaja tau. Karena gue rasa tempat ini oke, gue jadi sering ke sini," ucap Abhay dengan netra yang turut menikmati keindahan senja itu.
Dara pun perlahan berjalan mendekati ujung atap itu. Dengan menyisakan jarak 2 meter dari tepi atap, ia terduduk santai dengan lutut yang tertekuk dan kedua tangan yang melingkar di kedua lututnya. Ia benar-benar ingin menikmati senja itu begitu dalam.
"Wah. View nya gila sih," seru Dara tak henti-hentinya memuja apa yang kini ia lihat.
Perlahan, Abhay pun berjalan dan ikut terduduk di samping Dara.
"Gila sih ini. Gak perlu jauh-jauh pergi ke pantai buat bisa liat senja sekeren ini," ujar Dara dengan senyum tipis terbentuk di bibirnya
Abhay pun menoleh, menatap lekat wajah Dara yang tengah tersenyum manis. "Lo suka?" tanyanya.
Dara pun mengangguk. "Sure," ucapnya sambil melebarkan senyumnya.
Abhay yang melihat Dara yang tersenyum, tanpa sadar kedua sudut bibirnya pun ikut terangkat. Mengingat Dara yang sebelumnya menangis tersedu-sedu dan kini melihat Dara yang kembali tersenyum, entah kenapa ada sebuah kesenangan tersendiri di dalam benak Abhay.
"By the way, thanks ya udah nunjukin tempat ini," ucap Dara sambil menoleh ke arah Abhay.
Tanpa sengaja, kedua manik mata mereka bertemu dalam satu waktu. Untuk sepersekian detik pandangan mereka saling terkoneksi, hingga akhirnya Abhay memutuskan koneksi itu karena ia baru saja merasakan hal aneh yang menjalar di dadanya.
Setelah kejadian itu, tak ada lagi yang membuka suara. Dara yang kembali sibuk memandang langit senja dan Abhay sendiri sibuk dengan pikirannya. Hal itu menimbulkan suasana sunyi di antara mereka.
Kesunyian itu tak bertahan lama, hingga akhirnya Abhay kembali bersuara karena tak nyaman dengan kesunyian itu.
"Yang gue tahu, lo gak akur sama abang lo. Tapi setelah abang lo celaka kaya gini, lo khawatir juga," ucap Abhay.
"Yah begitulah namanya kakak adek," balas Dara.
"Sampe ngerelain ngebuang air mata seember?"
Dara seketika membulatkan matanya. Ia baru sadar bahwa dirinya habis menangis di depan Abhay. Tanpa sadar pula, Dara telah menunjukan sisi lain dari dirinya yang belum pernah orang lain lihat.
"Oh ****! Kakak tadi ngeliat gue mewek, yah!" seru Dara panik.
"Emang kenapa?"
"Gue belum pernah nangis di depan orang," ujar Dara. "Dan kenapa harus Kakak orang pertama yang liat gue nangis!" lanjut Dara masih panik.
"Kenapa lo? Malu?" tanya Abhay sambil menarik salah satu sudut bibirnya.
Dara tak menjawab. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya sedikit malu. Ia pun sampai tak berani menatap Abhay.
Mengerti pikiran Dara yang sepertinya membenarkan omongannya, Abhay pun berkata, "bukannya pemberani itu bukan hanya berani menghadapi orang aja. Mengeluarkan air mata di depan orang juga bukannya tindakan yang berani? Jadi buat apa malu." Abhay bersabda.
"Tumben Kakak ngomongnya bener," balas Dara masih tak berani menatap Abhay.
Mendengarnya, Abhay mengerutkan kedua alisnya. "Emang selama ini gue ngomongnya salah?"
"Bukan salah. Tapi sering bikin gue kesel!" seru Dara sedikit ngegas dan kini sudah berani melihat Abhay lagi.
Abhay terkekeh kecil. Dara ini sangat aneh pikirnya. Baru saja menangis lalu senang lalu kini marah. Memang mood swing sekali Dara ini.
"By the way. Orang tua lo kemana?" tanya Abhay lagi. Hari ini Abhay sangat berbeda, ia lebih banyak bertanya daripada Dara.
"Orang tua gue pergi dinas ke luar kota. Eh bukan kota sih, lebih ke pelosok gitu," kata Dara. "Ayah gue kan dokter umum, trus ditugasin buat ngebantu masalah darurat kesehatan di sana. Ya intinya gitu lah. Trus bunda gue nemenin ayah gue."
Abhay pun meng-oh ria mendengar penjelasan Dara. "Oh kirain mau cari anak baru buat gantiin yang lama," ucap Abhay tak berdosa.
Tanpa berlama-lama, Dara langsung menonjok lengan Abhay karena tak terima dengan apa yang baru saja Abhay katakan
"Aw... Kok mukul gue?!" ringis Abhay sambil memegangi lengan yang menjadi sasaran tinju Dara.
"Baru aja gue bilang Kakak ngomongnya bener, sekarang udah kumat!" kesal Dara.
Abhay masih memegangi lengannya. Ia jadi tak penasaran lagi saat Dara berhasil menghabisi para perundung saat itu. Karena memang pukulannya sangat kuat.
