Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
92. Asa masih ada



Sebuah pintu super besar menjulang tinggi di hadapan Dara. Ia menatap pintu itu cukup lama. Batinnya terus mengucapkan sebuah harapan. Ia berharap bahwa lelaki yang sejak kemarin ia cemaskan berada di dalam sana.


Tangan Dara mulai bergerak untuk memencet bel.


Ding Dong.


Dara sudah memencetnya. Dara terdiam untuk menunggu respon dari dalam. Namun sayangnya tak ada reaksi apa-apa. Ia pun berniat memencet bel lagi.


Ding dong.


Untuk beberapa detik masih tak ada respon. Dara hendak memencet bel untuk ketiga kalinya. Namun saat Dara hendak mengangkat tangannya lagi, terdengar suara gesekan kunci yang sedang diputar. Dara pun menurunkan lagi tangannya, bibirnya mulai mengutaskan sebuah senyuman. Asanya sangat yakin bahwa orang yang kini sedang membukakan pintu untuknya adalah Abhay.


Ceklek.


Pintu itu terbuka. Saat itu pula Dara langsung menurunkan senyumannya. Karena orang yang ada dihadapan Dara bukanlah Abhay, namun seorang wanita paruh baya yang bekerja di rumah Abhay. Dia adalah Bi Wati.


"Loh. Non Dara," seru Bi Wati dibarengi guratan senyuman ramah.


Dara kembali menarik sudut bibirnya dan bersikap ramah pula pada Bi Wati. "Maaf Bi, Kak Abhay-nya ada?" tanya Dara langsung.


"Den Abhay gak ada, Non," jawab Bi Wati.


Asa Dara seketika pupus. Bahkan rumah yang menjadi tempat persinggahan terakhir bagi manusia saja Abhay tak ada.


"Kalau boleh tau, sejak kapan Kak Abhay pergi, Bi?" tanya Dara.


"Bibi juga gak tau pasti. Yang Bibi tau, waktu pagi-pagi Den Abhay sudah tidak ada," jawab Bi Wati.


"Kalo kemarin sore gimana, Bi? Apa masih ada?"


"Bibi juga gak tau Non. Karena biasanya sebelum Den Abhay pulang sekolah, Bibi sudah pulang."


"Kalo Pak Arief sendiri apa sekarang ada di rumah?"


"Sama. Pak Arief sudah pergi sejak pagi, sekarang pun beliau belum pulang."


Dara membuang nafasnya pasrah. Jika sudah begitu, siapa lagi orang yang bisa ditanyain oleh Dara? Vano dan Gilang bilang tidak tahu. Pak Arief juga tidak ada. Dan satu-satunya orang yang bisa Dara tanyai ya kakaknya, namun Andra pun tidak ada.


"Ya sudah Bi, makasih atas informasinya yah Bi. Kalo begitu saya izin langsung pergi," ucap Dara berpamitan.


"Iya Non. Hati-hati di jalan yah," sahut Bi Wati.


Dara melangkah kakinya pergi dari kediaman Abhay. Ia berjalan keluar gerbang dan menatap jalanan dengan perasaan bimbang.


Buntu. Sungguh buntu. Tak ada lagi titik terang untuk mencari Abhay. Bahkan tak ada satu pun orang yang bisa Dara tanyai. Segala cara sudah Dara lakukan. Bahkan setiap menit Dara menelpon Abhay, dan setiap menit itu juga selalu tak ada jawaban. Abhay sungguh menghilang. Lalu, kemana Dara harus mencarinya lagi?


Atap. Yah. Dara belum mencoba ke sana. Ia ingat, Abhay pernah berkata pada dirinya jika terjadi sesuatu yang menimpa lelaki itu, atap lah yang menjadi tempat pelampiasan Abhay. Asa itu kembali datang. Dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Dara tanpa ragu segera menghentikan taksi yang lewat di depannya. Ia akan langsung pergi ke sana.


Taksi itu sudah berhenti di depan rumah sakit. Dara dengan cepat segera membayar sopir taksi itu dan berlari ke dalam. Tak perduli dengan nafas yang sudah terengah-engah, Dara dengan sekuat tenaganya terus berlari hingga menuju lantai puncak.


"KAK ABHAY! KAKAK DI SINI, KAN?!" teriak Dara cukup menggema.


