Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
41. Malam Minggu #2



"Mampus, kenapa ada Ruby di sini?!"


Dara membeku di tempat dengan mata yang membulat sempurna saat melihat kehadiran Ruby yang tak jauh darinya. Dalam hatinya merutuk. Dari sekian banyaknya malam Minggu, mengapa ia harus bertemu Ruby pada malam itu juga?


Melihat gelagat aneh dari Dara, Abhay pun berjalan mendekatinya. "Lo ngeliat apaan sih?" tanyanya.


Tepat saat Abhay bertanya seperti itu, Ruby yang semula membelakangi Dara, tiba-tiba membalikkan badannya. Saat mengetahuinya, Dara pun spontan menggerakkan tubuhnya lalu menyembunyikan dirinya di balik punggung Abhay.


"Eh. Kenapa lo?" tanya Abhay heran, karena Dara tiba-tiba saja bersembunyi di belakangnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Udah diem dulu!" seru Dara sambil memegangi jaket bagian belakang Abhay agar Abhay tidak lari kemana-mana.


"Emang ada siapa pake ngumpet segala?"


"Itu ada Ruby! Kalo dia sampe liat gue, bisa berabe nanti," ungkap Dara.


Abhay pun seraya mengendarkan pandangannya untuk memastikan, dan memang ia langsung menangkap sosok Ruby yang sedang membeli makanan.


"Kalo Ruby udah pergi, kasih tau gue," pinta Dara.


"Hm." Abhay berdehem sebagai jawaban.


Cukup lama Dara mempertahanakan posisi seperti itu. Dan anehnya Abhay pun menurut saja. Ia masih setia menjadi tembok pribadi Dara.


"Udah pergi belum?" tanya Dara memastikan.


"Belum, dia lagi beli jagung," jawab Abhay.


Selang beberapa detik, Dara kembali bertanya. "Udah pergi?"


"Bel... " ucapan Abhay sedikit terjeda, karena ia baru saja melihat Ruby yang melangkah pergi. Namun seketika ia tak ingin melewati kesempatan itu untuk menjaili Dara, dan Abhay pun melanjutkan ucapannya. "lum,"


Dara pun mendesis sebal. "Aish, kok lama banget!" gerutu Dara.


Reaksi Dara membuat Abhay terkekeh kecil. Abhay sangat berpuas hati karena berhasil mengkibuli Dara dengan begitu mudah.


"Sekarang udah pergi belum?" tanya Dara lagi untuk kesekian kalinya.


"Belum," jawab Abhay sambil menahan kedua sudut bibirnya agar tidak terangkat.


"Masa dari tadi belum juga!" geram Dara.


Dara sudah merasa curiga dengan apa yang dikatakan Abhay, Dara pun perlahan menongolkan kepalanya di balik bahu Abhay sambil memicingkan matanya. Ia akan mengeceknya sendiri.


Saat ia mengedarkan matanya ke segala arah, Dara tak menemukan Ruby di sana. Otomatis ia pun langsung curiga, bahwa ia telah dibodohi oleh Abhay. Dara pun dengan geram memukul bahu Abhay.


"Kakak ngejailin gue yah!" kesal Dara.


"Beneran, tadi mah belum pergi," jawab Abhay tanpa ada rasa bersalah.


Dara tak mau mendengar alasan Abhay. Ia pun memasang wajah kesal, dan memilih tuk berlalu pergi meninggalkan Abhay di belakangnya.


Kini Dara sedang berjalan-jalan tanpa ada arah tujuan yang jelas. Di pasar malam itu, ia hanya melihat-lihat kesibukan orang-orang yang sedang bermain wahana. Ia sendiri bingung, apa yang akan ia lakukan di sana. Namun tak lama, pupil mata Dara berhenti saat ia melihat orang yang sedang asik bermain lempar bola.


"Kayanya main itu seru juga," ujar Dara.


Abhay yang sedari tadi membuntut di belakang Dara, kini ia ikut melihat apa yang Dara lihat. "Itu apaan sih?" tanyanya tak tahu.


"Lempar bola," jawab Dara.


"Lempar bola gimana? Trus bolanya lempar kemana?" tanya Abhay bagai bocah paud.


Mendengar pertanyaan Abhay, Dara pun menatap Abhay tak percaya. Masa permainan lempar bola saja Abhay tidak tahu? Pikir Dara. Namun jika dilihat dari raut wajahnya, Abhay sepertinya benar-benar tak tahu. "Aish. Kakak beneran gak tau?" tanya Dara memastikan.


"Lah. Lo pikir gue bohong?" timpal Abhay.


Dara pun mendesah berat. Ia pun berniat untuk menjelaskannya kepada Abhay. "Nih ya. Kalo bolanya masuk ke lobang-lobang itu, kita bisa dapet hadiah," jelas Dara.


"Hadiah apaan?"


"Ya itu, yang gantung," jawab Dara sambil menunjukan hadiah-hadiah yang ia maksud dengan satu dagunya.


"Cuma gitu doang dapet hadiah?"


Dara tersenyum miring setelah mendengar Abhay yang secara tak langsung telah meremehkan permainan itu. "Apa? Gitu doang? Kakak pikir gampang?" tanya Dara.


"Keliatannya gampang gitu kok," jawab Abhay semakin percaya diri.


"Buktiin dulu baru ngomong." Dara pun akhirnya menantang Abhay.


