
Sebagaimana ritual hari senin pada umumnya, anak-anak di SMA Nusa Bangsa kini sedang melakukan upacara bendera di bawah teriknya matahari di pagi hari. Setelah selesai melakukan proses pengibaran bendera, kini bagian yang paling ditunggu-tunggu akan dimulai. Yap, betul sekali. Amanat pembina upacara. Dan yang akan memberi amanat di upacara kali ini adalah dari kepala sekolahnya langsung.
Setelah kepala sekolah sudah puas memberi amanat, Pak Kepsek pun memberikan sebuah pengumuman kepada semua peserta upacara yang hadir di sana.
"Dan juga, Bapak ingin memberi tahukan kepada kalian semua bahwa sekolah kita kembali dibuat harum berkat prestasi kedua murid dari sekolah kita. Pada pertandingan yang digelar sabtu kemarin, mereka berhasil merebut juara satu pertandingan taekwondo antar daerah. Dan sekarang Bapak ingin memanggil mereka berdua untuk maju ke depan. Beri sambutan yang meriah untuk Rakha dan Dara!" seru Bapak Kepsek.
Tepat setelah Pak Kepsek memberitahukan hal itu. Anak-anak di sana pun turut bertepuk tangan untuk menyambut kehadiran Rakha dan Dara di depan.
"Dara! Lo dipanggil ke depan. Ayo cepetan!" perintah Ruby yang berdiri tepat di samping Dara. Ia sudah tak sabar melihat Dara yang akan menjadi pusat perhatian di sana.
"Iya iyah," timpal Dara.
Sebelum Dara benar-benar menuruti keinginan Pak Kepsek, ia terlebih dahulu menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan dirinya yang tadi sempat gugup. Setelah siap, Dara pun melangkah kakinya maju ke depan.
Di sepanjang Dara dan Rakha berjalan ke depan, mereka tak henti-hentinya diberi tepuk tangan oleh semua orang yang ada di sana. Sampai mereka sudah berada di depan, suasana pun masih sangat riuh. Melihat itu, Dara dan Rakha hanya bisa tersenyum canggung.
"Nah, anak-anak Bapak sekalian. Jadikan lah contoh Dara dan Rakha ini. Mereka bukan hanya sudah membawa harum nama keluarga mereka saja, namun sekolah kita pun turut harum juga. Bapak sendiri merasa bangga bisa mempunyai anak didik yang hebat seperti mereka ini. Dan Bapak harap juga, kedepannya akan lebih banyak lagi anak-anak berprestasi seperti Rakha dan Dara ini," jelas Pak Kepsek.
"Sekali lagi beri tepuk tangan yang meriah untuk Rakha dan Dara!" seru Pak Kepsek dan kembali membuat suasana menjadi riuh.
Lalu Pak Kepsek turun dari mimbar upacara dan berjalan menghampiri Dara dan Rakha, beliau hendak memberi ucapan selamat kepada mereka berdua. "Selamat atas kemenangan kalian yah," ucapnya.
Dara pun dengan sopan menerima uluran tangan itu lalu menunduk hormat. "Iya, Pak. Terima kasih."
"Terima kasih, Pak," ucap Rakha dengan melakukan hal yang sama.
...****************...
Di lain tempat. Saat semua orang sedang menjalani upacara di bawah teriknya matahari, ada tiga manusia yang sedang adem mayem menikmati semilir angin pagi di bawah atap warung belakang sekolah. Siapa lagi jika bukan Abhay,Vano dan Gilang. Entah bagaimana caranya, mereka dengan sempurna bisa lolos dari pantauan Pak Sugito yang tadi sempat berkeliling untuk mencari murid yang bolos upacara.
Setelah hampir setengah jam mereka di sana, tak lama dari kejauhan Vano melihat orang-orang yang berhamburan kesana-kemari. Hal itu pun membuat Vano berpikir bahwa upacara telah selesai dilaksanakan.
"Upacara kayanya udah bubar. Mau langsung ke kelas?" tanya Vano kepada kedua temannya.
"Bentar dulu napa. Lo kangen belajar?" timpal Gilang malah dengan candaan.
"Bukan gitu, Jing! Gua cuma nanya!" kesal Vano dengan sewotnya.
Perdebatan mereka tak berlanjut saat datang dua murid perempuan kelas 12 yang sepertinya hendak membeli minuman. Bukan orangnya yang menarik perhatian mereka, namun obrolan kedua siswi itu yang menarik perhatian Vano dan Gilang.
"Eh lo tadi liat nggak, tadi si Rakha sama Dara maju ke depan. Kalo diliat-lihat mereka cocok gak sih?" ujar salah satu siswi itu.