"KAK ABHAY!! AYO KELUAR!! JANGAN MAIN-MAIN SAMA GUE!!"


Sama seperti sebelumnya, masih tak ada jawaban, sebuah keheningan lah yang menjawab, karena sesungguhnya tak ada siapa-siapa di sana.


Tanpa dirasa, lutut Dara tiba-tiba melemas. Ia pun menjatuhkan lututnya hingga bersimpuh di atas lantai kotor. Kemudian ia pun tersenyum miris. Ia merasa bodoh karena terlalu yakin bahwa Abhay ada di sana.


Tak berselang lama, senyuman itu kini berganti menjadi sebuah kesedihan. Dara merasakan panas di matanya. Entah datang dari mana, matanya tiba-tiba menghasilkan gumpalan cairan bening. Dara mencoba menahannya agar tak jatuh. Namun karena hati yang sangat berkecamuk, ia tak mampu lagi menahan bebannya. Ia tak mampu lagi menahan air mata yang membendung di pelupuk matanya. Pada akhirnya, ia membiarkan air matanya jatuh menyeberangi permukaan pipinya. Ia menangis dalam kesendirian.


Saat butiran-butiran air itu sudah banyak ia tumpahkan, Dara cepat-cepat mengangkat telapak tangannya untuk menghapus air matanya.


"Gak. Gue gak boleh kaya gini. Kalo gue kaya gini sama aja kalo gue putus asa. Lagi pula baru sehari ini Kak Abhay ngilang. Masa gue udah lemah. Lo jangan cengeng Dara!" Kata-kata penyemangat dari mulutnya sendiri dan untuk dirinya sendiri. Karena jika bukan dia siapa lagi?


Hari semakin sore dan ia masih keluyuran. Dara pun segera membangkitkan tubuhnya dan mengatur nafasnya untuk tenang. Ia belum putus asa, karena ini masih satu hari, dunia belum kiamat, bisa saja di esok harinya ia dikejutkan oleh senyuman Abhay yang mengembang. Tak ada yang tahu soal itu.


...****************...


"Dara, kamu kok jam segini baru pulang?" tanya Bunda Iis.


Dara pun mendekatkan dirinya pada bundanya. Ia mengucap salam dan bersaliman pada sang bunda.


"Aku tadi abis kerja kelompok. Maaf yah Bunda aku tadi gak bilang-bilang dulu," ucap Dara berbohong.


Dara hendak langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Namun tak lama, sekelebat ingatan terlintas di otaknya. "Oh iya, Bang Andra udah pulang, Bun?" tanyanya.


"Justru itu Bunda masih pusing, karena kakak kamu belum pulang sampe sekarang," ungkap Bunda Iis. Selaras dengan ucapannya, terlihat wajah Bunda Iis yang begitu frustasi.


Dara pun mendesah berat. Jawaban masih tertunda. Karena ia sangat yakin, di balik hilangnya Abhay, pasti ada sangkut-pautnya dengan Andra. Untuk itu, ia sangat menantikan kepulangan Andra.


"Bentar. Mata kamu kenapa? Kok sembab gitu? Kamu abis nangis?" tanya Bunda Iis mendadak.


Ditanya seperti itu, seketika Dara mati kutu. Bagaimana bisa bundanya tahu bahwa ia habis menangis? Padahal sebelum masuk rumah, ia sudah memastikan dirinya untuk tak terlihat seperti habis menangis. Bahkan ia sampai mencuci mukanya beberapa kali untuk menghilangkan kecurigaan itu. Namun nyatanya, bundanya masih tak bisa dibohongi. Naluri seorang ibu memang lah sangat kuat.


"Gak Bunda. Aku gak abis nangis. Perasaan Bunda aja kali." Dara kembali mengelak. Ia sudah berbohong kepada bundanya sebanyak dua kali.


"Masa sih? Orang keliatan kok."


"Gak Bunda. Bunda salah-"


Ceklek.


Suara gerakan pintu berhasil menghentikan ucapan Dara. Bersama-sama mereka melihat arah pintu yang terbuka itu. Saat sudah melihatnya, Dara dan Bunda Iis serentak membulatkan mata mereka, karena apa yang mereka lihat adalah seorang laki-laki dengan penampilan kacau yang kini sedang berdiri di ambang pintu.


"Bang Andra!!"