Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
39. Murka



"Gue kamerin gak sengaja nyebut kakak lo ayang," ucap Ruby.


Sambil sibuk mengisi perutnya, saat ini Ruby sedang bercerita kepada Dara mengenai kejadian pada saat ia bertemu dengan Andra kemarin.


"Lo udah gila?" tanya Dara sembari mengunyah siomay nya.


"Gue juga gak sadar. Kata-kata itu terlontar aja di mulut gue. Dan gue pun sempet ngeles. Trus apa coba respon kakak elo?" ucap Ruby lagi.


"Apa?"


"Dia ternyata denger!" seru Ruby. "Di situ gue malu pake banget! Trus gue kabur aja."


Mendengar ceritaan Ruby, Dara pun terkekeh kecil. Selain cerewet, Ruby juga sering sekali membuat dirinya tertawa dengan tingkah keanehan temannya itu.


Saat mereka sedang asik bergurau, tak lama datang seseorang yang menghampiri mejanya.


"Dara," panggil orang itu.


Dara pun mendongakkan kepalanya dan langsung mendapati Selly yang tengah berdiri di hadapannya. "Kak Selly, ada apa?" tanyanya.


"Bisa ikut gue gak?"


"Kemana? Mau ngunciin gue lagi?" timpal Dara dengan menyinggung kejadian beberapa hari yang lalu.


"Bukan gitu Dara," ucap Selly. "Angel pengen ketemuan sama elo. Katanya dia mau minta maaf," jelasnya.


Apa yang dikatakan Selly, tentu membuat Dara bingung. "Minta maaf? Kenapa gue yang nyamperin? Kenapa gak Kak Angel aja yang ke sini?" tanya Dara beruntun.


"Angel malu kalo minta maaf di sini. Takut jadi pusat perhatian," jelas Selly lagi.


Tak lama, Ruby mendekat wajahnya ke arah telinga Dara, ia ingin membisikkan sesuatu kepada Dara. "Awas Dara. Ular yang diam, nyatanya tetap berbisa," bisiknya.


Kemudian, Dara pun beranjak dari tempat duduknya. "Ya udah ayok. Di mana Kak Angel nya?"


Ruby sontak membulatkan matanya. Baru saja ia berbisik seperti itu, namun Dara malah beranjak berdiri. Ia pun menggelengkan kepala pelan, tak percaya dengan apa yang ada dipikiran Dara.


"Dara! Lo-"


Ucapan Ruby terpotong, karena Dara langsung memberi isyarat kepada Ruby bahwa ia akan baik-baik saja.


Ruby pun pasrah, dan membiarkan Dara pergi bersama Selly.


"Aish. Apa yang dipikirkan sama Dara sih?! Udah tau pernah ditipu, masih aja percaya," ucap Ruby geram.


...****************...


Dara berjalan mengikuti di mana Selly arahkan. Dan ternyata langkah Selly terhenti di salah satu koridor sekolah yang jarang sekali orang lewati. Dan Dara langsung melihat keberadaan Angel dan Rere yang sepertinya memang sudah menunggu kehadirannya.


"Ada apa, Kak?" tanya Dara pada Angel.


Sejujurnya Dara sedikit terkejut dengan raut wajah Angel yang sangat berbeda dari biasanya. Angel yang biasanya selalu menatap sinis kepada Dara, kini mata Angel menjadi sendu.


"Gue mau minta maaf sama elo. Selama ini gue udah banyak nyelakain elo. Gue ngaku gue salah. Apa yang gue lakuin ke elo udah bener-bener keterlaluan," jelas Angel.


Dara tak merespon, ia sibuk memahami perubahan sikap Angel yang sangat berbeda.


"Jadi untuk itu, dari lubuk hati gue yang paling dalam, gue bener-bener minta maaf sama elo," lanjut Angel dengan tatapan penyesalan terlukis di wajahnya.


Dara masih belum merespon. Ia masih percaya tidak percaya dengan apa yang diutarakan oleh Angel. Apa Kak Angel bener-bener tulus minta maaf sama gue? tanyanya dalam hati.


Dan benar saja. Dalam hitungan detik, wajah sendu Angel kini sudah berubah menjadi wajah khas seorang psikopat gila. Kini Angel merekahkan senyumannya, tak lama ia pun tertawa terbahak-bahak seperti sedang menertawai sandiwaranya sendiri.


"Apa? Lo kaget? Lo berharapnya gue minta maaf sama elo? Cih. Jangan harap!" seru Angel.


Tak lama raut wajah Angel berubah lebih serius, dan menatap tajam Dara.