"Iyah, bener banget. Sama-sama pinter taekwondo lagi," balas temannya.
"Gue jadi curiga, apa mereka pacaran yah?"
"Sepemikiran! Bisa aja pas latihan mereka juga sambil pacaran. Latihan ditemenin ayang kan jadi semangat. Makanya mereka bisa juara," ujar siswi itu dengan sangat jelas. "Eh, tapi kan Abhay pacarnya Dara," tambahnya lagi.
"Emang mereka pacaran beneran?"
"Gak tau juga sih. Hubungan mereka kan gak jelas," timpal temannya sambil cekikikan.
Abhay yang sedari tadi sedang enak-enaknya terpejam dengan berbaring di atas kursi panjang, langsung membuka kedua netranya saat ia dengan sangat jelas mendengar obrolan kedua siswi itu. Lalu.
Kaki Abhay mengebrak kursi panjang itu dengan sangat keras, hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring. Hal itu pun sampai membuat kedua siswi itu terlonjak kaget.
Kemudian, Abhay membangkitkan tubuhnya menjadi duduk dan saat itulah kedua siswi itu kembali dibuat terkejut saat mengetahui Abhay lah pelakunya. Mereka tak tahu bahwa Abhay ada di sana, karena posisi Abhay yang berbaring membuat mereka tak sadar akan keberadaan Abhay.
"Abhay! Kok-" ucapan siswi itu menggantung, karena ia lebih dulu takut saat melihat tatapan tajam dari kedua mata Abhay.
"Ayok ayok kita pergi!" ajak temannya panik, karena ia pun sama takutnya. Jadi ia menyeret temannya untuk pergi dari sana.
Vano dan Gilang serentak tertawa saat melihat tingkah Abhay yang menurut mereka sangat kekanak-kanakan dan menggemaskan.
"Kenapa lo Bhay? Marah dibilang Rakha cocok sama Dara? Atau marah dibilang hubungan lo gak jelas?" tanya Vano sambil terkekeh kecil.
"Wow. Pagi-pagi ada yang panas guys," tambah Gilang yang tak kalah untuk menggoda Abhay.
Abhay tak menjawab. Ia memilih beranjak dari kursi itu dan hendak pergi dari sana. "Balik ke kelas," ucapnya datar.
Tanpa menunggu kedua temannya, Abhay berlalu pergi begitu saja dan meninggalkan Vano dan Gilang yang sedang tertawa puas.
"Temen lu dah bucin tuh," ucap Vano pada Gilang.
"Temen lu kali." Gilang balik menuduh.
...****************...
Tepat saat upacara itu selesai dilaksanakan, Dara langsung diperintah oleh ketua kelas untuk mengambil buku tugas mereka yang ada di ruang guru. Dara memang sempat menolak, karena dari semua orang yang ada di sana kenapa harus dirinya yang mengambil. Saat ditanya alasannya apa, katanya Dara itu kuat, buktinya saja ia bisa menjadi juara satu taekwondo. Mengesalkan memang, tapi karena Dara tak ingin berdebat, jadi ia terima-terima saja.
"Anjir! Kok gue gak kepikiran bukunya bakal sebanyak ini yah. Tadi-tadi gue ngajak Ruby ikut," sesal Dara dengan kedua tangan yang sudah memegangi tumpukkan buku-buku.
"Mana berat banget!" keluhnya.
Dara tak berbohong bahwa buku itu memang berat. Bagaimana tidak, tumpukannya saja sampai menutupi pandangannya. Jadi tak terbayangkan beratnya seperti apa.
Saat Dara hendak berjalan melewati toilet laki-laki, tiba-tiba.
Bruk.
Buku-buku yang berada digenggaman Dara menjadi berhamburan di atas lantai saat seseorang baru saja menabraknya.
"Sorry sorry, gue gak lihat," ucap laki-laki itu merasa bersalah.
"Gak papa, Kok. Gue aja yang jalannya ke halangan buku," timpal Dara tanpa melihat orang yang telah menabraknya. Ia lebih memilih untuk langsung memunguti buku-buku yang berserakan di lantai.
Tak asing dengan suara itu, laki-laki itu langsung memicingkan matanya melihat baik-baik wajah orang yang baru saja ditabraknya.
"Loh. Dara!" seru orang itu.
Dara pun mengerutkan dahinya saat mendengar laki-laki yang telah menabraknya mengetahui namanya. Ia pun mendongakkan kepalanya untuk mencari tahu. "Loh. Yang suka bareng sama Kak Abhay, kan?" tanyanya saat sudah melihat wajah laki-laki itu.
"Iyah," jawab laki-laki itu.
Dan laki-laki yang telah menabrak Dara adalah Vano.