Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
35. Ruby sungguh meresahkan



Dengan kedua tangan membawa dua keranjang buah berukuran jumbo, Ruby kesulitan untuk mengetuk pintu. Alhasil otaknya membawa ide untuk mengetuk pintu dengan suaranya.


"Tok! Tok! Tok! Permisi!" seru Ruby sekuat tenaga.


Ternyata suara Ruby lebih besar dari sebuah ketukan pintu. Tak butuh waktu lama untuk membuat sang pemilik rumah keluar.


"Eh Ruby," ujar Bunda Iis.


"Loh Bunda Iis udah pulang?" tanya Ruby terkejut. Karena yang ia tahu kedua orang tua Dara sedang pergi jauh.


"Iyah, Bunda pulang tiga hari yang lalu," ungkap Bunda Iis, lalu ia beralih melihat keranjang buah yang dibawa Ruby. "Trus ini. Ya ampun, bawa buah kok banyak banget!"


"Iyah Bunda," jawab Ruby cengar-cengir. "Maaf Bunda. Bisa pegangin satu nggak? Ini berat banget," pinta Ruby, setelah ia merasakan kram di kedua tangannya.


"Oh ya ampun maap, Bundanya gak peka." Bunda Iis tepok jidat. Tak lama, Bunda Iis mengambil satu keranjang buah dari tangan Ruby.


"Ya udah ayok sini masuk," ajak Bunda Iis.


"Iyah Bunda," timpal Ruby. Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Ini buat siapa, kok banyak banget?" tanya Bunda Iis.


"Buat Kak Andra sama Dara, Bunda."


"Wah... Kamu baik banget banget!" puji Bunda Iis dengan senyum keibuannya.


Dan Ruby pun tersipu malu saat sang 'camer' secara langsung memujinya.


"Tuh, Andra nya lagi di ruang tv dan Dara ada di kamarnya. Ke sana aja kalo mau lihat mereka," ujar Bunda Iis.


"Oh iya, Bunda."


Ruby mengangguk dan meletakkan keranjang buahnya dia atas meja makan. Lalu ia berniat langsung pergi untuk menemui mereka.


Dari kejauhan, Ruby melihat Andra yang sedang bersandar di sofa dengan pandangan fokus menonton tv. Sebelum menghampirinya, Ruby sejenak menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menghilangkan kegugupannya. Setelah siap, Ruby pun melangkahkan kakinya menghampiri Andra.


Ternyata tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, Andra sudah menyadari kehadiran Ruby. "Eh Ruby. Mau jenguk Dara?" tanyanya.


"I-ya, Kak. Ta-pi sekalian ma-u jenguk Kakak ju-ga." jawab Ruby terbata. Ternyata upaya ia merilekskan diri sia-sia. Saat ia sudah berhadapan langsung dengan Andra, buyar sudah pertahanan Ruby.


"Wah... Makasih yah," timpal Andra dengan senyum manis terukir di bibirnya.


Melihatnya, jelas membuat iman Ruby semakin melemah.


Duh Kak Andra jangan senyum dong! Masih bisa-bisanya senyum manis di saat lagi sakit! ujar Ruby dalam hatinya.


Sadar dengan apa yang sedang ia pikirkan, Ruby langsung menggelengkan kepalanya cepat. Ia tak boleh begini terus. Ia harus bisa bersikap sewajarnya saja. Jika ia begini terus, tak akan ada kemajuan dalam dirinya.


Lalu ia langsung memasang wajah datar dan duduk di sofa seberang Andra. "Kak Andra kakinya gimana? Masih sakit?" tanya Ruby.


"Ya gitu. Masih harus pake tongkat kalo mau jalan."


Lalu Ruby beralih melihat kaki Andra yang sudah berbalut dengan gips. Mata Ruby langsung sendu melihatnya, dan tanpa sadar ia pun berkata, "kasihan banget, ayang."


"Kenapa?"


"Ha?" Ruby panik. Ia merutuki dirinya sendiri dengan tanpa sadar sudah mengatakan hal yang sangat memalukan. Segera mungkin ia harus mencari alasan.


"Maksud-nya, pasti sakit banget, ya-kan?" Ruby mengeles. Ia menutupi rasa malunya dengan mencoba tersenyum smirk.