"Lo pikir gue akan minta maaf begitu aja, setelah apa yang udah lo lakuin sama gue. Hah!" bentak Angel.


"Nih yah gue kasih tau sama elo."


"Sejak lo hadir dalam kehidupan Abhay, semua mimpi dan kesenangan gue, semuanya hilang gitu aja! Dan itu gara-gara elo!" bentak Angel lagi, lebih keras dari sebelumnya.


Walaupun posisi Dara sedang tertindas, namun Dara masih bisa bersikap tenang. Malahan ia berani menatap balik Angel dengan tajam.


"Gue ke sini bukan mau dengerin curhatannya Kakak. Kalo Kakak gak berniat minta maaf, lebih baik gue pergi," balas Dara.


Dara pun berniat langsung pergi dari hadapan Angel. Namun baru saja Dara melangkahkan satu kakinya, tiba-tiba Angel berteriak.


"GUE BELUM SELESAI NGOMONG, ANJING!" kesal Angel tak tertahan.


Lalu Angel kembali melangkah kakinya, menghadap kembali kepada Dara.


"Gue kasih tau juga sama elo. Udah dua kali Abhay ngehina gue secara blak-blakan. Dan gue belum pernah diginiin sebelumya. Tapi, hanya karena cewek murahan kaya elo! Sekarang Abhay jadi benci sama gue!" jelas Angel lagi.


"Itu semua gara-gara lo, Anjing!"


PLAK.


Tanpa aba-aba, Angel langsung melayangkan telapak tangannya pada pipi bagian kiri Dara. Dari suara tamparannya saja sangat renyah, tentu tamparan Angel cukup kuat terbukti dengan pipi Dara yang langsung memerah.


"Kenapa? Lo marah? Gak terima gue tampar? Hah!"


Dara tak menggubris, dalam situasi ia yang sudah seperti ini, Dara masih bisa bersikap tenang. Dan bukannya marah, Dara malah menarik kedua sudut bibirnya.


"Gak. Gue gak marah. Ngeliat Kakak putus asa kaya gini, justru gue kasihan sama Kakak," ujar Dara santai.


Apa yang baru saja katakan jelas membuat Angel semakin terbakar emosinya.


"Apa? Kasihan? Sekarang lo berani ngasihani gue!" geram Angel. Lalu tak lama.


PLAK.


Jika tadi Angel menampar pipi kiri Dara, kini ia beralih menampar pipi sebelahnya. Jadilah pipi Dara yang memerah secara merata.


"Gue udah nampar lo dua kali. Lo gak mau balas gue?"


Dara masih tak merespon. Walaupun ia sudah dipanas-panasi oleh omongan Angel, Dara masih bisa bersikap tenang. Karena ia tahu rencana Angel.


"Nih pukul aja muka gue. Lo kan jago berantem, ayo pukul!" Angel masih berusaha untuk memantik emosi Dara.


Namun bukan tamparan balik yang Dara berikan, namun senyuman yang semakin merekah terbentuk di sudut bibirnya.


"Malah nyengir lagi! Lo bener-bener cewek gil-"


Angel hendak melayangkan tamparannya untuk yang ketiga kalinya. Namun sayang, tamparan itu malah berhenti di udara, karena tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menahannya.


Angel pun menoleh untuk mencari tahu pelakunya. "Abhay," ucapnya lirih.


"Mau ngapain lo?" tanya Abhay dingin.


"Gue. Gue lagi-"


Sebelum Angel menjawab, Abhay lebih dulu menghempaskan lengan Angel dengan kasar. Lalu menatap Angel lekat.


"Kalo lo marah sama gue, lampiasin amarah lo ke gue. Kenapa lo lampiasin ke orang lain?" tanya Abhay dingin.


"Abhay, gue-" ucapan Angel kembali terpotong. Abhay benar-benar tak membiarkannya berbicara.


"Awalnya gue gak sebenci ini sama lo, tapi setelah lihat lo berulah lagi... Gak tau deh, liat muka lo aja kayanya gue gak sudi," jelas Abhay tak berperasaan.


Lalu Abhay beralih menoleh pada Dara. "Ayo pergi," ajaknya pada Dara.


Tanpa permisi Abhay berlalu pergi. Tak lama, Dara pun ikut pergi, membuntutinya Abhay di belakang.


Melihat kepergian mereka berdua, Angel melampiaskan semua amarahnya di sana. Kini Angel berteriak seperti orang kesetanan. Dengan wajah dan mata yang memerah, Angel berjanji pada dirinya, untuk selalu mengharapkan kehancuran bagi mereka berdua.


Awas aja kalian!