
Sesuai apa yang diminta oleh Bunda Iis, di malam harinya Abhay pergi ke rumah Dara untuk menghadiri acara makan-makan itu. Saat ia membelokan motornya untuk memasuki gerbang rumah Dara yang sudah terbuka, secara bersamaan Rakha pun datang dengan motornya. Jadilah motor mereka yang saling berdampingan.
Abhay dan Rakha pun turun dari motor mereka. Setelah mereka sama-sama melepaskan helm mereka, untuk beberapa saat Abhay dan Rakha saling menatap tajam satu sama lain.
"Lo beneran dateng?" tanya Abhay sinis.
"Emang gue bilang enggak?" Rakha balik bertanya dengan tak kalah sinisnya.
Tak lama, Bunda Iis keluar dari rumahnya dengan kedua tangan yang memegang makanan yang siap untuk disantap.
"Loh! Kalian datangnya janjian?" tanya Bunda Iis.
"Enggak," jawab Abhay dan Rakha berbarengan.
"Aduh sampe kompakan gitu jawabnya," goda Bunda Iis. "Ya udah sini-sini. Kebetulan makanannya udah jadi," ajaknya.
Lalu Abhay dan Rakha pun berjalan menghampiri Bunda Iis dan menyalaminya. Mereka pun duduk di kursi yang sudah disediakan di sana.
Bunda Iis sengaja menyediakan meja dan kursi di halaman depan rumahnya, karena ia ingin konsep makan-makan kali ini adalah outdoor.
"Ini kok sepi banget, Tante. Yang lainnya pada kemana?" tanya Rakha penasaran, karena di sana baru ada Bunda Iis saja.
"Dara sama Andra masih di dalem. Lagi siap-siap. Terus Om Leo lagi perjalanan pulang. Bentar lagi juga pulang," jelas Bunda Iis. "Gak papa kan nunggu Om Leo datang?"
"Gak papa, Tante," jawab Abhay dan Rakha berbarengan lagi.
"Kalian sering banget ngomong barengan. Temenan baik yah jangan-jangan," tebak Bunda Iis.
Mendengar tuduhan Bunda Iis, mereka pun kembali menjawab dengan serentak. "Gak!"
"Tuh, kan." Bunda Iis pun tertawa geli melihat tingkah lucu dari kedua pemuda itu.
"Wuih. Ada siapa nih!" seru Andra tiba-tiba. Ia berjalan keluar dari rumahnya dengan diikuti Dara di belakangnya.
Lalu Andra menoleh pada Dara. "Lo punya dua cowok! Hebat juga adek gue," ucapnya.
"Ngomong apa sih lo, Bang!" timpal Dara kesal.
Saat Andra sudah ikut bergabung di sana, Rakha pun dengan sigap langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Andra. Lalu ia pun memperkenalkan dirinya. "Salam kenal, Bang. Gue Rakha," ucap Rakha sopan.
Andra pun menerima uluran tangan itu, lalu memperkenalkan dirinya juga. "Gue Andra. Lo selaku siapanya Dara?" tanyanya.
"Kakak kelasnya Dara."
Andra pun mengangguk-anggukan kepalanya.
"Rakha ini kapten tim taekwondonya Dara. Tadi juga dia berhasil juara di turnamen itu. Bunda jadi saksinya, kalo emang Rakha ini jago banget bela diri," tambah Bunda Iis. Dan hal itu membuat Rakha tersenyum canggung, karena ia baru saja dipuji.
"Wuih keren juga. Bisa dong lain kali kita battle," tantang Andra. Entah itu serius atau sekedar basa-basi.
Saat Andra berkata seperti itu, mulut Dara pun bereaksi "Lo cari mati? Udah jelas atlet profesional aja dibuat koek sama Kak Rakha. Apa lagi lo yang modal berani doang," ucapnya kepada Andra.
Mulutnya memang tertuduhkan pada Andra, namun tidak dengan matanya. Ia melirik ke arah Abhay, seolah omongan tadi memang sengaja tertuduhkan untuknya. Abhay yang sadar akan hal itu, ia pun tersenyum miring.
"Namanya juga laki. Gak akan diem sebelum dicoba sendiri," timpal Andra.
Lalu Abhay pun langsung mengangguk-anggukan kepalanya cepat. "Bener, Bang," balasnya antusias.