"Sekarang gantian gue yang nanya." Kini Dara yang hendak bertanya.
"Apa?" tanya Abhay.
"Kenapa Kakak pake nantangin Kak Rakha segala?" tanya Dara.
Abhay membuang nafas kasar. Entah kenapa ia langsung malas jika sudah mendengar nama itu.
"Kakak gak tau aja kemampuan Kak Rakha itu gimana. Yang ada Kakak yang dibikin babak belur sama dia!" balas Dara. Ia berani mengatakan itu karena ia sudah paham betul bagaimana kemampuan Rakha dalam hal bela diri.
Abhay tersenyum remeh mendengar Dara yang secara tak langsung memuji Rakha.
"Lo belum tau aja kemampuan gue," guman Abhay tak mau kalah.
"Oke liat aja nanti," ucap Dara.
"Pertanyaan kedua," ujar Dara tiba-tiba.
"Ada lagi?" tanya Abhay heran.
"Ada dong," balas Dara. "Pertanyaan kedua. Kenapa Kakak ngelarang Kak Rakha deket-deket sama gue?"
Abhay kembali memasang wajah malas saat kembali mendengar nama itu.
"Gue kan udah bilang, lo itu udah gue beli," jawab Abhay tanpa beban.
Karena tak terima, Dara kembali meninju Abhay.
"Aw... Kok mukul gue lagi?!" ringis Abhay untuk kedua kalinya.
"Iya Kakak pikir?!"
"Lo harusnya jangan marah dong. Apa lo inget, waktu gue minta lo buat jadi pacar gue? Buat apa coba?" Abhay balik bertanya.
"Bayar utang," jawab Dara.
"Nah itu. Lo itu sekarang kaya jaminan buat gue. Masa iya gue kasih ke orang lain."
"Ya tapi kaya gak adil gak sih?" tanya Dara tiba-tiba.
"Gak adil gimana?" tanya Abhay terheran-heran.
"Ya gue cuma ngelakuin kesalahan sama Kakak cuma sehari doang. Tapi kenapa gue bayar utangnya sampe sekarang? Adil gak?"
"Ya suruh siapa lo selalu bales tindakan gue? Coba aja lo pasrah, mohon-mohon sama gue supaya gue gak gangguin lo. Bisa jadi gue dengerin. Eh tapi lo nya malah ngelawan terus," jelas Abhay.
Dara mencerna penjelasan Abhay. Ada benarnya juga Abhay berkata seperti itu.
"Ya Iya lah gue gak terima kalo gue ditindas. Gue juga punya harga diri kali," lirih Dara.
"Ya udah kalo gitu, berarti terima nasib aja," timpal Abhay.
Dara kembali berpikir. Sebenarnya ia sedikit ragu dengan alasan Abhay. Apakah benar itu alasannya? ujar Dara dalam hatinya.
Karena penasaran, Dara dengan bodo amatnya ia akan bertanya pada orangnya langsung.
"Tapi yakin, Kak Rakha gak boleh deket-deket sama gue alasannya karena itu?" tanya Dara memastikan.
"Ya terus menurut lo alasannya apa?"
Dara mendehem dahulu sebelum bersuara. Ia sebenarnya yakin tidak yakin untuk menyatakan hal ini.
"Ya... gue nanyain ini bukan karena kegeeran yah. Gue cuma jaga-jaga aja. Semoga aja enggak," ucap Dara ambigu.
"Lo ngomong apa sih? Yang jelas lah," seru Abhay tak mengerti apa yang Dara maksud.
"Gak cemburu, kan?" Akhirnya Dara mengatakan kalimat itu setelah sekian lama mengumpulkan niat.
Abhay terdiam untuk sesaat. Tak menyangka Dara akan berpikiran hal yang sama seperti orang-orang di sekolah tadi. Tak ingin terlalu lama menunjukan reaksi terkejutnya, Abhay langsung tertawa.
"Ih kok ketawa. Gue serius juga!" kesal Dara melihat reaksi Abhay yang malah menertawai pertanyaannya.
Abhay tak menghiraukan kekesalan Dara. Ia masih tertawa seakan-akan meremehkan pertanyaan Dara.
"Kak, jawablah. Jangan bikin gue malu!" kesalnya lagi.
Karena sudah kehabisan tenaga, Abhay pun langsung berhenti tertawa. Ia langsung menoleh pada Dara yang sedang mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Udah udah. Dari pada nanyain yang enggak enggak. Mending temuin abang lo. Udah berapa lama lo tinggal," ujar Abhay.
Perkataan Abhay berhasil membuat Dara tersadar. Ia tak sadar hari pun sudah semakin gelap. Lampu-lampu gedung pun sudah sepenuhnya menyala. Jadi sudah berapa lama ia di sana?
"Oh iya! Kakak sih ngajak ngomong terus!"
Tanpa pikir panjang Dara langsung berlari menghampiri pintu atap untuk turun, meninggalkan Abhay yang masih terpaku di sana. Abhay pun tersenyum tipis setelah melihat punggung Dara yang perlahan menghilang.
Dan sadar atau tidak, Abhay kembali mengelak jika ditanya oleh pertanyaan yang sama.