Inilah salah satu kelemahan Abhay. Ia selalu tak kuat jika ada orang yang menantangnya. Lalu dengan sangat yakin, Abhay pun menjawab, "oke."


Abhay dengan rasa kepercayaan dirinya langsung berjalan menghampiri Abang penjaga permainan itu.


"Bang, saya mau coba," pinta Abhay.


"Silahkan, mau berapa bola? Satu bolanya lima ribu," seru Abang itu.


"Satu aja. Pasti juga langsung masuk," ujar Abhay semakin pede, karena bukan Abhay namanya jika tak sombong dulu sebelum bertindak.


"Okeh baik."


Abang itu pun memberikan satu bola itu kepada Abhay. Abhay pun segera meraih bola itu.


Tanpa berancang-ancang dahulu, Abhay langsung melemparkan bola itu. Namun ternyata, ekspektasi selalu berbeda dengan realita. Bola itu malah melenceng jauh entah kemana.


Melihat hal itu, jelas membuat Dara tersenyum remeh. "Katanya gampang," ledek Dara.


Abhay pun meratapi bola itu tak percaya, bagaimana bisa bola itu bisa melenceng sangat jauh?


"Ini pasti gara-gara angin," ujar Abhay beralasan. Tak terima melihat Dara yang meremehkannya, ia berniat untuk meminta kesempatan lagi.


"Satu lagi Bang," pinta Abhay.


Lalu Abhay segera melemparkan bola itu, dan ternyata hasilnya tetap sama. Dan Dara pun semakin puas menertawai Abhay.


"Satu lagi, Bang."


"Satu lagi."


"Satu lagi."


"Satu lagi."


"Satu lagi."


"Satu lagi."


"Beneran satu lagi,"


"Seriusan satu lagi."


Sudah puluhan kali Abhay sudah mencoba, namun hasilnya tetap sama. Dan Dara sendiri pun lama-kelamaan menjadi kesal sendiri melihat keangkuhan Abhay yang sulit dipatahkan.


"Kalo gak bisa, bisa ke lobang yang lain. Tuh lobang itu kayanya lebih gampang," ujar Dara mencoba memberi saran.


"Gak! gue pengen yang paling susah." Abhay masih teguh dengan pendiriannya.


Dara pun membuang nafas pasrah, "Emang susah ngomong sama orang berkepala batu," ujarnya.


"Bang satu lagi."


"Untuk yang terakhir kalinya, satu lagi, Bang!" Kini Abhay benar-benar yakin dengan ucapannya.


Jika sebelumnya Abhay melemparkan bola itu dengan asal, kini Abhay benar-benar fokus dengan satu bola di tangannya. Ia sampai menarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan semua kemampuannya. Saat sudah siap, Abhay segera melemparkan bola itu dengan sangat hati-hati. Dan ternyata hasilnya adalah...


Strike.


"Nah, kan! Gue bilang juga apa! Pasti bakal masuk! Permainan ini emang gampang!" seru Abhay dengan menggebu-gebu.


"Gampang pala lu! Kalo gampang, mana mungkin Kakak ngabisin puluhan bola," timpal Dara tak terima.


"Yang penting kan ada yang masuk. Di lobang paling susah lagi," ujar Abhay. Dan kini kepercayaan dirinya sudah kembali setelah tadi sempat menghilang.


"Karena bolanya masuk, silahkan dipilih hadiahnya," ujar Abang itu.


"Noh. Lo aja yang pilih," ucap Abhay pada Dara.


"Hadiahnya buat gue?" tanya Dara memastikan.


"Ya kali gue mainan boneka."


"Asyik! Bukan gue yang minta yah," seru Dara.


Tak bisa berbohong, Dara memang cukup menyukai boneka. Apalagi setelah melihat-lihat boneka-boneka yang berukuran jumbo. Rasanya sangat enak jika boneka itu bisa dipakai untuk tidur.


"Bang, saya mau yang itu," tunjuk Dara mengarah pada boneka berukuran jumbo yang berwarna krem.


"Baik, Neng."


Abang itu pun segera mengambil boneka yang Dara minta, lalu segera menyerahkannya.


"Makasih yah Bang," ucap Dara sambil meraih boneka itu.


"Makasih nya ke pacar Eneng, kan pacar Eneng yang berhasil masukin bola," ujar Abang itu.


Mendengar ucapan itu, Dara pun tersenyum kikuk. "Hehehe. Gitu yah, Bang. Tapi saya males kalo ngomong makasih sama dia. Jadi ke Abang aja," ujarnya.


"Udah yok pergi," ajak Abhay tiba-tiba.


"Pergi pergi. Bayar dulu tuh Abangnya," seru Dara.


"Oh iya. Berapa, Bang?" tanya Abhay kepada sang pemilik permainan itu.


"Sesuai yang tadi saya hitung, totalnya ada 25 bola. Jadi harganya 125 ribu."


"125 ribu?! Sama aja kaya beli bonekanya dong!" ujar Dara cukup terkejut.


"Gak masalah," ujar Abhay santai sembari merogoh sakunya celananya untuk mengambil dompet.


"Bukan masalah duitnya, tapi begonya itu," timpal Dara tak berdosa.


Merasa baru saja terhina, Abhay menjadi tak jadi mengambil dompetnya. Ia pun menatap tajam ke arah Dara. Dan Dara sendiri hanya menanggapinya dengan santai.


"Bang bonekanya balikin lagi," ucap Abhay pada Abang itu.