
Kepulangan dari mall itu, sesuai rencana, mereka akan mengisi energi mereka terlebih dahulu sebelum mereka mengakhiri kencan pertama mereka. Abhay membawa Dara ke salah satu restoran yang bisa dibilang cukup jauh dari mall tadi. Tentu saja hal itu membuat Dara terheran-heran, mengapa Abhay membawanya ke sana di saat mall pun memiliki banyak tempat makan?
"Padahal tadi bisa makan di sana. Kenapa harus jauh-jauh ke sini?" tanya Dara pada Abhay setelah mereka sudah duduk di meja pilihan mereka.
"Karena gue mau bernostalgia," jawab Abhay terkesan tak serius.
Dara mengerutkan keningnya. "Nostalgia? Kakak pernah ketemu gebetan Kakak di sini?" tanyanya lagi. Dara sebenernya hanya asal tebak saja.
"Hm ... lebih tepatnya gue pernah makan di sini sama gebetan gue."
Tanpa disangka-sangka, tebakkan Dara ternyata benar. Ia pun menatap Abhay sedikit tak percaya, lalu bibirnya mengutaskan sebuah senyuman miring. "Belum pernah pacaran tapi pernah punya gebetan yah," ujar Dara terdengar miris dan sangat jelas menyindir Abhay.
Abhay pun tersenyum tipis, melihat Dara yang sepertinya tidak menyadari maksud terselubungnya, Abhay seketika memiliki sebuah ide untuk bermain-main dengan Dara.
"Dia itu bener-bener aneh. Dia pernah pesen banyak makanan di sini, dan katanya dia sanggup ngabisin semuanya. Eh nyatanya enggak. Dia cuma mau ngerjain gue doang, biar gue bisa bayar semaunya," jelas Abhay.
Sejenak Abhay berhenti berbicara, dan memperdalam pandangannya pada manik mata milik Dara. Lalu ia pun kembali membuka suaranya. "Dan anehnya gue malah suka," tegasnya.
"Dan disitu gue mikir bahwa dia adalah wanita yang paling menarik perhatian gue di antara wanita-wanita lain."
Dara terpaku dalam benaknya mendengar Abhay yang sangat tak berperasaan telah menceritakan sosok wanita lain tepat di depan wajahnya. Dalam hitungan detik, mood Dara seketika anjlok. Hatinya begitu bergemuruh. Ada suatu dorongan yang rasanya sangat ingin sekali Dara untuk menampar mulut Abhay. Namun Dara pun tahu tempat, kini ia sedang berada di tengah keramaian. Jadi ia hanya bisa meremas ujung bajunya untuk menahan emosinya.
Sadar akan perubahan raut wajah Dara, dengan tak sopannya Abhay malah tersenyum jahil. "Kenapa muka lo jadi bad mood gitu?"
"Siapa yang bad mood?" Dara balik bertanya, dan membuang wajahnya acuh.
Abhay semakin melebarkan senyumnya karena dugaannya ternyata benar. Dara benar-benar belum mengerti apa yang telah dirinya bicarakan.
"Heh. Lo lupa, bego, atau lemot sih. Lo pikir gue lagi nyeritain siapa?" tanya Abhay diiringi dengan suara cekikikan.
Dara kembali menatap Abhay, dan dengan polosnya dia balik bertanya. "Gebetan Kakak, kan?"
"Siapa gebetan gue?"
"Ya mana gue tahu, orang Kakak gak nyebutin namanya."
"Lo sadar gak sih kita lagi di restoran mana?"
"Restoran sea-"
Dara menjeda ucapannya, karena otaknya baru saja menunjukan sebuah fakta. Lalu Dara membulatkan matanya lebar-lebar, begitu pula dengan mulutnya. Ia pun segera menutup mulutnya, dan menatap Abhay tak percaya.
Yah ... Memang kini mereka sedang berada di restoran seafood. Tempat yang pernah Dara pakai untuk mengerjai Abhay. Ingat saat Dara memesan banyak makanan dan memakannya dengan rakus? Dan ternyata momen itu masih diingat oleh Abhay. Jadi dalam kesempatan itu, Abhay memiliki cara *romantic*nya dengan bernostalgia seperti itu.
"Sekarang lo baru sadar, siapa cewek yang dari tadi gue ceritain," ucapnya.
Kemudian Abhay memajukan wajahnya sedikit lebih dekat dengan Dara. Ia pun berbicara setengah berbisik. "Ya. Cewek itu namanya Adara Leona," ucapnya dengan suara begitu dalam.
Abhay kembali memundurkan wajahnya, ingin melihat respon Dara setelah ia mengucap hal itu. Dan Abhay kembali tersenyum manis melihat Dara yang langsung membeku. Dara begitu terhipnotis dengan ucapannya.