"Oh ya kan... Tadi gue dengernya ayang," ucap Andra dengan santuy nya.


Mampus! Kak Andra malah denger lagi. Sumpah gue gak kuat! Gue malu! Gue harus kabur!


Ruby langsung panik luar biasa. Ia tak bisa apa-apa lagi jika sudah begini. Dia harus segera pergi dari sana.


"Kak gue izin ke Dara yah."


"Oh ya, silahkan."


"Misi, kak."


Ruby secepat kilat pergi dari sana. Tak peduli jika Andra akan berpikir aneh tentangnya. Karena yang terpenting, dia harus menjaga malunya.


...****************...


"Dara!" seru Ruby saat membuka pintu kamar Dara. Dan mendapati Dara yang tengah berbaring di kasur dengan mata dan tangan sibuk dengan ponselnya.


"Apa?" timpal Dara.


"Gimana keadaan lo?" tanya Ruby setelah ia sudah duduk di ranjang samping Dara.


Dara pun membenarkan posisi berbaringnya agar lebih tegak. "Ya seperti yang lo liat," ucapnya.


"Si Angel bener-bener anj-" Ruby tak jadi melanjutkan ucapannya, "Astaghfirullah. Gue gak boleh ngomong kasar," lanjut Ruby.


Mendengar tingkah Ruby yang aneh, Dara pun terkekeh kecil.


"Tapi sumpah Ra, kok ada yah orang sejahat dia," ungkap Ruby heran.


"Ya ada. Contohnya dia."


Pada jam istirahat tadi, Ruby memang langsung menelpon Dara dan meminta penjelasan mengenai kejadiannya yang sebenarnya. Dan tentu saja saat mengetahuinya, Ruby langsung ikut-ikutan kesal.


"Trus lo bilang apa ke Bunda elo?"


"Ya gue bilang aja jatuh di toilet. Gue gak mau buat bunda gue khawatir. Jadi gue beralasan aja," jelas Dara.


Tak lama Dara teringat satu hal yang ingin dia tanyakan kepada Ruby.


"Oh ya mumpung ada lo." Dara membuka fitur chat yang menampilkan sebuah pesan di sana. Lalu ia menunjukkannya pada Ruby. "Kok bisa lo kepikiran buat ngechat kaya gini?" tanyanya.


Ruby meneliti baik-baik isi chat yang ditunjukkan oleh Dara, tak lama ia pun membulatkan bibirnya.


"Oh itu... Ya gue waktu itu udah gak bisa mikir aja. Posisi gue mau ulangan, gue gak bisa ninggalin kelas. Trus seketika gue inget Kak Abhay deh," jelas Ruby.


"Gue sih awalnya yakin gak yakin Kak Abhay bakal ngerespon. Tapi ternyata, siapa sangka dia emang peduli sama lo, Ra!" tambah Ruby menggebu-gebu. "Lo tau gak itu artinya apa?"


"Apa?"


"Ya udah jelas. Kak Abhay emang udah jatuh cinta sama lo. Gue yakin seribu persen!" ungkap Ruby dengan sangat yakin.


Mendengarnya, Dara pun tersenyum miring. "Lo lebay banget sih, By," ucap Dara.


"Mau gue sebutin faktanya?" Ruby menarik nafas dalam-dalam karena ia akan nge-rap.


"Pertama. Kak Abhay udah lama gak ngejailin lo lagi. Kedua. Kak Abhay mau anter jemput lo setiap hari. Ketiga. Kak Abhay peduli saat lo dalam celaka. Keempat. Kak Abhay cemburu kalo lo deket-deket sama Kak Rakha. Dan Kelima. Sadar atau gak, Kak Abhay selalu ada di samping elo!" jelas Ruby dengan sekali nafas. Kemudian ia pun membuang nafas kasar.


Dara pun sempat tertegun dengan apa yang Ruby sampaikan. Setelah dipikir-pikir, fakta yang Ruby sampaikan ada benarnya juga. Lalu apakah ia akan sepenuhnya mengiyakan?


"Bener, kan?" tanya Ruby.


Tak lama, Dara menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Ia tiba-tiba tak jadi membenarkan apa yang Ruby sampaikan. Lebih tepatnya, Dara tak mau tahu.


"Gak, gak, gak! Gue gak mau dengerin lo!" seru Dara.


