
"Jadi intinya, Om berencana untuk menguliahkan Abhay ke Amerika."
Dan benar saja. Hal besar benar-benar terjadi. Dara tak bisa menutupi keterkejutannya, mulutnya sedikit menganga dengan bola matanya yang lebih lebar dari biasanya. Jelas saja Dara terkejut, karena Pak Arief baru saja memberitahunya sebuah berita penting.
"Tapi masalahnya Om bingung gimana caranya Om ngasih tau Abhay. Dan untungnya sekarang ada kamu. Maka dari itu, Om minta bantuan kamu untuk bicara sama Abhay tentang ini. Apa kamu bisa?" pinta Pak Arief. Dan ini juga menjadi tujuan utama beliau untuk meminta berbicara dengan Dara.
"Tapi Om. Kenapa Om gak coba bilang dulu sama Kak Abhay-nya langsung?" tanya Dara.
Dara pun tak salah juga bertanya seperti itu. Karena sesungguhnya hal semacam itu lebih pantas jika dirundingkan di antara anak dan orang tua. Lalu Dara, kenal Abhay saja belum lama tapi sudah diperintah untuk mencampuri urusan keluarga mereka.
"Jangankan untuk bicara hal penting, sekedar menanyakan kabar aja Om gak bisa. Baru liat Om aja Abhay sudah emosi," jawab Pak Arief.
Di sisi lain jawaban Pak Arief pun tak salah, karena Dara juga pernah melihatnya secara langsung bagaimana sensitifnya Abhay jika bertemu dengan Pak Arief. Kalau sudah begini, Dara menjadi semakin bingung.
"Jadi Om mohon sama kamu coba ngomong sama Abhay yah. Kali aja kalo kamu yang ngomong dia jadi mau. Apalagi sebentar lagi Abhay sudah mau lulus SMA, jadi waktunya sudah benar-benar mepet," jelas Pak Arief terus meyakinkan Dara.
Kini Dara sungguh berada di posisi yang terhimpit. Ditambah dengan omongan Pak Arief yang semakin mendesaknya, semakin juga membuatnya tak bisa apa-apa. Ia sebenarnya tak mau mencampuri urusan keluarga mereka, karena ia merasa tak pantas. Namun penolakan adalah tindakan yang sulit untuk ia lakukan. Ia tak enak hati jika mematahkan kepercayaan Pak Arief yang sudah percaya penuh kepadanya.
"Iya Om, nanti saya coba bilang ini sama Kak Abhay," Dan Dara akhirnya pasrah.
Terlihat bahwa Pak Arief begitu senang saat Dara menuruti keinginannya. "Makasih yah Dara," ucap beliau. Beliau pun tersenyum penuh harap, seolah ia begitu percaya kepada Dara. Ia yakin bahwa Dara bisa membujuk putranya.
"Oh ya kalo kamu mau cepet-cepet pulang silahkan aja, Om udah selesai bicara kok. Maafin Om yah udah ganggu waktu kamu," ujar Pak Arief mempersilahkan Dara pergi.
"Oh gak papa Om. Gak usah minta maaf," balas Dara.
Karena sudah diberi izin untuk pergi, Dara seraya membangkitkan tubuhnya. "Kalo gitu saya pamit pulang yah Om. Permisi," pamitnya.
Sebelum pergi, tak lupa Dara bersaliman kepada Pak Arief dan berjalan keluar dengan pikiran yang tak karuan.
Baru saja Dara keluar pintu, matanya langsung mendapati Abhay yang tengah kebingungan. Saat Abhay sadar bahwa dirinya ada di sana, cowok itu segera menghampiri Dara dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.
"Dara lo abis kemana? Gue telpon HP lo ada di dapur, tapi lo nya gak ada," tanya Abhay langsung.
Dara mennggerayangi tubuhnya. Dia baru sadar bahwa HP beserta tas kecilnya tertinggal di dapur saat buang air tadi. Ia hilang fokus saat Pak Arief meminta bicara dengannya.
"Oh iya gue lupa. Maaf yah, Kak."
"Trus kenapa lo muncul dari ruang kerja bokap gue?" tanya Abhay.
"Oh pas gue keluar dari toilet, ada papahnya Kakak, trus dia mau ngobrol-ngobrol sama gue," jawab Dara jujur.