Setelah beberapa saat membeku, Dara mengerjapkan matanya cepat. Ia buru-buru menyadarkan dirinya dari serangan hati yang baru saja Abhay lontarkan. "Gi-gimana Kakak bisa inget? Gue aja lupa," tanya dia.
"Ya inget lah, orang lo nguras duit gue."
Abhay menjawabnya dengan tak serius. Karena sebenarnya, jauh dari lubuk hatinya dan pikirannya, setiap momen yang ia lakukan bersama Dara hampir semuanya tak bisa ia lupakan. Semuanya terasa begitu lekat menempel pada memori Abhay.
Tak ingin berlama-lama dengan suasana canggung itu, Abhay segera memanggil pelayan restoran untuk meminta pesanan mereka. "Udah jangan lama-lama bapernya, mending sekarang kita pesen," ucap Abhay pada Dara, namun tak direspon oleh Dara. Wanita itu sudah cukup kehabisan kata-kata.
Setalah sudah memesan, tak lama makanan mereka tiba. Tak butuh waktu lama, makanan itu langsung disantap oleh mereka.
Saat sudah habis setengah, Dara tiba-tiba membuka matanya sangat lebar. Ia baru sadar, ia dengan begitu lamanya sudah melupakan suatu hal yang sangat penting. Buru-buru Dara langsung menelan sisa makanan di mulutnya.
"Oh ya gue baru inget!" seru Dara tiba-tiba dan membuat Abhay sedikit terlonjak kaget. "Maksud Kakak apa tadi?" tanyanya sangat to the point.
"Maksud apa?" tanya Abhay tak paham.
"Kenapa Kakak kaya gitu di depan Kak Rakha?"
Rakha. Lagi-lagi tentang Rakha. Abhay meletakkan sendok yang ia pakai dengan asal hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras.
"Kalau pun gue ngeles, apa orang itu bakal percaya? Orang kita udah ketangkep basah gitu kok. Dan gue rasa si neraka itu gak bego-bego amat buat ngertiin situasi," jelas Abhay panjang lebar.
Dara termenung. Benar juga yah, katanya dalam hati. Karena dalam situasi yang tadi sudah terjadi, sangat mustahil bagi mereka untuk tidak mengundang sebuah praduga. Posisi mereka yang begitu dekat dengan tangan saling menggenggam, dan terjadi di tempat yang sangat tak biasa. Jadi sudah jelas Rakha pun pasti akan berpikiran seperti itu, walau tanpa diberi tahu sekalipun.
Dara membuang nafasnya kasar. Sudah satu orang mengetahui hubungan mereka yaitu Ruby, kini ditambah satu orang lagi. Mengapa sulit baginya untuk merahasiakan hubungannya dengan Abhay walau hanya sehari saja?
"Udah lah biarin aja. Dari kemaren juga dia udah tau kalo gue sama lo emang udah pacaran beneran," ungkap Abhay tiba-tiba.
Mendengar pengakuan Abhay, jelas membuat Dara terkejut luar biasa. Ia pun sampai tersedak saat ia tengah menyeruput minumannya.
"Lo pernah tanya gue, apa yang gue bisikkin pas gue tanding sama Rakha," kata Abhay. "Ya jadi sejak itu." Abhay akhirnya mengungkapkan fakta sebenarnya yang ia tunda sebelumnya.
"Tapi kenapa Kakak kasih tau dia? Kenapa dan ngapain?!!"
Kini Abhay yang membuang nafas kasar. Pernyataan Dara sedikit membuatnya geram. "Gue rasa tingkat kepekaan lo rendah banget," ungkapnya ambigu.
"Maksudnya?"
"Lo sadar gak sih kalo Rakha itu suka sama elo? Ngerasa gak?" tanya Abhay.
Dara tak cepat menjawab, ia berpikir sejenak. Pertanyaan Abhay sangat percis dengan apa yang pernah Ruby tanyakan pada jauh-jauh hari. Sekalipun Ruby pernah meyakinkannya untuk percaya dengan fakta itu, namun entah kenapa Dara tak mau percaya. Ia tak mau membenarkan bahwa Rakha menyukainya. Karena jika ia percaya, itu akan menimbulkan perasaan tak nyaman dan kecanggungan di setiap ia berpapasan dengan Rakha.
"Eng-gak," jawab Dara tak yakin.
"Enggak? Kok bisa? Bukannya keliatan jelas?"
"Ya terus kenapa kalo emang suka? Yang penting kan guenya gak," timpal Dara dengan santainya.
"Kalo gak suka kenapa cengar-cengir?"
"Cengar-cengir apa?"
"Pas kemarin di kantin. Lo seneng benget pas ngobrol sama Rakha. Pake ketawa-ketawa lagi." Dan Abhay akhirannya mengungkapkan sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya sejak kemarin.