"Yeh... Dibilangin gak percaya. Coba aja kalo gak percaya," tambah Dara lagi tak mau kalah.
Melihat perdebatan yang sepertinya akan memanjang, Bunda Iis dengan cepat langsung memotong obrolan mereka. "Sudah sudah jangan diterusin. Nanti kalo diterusin malah berantem lagi," sanggahnya.
Di tengah keriuhan mereka, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
"Ini Yah, ceritanya lagi syukuran atas kemenangannya Dara," jawab Bunda Iis.
"Emang anak Ayah menang?"
"Ya iya dong."
Ayah Leo pun seraya tersenyum simpul dan mengelus puncak kepala Dara dengan bangga. Lalu beliau tak sengaja menangkap sosok yang sangat asing di sana. "Trus ada siapa nih? Ayah baru liat," tanyanya mengarah pada Rakha.
Rakha pun dengan sigap menyalami ayahnya Dara dan memperkenalkan dirinya.
"Halo, Om. Saya Rakha."
"Temennya Dara?"
"Kakak kelasnya Dara, Om."
Ayah Leo pun manggut-manggut tanda mengerti. Kemudian beliau beralih melihat meja di depannya yang sudah dipenuhi oleh berbagai macam jenis makanan. "Ya sudah tunggu apa lagi. Kita mulai saja," ucapnya.
Setelah Ayah Leo berkata seperti itu, acara makan-makan akhirnya dimulai. Bunda Iis pun segera membagikan nasi kepada mereka semua.
Suasana makan malam itu bisa dibilang cukup meriah walaupun hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Karena di sepanjang mereka makan, mereka juga sesekali menyempilkan obrolan-obrolan atau candaan-candaan untuk menambahkan kemeriahan acara mereka.
"Kalian ini temenan yah?" tanya Ayah Leo pada Abhay dan Rakha.
"Gak, Om!" jawab mereka serentak.
Melihat Abhay dan Rakha yang menjawabnya dengan kompak, Ayah Leo pun tersenyum simpul. "Haduh. Ngomongnya kompakan gitu," ucapnya.
"Iya, Yah. Dari tadi juga ngomongnya kompakan terus. Makanya Bunda curiga kalo mereka temenan," tambah Bunda Iis.
Disebut Bunda Iis berteman, Abhay dan Rakha pun spontan menatap sinis satu sama lain. Dari tatapan wajah mereka, seolah mereka tak terima dikatakan seperti itu.
Najis banget gue temenan sama manusia ini, kira-kira seperti itu lah isi batin mereka kini.
"Tapi omong-omong, anak Ayah pinter juga bisa punya kenalan dua pemuda tampan kaya mereka. Kok bisa?" tanya Ayah Leo heran.
"Andra juga bingung, kok mereka mau yah sama Dara," tambah Andra.
Mendengar ayah dan kakaknya berbicara seperti itu, Dara hanya menatap mereka malas. Ia sendiri tak tahu alasannya apa, karena awal pertemuan dia dengan mereka, semuanya tidak direncanakan.
Lalu Ayah Leo secara bergantian menatap mereka dengan seksama. Beliau seperti sedang menerka-nerka sesuatu yang ada di wajah kedua pemuda itu.
"Tapi Om bisa nebak nih, karakter kalian berdua hanya liat wajah aja," ucap Ayah Leo.
"Emang gimana Om?" tanya Rakha yang ikut penasaran.
"Kalo Rakha ini. Pasti anaknya gak banyak tingkah, kalem, tapi berprestasi di sekolah. Bener gak?"
"Bener banget, Yah. Tadi aja dia juara satu taekwondo." Kali ini Bunda Iis yang menjawab.
"Oh. Kamu juga ikut taekwondo?" tanya Ayah Leo. Karena sebelumnya belum ada yang memberi tahunya mengenai hal itu.
"Iya, Om. Saya kenal Dara juga karena taekwondo," jawab Rakha.
Ayah Leo pun mengangguk-anggukan kepalanya, beliau pun sedikit berpuas hati karena tebakannya benar.
Lalu beliau beralih menatap Abhay. "Trus kalo Abhay, dia kebalikannya dari Rakha. Banyak tingkah, brutal, tapi jadi salah satu siswa yang paling terkenal di sekolah. Bener gak?"
...****************...