Sontak apa yang Dara ucapkan membuat dirinya geram. "Ayolah Dara! Lo jadi cewek peka dikit napa! Udah gak usah gengsi kalo omongan gue itu emang bener!" ujar Ruby sedikit keras.


"Kok lo malah marah-marah sama gue sih!" timpal Dara tak kalah sewot.


"Ya lagian lo dibilangin susah banget!" kata Ruby. "Bener deh Ra. Kalo lo sampe jadian beneran sama Kak Abhay, lo salah satu-satunya orang yang paling beruntung. Secara Kak Abhay orang terganteng di sekolah, trus fansnya banyak. Dan yang gue liat, sekarang Kak Abhay juga udah jadi orang yang lebih baik. Buktinya aja sampe sekarang gak ada lagi berita tentang dia berantem lah, tawuran lah. Iya, kan? Dan gue yakin dia udah berubah," jelas Ruby dengan seyakin-yakinnya.


"Tapi Ruby, gue gak ada perasaan apa-apa sama dia," ujar Dara.


"Yakin nggak ada?"


"Yakin."


"Sedikit pun?"


"Beneran. Gak ada."


Ruby menggelengkan kepalanya tak percaya. Masa iya Dara tak ada rasa sedikit pun? Sebagai manusia normal, ia jelas tak yakin.


"Menurut gue mustahil. Secara lo hampir setiap hari barengan sama dia. Masa gak ada perasaan sedikit pun," ujarnya pada Dara.


Dara pun hanya mengangkat bahu tak tahu.


"Oh gue tau!" seru Ruby tiba-tiba karena ia baru saja mendapatkan sebuah kemungkinan.


"Alasannya, karena lo sampe sekarang masih menutup mata lo," ungkap Ruby ambigu.


"Maksudnya?"


"Karena awalnya lo itu benci sama Kak Abhay, jadi sampe sekarang mindset lo itu kalo lo lihat Kak Abhay bawaannya benci mulu, walaupun Kak Abhay udah berubah," jelas Ruby.


Namun tetap, penjelasan Ruby tak berhasil membuat Dara mengerti, terlihat dari raut wajah Dara malah seperti orang kebingungan.


"Lo ngomong apa sih? Gak ngerti gue."


"Nih yah. Intinya lo harus liat Kak Abhay sebagai seorang lelaki. Jangan musuh. Dan coba lo ingat kembali perlakuan Kak Abhay sama lo akhir-akhir ini. Bukan waktu pertama ketemu yah. Tapi akhir-akhir ini!" tegas Ruby.


"Gue yakin, dengan cara itu lo pasti akan tau perasaan lo sebenernya," lanjutnya.


Dan penjelasan itu berhasil membuat Dara bungkam. Dan Ruby pun tersenyum puas, Karena itu tandanya Dara sudah mau mengerti. Dan ia juga berharap, Dara akan mengerti dengan perasaannya sendiri tanpa adanya kebingungan lagi.


...****************...


Di malam hari, Dara keluar dari kamarnya. Entah kenapa ia ingin pergi ke balkon depan kamarnya untuk sekedar menyegarkan pikirannya. Ini semua disebabkan oleh ucapan temannya. Apa yang sudah dikatakan oleh Ruby benar-benar mengganggu pikirannya.


Seketika Dara jadi teringat apa saja yang sudah Abhay lakukan padanya. Dari mulai memberi jaket saat ia kebasahan, menghantarkan ia pulang saat kakaknya sedang berhalangan, membawa dia ke UKS selama dua kali saat dia celaka, lalu menghantarkan dirinya ke rumah sakit saat mengetahui Andra kecelakaan, lalu juga saat ia di bawa ke atap dan membuat ia jadi tak sedih lagi, dan kini Abhay bersedia mengantar jemputnya ke sekolah setiap hari.


Dara pun mendesah berat. "Ya juga sih, Kak Abhay udah gak jahat lagi sama gue. Malahan, Kak Abhay sering berbuat baik sama gue," gumam Dara seorang diri.


Sadar dengan apa yang ia katakan, Dara segera menggelengkan kepalanya cepat. "Gak! gue ngomong apa sih tadi!" rutuknya. "Kuatkan iman lo Dara. Kuatkan!"


Dan lagi. Dara tak ingin mengakui perasaannya yang sebenarnya.


...****************...