"Trus kenapa ngobrolnya harus di sini?"
"Ya ... Gak tau. Gue ngikut aja, masa iya gue tolak."
"Bokap gue ngomongin apa? Pasti hal penting yang gue gak tau yah?" tuduh Abhay.
Otak Dara seketika ngelag saat Abhay menebak isi otaknya. Ia bingung harus menjelaskannya bagaimana. Apakah ia harus jujur sekarang, dan memberi tahu semuanya pada Abhay mengenai rencana kuliah itu? Tapi apakah momennya akan pas? Jika Abhay tidak mau bagaimana? Bisa jadi Abhay akan memberontak kepada papahnya, apalagi posisi mereka yang masih ada di sana.
"Ha? Eng-gak kok. Ngobrolin biasa aja," jawab Dara sedikit gagu. Ia memutuskan untuk membicarakan hal itu nanti dan akan mengungkapkannya saat ada momen pas.
"Yakin?" Abhay masih tak percaya. Ia melihat Dara penuh kecurigaan.
"I-yah yakin," timpal Dara.
Walaupun Dara menjawab yakin namun wajahnya tak selaras dengan ucapannya. Dara terus menghindari tatapan Abhay. Karena gelagat itu, Abhay semakin memicingkan matanya dan masih mencurigai Dara.
"Udah ah jangan nanya mulu. Gue mau cepet-cepet pulang," ujar Dara tiba-tiba. Ia sudah tak kuat melihat tatapan mengintimidasi Abhay. Ia pun meleos pergi lebih dulu meninggalkan lelaki itu.
...****************...
Di malam harinya Dara merenung sendiri di dalam kamarnya. Tubuhnya ia hempaskan dia atas kasur dan netranya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang tak karuan. Mulutnya pun seperti kaset kusut yang terus mengulang-ulang kalimat yang sama. Dara sudah seperti orang tak waras.
"Kak Abhay mau ke Amerika."
"Kak Abhay mau ke Amerika."
"Kak Abhay mau ke Amerika."
Entah sudah berapa kali Dara terus mengucapkan kalimat itu. Tak ayal, kejadian tadi cukup mengalihkan otak Dara dari segalanya. Ia sendiri bingung, entah bagaimana ia harus mengekpresikan mengenai fakta itu.
"Gue harus seneng apa sedih?" tanyanya entah pada siapa.
"Harusnya seneng dong. Ini juga kan demi pendidikan Kak Abhay sendiri. Gue juga mau kalo disuruh kuliah di luar negeri," pekik Dara menjawab pertanyaannya sendiri.
Dara kembali merenung. Baru mendengar berita itu saja sudah membuat pikirannya linglung, namun ia juga diemban tugas oleh Pak Arief untuk menyampaikan hal itu kepada Abhay. Pikirannya serasa benar-benar ingin meledak.
"Gue ngomongnya kapan yah? Kok gue yang ngerasa berat, padahal kan gue cuma nyampein doang."
"Trus kira-kira jawaban Kak Abhay gimana yah? Mau atau enggak? Kalo mau gimana? Gue bener-bener di ... Argh!!" Dara tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia mengacak rambutnya frustasi.
Sebenernya sangat wajar Dara merasa frustasi seperti itu. Bagaimana tidak. Baru saja ia merasakan suatu hal beda dalam hidupnya dengan membiarkan seorang lelaki masuk ke dalam hatinya. Namun belum lama ia merasakan itu, ia harus menerima kenyataan bahwa lelaki pilihannya harus pergi. Walaupun pergi bukan dalam artian pisah, namun tetap saja Amerika-Indonesia memiliki jarak yang bukan main-main. Lalu, apakah nantinya dia akan sanggup?
Di tengah kebimbangannya, Dara tiba-tiba mendengar sebuah getaran ponsel di dekatnya. Ia pun membuyarkan lamunannya, dan meraih ponsel itu untuk mencari tahu.
Apa ini yang dinamakan panjang umur? Seseorang yang sedari tadi mengganggu pikirannya, kini dengan antengnya menelpon dia.
Dara pun mendesah berat. Sebelum ia mengangkat telepon itu, ia menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk fokus.
"Halo Kak Abhay?" tanyanya setelah siap.