"Ya seneng lah. Orang gue ditawarin jurus rahasia."
"Gue juga bisa kalo cuma ngajarin jurus! Kenapa harus ke orang itu?!" tanya Abhay dengan begitu kesal.
"Lo kenapa sih Kak? Kok jadi marah-marah gini? Kakak cemburu?" tanya Dara. Sejujurnya ia tak serius dengan pertanyaan terakhirnya. Ia hanya iseng saja.
Namun tak disangka lagi, Abhay malah meresponnya dengan sangat serius. "Ya gue cemburu!" ucap Abhay begitu lugas dan tegas.
Dara kembali membeku. Jika kemarin-kemarin Abhay selalu ngeles jika ditanya cemburu atau tidak, namun kini Abhay sudah berani mengungkap perasaan jujurnya. Abhay benar-benar sudah berubah.
"Karena sekarang lo milik gue! Bener-bener milik gue! Jadi jangan sampai ada orang lain yang boleh buat lo bahagia selain gue! Itu udah jadi tanggung jawab gue!" jelas Abhay cukup keras karena ia mempertegas setiap kalimat yang ia lontarkan. Ia tak memperdulikan situasi sekitar yang begitu ramai.
"Kak. Bisa gak sih ngomongnya pelan-pelan? Orang-orang pada liatin Kakak," pinta Dara. Abhay yang berbicara, namun Dara yang merasa malu, karena mereka kini sudah menjadi pusat perhatian bagi para pengunjung lain.
Diminta seperti itu, Abhay segera mengedarkan pandanganya memperhatikan situasi sekitar. Dan memang bener, kini sudah banyak orang yang sedang menatapnya aneh. Ada yang memasang wajah datar, dan ada juga yang terkekeh kecil melihat tingkah lucu Abhay yang terlihat posesif.
"Pokoknya gue gak mau lihat lo senyum-senyum lagi sama laki-laki lain. Terutama sama si neraka itu," ucap dia kembali mempertegas namun kini dengan suara yang sudah mengecil.
Dara hanya mengangguk kecil dan tersenyum lembut. Karena saat Abhay mengatakan itu, hatinya terasa begitu bergetar. Dari ucapan Abhay, menimbulkan sebuah keyakinan bahwa Abhay memang sangat serius dengannya, dan entah kenapa Dara merasa suka walaupun ia dikekang seperti itu.
Suara notifikasi chat tiba-tiba memecahkan keheningan mereka. Tenyata ponsel Dara lah pelakunya. Dara pun segera membuka pesan itu dan segara mendapati Ruby yang telah mengirimkannya pesan.
Ruby.
Dara gawat! Lo sekarang lagi tranding!
^^^Me.^^^
^^^Tranding apa sih?^^^
Ruby.
Send a picture.
Dara langsung membuka gambar yang telah dikirimkan Ruby. Tak lama kemudian Dara melototi gambar itu dengan hebatnya, sampai bola matanya serasa akan keluar dari tempatnya. Ia sangat-sangat terkejut.
Menyadari reaksi aneh Dara, dengan penasaran Abhay pun bertanya. "Ada apa sih?"
Dara tak menjawab, ia begitu sibuk dengan rasa keterkejutannya.
Karena tak digubris, Abhay langsung mengambil ponsel itu dari tangan Dara. "Sini gue liat," pintanya. Dan Dara pun pasrah saat Abhay mengambil ponselnya.
Saat Abhay sudah meraih ponsel itu, ia langsung melihat gambar yang sudah menyebabkan Dara mematung. Saat sudah melihat, ekspresinya jauh berbeda dengan Dara. Abhay sama sekali tak menunjukkan reaksi berlebihannya, ia sama sekali tak terkejut dengan gambar itu, dan malah menanggapi gambar itu dengan santainya. "Okeh good," ucapnya enteng.
"Kok good sih?!" Dara tak sepaham.
"Ya berarti gue gak harus ngumpet-ngumpet lagi. Bikin ribet mulu," jelas Abhay.
Dan gambar yang mereka lihat adalah sebuah tangkapan layar dari sebuah grup sekolah di social media yang menampilkan Dara dan Abhay yang tengah berjalan santai di mall dengan tangan yang saling menggenggam. Dan postingan itu diberi tagline 'pasangan terhitz se antero sekolah, kini mereka telah meresmikan hubungan mereka'.
Jika sudah begini, Dara hanya bisa pasrah. Dengan keluarnya berita itu, sudah langsung meruntuhkan keinginannya untuk merahasiakan hubungannya dengan Abhay. Karena kini bukan hanya satu dua orang saja yang mengetahui kebenaran itu, namun se antero sekolah kini sudah mengetahui fakta bahwa Dara dan Abhay sudah resmi berpacaran.