"Lagi ngapain?"
"Lagi tiduran. Emang kenapa, Kak?"
"Gak. Cuma pengen tau aja."
"Dasar."
Setelah percakapan itu, keduanya sama-sama termenung. Di sebrang telepon, Abhay seperti sibuk mencari topik. Lalu Dara, pikirannya masih terbawa-bawa dengan hal tadi.
"Belum sehari kita pisah, tapi rasanya gue pengen ke rumah elo," tutur Abhay tiba-tiba.
Seakan sinkron dengan pikiran Dara saat ini, Abhay malah menggali otak Dara lebih dalam lagi. Pikiran Dara dibuat semakin melayang jauh.
Gimana nanti kalo Kak Abhay jadi ke Amerika? Bukan lagi sehari dua hari. Mungkin bulanan. Bahkan tahunan. Apa Kakak bakal sanggup? tanya Dara namun dalam benaknya.
"Gue sekarang ke rumah elo yah?" pinta Abhay. "Boleh?"
Dara tak menjawab. Ia tengah sibuk bertanya-tanya pada dirinya.
"Halo Dara? Lo masih di sana, kan?"
Dara masih tak bergeming.
"Dara!!" Abhay akhirnya berteriak memanggil Dara cukup keras.
Karena panggilan keras itu, Dara spontan mengerjapkan matanya. Ia terbangun dari lamunannya. "Hah? Iya Kak. Kenapa?" tanya Dara linglung.
"Lo kenapa? Gue ngomong kok gak dijawab-jawab," tanya Abhay.
"Oh gue tadi ..." Dara memutar otaknya mencari alasan, karena mana mungkin juga ia memberi tahu Abhay mengenai pikiran randomnya itu. "Gak penting Kak. Tadi Kakak ngomong apa?" Dara memilih untuk mengalihkan topik.
"Gue bilang kalo gue mau ke rumah elo," ulang Abhay
"Ngapain!" timpal Dara cukup terkejut.
"Ya mau ketemu lo lah. Siapa lagi?"
"Kan baru tadi pagi bareng. Kenapa mau ketemu gue?"
"Orang gue-nya udah kangen. Gimana?" jawab Abhay terang-terangan.
Bukannya senang, Dara malah tersenyum remeh. Perkataan yang seharusnya terdengar manis, namun kali ini malah terdengar miris. Dara sudah tak bisa membayangkan lagi jika nantinya mereka benar-benar terpisah oleh jarak yang begitu jauh, akan seberapa besar kerinduannya nanti?
"Udah, Kak. Besok lagi yah. Gue juga gak mau tidur malem-malem. Gue cape. Emang Kakak gak cape?" tanya Dara. Ia sebenarnya sudah tak sanggup berlama-lama mendengar suara Abhay. Ia sudah tak fokus lagi.
"Ya cape. Tapi lo kan tau sendiri, kalo gue cape ya harus di charger. Dan charger-nya itu lo," jawab Abhay, dan perkataan itu berhasil membuat Dara tersenyum simpul saat mendengarnya. Dara cukup melting.
"Ya udah kalo lo mau tidur, lo tidur aja sekarang, gue gak akan maksa lagi. Kalo gue maksa, nanti dibilang pacar durhaka lagi," tutur Abhay penuh pengertian.
"Kalo gitu gue tutup sekarang yah. Good night Dara." Abhay pun pamit di ujung panggilannya dan diakhiri oleh suara yang begitu hangat.
"Good night," jawab Dara lirih. Lalu ia melihat ponselnya untuk memastikan Abhay benar-benar menutup telponnya, dan ternyata panggilan itu memang sudah terputus.
Dara mendesah berat. Obrolan singkat mereka malah semakin memberatkan beban pikirannya yang sebelumnya sudah menumpuk. Karena dari pengakuan Abhay tadi, ia sudah bisa menebak ujungnya akan bagaimana. Namun walau begitu, dan entah apa yang akan Abhay putuskan nanti, yang jelas Dara akan tetap mengatakannya. Karena mau bagaimana pun Pak Arief sudah memberikannya amanah, jadi ia wajib mengatakannya. Walaupun ia sendiri belum tahu kapan waktunya, yang jelas Dara akan mengungkapkan pada waktu dan situasi yang pas.